
Aziz Fadilah adalah laki-laki dewasa berusia 32 tahun. Lelaki berkaca mata yang mempunyai lesung pipit di kedua pipinya. Terlihat begitu manis dengan kulitnya yang bersawo matang, namun ia lelaki yang bersih dan bisa mengurus diri. Tubuhnya tinggi, dadanya bidang. Lelaki itu memang hobi bermain futsal. Walau umurnya lebih tua tiga tahun dibanding Alika, namun wajahnya tetap saja menggemaskan.
Walau hanya lulusan SMA. Namun di pabrik ia mendapat jabatan yang cukup lumayan. Menjadi leader para karyawan. Dedikasinya tinggi untuk EG. Lelaki itu selalu loyalitas dalam bekerja, tidak pernah menghardik bawahan. Selalu ikut membantu sebisanya. Itu membuat Pak Harun, Manager EG cabang tujuh sangat bersyukur mempunyai anak buah seperti Aziz.
Sudah lima tahun ini ia menyandang status sebagai anak yatim piatu. Karena kedua orang tuan sudah meninggal dunia. Kebetulan Aziz dan Alika sama-sama bekerja sebagai karyawan pabrik di Eco Group.
Selama tiga bulan ini Aziz selalu bertekad untuk mendekati Alika. Ingin menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidup. Setiap malam ia selalu terbayang-bayang wajah gadis itu. Mau di tolak, di usir dan di diamkan. Aziz tetap terus mencoba untuk meraih hati Alika.
Setelah kejadian keributan beberapa jam lalu yang dibuat oleh istrinya Danu. Alika akhirnya bisa bernapas lega, karena Aziz bisa membantunya untuk mengusir mereka semua, membuat keadaan tenang dan memulihkan nama Alika didepan para tetangga. Tentu membuat hati Danu semakin geram, walau Danu adalah Manager dicabang EG yang lain, tetap saja Azi tidak takut dengan lelaki itu.
Tuk.
Segelas teh manis Alika letakan di meja. "Silahkan, Mas." Alika mempersilahkan Aziz untuk menyesap air teh yang sudah ia buat.
Aziz tersenyum. "Terimakasih banyak, Dek." lelaki itu pun meminumnya.
"Makasih karena kamu sudah menolongku, Mas."
Aziz meletakan gelas teh tersebut lalu mengusap sedikit kebasahan air teh di bibirnya. "Itu sudah kewajibanku untuk menolong Adek. Adek kan calon istri Mas." jawab Aziz lalu senyum. Lelaki itu masih saja percaya diri kalau Alika akan menerima dirinya.
Alika mendengus tidak suka. "Mas, ayolah jangan kayak gini. Masa iya sih, hanya karena---"
"Hanya karena setelah shalat tahajud aku memimpikan mu sampai seminggu berturut-turut? Begitu?" Aziz menyelak ucapan Alika dan tertawa sekilas.
Alika mengangguk, ia merasa Aziz hanya beralasan saja.
"Awalnya memang begitu, Dek. Tapi setelah kamu memberikanku napas buatan waktu itu, menolong Mas agar bisa bernapas lagi. Mas jadi cinta sama kamu, Dek." jawab Aziz dengan wajah berbinar. Suaranya amat lembut dan meneduhkan. Amat jujur jauh dari kepalsuan.
Aziz adalah lelaki yang belum pernah berpacaran sebelumnya. Walau ia bukan lulusan pesantren, tapi Aziz terbilang taat dalam beragama. Ia selalu menunaikan shalat lima waktu. Sesibuk apapun ketika dia sedang bekerja, Aziz tidak akan lupa untuk mengumandangkan Adzan di lingkungan Eco Group.
Semua orang takjub padanya. Banyak para karyawan wanita yang mengejarnya, namun entah mengapa selama beberapa waktu ini, hatinya hanya bergetar jika melihat Alika dari kejauhan.
Karena setiap malam ia akan bermunajat di dalam shalat malamnya, meminta seorang wanita yang baik untuk ia nikahi, dan Allah sepertinya menjawab semua doanya itu lewat mimpi.
Aziz memimpikan Alika selama seminggu berturut-turut. Ia mantap ingin menikahi Alika walau pada saat itu perasaannya pun belum muncul. Baginya tidak masalah, cinta pasti akan hadir jika sudah bersama.
"Maaf, Mas. Kita tidak saling mengenal. Lucu sekali kalau kamu langsung datang untuk mengajakku menikah."
Itu adalah ucapan Alika empat bulan yang lalu, Aziz langsung datang ke klinik untuk mengajak Alika berbicara empat mata dan mengemukakan keinginannya.
Aziz tidak gentar, walau ia sudah berkali-kali di tolak, ia akan selalu datang ke klinik setiap jam istirahat. Membawakan Alika makan siang, atau sekedar pura-pura pusing. Agar wanita itu mau berdekatan dengannya. Hatinya semakin mantap untuk meminang Alika.
__ADS_1
"Tapi karena aku memang mencintaimu sekarang, Dek." ucap Aziz meyakinkan Alika yang sedang duduk bersebelahan dengannya.
"Mas beneran cinta sama aku?" tanya Alika meyakinkan.
"Iya, sejak Mas membuka mata lagi setelah kejadian itu dan menemukan Adek disamping Mas. Jiwa dan hati Mas semakin yakin, kalau Adek memang calon istri yang Mas inginkan selama ini." Aziz menjelaskan, ia terus berusaha untuk meyakinkan Alika.
Dibilang memaksa ia tidak perduli, karena apa yang baru ia katakan, semua memang nyata. Ia mencintai Alika dengan tulus, ditambah lagi dengan insiden yang pernah menimpanya.
Aziz pernah jatuh di pabrik, seketika lelaki itu tidak sadarkan diri, dan Alika berhasil menyelamatkan hidupnya dengan memberikan bantuan hidup dasar dengan napas buatan.
Tentu hal itu membuat jiwa Aziz bergelora untuk memiliki Alika. Cinta yang sebelumnya masih abu-abu di kedua matanya langsung berubah menjadi terang. Dari saat itu Aziz semakin yakin, Alika adalah wanita yang tepat untuknya.
"Mau ya, nikah sama Mas. Kita cari pahala bareng-bareng lewat pernikahan." Aziz meyakini Alika, ia menggenggam tangan wanita itu lama. Masih menunggu jawaban Alika sekarang juga.
"Oh iya sebentar." Aziz melepaskan genggaman tangan itu dan membuka tas kerjanya. Ia meraih sebuah kotak cincin berwarna merah, lalu membukanya dan menunjukan kepada Alika.
Alika terkejut dengan dua bola mata yang membola sempurna. Ia terus menatap cincin emas yang ada di sana. Hanya cincin polos berwarna kuning yang kadar emasnya tidak seberapa.
"Mas melamarmu, Dek. Ayo kita menikah. Kita capai surganya Allah bersama."
Entah mengapa hati Alika yang awalnya membeku. Tiba-tiba mencair. Ia terayu akan ucapan manis, perlakuan baik dan kesungguhan Aziz membuat hatinya terenyuh. Alika terdiam sejenak, ia terus menatap cincin itu lalu bergantian menatap Aziz.
"Mas shalat Magrib dulu ya. Mas ingin kamu memberikan jawaban setelah Mas pulang dari mushola."
Tanpa menunggu jawaban Alika, Aziz kemudian angkat kaki menuju mushola meninggalkan Alika yang masih termenung di atas sofa.
"Ada lelaki baik yang terus memintaku untuk menjadi istrinya, apakah memang benar jodohku telah datang. Dan Mas Aziz adalah orangnya?"
"Untuk apa aku masih mengharapkan Bilmar. Sudah dua belas tahun aku menutup diri dari lelaki hanya karena terus berharap ia akan kembali."
"Nyatanya kamu mengingkari janjimu, Bil! Kamu campakkan aku!"
"Baiklah demi hidupku yang harus terus berjalan, demi Mama dan Papa di surga. Aku menerima pinangan Mas Aziz. Aku akan menikah dengannya!" Alika memutuskan pilihannya. "Aku akan belajar mencintaimu, Mas."
Alika menyentuh kalung berliontin B yang masih setia bertengger di lehernya. Lalu mencabut paksa dan akhirnya terlepas. Lehernya kembali terlihat kosong.
"Mulai saat ini aku lepas perasaanku kepadamu, Bilmar."
*****
Kawasan EG cukup gempar, ketika mereka tahu Alika dan Aziz akan menikah dalam waktu dekat. Aziz terus menunjukan rasa cinta, kasih dan sayang kepada Alika. Membuat wanita itu serasa menjadi satu-satunya ratu di dunia ini.
__ADS_1
Baik Danu, Johan, dan lelaki lain yang memang menyukai Alika terlihat amat tidak suka. Berkali-kali mereka ingin mencelakakan Aziz namun tidak pernah berhasil.
Semakin hari Alika semakin terlena dengan perlakuan romantis dari Aziz. Selama menjelang dua bulan pernikahan, Aziz memang memacu tubuhnya untuk bekerja ekstra di pabrik.
Lembur dari pagi sampai malam hanya karena ingin mengumpulkan biaya pernikahan. Dan pada akhirnya Aziz jatuh sakit. Ia mengalami serangan jantung ringan, membuat Alika menangis semalam suntuk ketika menjaganya di Rumah Sakit.
"Jangan menangis sayang, Mas gak apa-apa." Aziz tersenyum dengan wajah yang masih memucat, dengan tubuh yang masih lemas ia menjulurkan tangannya untuk menyeka air mata calon istrinya.
"Jangan tinggalin Adek, Mas." rintih Alika. "Aku udah enggak punya siapa-siapa lagi, selain Bibik dan Paman. Kamu harus menepati janjimu untuk menikahi aku."
"Siapa yang mau ninggalin kamu, Dek? Kita pasti akan menikah sayang." jawab Aziz dengan gelak tawa yang pelan.
"Jangan bersedih, Mas tidak apa-apa. Ini hanya sakit biasa, sayang." Aziz kembali berseru dengan lembut.
Nada suaranya memang sangat halus. Selama Alika bersamanya, lelaki itu tidak pernah sekalipun berkata kasar, mengumpat, memaki sekalipun Alika sedang membuatnya marah. Jika marah ia hanya akan terdiam sambil meminum air putih. Marah yang seperti itu saja sudah membuat Alika kalang kabut. Alika selalu merasa nyaman, jika Aziz berada didekatnya.
Alika merebahkan kepalanya di atas perut Aziz dan memeluknya erat.
"Kita nikah sederhana aja, Mas. Gak usah pakai acara kayak nikahan orang-orang." jawab Alika sendu. "Aku hanya ingin hidup denganmu saja, melahirkan anak-anakmu." tukasnya lagi. Sungguh ungkapan rasa Alika terdengar sangat menusuk hati Aziz, begitu murni dan tulus.
Aziz hanya tersenyum sambil mengelus lembut rambut Alika.
"Apakah Adek sudah mencintai, Mas?"
Alika menggerakkan kepalanya dengan sebuah anggukan. "Iya, Mas. Adek sudah mencintaimu, sangat!" jawab Alika jujur.
Ya, Alika memang sudah bisa menghapus nama Bilmar dari hatinya. Ia terus berusaha untuk melupakan dengan cara mengikhlaskan Bilmar. Ia tahu dirinya tidak berjodoh dengan lelaki itu. Hanya Aziz, laki-laki yang terus memperjuangkan dirinya dalam balutan iman.
Alika selalu berdoa kepada Allah untuk mengganti rasa yang selama ini ia rasakan kepada Bilmar untuk dialihkan kepada Aziz, dan Allah mengabulkannya.
Selama tiga bulan menuju pernikahan, Alika sudah berhasil mencintai Aziz dan melupakan bayangan Bilmar. Walau sesekali ia masih saja bermimpi Bilmar namun dalam mimpi yang tidak jelas atau susah di artikan.
"Pergilah Bilmar, jangan usik hidupku lagi dengan bayanganmu!"
*****
Nih Masnya Alika dulu.
Aziz Fadilah.
__ADS_1