
"Jancok! Lo dulu yang keluar!" kelakar Bilmar. Ia kesal karena Nino masih saja bersembunyi dibelakang tubuhnya.
"Malu, Nyet! Gue udah kayak nggak ada harga diri." sungut Nino. Ia terus mendorong tubuh Bilmar agar menyembul lebih dulu.
Mereka berdua terlihat masih bersembunyi didalam kemah. Dari tadi suara Dion sudah menyerukan nama cast mereka dengan toak.
"Kamandanu ... Kumbara, ayo keluar." seru Dion yang masih duduk di kursi kecilnya dibawah payung besar yang dikelilingi para kru.
Bilmar dan Nino menyerengit. "Apaan tuh kata si boncel ... Panu?" ucap Nino.
"Kamandanu! Itu kan nama lo sekarang."
"Oh, iya. Lupa scrip gue, Bila."
"Emang bang ... Sat si, Yayan! Jadi hilang ketampanan gue---"
"Dan tentunya karisma gue sebagai Dokter." selak Nino sambil menggeleng frustasi.
"Kalo dia bukan temen, udah gue pangkas nenenn nya!" gerutu Bilmar kesal.
Tolong deh, kemana lagi gue minta bantuan. Si David tiba-tiba diare, dia jadi gak fokus. Gue cuman pinjem tubuh lo aja, Bil. Nanti mukanya gue edit. Lo diem aja bergoler di singgana.
Lo juga, Nin. Jadi pendamping Raja. Yang pegang kipas. Tubuh lo kekar, masuk ke kriteria jadi penjaga raja. Nanti lo tugasnya hanya ngipasin si Bila.
Beberapa rayuan dan permintaan tolong Dion masih saja terbayang-bayang di benak mereka berdua. Awalnya mereka berteriak dan menolak mentah-mentah. Tapi apa daya, lagi-lagi kata persahabatan sebagai kunci di antara mereka.
"Tapi benar ya, muka gue di edit!" ancam Bilmar.
"Muka gue juga, Yan!" sentak Nino.
Dion mengangguk mantap. Wajahnya begitu berbinar bahagia. Untung saja ia punya Nino dan Bilmar yang mempunyai tubuh tinggi dan atletis. Tapi tetap saja diantara mereka yang mengungguli kegagahan dan ketegapan bidang dada adalah Bilmar seorang.
"Kamandanu ... Kumbara." Dion menyerukan lagi nama mereka. Dengan segala keterpaksaan, dan malu yang sudah mencincang wajah. Nino dan Bilmar memberanikan diri keluar dari bilik kemah.
"Anginnya kenceng lagi, mana telanjang dada begini. Gue bisa masuk setan nih---"
"Masuk angin, Nyet." selak Bilmar.
Langkah mereka semakin dekat, dan Dion masih saja terpingkal-pingkal di kursinya, memegangi perut seraya tidak tahan dengan apa yang sedang ia lihat dengan mata telanjang.
Para kru wanita ada yang tertawa, tersenyum genit dan menyerukan ketampanan mereka. Walau Bilmar dan Dion sudah di dandani seperti raja----oh sepertinya bukan, Bilmar dan Nino sekarang lebih mirip seperti pendekar, tetap saja mereka begitu menggemaskan.
Dion bangkit dari kursi dan menghampiri kedua sahabatnya itu yang sudah sampai mimbar on stage.
"Duh pada ganteng-ganteng banget yak." Dion tertawa ketika sudah berhadapan dengan mereka berdua.
"Dasar bulu babbi!" decak Bilmar.
"Tau nih ... Dasar jenggot kuda, Lo!" Nino ikut mencerca.
Sedikit wajah bete mereka karena malu ditatap dan diketawai oleh para kru-kru. Mereka tidak tahu saja Bilmar adalah seorang Presdir yang cukup punya kekuasaan, bahkan kalau ia mau. Ia bisa mendanai pembuatan film absurd ini. Dan Nino, seorang Dokter Kandungan yang paling di gilai di Kota nya. Bisa turun famous nya jika ketahuan menjadi pemain cadangan di film anak naga betina.
__ADS_1
"Eleh-eleh. Jangan marah atuh cayang. Sini-sini, Papa benerin dulu rambutnya." Dion menggoda Nino dan Bilmar. Ia mengatur rambut panjang yang saat ini sedang digunakan oleh kedua sahabatnya.
Tampilan mereka saat ini sungguh mengobrak-abrik perut. Mungkin kalau ada Alika dan Hana, dua wanita itu sudah tertawa guling-guling di tanah.
Dengan rambut gondrong panjang sampai sedada, memakai headband yang direntangkan di kening mengelilingi kepala. Memakai rompi tanpa kancing, memperlihatkan dada mereka dengan telanjang. Terlihat kain keemasan menjuntai menutup bagian bawah mereka sampai ke mata kaki. Dan tidak lupa ada ekor panjang yang menempel di kain.
"Merih, tolong bawain gue gunting." titah Dion kepada asistennya yang wanita tapi pria.
"Ini, Bos." ucapnya sambil menyodorkan gunting tersebut. Merih mengedipkan mata ke arah Bilmar dan Dion lalu menjulurkan lidah seraya mengusap bibirnya sendiri.
"Dih grandong! Gue tekek, lo!" decak Nino sambil mengangkat sikut ke arah dada seraya ingin menggibeng Merih.
"Aww atut." Merih berlari terbirit-birit.
"Eh--eh! Lo ngapain monyet!" kelakar Bilmar.
"Bulu dada lo agak lebat, Bil. Gue pangkas dulu dikit." Dion memaksa memotong dan ia berhasil memangkas beberapa helai sehingga tidak kasar.
Nino tertawa. "Emang temen gak ada akhlak lo! Enggak sekalian tuh bulu yang bawah di pangkas juga."
"Beda profesi atuh! Bawah mah bagiannya Alika, hahaha." Nino dan Dion tertawa terbahak-bahak.
"Dasar manusia Dajall!" seru Bilmar kepada Dion, lalu menepis tangan lelaki itu dari dadanya.
"Di sini beneran gue jadi Raja? Kok gue ngerasa tampilan gue kaya Wiro sableng, Yan!" decak Bilmar.
"Jadi Limbad dong! Begoo, lo!" Dion menoyor kepala Nino.
"Udah lo diem aja. Enggak usah komenin kostumnya. Yang penting akting lo berdua bagus." jawab Dion serius.
"Akting gimana? Bukannya kita cuman di suruh diem?" tanya Bilmar.
"Dan tugas gue cuman kipasin si Bila doang 'kan?" Nino ikut bertanya.
"Diem kan juga akting." jawab Dion dengan gelak tawa.
"Bener ya, Yan. Lo edit muka gue! Jangan sampai Alika, Maura dan Ammar langsung muntaber, pas lihat film lo karena ada gue!" Bilmar mengancam.
"Gue juga, Yan. Awas aja kalau sampai Hana dan Farhan tau! Gue bisa hilang harga diri sampai tujuh turunan." Nino ikut mengultimatum.
"Pada gak percaya banget sih. Tenang, broh. Gue janji!" Dion tersenyum sambil menyentak bahunya.
Dion mulai mengarahkan posisi yang harus mereka lakukan. Bilmar yang berperan sebagai Kumbara di titah untuk bergoler sambil makan pisang di sebuah sofa yang sudah di hias dengan berbagai kain persis seperti di kerjaan goa hantu. Dan Nino di posisikan berdiri di samping sofa raja. Latihan mengipas-ngipas tubuh Bilmar.
"Parah lah! Masa gue jadi jongos begini!" sungut Nino. Ia baru ngeh kalau perannya tidak lebih sebagai pembantu raja.
Bilmar terkekeh geli. "Baru sadar lo? Dari tadi kemana aja?"
"Udah-udah, jangan pada ribut! Gue mulai sekarang ya." ucap Dion. Lalu ia berlalu ke tempat semula.
__ADS_1
"Kamandanu ... Kumbara, siap ya!" seru Dion sambil menghitung satu dua tiga ditangannya.
"Rolling Action!"
Kamera mulai menyoroti tubuh mereka. Dion menatap layar televisi yang sudah disambungkan dengan kamera dari kameramen.
"Kayak lutung lo, Bil. Makan pisang." ledek Nino. Bilmar yang sejak tadi menghadap ke kamera sambil memakan pisang seketika mendongak ke atas, menatap Nino yang sedang menahan tawa. Bilmar pun tertawa sehingga tubuhnya bergerak dan Dion risih melihat itu.
"KATT!" seru Dion. Ia setengah bangkit dari kursinya. Menatap lurus Bilmar dan Dion. "Jangan pake ketawa!" sentak Dion.
Membuat Nino mengedik kaget. "Dih serem anjingg." decak Nino kepada Bilmar. Ia mengutuk Dion. Dan Bilmar hanya bisa tertawa.
"Makanya nurut aja, Mas. Mas Dion emang galak dibandingkan sutradara lainnya." timpal Kameramen yang masih setia berada dihadapan mereka.
"Maafin temen kita ya, tapi dia baik kok orangnya." jawab Bilmar kepada kameramen dan di iringi dengan anggukan kepala dari Nino.
"WOY! Jangan ngborol!" sentak Dion lagi.
Mereka kembali mengulang adegan itu. Dan setelah dua puluh menit melakukannya, Bilmar dan Nino terlihat bosan, letih dan malas.
"Ayo dong yang semangat!" teriak Dion.
"Gue kekenyangan makan pisang nih! Udah abis tiga, masa belum dapet juga gambar yang bagus! Lo fikir gue Monyet!" decak Bilmar.
"Udah yang masuk pisang eh yang keluar juga pisang lagi---" selak Nino.
Kameramen tertawa terbahak-bahak dengan kelucuan mereka.
"Bayu ... Beni, sekali lagi ya." pinta Dion. Dengan wajah malas Nino dan Bilmar hanya bisa mengangguk. "Sekali ini ya!" jawab Bilmar dan Nino.
"Kalau dia ngekat lagi, kita kabur aja, Nin."
"Iya lah, udah capek tangan gue ngipasin elu mulu." sungut Nino.
Adegan itu pun akhirnya di ulang. Dan benar saja di menit ke lima, Dion kembali berteriak untuk meng-Kat adegan tersebut.
"Ayo, Bil. Satu ... Dua ... Ti---"
Akhirnya mereka berlari terbirit-birit, sambil memegangi kain yang bersarang dibagian bawah tubuh agar tidak terlepas.
"Tungguin gue PATKAY!" seru Nino ketika Bilmar berlari mendahuluinya. Nino terlihat menghentikan lari, ia bergeming ditengah rumput sambil meletakan kedua tangan di pinggang, napasnya tersengal-sengal. Karena mereka sudah berhasil berlari sampai 200 meter.
"Ini film anak naga betina! Bukan SUNGOKONG, begoo!" Bilmar memutar langkah untuk menarik tangan Nino.
"BILA ... NINA!"
Seketika wajah Bilmar dan Nino kembali terhenyak, mereka menoleh ke belakang dan benar saja dari jarak 100 meter ada Dion yang tengah berlari menuju keberadaan mereka.
"Ayoo, Nin kabur!"
*****
__ADS_1
Like dan Komennya guyss.❣️