
Setelah mendapat penjelasan dari Nino. Bilmar hening sesaat. Memijat-mijat dagunya sambil menatap istrinya yang masih cekakak-cekikik dengan para teman-temanya dari kejauhan.
"Memangnya kalian berencana mau punya anak lagi?" tanya Dion.
Bilmar menggeleng dengan tatapan yang susah untuk diartikan. Menyesap kembali air lemon di gelasnya.
Setelah selesai menenggak minumannya yang sedikit asam ia kembali bertutur.
"Sejak kepergian dua anak kembar gue. Gue memang gak terlalu memaksa Alika untuk hamil lagi. Ya kalau dikasih, gue bersyukur. Kalau enggak, ya udah gue hanya bisa pasrah aja. Lagian juga udah ada Maura dan Ammar. Memang sih dia pernah sempat tanya, gue mau anak lagi apa nggak. Ya gue jawab, gue masih mau kalau emang Allah kasih." jawab Bilmar dengan detail.
"Ya udah program aja ke Nino, Bil. Siapa tau langsung hamil." jawab Dion.
"Gue siap kok buat bantuin kalian program. Ya emang sih kalian tuh udah berumur, sedikit agak beresiko." sahut Nino.
Bilmar menggeleng mantap. "Kagak ah! Kalau mau program Alika harus sama Dokter Kandungan WANITA!!" Bilmar menekankan kalimat itu akhirnya. "Gila aja kali inti binik gue di obok-obok sama lo." sambung Bilmar.
Dion hanya mengedik geli.
"Yaelah, Bil. Gue mah udah bosen, dari yang bentuknya lempeng, ngelandai, kisut, jeblek ... Kayak si Dara tuh---"
"Diih setann, ngapa jadi bawa-bawa bentuknya Dara, lo!" decak Dion lalu memasukan potongan kue kedalam mulut Nino yang tadi masih menganga.
Bilmar tertawa sambil memegang perut. "Lagi ngapain sih lo bawa Dara ke si Nino."
"Waktu itu urgen, Bil. Dara pendarahan, pas banget katanya dr jaganya si Nono. Yaudalah gue lepas tuh mahaskasta si Dara."
Nino melepas kue dari mulutnya. "Tapi bener, Bil. Mulus kok." Nino terkekeh, Bilmar masih saja tertawa belum berhenti.
"Beneran putih? Akarnya lebat gak?" tanya Bilmar dengan sisa-sisa gelak tawanya yang masih mencuat.
"Anjingh lah! Temen gak ada akhlak lo!" sungut Dion mengeram.
"Gak ada akarnya, Bil. Botak."
"Hahahahha." gelak tawa Bilmar dan Nino mengembang di udara membuat Dion makin sesak karena geli.
"Gue sumpahin, telur lo berdua pada kena ambeyen."
"Prostat begooo! Malah Ambeyen, ck!"
"Ambeyen di bokong bukan di puser! Jangan ngadi-ngadi, Lo!" Bilmar menoyor kepala Dion.
"Di Bokong, Nyet! Masa di puser, sih. Itu mah bisul----"
Dan gelak tawa mereka kembali menggulung-gulung di udara. Dibawah angin malam yang terasa dingin namun menyejukkan.
"Ngeband yuk, udah lama nih kita gak manggung." ajak Nino membawa arah mata mereka untuk menatap dua orang penyanyi wanita yang sedang berada di atas panggung ditemani para pengiring musik.
"Lets, go!" seru Bilmar. Mereka bertiga pun beranjak menghampiri panggung. Tak butuh waktu lama si penyanyi pun turun dari panggung dengan senang hati. Nino meminta ijin kepada mereka untuk bergantian menyanyi.
"Bila, tolongin gue. Susah naik nih!" ucap Dion yang masih belibet dengan sarung beskapnya. Ia memang kalah cepat naik ke atas panggung dari dua sahabatnya itu. Menjulurkan tangan ke arah Bilmar dan Nino. Dan mereka pun menarik tubuh Dion dengan susah payah.
"Anjirlahh berat banget! Gue hampir mau cepiritt di celana." seru Bilmar setengah meringis ketika ia masih menarik lengan Dion. Dion saat ini memang sudah tidak sispak lagi. Ia memang agak gemukan selama Dara mengandung.
Jadi, dia atau Dara yang hamil? Haha.
__ADS_1
"Woy santai lah! Jangan asal main tarik! Sarung gue merosot, setann!" teriak Dion. Nino dan Bilmar kembali tertawa.
Dan brug.
Dion berhasil tiba di atas punggung.
Kini Bilmar berada di posisi tengah. Sedangkan Dion ada di posisi kiri, dan Nino ada diposisi kanan Bilmar. Ketiganya sama-sama mengalungkan gitar dengan mikrofon mic berdiri di hadapan mereka masing-masing.
"Ayo, Yon, pembukaan." titah Bilmar menoleh kepada Dion.
"Pembukaan apaan? Kita kan mau nyanyi, bukan mau jualan ember."
"Gayung-mangkok-gayung-sepuluh ribuan." ucap Nino meledek Dion.
"Ambil simpati para hadirin, biar binik gue lihat gue nyanyi di sini, Yayan!" titah Bilmar.
"Haha Yayan---cepetan, Yon!" Nino sudah tidak tahan menahan gelak tawanya karena melihat Dion yang seketika berubah kikuk dan malu. Dengan napas panjang, ia pun mengangguk.
"Selamat malam semua." Dion mengeluarkan suaranya tepat didepan mic. Suaranya menggema ke setiap sudut taman. Membuat semua para tamu yang sedang asik mengobrol atau yang sedang menikmati hidangan katering lalu menoleh ke arah panggung. Sepasang pengantin pun terlihat tertawa-tawa dari pelaminan ke arah mereka.
Semua mata memandang, tak lupa Alika, Hana dan Dara ikut menatap mereka walau dari tempat yang berbeda.
"Papah nyanyi?" ucap Alika dengan senyum bangga.
"Itu dr Nino kan, Dok?" ada yang bertanya kepada Hana.
"Kak Dion?" tanya Dara, sambil mengelus-elus perut buncitnya.
Serentetan gumaman kalimat yang keluar dari tiga wanita itu dari tempatnya masing-masing. Mereka menatap serius tiga lelaki gagah yang saat ini sedang berdiri diatas panggung.
"Kita dari band Mariana Ozamah. Malam ini akan membawakan lagu yang berjudul 'Papa Rock and Roll dari The Dance Company' Yeah! Selamat menikmati." seru Dion sambil melambaikan tangan kepada para hadirin yang sudah antusias melihat mereka.
Sorak-sorak gembira dengan iringan tepukan tangan membanjiri awal perfomance mereka.
Bilmar lebih dulu memainkan senar gitarnya. Menatap fokus kedepan, tepat lurus ke wajah Alika yang sedang berbalik menatapnya dengan senyuman bangga.
"Pengen kayak Bon Jovi." Nino mulai bernyanyi dan memainkan gitarnya.
"Rock star yang sayang istri----" sambung Dion dengan suara sumbangnya.
"Mama aku di sini ... Memelukmu lagi." susul Bilmar dengan suara yang amat mirip dengan Baim. Ia menjulurkan tangannya kepada Alika. Istri yang amat ia cintai. Membuat semua mata terpana dan berbalik menatap Alika.
Oh, itu istrinya. Seru mereka.
"WOW!!" teriak para perawat yang masih abegeh, bersorak bahagia. Sekumpulan cewek-cewek muda itu beringsut untuk mendekat ke arah panggung. Tak perduli merek bertiga itu punya siapa.
"Papa memang harus begini
Sering bikin sakit hati." (Bilmar)
Papa gak pulang beibeh
Papa gak bawa uang beibeh (Bilnodi)
"Papa mungkin seminggu di Bali
__ADS_1
Nyari panggung sana-sini." (Nino)
Papa gak pulang beibeh
Papa gak bawa uang beibeh (Bilnodi)
"Bukan alasan tuk lari
Itu tuntutan profesi." (Dion)
Papa gak pulang beibeh
Papa gak bawa uang beibeh (Bilnodi)
Bilmar, Nino dan Dion terus saja asik bernyanyi sambil memainkan gitar mereka. Seruan para abege yang ada dibawah panggung sangat begitu menggema dan menarik perhatian para khalayak ramai. Mereka ada yang berpose selfie dan wefie dengan latar belakang trio mesumm sedang bernyanyi.
Lama-lama membuat wajah para istri terganggu tidak senang menatap mereka. Bukan karena permainan musik mereka, tapi karena sikap para abege yang membuat mereka terusik dan berdecak kesal.
Ditambah lagi ada yang memberikan bunga kepada Bilmar. Sontak membuat Alika mendengus sebal.
"Ayo Om ganteng semangat."
"...Om yang pake sarung manis banget sih."
"Itu Om yang agak sipit juga cakep."
Begitulah seruan dari mereka yang menggema nyaring, begitu saja leluasa untuk menggoda para om-om ganteng itu di atas panggung.
"Kamu cemburu, Mah? Haha."
Bilmar tertawa puas dalam hatinya sambil menatap Alika yang sedang mengeraskan rahangnya. Alika semakin jengkel ketika Bilmar tersenyum penuh kemenangan sambil mengedipkan satu mata ke arahnya.
Begitupun Hana dan Dara, mereka juga mengeram ketika menatap para suaminya. Dion dan Nino terus saja menebar senyum. Ketiga wanita itu akhirnya mengerang dan tangan yang mengepal kuat. Mendelikan mata dan mengerucutkan bibir, begitu pedih, seperti kucing yang akan menerkam ikan tongkol.
Jangan kebalik nyebutnya. Awas!
******
Papa gak pulang beibeh
Papa nabrak tiang beibeh
Papa gak bawa uang beibeh
Tidur sono lu di luar😂😂😂
Kali-kali ah buat Alika cembokur, masa ia sih Bilmar mulu, ya gak sih??
Like dan Komennya ya jangan pura-pura Ambeyen eh AmnesiaðŸ¤
Oh iya bisa cek IG ku, aku suka spoiler2 sebelum aku UP @megadischa. Ayok temenan sama penulis amatiran kaya aku hehehe.
The Dance Company, secinta itu aku sama band mereka.😎
__ADS_1