
Satu bulan setelah peristiwa itu, Kannya dinyatakan positif hamil. Ia terus menyalahkan dan menyuduti Bilmar. Padahal tanpa Kanya dan Bilmar sadari kejadian yang menimpa mereka karena ulah jahatnya Mama Mira.
Tentu kedua keluarga itu merasa amat bahagia. Karena sebentar lagi mereka akan menimang cucu. Pewaris kekayaan dari dua keluarga yang hebat, baik dari segala harta dan tahta.
Kini kandungan Kannya sudah memasuki usia empat bulan. Setiap hari wanita itu selalu mengoceh, memaki dan marah-marah. Membuat Bilmar yang sudah lelah bekerja akan menjadi semakin frustasi.
Kannya tidak pernah mengurus dan merawat Bilmar. Lelaki itu akan pergi bekerja dengan perut kosong, ia akan meminta sekretaris kantor untuk menyiapkan segala kebutuhannya. Dari sarapan, makan siang maupun makan yang akan ia bawa menjelang pulang kantor. Dan Bilmar tidak pernah menyentuh Kannya setelah malam itu.
Walaupun ia tidak bisa mencinta Kannya, tapi Bilmar mencintai anak yang sedang di kandung oleh Kannya. Entah mengapa anak itu membuat Bilmar bisa menatap hidupnya kembali walau tanpa Alika. Darah dagingnya, yang hadir begitu saja tanpa cinta. Ia sudah tidak sabar untuk menanti kelahiran buah hatinya.
"Kannya! STOP!" Bilmar menepis berpuluh-puluh obat yang akan wanita hamil itu tenggak. Bilmar kaget setengah mati ketika menemukan Kannya yang ingin bunuh diri didalam kamarnya.
"Biarin gue mati! Karena berkat anak lo ini, gue diputusin sama Sebastian! Dia mau nikah sama cewek lain, Bil!" Kannya meronta-ronta dalam tangisannya.
"Lo jangan nyalahin anak gue dong! Kalau lo mau mati, nanti aja tunggu anak gue lahir, Nya!" kelakar Bilmar, ia ikut emosi.
Gila, fikirnya. Anak yang ia nanti-nanti mau begitu saja di bunuh oleh Kannya.
"Dasar brengsekk!" Kannya tanpa sadar menampar suaminya. "Bisa-bisanya lo ngomong kayak gitu! Setelah lo rusak hidup gue, lo buat gue hamil, Bil! Disaat kita mau cerai!"
Bilmar terdiam, ia tidak bisa banyak membela diri. Karena dirinya pun salah tidak bisa mengendalikan diri.
__ADS_1
"Tapi kan bukan gue aja yang salah, sikap lo juga sama kayak gue malam itu." Bilmar melembutkan suaranya untuk bisa menenangkan Kannya.
Ia tidak ingin Kannya stress. Karena kata Dokter ketika mereka kontrol kandungan bulan lalu, bayi yang sedang dikandung Kannya berat badannya tidak mengalami perkembangan.
Untuk itu Bilmar akan selalu mengalah setiap Kannya mulai kembali uring-uringan. Bilmar tetap perhatian kepada Kannya, semata-mata hanya untuk menghormati karena Kannya sudah mau mengandung darah dagingnya.
"Lo kan tau Sebastian itu selingkuh, Nya. Dia lelaki yang gak baik buat lo! Walau nanti ujung-ujungnya kita cerai. Gue gak mau anak gue punya Bapak sambung yang doyan selingkuh! Lo cantik, lo bisa kok dapetin lelaki yang lebih baik dari Sebastian." Bilmar terus menguatkan hati Kannya.
"Setelah lo melahirkan, biar anak ini gue yang urus. Gue bebasin lo untuk hidup sesuka hati lo! Gue janji akan cerain lo, Nya.Tinggal lima bulan lagi, gue minta lo untuk bersabar."
Kannya terdiam sejenak. Seraya berfikir dan mempertimbangkan ucapan Bilmar. Wanita hamil itu menghela napas panjang lalu mengusap perutnya yang sudah terlihat.
"Gue bukan gak sayang sama anak ini, Bil. Gimana pun juga ini darah daging gue! Tapi gue masih kaget, gue belum siap jadi Ibu."
Bilmar mengangguk lalu mengusap lembut punggung Kannya. "Gue ngerti, Nya. Gue janji setelah anak ini lahir, gue akan ceraikan elo. Gak perduli gimana orang tua kita akan nentang, karena yang jelas. Gue juga masih pengen balik sama Alika, Nya."
"Emang lo yakin, Alika masih single? Kalau dia udah nikah gimana? Terus apa dia mau nerima lo dengan keadaan lo udah duda?"
Bilmar kembali hening. Mengapa ia tidak terfikir sampai kesana. Pasti Alika akan membenci dan mengutuk dirinya. Tetapi sikap egoisnya kembali muncul. Alika juga sudah menghianati dirinya.
"Udahlah, biar itu jadi urusan gue, Nya. Yang penting gue minta, lo harus sabar sampai anak kita ini lahir. Bagaimanapun, dia enggak berdosa, Nya. Anak kita ini suci."
__ADS_1
Kannya mengangguk dan menurut ucapan Bilmar. Lima bulan lagi untuk melahirkan anak mereka ke dunia. Bukan waktu yang lama bagi Kannya.
***
Lima bulan kemudian. Telah lahir bayi perempuan yang begitu cantik, bersih dan putih sebagaimana bentuk bayi pada umumnya. Bilmar meneteskan air mata ketika berhasil mengadzankan bayi tersebut. Namun bertepatan ketika anak itu lahir, hatinya kembali teriris dan pedih.
Bilmar masih tergugu di kursi tunggu didepan kamar jenazah. Kepalanya tertunduk dengan isakkan pelan. Air matanya tak kuasa menetes. Ia pun sedih mengapa Kannya pergi secepat ini. Bukan karena ia mencintainya, tapi karena teringat akan keinginan Kannya ketika sudah melahirkan. Bilmar merasa sedih karena hal itu.
Kannya diketahui meninggal dunia sesaat Dokter berhasil mengeluarkan bayi perempuan mereka dengan proses persalinan caesar. Bilmar tetap menunggu didalam, menemani Kannya dan sedikit bercuap-cuap.
"Namain anak gue Maura ya. Belakangnya lo yang cari aja."
Ah, rasanya Bilmar menyesal. Kenapa ia tidak terfikir untuk menyiapkan sebuah nama dari jauh-jauh hari. Karena baginya sebuah nama itu gampang, yang penting bayi nya selamat dulu.
"Kenapa Maura?" tanya Bilmar yang sudah duduk di sebelah Kannya dengan memakai baju hijau-hijau.
"Anak perempuan yang mempunyai martabat." jawab Kannya sebelum ia tidur nyenyak karena sorotan lampu di meja operasi yang terlalu mengusik matanya. Dan pejaman mata yang tidak akan terbuka lagi untuk selama-lamanya.
Bilmar masih saja terbayang-bayang dengan permintaan Kannya.
"Baik, Nya. Gue akan namain anak kita Maura. Maura Zivannya----Gue pakai nama lo di nama anak kita." gumam Bilmar memutuskan.
__ADS_1
Tentu kematian Kannya membuat dua keluarga gempar, sedih dan menyayat hati. Terutama Mama Mira, ia yang paling terpukul. Ia sedih melihat anaknya sudah menjadi duda beranak satu di usianya yang masih masih muda.