
[Jemput gue sekarang di Kampung Mahoni dua, kalau lo kagak tau letaknya, cari aja di peta! Cepetan nggak pake lama]
Tring
Notifikasi pesan singkat masuk secara bersamaan kedalam ponsel milik Nino dan Dion. Kini mereka sudah berada dirumah masing-masing. Nino terlonjak kaget ketika membaca pesan tersebut. Lelaki itu baru saja bregoleran diatas sofa sambil menonton televisi.
"Tuh kan apa gue bilang si kura-kura mana bisa pulang sendiri!" sungut Nino.
Sama hal diseberang sana, Dion pun tak kalah kaget. Ia menyerengit ketika baru saja meletakan pecinya di atas meja belajar. Dion baru saja melepas shalat Isya berjamaah di Masjid bersama Bapaknya.
"Kan, kan, gue bilang juga apa! Hadeuh si Bila!" decak Dion. Masih membaca pesan itu dan berniat menjawab OK, selang berikutnya ada telepon masuk dari Nino.
"Iya, Nin?" tanyanya ketika suara Nino sudah terdengar di sana.
"Oh yaudah kalo gitu, kita jemput berdua aja! Gue tunggu depan gang ya!"
Dion mematikan sambungan telepon dan bersiap-siap untuk mengucap izin kepada orang tuanya untuk pergi sebentar ke rumah Bilmar.
"Mau ngerjain tugas kelompok, Mak." ucap Dion sambil mencium tangan Emak dan Bapaknya bergantian. Hanya itu alasannya, berakting membawa tas dan buku pelajaran.
"Pulang jangan malem-malem ya, Yon." jawab Emak lalu di timpal oleh Bapak.
Dion mengangguk dan mengucap salam. Masih dengan baju kokoh dengan celana panjang yang belum di buka, ia pun melesat menuju depan gang untuk menunggu sahabatnya, Nino.
Lalu di sini, terlihat Bilmar tengah duduk sendirian di pos ronda yang hanya bermandikan cahaya lampu petromax. Tatapannya lesu, sendu dan nanar.
Ingin menangis, tapi urung. Sedari tadi ia berharap air mata itu bisa keluar ketika sedang memohon belas kasih kepada Alika di dua jam yang lalu. Namun air mata buaya itu tidak kunjung turun.
Ya, dua jam yang lalu. Bilmar dan Alika menuruni angkot yang mereka stop tepat di depan gapura perkampungan. Bilmar berharap dengan dirinya mau mengantar pulang Alika dengan angkutan umum, hal itu membuat Alika akan memaafkan dan mau menerima dirinya lagi.
Nyatanya, tidak!
Alika tetap kuat dengan pendiriannya, walau berkali-kali ia rapuh dan ingin jatuh. Tetapi tetap ia tidak boleh kalah dengan perasaan, ia tahu Bilmar hanya bersandiwara.
"**Cukup ini yang terkahir kali, kamu mendatangi perkampungan ini, Bil! Kita berteman aja, lagian juga kita mau ujian nasional."
"Aku mau fokus, kalau mikirin masalah ini terus yang ada nilai kita jelek dan enggak lulus! Kamu juga kan mempunyai target ke London setelah ini. Sekalipun kita pacaran, kita akan berpisah dalam waktu lama. Aku enggak bisa**!"
Dan air mata suci itu akhirnya menetes membasahi kedua pipi Bilmar. Patah hatinya dan remuk jiwanya, ucapan Alika dua jam lalu terus saja terngiang-ngiang di benaknya.
__ADS_1
Tubuhnya terasa lemas, telapak kaki terasa lemah seketika ia merasa tidak berdaya, memilih untuk menetap di gardu siskamling di perkampungan rumah Alika. Termenung lama di sana, ia terus berharap agar Alika kembali menemuinya, nyatanya gadis itu tidak kembali sampai sekarang.
"Tega banget kamu, Al. Aku memang salah, apakah aku tidak bisa diberi kesempatan lagi?" desah Bilmar. Ia terus menyeka air matanya.
"Gue nih laki! Kok bisa gue nangis kayak begini, setan emang!" Bilmar mengumpat dirinya sendiri.
Hanya cinta yang bisa membuat orang berbeda, mengobrak-abrik perasaan dan membuat luka serta bahagia dalam waktu bersamaan.
"Aku sayang sama kamu, Al!" desahnya lagi.
"Tapi cinta itu tidak harus memiliki, Bil!"
Kembali ia teringat ucapan Alika yang lain, semakin membuat hatinya tergilas seperti tengah di giling oleh mesin penghancur bawang dan cabai.
Tak berapa lama dengan perjalan yang menguras emosi, tenaga dan segala makian serta umpatan. Dua anak lelaki yang bernama Nino dan Dion, pun sampai dengan selamat di perkampungan yang di amanat kan menjadi alamat dimana Bilmar sekarang berada.
"Tuh, tuh, di pos ronda!" tepuk Dion di bahu Nino, ketika mereka celingak-celinguk setelah sampai di depan figura perkampungan rumah Alika.
Tidak mudah menerobos jalanan penuh ceruk, berbatu dan licin karena tanah liat merah yang basah. Sesekali mereka ingin tergelincir jatuh karena belum biasa mengendari kendaraan di perkampungan ini.
"Ya Allah, kasian si Bila. Putus hati sampai hancur begitu mukanya." jawab Nino, ia terus menekan pedal kopling motor satria nya untuk mendekati Bilmar yang terlihat sekilas tengah melambaikan tangan kepada mereka.
Cit.
Bilmar kembali terisak dalam dekapan dada mereka. Menumpahkan segala kecewa dan penyesalannya. Kemana jiwa nya yang tempramental dan suka kekerasan? Kini berubah menjadi kelinci imut yang menggemaskan.
"Udah, Bil. Sabar dulu. Jangan terlalu maksain Alika. Kalau dia emang sayang sama lo, dia pasti bakalan balik!" ucap Nino.
"Iya, Bil. Alika sayang sama lo, dia hanya butuh waktu! Masih kecewa, wajarin aja dulu."
"Tapi dia bilang enggak akan bisa lagi jadi pacar gue!" ucap Bilmar dengan nada memelas.
"Sabar, Bil, sabar!" ucap Nino dan Dion bersamaan. Mereka tetap mendekap Bilmar. Saling merangkul untuk memberikan kekuatan.
Lalu
Tak lama kemudian, romansa persahabatan itu terhancurkan begitu saja ketika mendengar suara hardikan dari jauh.
"HEH! SIAPA TUH!"
__ADS_1
Sontak mereka bertiga menoleh ke arah lelaki yang sedang berdiri sejauh dua meter dari posisi mereka saat ini. Lelaki paru baya bertelanjang dada dengan sarung menutupi bagian bawahnya sambil memegangi sapu lidi.
Mereka bertiga terlihat meringis, takut dengan perangai si bapak yang masih belum terlihat jelas karena tertutup bayangan malam.
"Malem-malem telanjang dada, awas masuk anjingg, Pak." bisik Dion nyeleneh.
"Masuk badai, tololl!" Nino menimpali.
"Kalian ngapain di sini? Peluk-peluk kan segala, mana laki-laki semua! Mau belajar nge-Homo?" ucap Bapak itu.
"WHAT??" mereka berteriak nyaring bersamaan.
"Dih najis!"
"...Howe!"
"Geleh-geleh-geleh!"
Rentetan cuatan yang beriringan keluar dari mulut mereka bertiga untuk merespon terkaan tidak berkahlak dari lelaki paru baya itu.
"Anak mana kalian?" tanya si lelaki itu lagi.
Mereka bertiga diam, membisu dan tidak mau menjawab. Takut diselidiki dan masalahnya menjadi panjang.
"Udah sana pergi! Jangan pernah kotori kampung ini! Kalau sampai saya lihat kalian lagi, saya tebas burung kalian semua! Pulang! Ayo cepat pulang!" kelakar lelaki itu. Terlihat marah dan emosi. Ia tetap menghardik dan mengusir mereka bertiga.
"Ehh ii-yaa Pak, kita out sekarang." ucap Nino lalu menarik tubuh Bilmar untuk bangkit dari pos ronda.
"Kenapa sih bawa motornya cuman satu?" bisa-bisanya dalam keadaan kepepet seperti ini, Bilmar masih komplen saja.
"Udah cepetan, Njingg. Naik!" Dion mengangkat paksa Bilmar untuk duduk diatas motor. Ia pun akhirnya duduk dibelakang Bilmar.
"Assu-lah! Gegara nolongin si Bila, kita jadi kena damprat sama laki-laki tua! Diancam segala lagi burung mau ditebas, burung dia aja tuh yang udah bangkotan di cincang dua belas juga gak masalah!" decak Nino, sambil bersiap untuk menyalahkan deru mesin motornya.
"Eh anak monyet, lo tadi bilang apa---"
Suara Bapak itu terhenti, ketika motor mereka sudah melaju kencang meninggalkan sekumpulan asap hitam yang menerpa wajah si Bapak yang masih mematung di posisinya.
Sekilas Dion menoleh untuk menjulurkan lidah kepada si Bapak tersebut, dan sorak suara mereka terdengar setelahnya. Bertiga di motor membelah jalanan malam, Nino dan Dion berhasil membawa Bilmar kembali pulang walau dalam suasana hati yang hampa.
__ADS_1
*****
Siapa yang punya sahabat kayak Nino dan Dion, pasti hidupnya pada happy deh❤️