
"Kenapa, Pah?" tanya Alika dengan wajah heran, ketika permainan bibir mereka di sudahi secara sepihak oleh suaminya. Bilmar beranjak bangkit dari atas tubuh Alika, lalu berguling merebahkan diri disebelahnya, meletakan lengan untuk menutupi wajahnya.
"Kamu kenapa, Pah?" Alika kembali bertanya, sambil mengkancingkan kembali piyama tidurnya. Memiringkan tubuhnya untuk menatap Bilmar.
"Say ..." suara Alika mengatung di udara ketika melihat Bilmar merubah posisinya untuk memilih tidur memunggunginya.
Hati lelaki itu sedang gundah. Jiwanya mendidih seperti sedang terbakar. Jantungnya terus berpacu. Bahkan kelopak matanya terasa panas ketika akan dipejamkan. Sakit hatinya, melihat sang istri disukai banyak pria hidung belang. Lelaki itu takut, Alika akan terpancing.
"Pah? Ada apa? Papa sakit?" Alika terus bertanya, ia memaksa agar Bilmar mau menjawab.
Alika beringsut, menempel lekat dibalik punggung suaminya. Melolongkan tangannya dibawah lengan Bilmar dan memeluk perut lelaki itu.
Hembusan napas Alika begitu saja menyapu permukaan tengkuk Bilmar. "Kok berhenti? Kita enggak jadi bikin dedeknya Ammar?" ucap Alika dengan kekehan kecil. Ia masih saja merayu Bilmar, takut-takut dirinya mempunyai kesalahan yang mungkin belum ia sadari.
Bilmar memaksakan matanya untuk terpejam, menahan sekuat hati untuk tidak marah. Sampai ia harus tahu betul, bagaimana sikap dan apa kemauan ketiga lelaki itu kepada Alika.
"Mama ada salah sama Papa?" ulanginya lagi.
Hening. Bilmar mencoba mengeluarkan suara dengkuran. Stop, katanya. Jika Alika terus seperti ini, Bilmar pasti akan terpancing, dan pertengkaran akan kembali terjadi.
"Sudah tidur, Papa ngantuk!" ucap Bilmar tegas. Alika hanya menghela napas pelan sambil mengusap perut suaminya. "Enggak cium dulu, Pah?" Alika mengingatkan. Tentu yang satu itu tidak bisa ia tolak.
Bilmar membalikan badannya. "Mama aja yang cium." jawabnya dengan nada dingin.
Alika tersenyum dan mengangguk. "Ya udah kita doa dulu ya." Alika mengajak Bilmar untuk berdoa sebelum tidur.
Setelah selesai, ia mulai mencium dari bagian dahi sampai bagian terakhir yaitu bibir. Ini memang ritual sebelum tidur yang selalu mereka jalani selama pernikahan.
Alika menarik selimut dan menutupi tubuh suaminya sampai perbatasan dada. Ia pun masuk didalamnya, lalu tertidur dengan posisi sama setiap malam, yaitu sambil memeluk perut Bilmar.
Dan tidurlah lelaki itu dengan membawa sejuta amarah dan kekesalan batin. Ia ingin secepatnya esok, tangannya sudah jelingah ingin mencincang ketiga lelaki itu. Meremuk kan tulang belulang dan menguburnya di kaleng sarden.
*****
Bukan urusan sulit untuk mendapatkan asal-usul ketiga lelaki itu. Hanya dengan permainan jarinya, Bilmar bisa mendapatkannya semua tentang mereka hanya dalam hitungan menit. Jangan lupakan lelaki ini memiliki banyak mata-mata handal yang tersebar dimana-mana.
__ADS_1
Pukul 09:00 pagi, sesuai pesan balasan yang ia kirim kepada Rahardian. Mereka akan bertemu di salah satu kafe yang sudah diputuskan oleh Bilmar. Awalnya Rahardian sedikit ragu, mengapa Alika mau bertemu dengannya di waktu sepagi itu.
Tapi karena matanya sudah ditutup dengan rasa napsu, ia mau saja mengiyakan. Dan di sini lah lelaki itu berada. Di meja pojok yang mengarah keluar jendela. Bisa menikmati pemandangan parkiran mobil dari dalam kafe.
"Permisi." suara bariton terdengar, membuat Rahardian yang sedari tadi menatap layar gawai menoleh ke sumber suara.
Awalnya ia kaget, mengapa ada pria yang tidak dikenal menghampiri dan menyapanya. Namun ia tidak ambil pusing, Rahardian tetap memberikan senyum sapanya. "Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Ck, lelaki laknat." decak Bilmar dibalik senyumnya yang menawan. Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Dengan Bapak Rahardian?"
"Iya, betul." jawabnya dengan raut tatap yang berubah menjadi raut selidik.
"Siapa orang ini? Sepertinya saya belum mengenalnya." gumam Rahardian.
Dan ada suara Dewi Fortuna yang sepertinya berbisik. Sang Algojo datang ingin mencabut habis rambutmu, Rahardian.
"Boleh saya duduk?" suara Bilmar membangunkan Rahardian dari lamunan.
"Oh, iya. Silahkan." Rahardian mempersilahkan Bilmar duduk dihadapannya.
DEG.
Seketika wajah Rahardian tertohok. Segumpal saliva ia telan lurus. Debaran jantung kembali hadir, malah sangat kuat. Ia sedikit meringis ketika Bilmar menatapnya dengan tatapan mulai angkuh.
"Kok bisa suaminya yang datang? Apa semalam itu nomor suaminya?" desah Rahardian dengan wajah gelagapan. Lelaki itu terlihat sangat kikuk. Dan semua gerak-gerik kaku nya tertangkap dalam pandangan Bilmar. Lelaki itu tertawa sarkas.
"To the point saja. Katakan apa yang mau anda inginkan dari istri saya?" Bilmar masih menahan untuk tidak melakukan penyerangan.
Dia memang cemburu, tapi ia tidak sebodoh itu. Ia masih bisa tenang, walau kepalan tangannya sudah ingin menerjang tulang pipi lelaki itu. Ia harus tetap sabar, jika tidak. Alih-alih ia yang akan dibuat malu didepan banyak orang.
"Saya tidak mengerti maksud anda, Pak." jawab Rahardian dengan senyuman palsu.
"Saya tahu anda sudah beristri, mempunyai empat orang anak. Dua perempuan dan dua laki-laki. Istri anda seorang aktivis di badan persatuan pembantuan sosial. Usaha anda banyak tersebar di mana-mana. Tapi satu yang anda lupakan, semua mitra anda, ada dalam genggaman tangan saya!" jawab Bilmar, ia sedikit menaikan dagunya.
"Anda tau segalanya tentang saya?" Rahardian terperanjat, wajahnya menegang dan langsung memerah. Hawa takut terus berdesir kuat. Jantungnya tambah berdenyut hebat.
__ADS_1
Bilmar menyunggingkan senyum nyeleneh. "Katakan sekarang juga, sebelum mobil mewah anda saya giling."
"Hah? Maksudnya?" dengan cepat ia menyeret bola matanya ke arah luar jendela. Ia sampai berdiri karena kaget. Kedua matanya melotot histeris seperti ini melorot jatuh ke atas lantai.
Ia tidak percaya jika mobil nya kini sudah melintang di tengah-tengah aspal parkir dan ada mesin penghancur yang sangat besar di sana.
"Saya tinggal bilang OK, dan mobil anda akan rata dengan tanah." ucap Bilmar.
"Tolong anda jangan gila, Pak!" bentak Rahardian. Melihat nyali Rahardian tidak mau menciut, Bilmar menggebrak meja dan berdiri. Ia menarik kerah baru Rahardian dengan tatapan setajam singa yang sedang lapar.
"Tidak ada yang bisa menyentuh milik saya! Jangan sekali-sekali anda berani menggoda atau mau merencanakan sesuatu yang buruk terhadap istri saya! Saya tau apa yang ada didalam otak anda!"
Napas Rahardian terengah-engah, ia tak mampu menyahut. Lidahnya kelu, ia hanya bisa berdiam, jika salah ucap, dirinya takut akan habis dikeruk oleh singa lapar dihadapannya ini.
"Tarik saham anda sekarang juga! Saya tidak sudi anda menjadi mitra istri saya! Saham yang anda punya hanya butiran debu bagi saya!" ucap Bilmar dengan mata menyalak tajam.
"Saya menunggu anggukan kepala anda, sebelum mesin penghancur itu saya operasikan!" Bilmar melepas cengkraman tangannya dari kerah kemeja Rahardian, sekilas menepuk pundak lelaki itu untuk menghilangkan debu di sana.
"Ma---afkan saya, Pak. Saya khilaf." jawab Rahardian jujur. "Saya akan menarik saham saya secepatnya." sambung Rahardian dengan suara terbata-bata. Ia sudah kepalang basah, mengelak rasanya juga percuma.
Bilmar menghempaskan dirinya lagi di sofa dengan mengangkat satu kaki kanan yang diletakan di atas lutut kirinya. Merentangkan kedua tangannya di atas puncak sofa. Ingin sekali menghajar lelaki ini, tapi masih ia tahan. Ia hanya tidakk ingin namanya ada di surat kabar. Karena kasus pemukulan dengan beberapa orang.
Bilmar mengalihkan tatapannya ke arah pintu dan sedikit Menggerakkan kepalanya. Dan datanglah para bodyguard yang entah datang dari mana, lalu menghampirinya.
"Siap, Pak." ucap empat orang dari mereka secara bersamaan.
"Jika anda berani melakukan hal seperti ini lagi, saya akan pastikan anda mendekam di bawah tanah!"
Rahardian semakin gelagapan dan tersudut
"Bawa lelaki ini, antar ke mobilnya." titah Bilmar kepada mereka. Rahardian mengedik kaget, ia sedikit meronta ketika tubuhnya sudah berada dalam genggaman para bodyguard tersebut.
"Tinggal dua tikus lagi." ucapnya penuh tatapan amarah.
*****
__ADS_1
Like dan Komen ya guyss🌺❤️