MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Mama Membohongi Papa


__ADS_3

Pagi kembali menyingsing. Sinar matahari perlahan mulai naik. Setelah semalam suntuk berpacu dengan kegelisahan hati, akhirnya Bilmar dapat tertidur ketika ayam akan berkokok.


Hatinya gundah gulana. Bilmar masih saja menerka apa yang sedang Alika tutupi. Ia sudah mencoba untuk percaya alasan istrinya tadi siang, tapi tetap saja hati kecilnya berkata lain.


"Pah, bangun. Sudah jam delapan, kamu belum mandi juga?" seru Alika, menyentuh bahu suaminya untuk membangunkan paksa lelaki itu.


Wanita itu tertohok ketika kembali ke kamar dan mendapati suaminya masih tengkurap di atas tempat tidur. Kemeja dan celana kerja yang sudah ia siapkan saja masih rapih di bibir ranjang.


Dari jam enam pagi, Alika sudah ada di dapur untuk memasak, menyiapkan sarapan di meja. Membangunkan anak-anak, menyiapkan pakaian Maura dan Ammar, dan menyiapkan segala sesuatu hal lainnya.


"Kepala Papa pusing, Mah." ucap Bilmar dengan suara parau.


"Mama ambilin obat dulu ya." Alika beranjak ke kotak obat yang bertengger di dinding kamar. Meraih satu tablet obat dan gelas berisi air di atas nakas.


"Ayo sayang minum." Alika kembali memegang bahu suaminya.


Bilmar bergeliat dan beranjak untuk duduk, menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Meraih obat itu, menelan dan mendorongnya dengan air.


"Sarapannya mau dibawa ke sini?" tanya Alika.


Bilmar menggeleng. "Biar nanti Papa yang turun ke meja makan, sekarang Papa mau mandi dulu."


Bilmar harus tetap menyelidiki Alika hari ini. Ia tidak akan tenang sebelum dadanya terasa plong.


"Papa tetap kerja?" tanya Alika.


"Hemm ..." Bilmar mengangguk lalu beranjak turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Padahal kepalanya saat ini sangat berat, kalau bisa ia ingin merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur.


Ini kan karena sikapnya sendiri, karena terus menerka- nerka istrinya, ck!


"Hhh ..." Alika menghela napas pelan. "Papa kayaknya aneh, enggak biasanya mukanya kusut gitu, seperti orang yang sedang menahan kesal." batin Alika.


Sambil menunggu Bilmar mandi, Alika bersiap untuk memilih baju yang akan ia gunakan hari ini. Ia memilih dress putih berlengan panjang dan tertutup, lalu mencari sebuah pasmina panjang.

__ADS_1


Terakhir ia berjalan menuju laci nakas untuk mengambil sebuah buku Yassin dan meletakkannya buru-buru ke dalam tas. Jika Bilmar tahu, lelaki itu pasti akan curiga. Walau sejatinya, Bilmar sudah menangkap hal yang ditutupi oleh istrinya.


"Aku mandi di kamar Maura aja deh." ide Alika.


Ia tidak jadi bergantian dengan suaminya. Karena untuk mempersingkat waktu. Mumpung masih pagi dan belum terlalu panas, ia akan mendatangi makam Aziz terlebih dulu sebelum ia berangkat ke kampus. Ingin mendoakan Almarhum mantan suaminya setiap bulan seperti biasa.


****


Hanya ada dentingan sendok dan garpu yang saling bersautan di meja makan. Begitu hening. Alika dan Bilmar sama-sama sedang merasakan keanehan. Mereka sedang menerka sikap masing-masing. Suasana sarapan pagi ini terasa beku.


"Ada apa dengan Papa ya? Gak biasanya tuh diem terus ..." ucap Alika dalam hatinya.


Bilmar tetap fokus melahap sarapannya, walau sesekali ia mengangkat wajah untuk menatap Alika yang sedang menunduk menatap makanannya.


"Mau kemana kamu, Mah? Kenapa pakaiannya seperti itu?" Bilmar membatin.


Berkali-kali keningnya mengerut, ia aneh mengapa Alika memakai baju yang tidak biasa. Baju tersebut biasanya akan ia pakai untuk acara kerohanian.


"Sepertinya Mama tidak akan ke kampus hari ini." terka nya lagi.


Dan tidak sengaja lelaki itu menoleh ke arah tas Alika yang di letakan di atas kursi kosong di sebelah istrinya. Tersembul ujung kain pasmina bewarna putih keluar dari resleting tas.


Jantung lelaki itu kembali bergemuruh cepat. Seraya oksigen dihadapannya mulai menghilang, karena dadanya kembali sesak. Ia tahu istrinya tengah berbohong.


Drrt drrt drrt


Ponsel Alika terlihat bergeser karena suara getar. Alika menatap ponselnya dan menemukan nama penjaga makam di sana. Lama ia terdiam, bingung ingin menjawab atau tidak, ia takut suaminya akan tahu.


Namun sebelum tangan Bilmar menjulur untuk meraihnya, Alika dengan kecepatan tinggi, langsung menarik ponsel tersebut. Mengusap layar icon dan berpura-pura berbicara dengan Kiki.


"Iya, Ki. Tunggu saya sudah mau jalan kok." ucap Alika di sambungan telepon. Sepertinya di sana, penjaga makam tengah melongo, mengapa Alika berucap hal tidak ia mengerti.


Bilmar menatap lurus wajah istrinya yang terlihat sangat gugup.

__ADS_1


"Pah, Mama duluan ya." ucap Alika.


"Sarapan kamu kan belum habis, Mah." nada suara Bilmar terlihat dingin.


"Mama udah kenyang, Pah. Lagian Mama juga sedang buru-buru. Kasian Kiki sudah menunggu di kampus." jawab Alika meyakinkan.


"Ya sudah."


Setelah mendapat anggukan kepala dari Bimar, Alika sedikit membungkukkan tubuh dan menunduk, ia meraih punggung tangan suaminya untuk di cium.


"Papa hati-hati di jalan ya di jalan." ucap Alika lalu melepaskan kecupan hangat di kedua pipu, kening dan bibir Bilmar.


"Mama juga." jawab lelaki itu singkat.


Alika kembali mengangguk dengan senyuman, ia meraih tas dan berlalu dari meja makan. Terus melangkah sampai ke pintu utama dengan debaran jantung yang kuat.


"Semoga aja Papa gak curiga." gumamnya, lalu kembali menoleh ke arah meja makan, dimana Bilmar masih duduk di sana. memungunginya.


Alika tidak akan menyangka kalau berbohong, dapat membuat hatinya terasa begitu pedih. Apalagi selama delapan tahun ini, Alika berhasil membohongi Imam dalam rumah tangganya.


Dirasa deru mesin mobil istrinya sudah melenggang keluar gerbang. Dengan secepat angin tornado, Bilmar mengeluarkan ponselnya dan masuk ke aplikasi GPS yang bisa melacak keberadaan istrinya.


Alat GPS yang tanpa Alika tahu, sudah dipasang lama oleh Bilmar di dalam mobilnya sendiri. Dan entah mengapa dalam dua tahun belakangan ini, ia sudah jarang mengawasi istrinya lewat GPS.


Bilmar menyeringai tipis. "Akhirnya Papa tau, bahwa Mama memang sedang membohongi Papa!"


Wajah Bilmar terlihat geram. Ia kaget setelah melihat rute jalan yang Alika lewati. Rute yang berlawanan arah dengan alamat kampus nya.


Kemudian, tanpa menunggu lama, Bilmar pun melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam kereta besinya. Ingin mengikuti Alika sampai ketempat tujuan.


*****


Ayoloh, ada yang bisa nebak apa yang akan terjadi setelah ini?

__ADS_1


__ADS_2