
Nyatanya Bilmar tidak benar-benar bisa tidur dengan memeluk Alika seperti itu, sebelum menenangkan si Jagur yang bergerak-gerak tidak karuan di belakang bokong istrinya.
Alika memang sudah tidur pulas, dan kecantikannya lebih terpancar berkali lipat ketika ia sedang tidur. Tak jarang, tiap tengah malam Bilmar akan selalu menagih untuk pulang ke dalam kandang, walau tidak lama. Yang penting, dirinya bisa tidur nyenyak.
Waktu sudah menunjukan pukul 22:00 malam. Alika sudah melayang terbang ke alam mimpi namun berbeda dengan Bilmar. Lelaki itu masih mengecup-ngecup permukaan leher Alika, mengendus aroma wanginya. Telapak tangan bergulir untuk mengusap-usap bagian dada sampai ke bagian Sassy yang masih terbungkus kain.
Sesekali Alika bergeliat untuk menjauh, saat Bilmar membalikan tubuhnya. Walau dalam pejaman mata ia tahu, sang suami sedang mengusik tubuhnya.
Bilmar melumatt bibir Alika tanpa imbangan. Bilmar tidak akan marah jika Alika tidak mengimbangi permainan mereka, jika tahu sang istri sedang letih dan lelah.
Inginnya tidak menganggu jalan tidurnya Alika, namun bagaimana lagi. Gejolak Jaguar ingin meet up dengan Sassy, sudah tidak bisa di tawar lagi.
"Tidur aja ya, Papa yang bergerak." bisik Bilmar tepat ditelinga istrinya. "Maapin badan Papa lengket karena minyak kambing itu, eh. Ikan, maksudnya." Bilmar terkekeh sendiri dengan ucapannya.
Tangannya membuka kancing-kancing piyama istrinya. Tak butuh waktu lama Alika sudah polos seperti keinginannya. Bilmar yang memang sudah bertelanjang dada sedari sebelum tidur, hanya meloloskan kain segitiga miliknya. Berdoa dulu. Kemudian beranjak naik sebagai Nakoda diatas tubuh istrinya.
***
Terlihat daun telinga Bilmar bergerak-gerak karena samar-samar ia mendengar ada suara dari layar televisi memenuhi kamarnya. Mencoba mengerjap kedua mata sambil merentangkan tangan ke sebelah.
Blass.
"Kosong?" gumamnya. Sang istri tidak ia temukan keberadaannya di sisinya.
Ia bangkit setengah duduk dengan selimut yang masih menggulung tubuh polosnya. Bilmar mengedarkan pandangan ke arah jam dinding.
"Baru jam tiga?" desahnya.
Ia menatap televisi yang sedang menyalah. "Perasaan semalam sudah dimatikan, kok nyala."
Kemudian ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terlihat terang dari kaca ventilasi. Itu artinya istrinya sedang berada di dalam.
Baru ingin menyerukan nama Alika, tapi tiba-tiba dua anaknya masuk kedalam kamar. Maura membawa nampan berisi tiga mangkuk mie, lengkap dengan botol sambal dan kerupuk. Sedangkan Ammar hanya mengekor dibelakang Kakaknya.
"Kok tengah malam makan?" tanya Bilmar sambil mengucek kedua matanya.
"Kakak, Adek dan Mama mau puasa sunah, Pah." jawab Ammar yang diiringi anggukan kepala oleh Maura. Anak perempuan itu meletakkan nampan berisi makanan di meja.
"Dek ambilin minumnya." titah Maura. Ammar bergegas menghampiri kulkas pribadi yang ada dikamar orang tuanya. Meraih sebotol minuman dingin dari dalam sana.
Bilmar masih memperhatikan kedua anaknya yang sedang sibuk menyiapkan sahur. Tak lama, pintu kamar mandi pun terbuka. Istri tercintanya keluar dengan aroma sabun yang begitu harum dan rambut yang sudah basah serta lilitan handuk.
"Kok bangun?" tanya Alika sambil melangkah menuju lemari untuk mencari dasternya.
"Kamu mandi tengah malam, nanti masuk angin." ucap Bilmar.
"Aku mau sahur sama anak-anak. Kita mau puasa sunah." Alika kembali masuk kedalam kamar mandi. Jika saja tidak ada Ammar, wanita itu akan selalu bertelanjangg didepan lemari untuk berganti pakaian.
__ADS_1
Alika memang rajin melaksanakan ibadah puasa sunah, jika sedang tidak menstruasi, sakit atau halangan lainnya. Karena hari ini, Ammar dan Maura meminta ikut puasa. Maka Alika sangat senang, walaupun ia harus mandi tengah malam dan keramas.
***
Srrt
Srrt
Telinga Bilmar tergelitik dengan suara seruputan mie dari bibir kedua anaknya. Wanginya begitu menyerbak membuat Bilmar yang berusaha kembali memejam kedua mata begitu saja terusik.
Sepertinya lelaki itu tertular, perutnya terasa lapar. Tapi istrinya pasti akan marah, jika dirinya meminta makan saat ini. Apalagi jika ingin makan mie rebus kesukaannya. Karena masih tengah malam, toh beberapa jam lagi Bilmar akan sarapan pagi.
Menyeka selimut dan duduk menyandar di punggung ranjang. Mengamati istri dan anak-anaknya yang sedang melahap mie dengan sedikit candaan.
"Mah, Papa juga mau puasa." seperti tidak bisa menahan godaan yang sedang asik meledeknya habis-habisan.
Mereka bertiga menoleh dari atas sofa dan tertawa. "Tumben, Pah." sahut Maura, diringi anggukan Ammar dengan kekehan kecil.
"Deuh, ngeledek." jawab lelaki itu.
"Beneran mau puasa?" Alika menghentikan lahapannya.
Bilmar mengangguk.
"Mau sahur apa?"
"Cabai rawit, telur, sawi, baso." selak Maura dan Ammar. Mereka berdua kembali meledek Papanya.
Kedua anak itu memang sudah hafal bagaimana sajian mie rebus yang Papa mereka mau. Dan hanya Alika yang bisa membuat mie rebus dengan standarnya.
Bahkan Bik Minah dan Maura pernah membuatkannya, tapi ia merasa masih kurang. Entah apa yang membuatnya berbeda, padahal rasa mie dan cara masaknya sama.
Mungkin tangan yang membedakan. Alika selalu menyuguhi makanan dan minuman untuk dengan cinta dan doa.
"Iya udah, Mama buatin. Papa mandi aja dulu. Satu setengah jam lagi juga udah mau subuh."
Bilmar mengangguk. Ia turun dari ranjang sambil menyeret selimut untuk masuk kedalam kamar mandi. Karena tubuhnya masih polos sekarang.
Nyatanya bukan hanya semangkuk mie rebus dengan banyak tambahan request yang ia minta. Tapi juga sepiring nasi dan sisa ayam tadi malam ia habiskan juga. Katanya biar kuat dan selamat sampai Adzan Magrib.
***
Pagi kembali datang. Cahaya matahari pagi mulai tampak. Bilmar sudah rapih dengan jas kantornya. Lelaki itu sedang terduduk di sofa kamar sambil menatap layar Ipadnya.
Menunggu Alika yang memang sudah rapih, tapi meminta izin dulu ke dalam toilet sebelum pergi. Rencananya memang hari ini, Alika akan pergi ke Bandung lagi dan Bilmar tetap menemaninya.
Mungkin lupa, dirinya sedang berpuasa. Lelaki itu bangkit dari sofa dan melangkah menuju kulkas yang terletak di sudut kamar. Mengambil sekotak susu full cream dari jejeran susu yang berdiri tegak.
__ADS_1
Srtt
Srrt
Ia terus meminumnya tanpa rasa bersalah. Namanya juga lupa. Kembali duduk dan memangku lagi Ipad nya.
Alika melongo tidak percaya ketika baru saja keluar dari kamar mandi mendapati suaminya tengah minum susu.
Ia melangkah dengan gelengan kepala menuju suaminya. "Duh seger ya, pagi-pagi udah minum susu." sindir Alika halus.
Bilmar tersenyum dan mengangguk. "Enakan malam sih, kalau minum susu. Haha, susuu Mama."
Alika mendengus, mendelikan matanya. "Mau tambah lagi enggak susunya?" sindir Alika lagi. Berharap suaminya peka, kalau saat ini dirinya sedang berpuasa.
Bilmar menggeleng."Tolong ambilin wafer, Mah." lelaki itu menunjuk ke dalam kulkas.
Alika kembali terhenyak. Benar-benar lelaki ini, hanya modus ikut sahur semalam. Nyatanya suaminya itu berbohong karena hanya pengin makan mie rebus saja.
Alika menghela napas sambil melangkah menuju kulkas, melongokkan kepala dan menikmati sensasi segar dan dingin dari dalamnya.
"Nih ..." Bilmar meraih wafer kesukaannya dari tangan Alika.
"Sahur lagi nih ceritanya?" tanya Alika sambil memutar tubuh untuk berjalan ke meja nakas untuk meraih tas kerjanya.
Bilmar tersentak. Ia kaget. Dirinya baru sadar dan ingat kalau sedang berpuasa hari ini.
"Astagfirullahalladzim, Papa lupa, Mah." serunya menyesal.
"Lupa sampai sekotak susu habis terus nambah wafer." cibir Alika. Ia melepaskan langkah menuju pintu untuk keluar dari kamar.
Bilmar bangkir dari sofa, mengejar istrinya untuk ikut turun bersama.
"Papa lupa, Mah. Beneran deh." rengeknya sambil melangkah bersisihan di pertengahan anak tangga.
"Ya udah kalau lupa, lanjutin lagi puasanya sampai Magrib."
"Tapi Papa belum sempat minum air putih nih, kayaknya sisa wafernya masih nyangkut di tenggorokan. Harusnya tadi diingatkan sehabis Papa minum air putih aja, Mah." tawar Bilmar jujur tanpa rasa dosa.
Alika menghentikan lajuan langkah untuk menuruni anak tangga selanjutnya. Ia melototkan mata dan menjawil telinga suaminya.
"AMPUN, MAH ..."
***
Yah, thor kok adegan 21 nya sekarang gak hot. haha, sekarang Nt lagi ketat dengan adegan vulgar guys. Dari pada masuk ke sistemnya lama, mending aku cari aman. Dan aku sadar, adegan itu harus ada pertangungg jawabannya. Aku akan terpaksa memberikan adegan betul2 hareudang kalau dirasa sangat dibutuhkan untuk menambah feelnysa. Ya semisal part lagi Malam pertama, ya boleh lah wkwkw. Mungkin ketika udah selesai, semua adegan tersebut akan aku revisi biar cool gak hot lagi🤪🤪😬.
Biarin tuh si Bila seret sampai Isya🤪😂
__ADS_1