MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Aku Suka Kamu


__ADS_3

Benarkah gadis itu Alika Sarasafi?


Si gadis penurut


Si gadis polos


Si gadis yang selalu jujur


Si gadis yang tahu nya hanya buku dan buku


Lalu


Untuk apa dia ada di sini sekarang? Berdua dengan lelaki? Pergi meninggalkan kelas hanya untuk makan berdua tanpa izin dari orang tua. Memang cinta sudah menutup mata dan telinganya. Apalagi Bilmar adalah the first baginya. Orang yang saat ini terus menerus hinggap dihatinya bagai kupu-kupu pada bunga.


Terlihat Alika dan Bilmar duduk berhadapan di sebuah meja bulat yang hanya dikhususkan untuk dua orang saja. Salah satu pelayan dari restoran steak terkenal di kota ini sedang mondar-mandir menyajikan berbagai aneka daging di meja mereka.


Bilmar terus saja terkekeh, menatap perangai Alika yang sedari tadi tidak kuasa membelalakkan kedua matanya untuk berpendar ke penjuru restoran.


"Mewah banget restorannya, Bil." ucapnya tanpa menatap Bilmar, mulutnya masih menganga, Alika takjub.


Memang hanya orang-orang berduit saja yang sering bertandang kesini. Restoran berbintang, dengan alunan musik dari sebuah biola yang menemani para pengunjung. Dari mereka pun ada yang memicingkan mata, mengapa ada dua anak sekolahan di sini.


"Lo suka, Al?" tanya Bilmar.


Alika kembali membawa arah matanya untuk menatap Bilmar. Ia ragu dalam menganggukan kepalanya, memilih untuk menyanggah namun suaranya malah tercekat.


"Tapi.."


"Tapi kenapa?" Bilmar menyelak cepat. "Please jangan minta pulang, Al!" pinta Bilmar penuh harap dalam hatinya. Wajah Bilmar menjadi tegang, dari sikap Alika, ia merasa wanita itu tidak menyukai tempat ini


Alika mengigit bibir bawahnya, ia merasa gugup untuk berterus terang, ia menjadi tidak enak duduk di restoran ini, tetapi ia harus tetap jujur.


"Duit gue gak akan cukup untuk bayar semua makanan ini." jawab Alika.


Please lah, Alika! Ini tuh kencan


Alika memang bukanlah cewek yang peka, jika diajak diner, nonton atau jalan-jalan otomatis si pengajak yang akan membayarnya, apalagi saat ini ia sedang bertatapan dengan seorang Bilmar Artanegara, seorang Banking berjalan untuk para teman-temannya.


Bilmar terlihat mengerutkan kening, satu alisnya meninggi, memicingkan kedua matanya hingga segaris.


"Lo lagi ngeledek gue?" jawab Bilmar.


"Hah? Gimana maksudnya?" sekarang Alika yang malah tidak faham.

__ADS_1


"Karena gue yang ajak lo kesini, gue yang akan bayar, Al!" decaknya. Bilmar menggelengkan kepalanya, seraya tidak percaya dengan sikap Alika yang seperti ini.


"Polos apa begoo, lo?" Bilmar terus saja mentertawakan Alika dalam batinnya. Dasar lelaki laknat.


Bola mata Alika membola sempurna. "Serius, Bil? Gue gak mau ah lo buang-buang duit kayak begini. Lagian juga gue belum pernah makan makanan kayak beginian, takutnya gue muntah, Bil." cicit Alika sendu. Padahal ia sedang berkata jujur, dirinya tidak enak, kalau uang Bilmar habis terbuang hanya untuk mentraktir dirinya. Tenang, Al. Bilmar adalah anak konglomerat, kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan.


"Buat lo mah nggak apa-apa, Al. Gue memang sengaja nyiapin semuanya buat, lo."


"Pesanan sudah semua ya, Tuan." ucap Pelayan yang langkahnya sudah terhenti dimeja mereka dengan membawa dua gelas bening berkaki, yang isinya cairan berwarna merah.


"Baik, terimakasih." jawab Bilmar.


Alika hanya termangu menatap cairan merah yang sedikit bergoyang didalam gelas. Ia kembali menatap Bilmar.


"Malah lebih kenyang makan nasi padang, Bil. Tuh lihat deh, cuman makan daging yang gedenya gak sampai tiga jari sama belecetan kentang, lembek begini." jiwa emak-emak Alika pun muncul, penuh perhitungan yang matang.


"Tapi ini enak, Al. Pengalaman pertama lo kan makan steak?" Bilmar tertawa singkat. "Coba nih lo rasain dulu." Bilmar menyodorkan secuil daging yang sudah ia tusuk dengan garpu.


Alika kembali gugup, romantis sekali lelaki itu fikirnya.


"Ayo buka mulut lo, keburu nih daging dipatok sama ayam."


Alika mencebik, lalu membuka mulutnya dengan malu-malu.


Karena Bilmar sudah gregetan melihat Alika yang seperti ini, ia pun beranjak berdiri dari kursi, membungkuk sedikit lalu menangkup dagu Alika, memaksa wanita itu untuk mau membuka lebar mulutnya, dengan mata melotot karena kaget, Alika membuka mulutnya lebar dan akhirnya mengunyah daging tersebut.


"Gitu dong, kayak anak bayi aja harus disuapin." Bilmar mengusap rambut Alika dan kembali duduk. Dengan lihai, Bilmar memotong kan daging steak di hot plate Alika menjadi ukuran-ukuran kecil. Ia tahu wanita ini tidak akan bisa memotongnya dengan baik.


Sikap Bilmar yang seperti ini tentu membuat hati Alika kembali mendayu-dayu. Bagaimana tidak menyentuh, disepanjang sejalan saja misalnya, Bilmar tidak henti menggenggam tangan Alika selama di motor, mendendangkan alunan lagu cinta dari band Sheila on 7. Rasanya jantung Alika ingin mencelos jatuh dan berserakan di jalanan. Berdegup kencang seperti pasien yang sedah butuh penanganan rekam jantung. Ia hanya bisa membisu di atas motor seperti cicak di dinding.


Padahal Bilmar hanya sengaja ingin membuat hati Alika semakin merekah.


"Ada yang mau gue omongin sama lo, Al." ucap Bilmar, ia kembali menyuapi Alika dengan potongan daging yang sudah ia potong-potong kecil.


Alika hanya mengangguk, ia tidak bisa menjawab karena mulutnya sedang penuh dengan daging.


"Gue suka sama lo, Al. Gue mau lo jadi pacar gue." ucap Bilmar santai, ia langsung to the point.


Duarr.


Seperti ada raungan serigala menerpa Alika, bulu-bulu halus disekitar permukaan kulit tangan dan kakinya begitu saja meremang. Netra hazel milik Alika melebar sempurna, wanita itu membeku ditempatnya, jika saja sedang berada di lapangan, Alika akan mencair karena sengatan sinar matahari, bagai Ashley Greene si manusia drakula.


"Al? Lo gak apa-apa?" tanya Bilmar, ada beberapa kerutan di kening Bilmar, ia bingung dengan sikap Alika sekarang.

__ADS_1


Alika tetap melamun, menatap pekat bola mata Bilmar tanpa mengedip, padahal di dalam mulutnya sedang ada daging-daging yang sedang dicacah oleh gigi geligi nya.


"Al?" Bilmar melambaikan telapak tangannya didepan kedua mata Alika.


"Lo masih hidup kan?" Bilmar pun beringsut untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Alika, menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan tekanan kecil.


"Lo nggak apa-apa? Kok diem begini sih, gue jadi serem lihatnya, Al!" Bilmar terlihat panik, ia cemas.


"Apa ada racun di dagingnya? Kenapa wajah lo jadi begoo begini?" sungut Bilmar.


Lalu


Kesadaran Alika yang sempat hilang, entah terbawa kemana, mungkin juga ke alam lain, kini mulai kembali datang. Wanita itu pun terbatuk dan memuntahkan isi daging-daging tepat diwajah Bilmar.


Hahay, rasain tuh muntahan.


"Ya Allah, Bil. Maafin gue!" seru Alika, ia terkesiap melihat wajah Bilmar yang sudah penuh dengan cincangan daging dari dalam mulutnya. Bilmar hanya mendengus pasrah, memutar bola matanya jenga. Ada helaan napas panjang menahan kesal.


"Dasar cewek monyet! Sabar, Bil. Sabar." umpat Bilmar lalu kembali mendinginkan hatinya. Ia harus mempunyai rasa sabar yang ekstra untuk menghadapi Alika.


Alika dengan sigap, meraih beberapa helai tissue untuk mengelap wajah Bilmar, membuang sisa-sisa muntahan disekitar wajah lelaki yang sempat membuat ia tersihir lama.


"Maaf ya, Bil. Maaf." desah Alika gugup. Ia takut jika Bilmar ilfil dengannya, tidak jadi untuk meneruskan perkataanya untuk menjadikan dirinya sebagai kekasih.


"Tuh kan bener, lo suka sama gue!" Alika terkekeh dalam hatinya. Ingin ia peluk lelaki itu, tapi ia masih sungkan. Malah merasa tidak enak sekarang.


"Hem." jawab Bilmar dengan deheman singkat.


Alika memutar langkahnya untuk meraih tangan Bilmar. "Ayo ke wastafel, basuh wajah lo pake air." Alika menggandeng tangan Bilmar, dan lelaki itu pun menurut saja.


Alika menangkup air dengan kedua telapak tangan untuk membasuh wajah Bilmar, dengan kelembutan tangannya ia membersihkan wajah lelaki itu dengan penuh kehangatan.


"Al?" Bilmar menggenggam tangan Alika, mereka kembali bertatap-tatapan.


"Iya, Bil." jawab Alika kembali dengan napas yang mulai terengah-engah, deru jantungnya kembali muncul. Ia tahu lelaki ini akan menembaknya lagi dengan kata-kata cinta.


"Gue suka sama lo, Al. Lo mau nggak jadi pacar gue?"


*****


Skip dulu ah biar penasaran๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Alika bakal terima gak nih si botol orson? gayanya kayak lelaki soleh berpeci, eh kalau soleh kan gak bakal pacaran yak๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2