MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Kebaikan Alika


__ADS_3

Bel masuk sudah berbunyi sejak dua jam yang lalu. Ibu Ratih, Guru Kimia sesampainya di kelas langsung memberikan ulangan dadakan kepada murid-muridnya. Mau tidak mau mereka pun menurut untuk mengerjakan.


Terlihat Dion tengah melirik-lirik ke sekelilingnya. Semua teman-temannya masih fokus mengisi lembar jawaban ulangan. Bukan ingin menyontek, tetapi ia sedang ragu jika harus bangkit lebih dulu untuk menyerahkan hasil jawabannya meja Guru.


Seketika rasa percaya dirinya redup begitu saja, saat ia menoleh ke arah Alika dan Bilmar. Alika saja yang cerdasnya tidak bisa tertandingi masih berkutik dengan kalkulatornya, pun sama dengan Bilmar, lelaki itu masih berjuang untuk menghitung lagi isi jawabannya.


Lalu


Dion? Yang merasa dirinya hanya serbuk pasir, dan peringkatnya selalu ada di urutan terakhir dikelas begitu saja sangat percaya diri kalau ingin lebih dulu maju untuk menyerahkan hasil jawabannya.


"Bil ..." bisik Dion.


"Apaan?" jawab Bilmar masih berkutat dengan kalkulator.


"Lo udah selesai belom?"


"Mau nyontek lo, tuh lihat aja punya gue." jawab Bilmar santai, menyodorkan hasil jawaban yang langsung dihalau oleh Dion.


Dion kembali berbisik. "Kagak, Bil. Gue udah selesai nih. Ayo kita kumpulin ke depan." Dion ingin pergi ke depan jika Bilmar sudah mau mengumpulkan hasil ulangan juga.


"HAH??" seketika semua menoleh termasuk Alika dan Ibu Ratih ke arah meja Bilmar. Mereka tersentak dengan suara Bilmar yang tiba-tiba saja terdengar nyaring. Dion terhenyak, seperti maling yang akan dipukuli oleh massa, lelaki itu langsung beringsut untuk membekap mulut Bilmar yang mengeluarkan suara kencang secara mendadak.


"Ada apa Bilmar?" tanya Ibu Ratih dari mejanya.


Bilmar menepis telapak tangan Dion yang sedari tadi membekap mulutnya.


"Bau wc anjim, tangan lo!" Bilmar mengusap lubang hidungnya dengan kain lengan bagian dalam. Entah apa yang telah dipegang Dion, mengapa tangannya bisa menimbulkan bau Seperti itu.


"Ini, Bu. Dion, katanya udah selesai."


Dion pun tergagap, semua mata memandang penuh curiga, apa yang diisi oleh Dion sampai ia bisa mengalahkan kecepatan Alika, Bilmar dan Razik, tiga besar di kelas.


"Dion ayo kedepan, bawa hasil ujian kamu." titah Ibu Ratih.


Dion mendengus malas menatap Bilmar. "Emang temen nggak ada akhlak lo, Bil!"


Gelak tawa Bilmar tidak surut berhenti, sampai dimana kedua matanya bertemu dengan dua bola mata cantik Alika. Mereka kembali bersitatap dalam kejauhan.

__ADS_1


"Lo udah?" tanya Alika dengan katupan bibir yang tidak mengeluarkan suara.


Bilmar menggeleng, dan melambaikan tangan kepada Alika, lalu menepuk kursi kosong bekas Dion tadi.


Alika diam sejenak, kembali menatap ke arah meja Ibu Ratih. Seraya sedang mengambil ancang-ancang untuk bangkit dan memutar arah kebelakang, dengan langkah secepat kilat ia pun sampai di kursi yang sedari tadi di duduki Dion.


"Kok panas ya kursinya si Dion?" ucap Alika, ia sedikit menggoyang-goyangkan bokongnya di kursi.


"Wajar, Al. Bokongnya Dion panas, udah seabad enggak buang hajat, jadi numpuk. Itu yang bikin panas."


Alika ingin tertawa namun ditahan, ia tidak ingin Ibu Ratih menghardik nya seperti Dion.


"Ada yang susah?" tanya Alika melirik kertas jawaban Bilmar.


"Sini dong, Al. Deketan, kalau jauh-jauh gitu kan nggak enak." senyuman Bilmar betul-betul membuat permukaan kulit Alika meremang, duduk berdua, berdekatan dengan wajah saling memandang tentu tidak pernah Alika lakukan sebelumnya.


"Sini, Al." tangan kanan Bilmar melingkar di pinggang Alika, seraya menggeser tubuh wanita itu yang masih beku dikursi Dion tanpa bergerak.


Dengan kekuatan tangan Bilmar, akhirnya tubuh mungil itu pun bergeser. Tanpa sekat Alika bisa merasakan aroma tubuh Bilmar secara bebas.


"Duh deg-degan banget, kaya mau copot nih jantung." lirih Alika, hatinya terus berdesir, entah mengapa ia merasa nyaman duduk berdekatan dengan Bilmar seperti ini. Ada juga rasa yang semakin melebar, yaitu rasa suka.


"Yang ini, Al. Gue bingung ..." ucap Bilmar sambil menunjuk soal yang ia rasa sulit.


"Oh, ini." Alika mulai menjelaskan rumus yang mudah untuk dipakai, Bilmar mendengarkan sekaligus memperhatikan penjelasan yang Alika jelaskan. Mereka melakukannya dengan cara bisik-bisik dan sembunyi-sembunyi dari pandangan Ibu Ratih. Tidak jarang banyak anak-anak yang memandang mereka dengan raut aneh. Mengapa Alika dan Bilmar bisa sedekat itu.


"Nih cewek manis juga ya, kemana aja lo, Bil, baru tau kalau dia secantik ini?" gumam Bilmar yang sesekali mencuri-curi pandangan untuk menyelami wajah cantik Alika.


"Kayaknya kalau mau dapetin lo gampang deh, Al. Tinggal dirayu, di pepet terus. Jadi deh kita pacaran. Gue emang butuh lo, untuk bantu gue biar jadi satu-satunya siswa yang bisa lolos beasiswa ke London. Tapi kok kesannya gue jahat ya?"


"Nah coba deh lo hitung." Alika mulai mendongakkan wajahnya untuk menatap Bilmar, Bilmar yang masih melamun menatap wajah Alika dari samping lalu terkesiap dan kembali tersadar dari lamunan tidak berakhlak nya.


"Eh, iya, Al." Bilmar kembali menunduk, menatap kertas ujiannya kembali.


****


"Ayo yang udah dikumpulin ke gue!" Alika terus merancau di depan kelas. Sehabis jam istirahat berbunyi, semua anak-anak masuk kembali kedalam kelas untuk mengerjakan tugas biologi.

__ADS_1


Ibu Farida berhalangan masuk, karena anaknya sakit. Maka beliau memberikan beberapa tugas esay yang harus diselesaikan. Alika yang sudah selesai, lalu berjalan ke setiap meja temannya untuk mengawasi mereka agar tidak menyontek.


"Bil, lo udah?" tanya Alika lembut. Dion sampai mendongak karena merasa tidak biasa dengan tutur kata Alika kepada Bilmar.


Bilmar tersenyum. "Bentar lagi, Al." Bilmar kembali menulis.


"Bil kayaknya lo salah isi deh, harusnya lo gambar jaringan sel, kenapa jadi jaringan reproduksi?"


Dion terkekeh geli. "Otaknya Bilmar emang enggak jauh-jauh dari celanaa dalam, Al."


"Yeehh lutung!" Bilmar menoyor kepala Dion.


"Sini, sini gue yang gambarin." Alika meraih penghapus yang ada ditempat pensil bilmar lalu menghapus dan mengulang gambar dengan baik."


Bilmar tertohok, Dion pun sama. Bilmar tidak menyangka kalau Alika akan seperhatian ini dengannya.


"Sini, Al. Duduk disamping gue." Bilmar bergeser sedikit, menyisakan secuil bagian kosong untuk gadis itu. Alika pun mengangguk dan beringsut cepat untuk duduk sempit-sempitan dengan Bilmar. Ia mulai melanjutkan menggambar jaringan sel di kertas tugas esay milik Bilmar.


"Al, mau dong di gambarin juga. Gambar gue jelek nih." ucap Dion mengiba, Alika menoleh dan mendorong wajah Dion yang mulai mendekat dengan telapak tangannya. "No!" jawabnya.


Sungguh Bilmar terkekeh melihat perangai Dion yang kecewa seperti orang tengah parah hati. "Gambar jelek mah nggak masalah, kan sinkron sama muka lo, hahaha." Bilmar mentertawakan Dion.


"Tayii ..." dengkus Dion.


Bilmar kembali menatap Alika dan memperhatikan jari jemarinya yang lihai dalam menggambar.


"Fiks lah Alika memang benar jatuh hati sama gue! Kalau begini terus, nilai gue pasti akan naik dan sejajar dengan dia." gumam Bilmar mantap. Ia merasa Dewi Fortuna mulai mendekat.


"Maaf, Al. Gue nggak ada pilihan lain selain sedikit manfaatin, lo." ucapnya lagi, dan sang malaikat hanya bisa mengutuk sikap Bilmar yang tidak tahu balas budi.


Alika terus mengerjakan tugas Bilmar sampai selesai. Hatinya terus saja mengembang dan mekar setiap harinya, Bilmar mampu menarik diri Alika untuk mau melakukan apa saja demi dirinya, dan Alika mulai menyayangi Bilmar.


****


Betapa parahnya dulu Papa Bilmar, ayo guys pukulin ajah, si Dion tapi jangan Bilmar, lohh?๐Ÿ˜‚๐Ÿคญ


Nah kan dua episode hari ini, besok lagi ya guyss, tapi kalo komennya banyak malem bisa den di up lagi, mumpung lagi semangat-mangatnya ama nih dua anak๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2