MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Tidak Mungkin, Kan?


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk bermain ular tangga cinta diranjang, membuat Alika melepas peluh dengan tertidur nyenyak di pusaran kasur. Sepertinya lelah sekali, sampai dengkurannya begitu keras.


Padahal mereka baru bermain satu kali putaran, namun sepertinya Bilmar sedang letih, bayangkan saja ia baru pulang bekerja dengan keadaan lelah, dan langsung di todong untuk bermain bom-bomkar. Membuat Bilmar lelah dan hanya mempunyai kekuatan untuk bermain satu ronde saja.


Bilmar yang tadinya ingin ikut membenamkan diri untuk tidur disebelah sang istri, malah kedua matanya tidak bisa terpejam, seperti ada sesuatu yang mengusik hati dan fikirannya.


Ia mengubah posisi tubuhnya menjadi miring menghadap Alika, menekan sikut tangan kiri diatas kasur agar telapak tangan bisa menopang dagunya. Tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk membelai pipi Alika, mengusap bulir-bulir keringat yang menempel pada helaian rambut wanita itu.


"Aku senang melihat kamu seperti tadi, tapi aku juga kaget. Tidak biasanya kamu seperti ini, Al." ucap Bilmar.


"Delapan tahun menikah, tentu aku hapal bagaimana pergerakan mu ketika melawanku, rasanya yang tadi sangat diluar bayangan ..." Bilmar semakin curiga.


"Apa yang membuatmu berubah, Al?" kening Bilmar mengerut-ngerut. Namun ia tidak ambil pusing, ia ratapi perubahan Alika hanya mungkin karena perubahan hormon.


Bilmar menghembuskan napasnya pelan, ke permukaan wajah Alika guna menyapu keringat yang terus mengalir. "Mama capek banget ya?" ucapnya lagi sambil diselingi dengan kekehan.


"Tidur yang pulas ya." Bilmar meninggalkan kecupan hangat di kening Alika, sebelum ia beranjak dari ranjang untuk pergi membersihkan diri ke kamar mandi.


*****


Rintikan air dari ujung rambut Bilmar terlihat masih menetes membasahi pangkal bahunya yang masih polos. Waktu dua puluh menit sudah ia habiskan didalam kamar mandi untuk membasuh diri dengan gulungan busa sabun, sehingga tubuh tegap itu kembali segar.


Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit bagian pinggang menutup bagian bawahnya menuju lemari pakaian.


Mengambil kaos denim dan celana pendek selutut, untuk ia pakai. Baru saja selesai menarik resleting celana, ia menoleh ke atas nakas. Ada suara getaran ponsel lama dari dalam tas istrinya.


Seperti wataknya, yang selalu ingin tahu apa saja yang terjadi dengan aktivitas Alika hari ini, biasanya ia akan mengecek handphone itu nanti malam, tapi karena Alika masih tertidur, ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.


Melangkah cepat menuju nakas, dan merogoh ke dalam tas Hermes edisi terbaru milik Alika. Meraih gawai dengan tiga bulatan berkotak dibelakang benda pipih tersebut.


"Bapak Zain?" seru Bilmar ketika panggilan itu sudah keburu terputus. Ia bergegas mengecek aplikasi whatsaap dan ingin mencari tahu apa yang sedang ia terka. Siapa tahu lelaki itu mengirim pesan juga ke whatsaap milik istrinya.


[Maafkan atas perlakuan saya tadi siang, Bu]


DEG.


Tangan Bilmar seketika bergetar, kedua mata membola tajam menatap isi pesan yang dikirim dengan lelaki yang bernama Zain tersebut.


Sekilas Bilmar melirik Alika yang masih tertidur pulas. Kembali ia tatap isi pesan tersebut. Dan tunggu, stimulus otaknya kembali melesat. Tiba-tiba ia menggabungkan gerak-gerik Alika yang begitu berbeda ketika datang ke kantornya, mengajak pulang paksa, melakukan cumbuu rayu yang amat brutal di mobil dan permainan di ranjang yang tidak biasa.


Begitu buas, sangat panas.


"Mah ...Mamah!" Bilmar mulai menghentak tubuh istrinya, agar cepat bangun. Tetapi wanita itu malah bergumam tidak jelas dan sulit untuk membuka mata.


Otot-otot hijau seketika menyembul di sekitaran pelipis Bilmar. Kedua rahangnya mengencang dengan sengitan mata yang mulai tampak. Ia menatap lurus dinding, dan terus berfikir.


"Masih ada lagi kah keparatt yang belum aku basmi?" gumamnya.


Menghapus pesan itu dari Wa Alika, dan meletakan kembali ponselnya ke dalam tas. Bilmar beralih mengambil ponsel miliknya dan melakukan sambungan telepon.


"Baik, temui saya di sana, kamu boleh bawa suami untuk menemani."

__ADS_1


Tut.


Percakapan telepon dengan orang diseberang sana pun terputus. Bilmar kembali melangkah ke depan lemari untung berganti pakaian.


"Akan ku bunuh lelaki itu, jika dugaanku terbukti!"


*****


Cit.


Deru mesin mobil sudah Bilmar matikan. Ia memarkirkan mobilnya tepat di pelataran kampus yang sudah sepi. Baru saja membuka mobil untuk turun, ada seruan memanggil ke arahnya.


Kiki dan suaminya melangkah menuju Bilmar.


"Maaf saya jadi mengganggu waktu mu, Ki. Dan anda, Pak." ucap Bilmar kepada Kiki dan suami.


Bilmar memang sengaja menghubungi Kiki, lelaki itu ingin membicarakan sesuatu dengan Kiki secara empat mata, namun ia tahu Kiki sudah menikah, rasanya tidak pantas jika hanya berbincang berdua. Bilmar selalu menjaga etika kesopanan, rasanya tidak baik hanya berduaan saja.


Takut-takut ada setan yang hadir untuk menggoda iman. Maka dari itu, Kiki di minta untuk membawa Yahya, suaminya. Kebetulan hari ini memang suaminya sedang libur dan Kiki pun cuti.


Mereka berdua mengangguk senyum. "Tidak apa-apa, Pak. Kalau boleh tau ada hal penting apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Kiki.


"Jadwal Ibu hari ini apa saja, Ki?"


Kiki menyerengitkan dahi. "Aktivitas hari ini, Pak?"


"Kalau untuk hari ini, Ibu tidak ada jadwal kemana-mana, Pak. Hanya di kampus saja memeriksa berkas. Kebetulan hari ini sebenarnya saya cuti, Pak."


"Ada apa, Pak? Apakah saya melakukan kesalahan?"


Bilmar menggeleng cepat, namun raut wajahnya semakin menegang. "Tolong antar saya untuk mengecek cctv ruangan Ibu."


"Baik, Pak. Mari."


Bilmar mengikuti langkah Kiki. Di sepanjang jalan menuju tempat panel khusus. Bilmar banyak berbincang dengan Kiki, mengenai beberapa pemegang saham pembangunan kampus cabang Bandung.


Sedangkan Yahya, hanya mengekor di belakang mereka, ikut mendengarkan cerita yang sama sekali tidak ia fahami.


Kiki tidak tahu saja, kalau hari ini tiga lelaki bandid sudah Bilmar bekukan menjadi tahu bulat yang digoreng dadakan.


"Jadi total pemegang saham ada lima?" Bilmar mengulang ucapan Kiki, langkah mereka berbelok ke sebuah ruangan kecil yang dibuat Alika untuk memantau kampus dari keadaan ramai sampai sepi. Biar keadaan lingkungan kampus dan asrama, dapat termonitor dengan aman dan baik.


"Iya, Pak. Ada Ibu Alika, Bapak Wira, Bapak Rahardian, Ibu Siska dan Bapak Zain."


"Zain?"


Kiki mengangguk bingung. Rasanya aneh sekali, karena suami dari bos nya ini terlihat sangat terkejut ketika menyebutkan nama lelaki itu.


"Pak Darman, Kenalin ini Suaminya Ibu Alika." ucap Kiki kepada seorang karyawan yang dipekerjakan untuk memantau cctv.


Pak Darman memberikan salam hormat kepada Bilmar. Pun sama dengan lelaki itu, tidak sungkan untuk mengulurkan tangan terlebih dulu. Karena usia Pak Darman dapat dikatakan sudah lebih tua dari Bilmar.

__ADS_1


"Saya ingin melihat rekaman cctv di ruangan istri saya hari ini, Pak." pinta Bilmar kepada Pak Darman.


Pak Darman mengangguk. "Baik, Pak. Silahkan duduk." Bilmar dipersilahkan duduk tepat didepan layar monitor tv.


"Mau di lihat dari pukul berapa, Pak? Tanya Pak Darman.


"Coba dari pukul 09:00." jawab Bilmar. Kiki dan Yahya saling melemparkan pandangan.


"Ada apa sih, Dek?" bisik Yahya.


"Abang kayaknya keluar dulu deh, gih sana." pinta Kiki.


Sepertinya ia tahu, Bilmar sedang mencari sesuatu hal yang penting. Ia tidak enak, kalau sampai banyak mata yang terlibat, walau itu suaminya sendiri. Lagi pula di sini sudah ada Pak Darman. Kiki tidak akan berdua saja dengan Bilmar.


"Di sini sempit, Bang. Keluar dulu sana."


Yahya mengangguk dan berlalu keluar ruangan.


Bilmar masih memangku dagu menatap lurus rekaman cctv di ruangan istrinya. Debaran jantungnya semakin kuat, ia takut terkaan yang sedari tadi mengotori fikirannya, memang betul terjadi.


"Coba di majuin, Pak. Dari jam sebelas."


Pak Darman menurut, ia mengikuti perintah Bilmar. "Tapi benar kan, Ki. Di jadwal Ibu, tidak ada waktu bertemu dengan para kolega atau tamu lain, misalnya?"


"Tidak ada, Pak. Maka saya berani mengambil cuti, karena jadwal Ibu kosong hari ini." jawab Kiki yang juga mulai gusar.


"Ada masalah apa ya? Kenapa jadi suaminya Ibu turun tangan begini?" gumam Kiki. "Dan mengapa beliau juga terkejut ketika aku mengucapkan nama Bapak Zain, atau kah?" wajah Kiki ikut menegang. Terlihat panik dan was-was. Ia takut Zain datang ke kampus dan Bilmar mencium hal itu.


"Duh mati deh, Ibu. Bapak kan cemburuan orangnya." lirih Kiki.


Kurang lebihnya, Kiki faham bagaimana karakter Bilmar. Bekerja sudah lebih dari empat tahun dengan Alika, tentu ia sedikit banyaknya tahu tentang keluarga bosnya. Apalagi Bilmar akan selalu menelpon Kiki, jika istrinya sulit dihubungi jika sedang berada dikampus.


Bilmar kembali menatap layar monitor, ia menunggu apa yang terjadi diruangan istrinya. Ingin mencari tahu, apa maksud dari pesan yang dikirim oleh lelaki itu dan perubahan Alika.


"Aku akan membunuh kalian, jika berani berselingkuh di belakangku!" desah Bilmar dengan tatapan garang.


Hatinya mulai tidak tenang. Mengikuti iringan setan yang terus membuat hatinya panas. Gerakan dada naik turun, rasa sesak kembali hadir seperti tengah menghimpit paru-paru.


"Coba majukan ke pukul 13:00, Pak." titah Bilmar dengan nada mulai dingin.


Pak Darman kembali menurut dan memajukan rekaman cctv tersebut.


Lalu.


DEG.


Bilmar yang sedari tadi duduk dengan tangan melipat di dada. Langsung duduk terlonjak tegap. Dua bola matanya membelalak di depan tayangan rekaman cctv yang sedang ia tatap. Tidak hanya Bilmar, Kiki dan Pak Darman pun sampai membekap kedua mulut mereka.


"Ibu? Tidak mungkin, kan?" lirih Kiki.


******

__ADS_1


Like dan Komennya ya gengsss.


__ADS_2