MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Rasa Cintaku Masih Sama.


__ADS_3

Sedari tadi Bilmar terus menatap jam di dinding kamar. Menunggu kedatangan Alika kembali ke kamar mereka. Dan saat ini wanita itu tengah berada di kamar Maura, karena sudah berjanji akan membacakan cerita-cerita kerajaan sebelum anak-anaknya tertidur.


Memang setelah pulang dari Apotik, dan mendapatkan obat kumur berbahan antiseptik untuk istrinya. Ia memilih membeku di kamar. Karena ia tahu, Alika sedang merajuk dari awal datang ke apotik sampai pulang kembali ke rumah hanya soal Natasha.


Sang istri tidak mau diajak bicara. Alika diam seribu bahasa selama diperjalanan pulang. Bilmar tidak mau menciptakan keributan didepan anak-anak, maka ia memilih untuk menunggu dan menjelaskan kepada Alika tanpa ada anak-anak.


"Sudah jam sebelas, masa iya anak-anak belum tidur?" gumam Bilmar. Karena janggal, akhirnya ia memutuskan untuk beranjak bangkit dari ranjang dan menyusul istrinya.


Baru saja keluar satu langkah dari kamar, ada Alika juga yang sedang berjalan menuju kamar mereka. Langkah istrinya terhenti, wajahnya masih saja memerah karena cemburu. Sepertinya nyalinya tidak sekuat itu, ia kembali berbalik untuk masuk lagi ke kamar anaknya.


Dengan langkah blingsatan, Bilmar berhasil merengkuh istrinya. Langsung membawanya ke kamar dengan ala bride style.


"Apaan sih, Pah. Lepasin!" decak Alika. "Hemm ... Baunya, masih aja." Bilmar menggeleng-gelengkan kepala. Karena aroma bau itu masih saja kentara.


Alika dengan sengaja, terus menghembuskan napasnya ke wajah Bilmar. "Mama sembur nih, makanya turunin!" satu cubitan kecil tanpa rasa terhempas dilengan Bilmar.


Bilmar tetap menggendong Alika, dengan kepala yang sedikit dimundurkan. Sebenarnya ia masih tak tahan dengan aromanya. Tetapi ia lebih tidak tahan jika Alika sedang merajuk.


Bahaya, broh.


"Gak apa-apalah, walau bau busuk ... Aku tetap sayang padamu ... Marimar." Bilmar terkekeh. Ia membaringkan istrinya di kasur terlebih dulu lalu melangkah kembali menuju pintu kamar dan menguncinya.


"Marimar? Bukannya, Natasha?" Alika merungut.


Bilmar merangkak ke atas kasur. Duduk menyila mensejajarkan diri dengan istrinya di sana.


"Jangan cemburu, Papa sama dia. Hanya teman kerja, Mah."


"Kenapa Papa harus bohong?"


"Bohong, gimana?" tanya Bilmar pura-pura bodoh.


"Papa bilang cantikan mama, bagusan tubuhnya Mama, terus dia itu sebaya sama Mama. Kenapa Papa bohong?" tanya Alika dengan wajah polos.


"Deuh, wajahnya sendu banget sih. Polos gitu kayak bayi ..." Bilmar menjawil kedua pipi istrinya.


Alika tersipu malu. Wanita ini memang tidak akan bisa tahan dan lolos dari berbagai pujian amatir suaminya.


"Bayi?" suaranya terdengar merdu, rasa cemburunya seperti menghilang begitu saja.


Bilmar mengangguk. "Iya, kayak Bayi ... Bayi jengkol." Bilmar kembali tertawa. Kedua sudut bibir yang sejak dari terangkat sempurna karena mengembangkan senyum, kini menghilang dan lenyap seketika, Alika kembali kesal.

__ADS_1


"Sana, Ah!" Alika mendorong suaminya agar menjauh. Tetapi lelaki itu tetap mendekat, lalu mendekap istrinya untuk masuk ke dalam dadanya. Menciumi wajah Alika, walau ia harus tahan napas jika istrinya sedang menghembuskan napas pelan.


"Katanya bau, ngapain sih masih di cium-cium?" gerutunya kesal sambil mengelap wajahnya agar tidak basah.


"Dosa tuh di elap. Ciuman suami tuh membawa berkah ..." Bilmar kembali mencium namun Alika memilih untuk menghembuskan aroma napasnya kembali.


Huh ... Hah.


"Enggak apa-apalah, aku tahan. Lagian udah kebal dari tadi, siapa tau jadi imun kekebalan tubuh."


Alika tidak tahan, jika tidak tertawa. Suaminya ini memang pintar mengacak-acak hatinya sehingga menjadi tidak karuan.


"Jangan Mama bandingkan diri Mama sama wanita lain, itu tidak baik." ucap Bilmar, sembari melepaskan ikatan rambut istrinya. Membiarkan rambut Alika terurai sampai melewati bahu. Mengelus dan mengambil ujung rambutnya untuk dicium. "Eum, wanginya." desah Bilmar.


"Akhirnya hidung Papa bisa juga di netralisir sama aroma baygon."


"Lavender!" decak Alika.


Bilmar terus mengendus aroma di sana, lalu menghentikannya dan kembali menatap istrinya.


"Papa bohong bukan karena ingin membetulkan terkaan Mama kepada Natasha, hanya saja Papa ingin membuat hati Mama tenang, biar nggak fikir macam-macam." ucapnya lagi, sekarang jari-jarinya sudah berpindah untuk melepas kancing pertama di piyama Alika.


Beuh, sejak tadi teriak-teriak bau. Tapi Sassy nya, masih saja ingin di santap. Ck.


"Tau dong, 95% apa yang ada di kepala Mama. Papa tau semua." jawabnya bangga.


Alika mendengkus. "Prett, ah! Anak indigo kali, bisa baca fikiran!"


"Awas cepirit kamu, Mah! Prat-pret kayak gitu." jawab Bilmar dengan senyum khasnya.


Kini jari-jarinya sudah mendarat di kancing ke enam. Hanya butuh empat kancing lagi, dan piyama daster itu akan terbuka sempurna.


"Mama takut, Papa enggak cinta lagi sama Mama. Mama udah tua, kendor, mau keriput. Bakal kalah sama daur muda." ucap Alika pasrah. Kepada siapa lagi ia harus berkeluh kesah jika bukan kepada suami sendiri.


"Seisi bumi tau, yang ada di hati Papa hanya Mama. Bahkan dajal di segitiga Bermuda juga tau, Papa itu napsu nya hanya sama Mama." Bilmar berdecis geli.


"Doain Papa selalu, biar Papa enggak tergoda sama pengaruh atau sihir wanita yang akan bermaksud jahat. Seperti Papa juga yang selalu mendoakan Mama, agar hati Mama ditutup untuk jatuh cinta kepada pria lain."


"Tapi Demi Tuhan, rasa cinta aku ke kamu masih tetap sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Kadar dan porsinya tidak berubah sama sekali. Hanya kamu yang aku sayang, Berliana." ucap Bilmar lalu mengecup kening Alika lama. Kemudian menempelkan dahi mereka untuk menyatu. Saling menatap bola mata masing-masing. Memberikan gulungan cinta yang tidak ada habis-habisnya.


"Doa Mama enggak pernah putus buat Papa." jawab Alika tersenyum. Walau Bilmar harus menahan lamat-lamat agar lubang hidungnya tidak terlalu mekar, biar aroma napas Alika, tidak terlalu melesat masuk kedalam indera penciumannya.

__ADS_1


"Masih bau, anjimm!" gumam Bilmar mengutuk.


Ia tidak mau menghancurkan keromantisan yang sedang ia dan istrinya rasakan.


Bilmar tertawa puas. "Mama memang sudah cinta mati sama Papa. Haha."


Alika tersenyum senang dan mengangguk. Ia tidak mau munafik untuk menyembunyikannya. "Iya, Pah. Mama udah cinta mati sama Papa. Tapi kalau nanti ditengah jalan dapet lagi yang ganteng, ya gak apa-apa sih." godanya.


Seketika bola mata Bilmar melotot tajam. "Papa gunting nih lidahnya!"


Alika melipat bibirnya dan sedikit meringis. "Ampun, Pah. Cuman bercanda."


"Enggak akan ada yang gantengnya melebihi Papa, Mah. Boleh cari sana---"


"Ke dunia setan?" selak Alika. Wanita bergelak tawa dengan puas.


Kini Bilmar yang merungut.


Dan


Eh!


Alika tersentak, ia baru sadar. Kalau tubuh bagian dadanya terasa dingin. Seperti ada angin masuk menyapu langsung kulit dadanya. Kancing piyamanya sudah terbuka terlepas dari kaitannya, kini kain bercorak bunga sakura itu membentang luas.


Menyembulkan kain berenda berwarna merah, memperlihatkan kemolekan pertengahan garis dada yang mulus dan putih. Kain berenda itu menutup dua gunung fuji di sana.


"Ih, Papa!" seru Alika.


Wanit itu ingin mengkancingkan kembali piyamanya. Namun diseka kilat oleh Bilmar. Dengan gerakan cepat, ia melepas piyama itu sehingga benar-benar tanggal dari tubuh istrinya. Membaringkan Alika dan menindihnya.


"Pah, kan Sassy lagi bau." cicit Alika pelan. Terlihat ia tidak percaya diri. "Besok aja ya." ia memberikan opsi.


"Gak apa-apa, kan bentar lagi disiram sama Jagur. Haha."


Dan malam penuh keindahan kembali mereka gapai.


"Tahan ya Jagur, semoga kamu enggak sawan setelah ini."


*****


Besok aku libur ya guyss. MPS dan MSW update lagi hari senin.. sehat selalu ya, bbye😘🤗

__ADS_1


__ADS_2