
"Matikan, Pak!" titah Bilmar, saking emosi nya. Bilmar sampai tidak sadar, jika ia sudah bersuara dengan intonasi tinggi.
"Bb--aik, Pak." jawab Pak Darman gelagapan. Lelaki itu menurut ketika Bilmar menyuruhnya untuk menghentikan tayangan rekaman cctv yang sudah di ulang berulang kali.
Ya, Bilmar terus mengulang rekaman itu sampai lima kali. Sampai kedua matanya jelas sekali untuk melihat Zain menaburkan bubuk obat kedalam cangkir istrinya.
Beberapa kali Bilmar menghembuskan napas kasar. Bola matanya tajam menatap layar monitor, wajahnya amat merah, menahan luapan api yang sudah berkorbar di dadanya. Kedua tangannya mengepal kuat.
Pak Darman dan Kiki juga masih syok melihat rekaman cctv itu. Mereka tidak menyangka bos nya akan mengalami pelecehan seksual. Dan lebih tidak menyangka lagi, kalau suaminya sendiri yang mengetahui masalah ini secara langsung.
"Pak? Bapak enggak apa-apa?" dengan nada takut, Kiki bertanya.
Bilmar kembali tersadar dari renungan kesalnya. "Mau saya buatkan minum, Pak?" Kiki menawarkan kembali.
Bilmar menggeleng lalu berdiri dari kursi. Ia mengatur napas sebentar agar bisa berbicara kepada Kiki dan Pak Darman dengan napas normal kembali, walau dadanya masih saja terasa sesak.
"Tolong rekaman cctv jangan sampai hilang atau terhapus."
Mereka berdua mengangguk.
"Saya minta tolong lagi, kepada Kiki dan Pak Darman untuk menutup rapat masalah ini dari orang lain. Cukup hanya kalian berdua saja yang tau."
"Baik, Pak."
"Terimakasih banyak sudah mau membantu saya." Bilmar mengeluarkan dompet dan meraih beberapa lembar uang merah untuk diberikan kepada Kiki dan Pak Darman.
"Buat Pak Darman aja, Pak." Kiki menolak uang yang di sodorkan Bilmar.
"Ambil aja, Ki. Pak Darman juga kan sudah saya kasih. Hitung-hitung buat bensin kamu karena sudah mau datang ke sini."
Kiki menggeleng dan tersenyum. "Saya malah menyesal, Pak. Karena saya tidak ada, Ibu jadi mengalami hal seperti itu." Kiki menunduk sedih.
Bilmar kembali terdiam dengan rahang yang sudah mengencang, api di dalam darahnya kembali meluas sampai ke kepala. Ia sudah tidak tahan untuk menemui Zain. Mengusap wajahnya gusar lalu menatap Kiki. "Ini bukan salah kamu, Ki." jawab Bilmar.
"Ya sudah kalau begitu." uang yang ditolak Kiki, ia berikan kembali kepada Pak Darman. Lelaki itu menoleh ke arah Kiki dan Kiki mengangguk. "Ambil aja buat Pak Darman."
"Terimakasih banyak ya, Pak." ucap lelaki itu.
Setelah menggerakkan kepalanya naik turun, Bilmar pamit berlalu dari ruangan cctv.
"Terimakasih karena sudah mau mengantar Kiki, Pak. Maaf saya jadi menganggu waktu anda." ucap Bilmar ketika bertemu Yahya di depan pintu.
Yahya mengangguk. "Sama-sama, Pak. Yang penting masalahnya terselesaikan." walau lelaki itu tidak tahu masalah apa yang sedang dicari oleh Bilmar dan istrinya.
Bilmar mengangguk dan menghentak bahu Yahya dengan tekanan pelan. "Terimakasih banyak, kalau begitu saya permisi."
Bilmar kembali melangkahkan kaki menuju mobil dengan amarah yang terus mendera batin. Duduk di kursi kemudi dengan kasar dan memangku tangan di atas stir. Ia masih menatap lurus keheningan didepannya.
Kekerasan yang Alika dapatkan dari lelaki itu, terus saja berputar-putar dikepalanya. Hatinya kembali berdenyut nyeri, ketika suara tangisan, permohonan dilepaskan, dan aduan dari Alika kala kejadian itu terjadi, membuat Bilmar semakin tergulung dalam emosi.
"Suami manapun tidak akan ada yang ikhlas dan rela, ketika melihat istrinya di aniaya dan ingin di nodai!" kelakar Bilmar. Lelaki itu semakin murka.
Ia menoleh ke arah dashboard. Dan membukanya, lalu mencari benda yang selalu ia simpan tanpa sepengetahuan siapapun.
Bilmar mengambil sebuah pistol hitam. "Mendekam lah di Neraka!"
******
__ADS_1
Sejak Alika terbangun dari sore sampai malam ini, ia tidak kunjung mendapati suaminya pulang. Ia sudah menelepon Bilmar beberapa kali, namun lelaki itu tidak menjawab.
Alika yang sudah memakai piyama tidur, terlihat sedang mondar-mandir didepan pintu utama. Sesekali ia duduk, lalu kembali beranjak untuk celingak-celinguk di figura pintu.
Menghubungi Nino dan Dion sudah, namun mereka bilang. Bilmar tidak mendatangi mereka hari ini. Alika semakin cemas, apa yang terjadi dengan lelaki itu.
"Enggak biasanya Papa pergi tanpa kasih kabar, hapenya juga gak diangkat. Ya Allah, Bilmar, kamu tuh buat aku khawatir." desah Alika.
Ia kembali berjalan menuju sofa. Meneguk air teh manis yang dibuatkan Bik Minah. Ingin berprasangka baik, namun hati dan kepalanya tetap menduga hal tidak baik. Seperti ada sesuatu yang entah mengapa membuat jantungnya terus saja menderu-deru.
"Ada apa ya? Mengapa perasaanku tidak enak?" lirihnya. Belum lagi ia masih merasa takut dengan kejadian Zain.
"Apakah aku harus melaporkannya ke polisi? Tapi urusan akan semakin runyam, dan masalah ini akan menjadi perbincangan antara sesama pemegang saham. Bagaimana kalau mereka menarik semua sahamnya?"
"Belum lagi dengan Bilmar. Ia pasti tidak akan melepaskan Zain hidup dengan tenang. Aku takut! Bilmar akan selalu nekat jika amarahnya belum teredam. Sebaiknya masalah ini aku sembunyikan saja."
Alika tidak tahu saja, kalau semua lelaki hidung belang itu sudah di adili oleh suaminya dan di minta untuk angkat kaki dari pembangunan kampus. Termasuk Daniel, si kontraktor laknat yang sudah berani-beraninya mengkorupsi dana pembangunan. Dan tentu saja terkaannya tentang Bilmar kepada Zain, memang sudah terjadi.
Alika terus menatap jam di dinding. Arah jarumnya terus saja berputar ke kanan. "Sudah jam sebelas, Papa belum juga kembali." desahnya parau.
Namun, jantungnya kembali berdegup normal ketika lelaki yang saat ini sedang ia hubungi, akhirnya menjawab teleponnya.
"Nungguin Papa ya?" suara tawa lelaki itu terdengar nyata. Tidak bising seperti di sambungan telepon.
Alika menoleh ke arah pintu dengan gawai yang masih menempel di telinganya, kemudian berseru senang ketika melihat Bilmar sudah berdiri tidak jauh dari pandangan matanya. Lelaki itu melangkah masuk kedalam sambil tersenyum dengan gawai yang masih menempel di telinganya.
Alika meletakan gawai itu sembarang di atas sofa, ia berlari menerjang suaminya. Wanita itu merebahkan kepalanya di dada Bilmar dan memeluk tubuh lelaki itu erat.
Bilmar sampai ingin terhuyung kebelakang, ketika mendapat terjangan pelukan dari sang istri yang dirasa tidak biasa. Bilmar tahu, Alika masih dalam keadaan syok.
Yang Alika faham, Bilmar hanya tahu dirinya sedang cemas karena memikirkan lelaki itu yang tidak kunjung pulang. Ia tidak tahu saja jika suaminya sudah tahu, dan amat tahu kalau saat ini Alika sedang menumpahkan kegundahannya tentang kejadian bersama Zain siang ini.
"Papa kemana aja? Kok pergi enggak bilang-bilang Mama? Mama kan cemas, Pah." tanya Alika dengan nada amat lirih.
Bilmar tersenyum tipis sambil mengusap lembut rambut Alika dan mengecup pusaran rambut istrinya. "Tadi Papa ke kantor, ada masalah di EG." lelaki itu berdalih.
Alika melepas pelukan itu dan menarik wajahnya agar bisa menatap Bilmar dengan jelas.
"Masalah apa, Pah?" tanya Alika dengan nada kembali khawatir.
"Ada baja yang jatuh dari crane. Tapi semua sudah teratasi." jawab Bilmar tanpa gugup sama sekali. Lelaki ini pintar untuk menyembunyikan segala sesuatu yang sudah terjadi.
"Apa tubuh Mama masih sakit?"
DEG.
Alika melongo. Ia menatap Bilmar bingung. "Sakit?" ulanginya. Ia semakin berenang dalam ketidakfahaman.
Bilmar keceplosan. Hal yang masih ia sembunyikan, tanpa sadar ia ucapkan. Ia teringat perlakuan kasar Zain kepada istrinya.
"Maksud, Papa. Takut Mama pegal-pegal karena permainan kita tadi siang."
"Memangnya Mama kenapa, Pah? Permainan kita? Maksudnya gimana?"
DEG.
Kini Bilmar yang melongo.
__ADS_1
"Siang tadi kita itu heboh di ranjang, kamu lupa?" tanya Bilmar menyelidik. "Yang di mobil itu, yang kamu sampai duduk dipangkuan aku pas aku lagi nyetir."
"Hah?" Alika kembali berdecak bingung.
"Kamu lupa?"
"Yang Mama tau, habis bangun tidur Mama enggak pakai baju, Pah." jawab Alika jujur.
Bilmar memandang bola mata Alika untuk mencari-cari ketidakjujuran, sayangnya rasa itu tidak ia temukan.
Obat perangsang memang terdapat dalam beberapa golongan dan efek samping yang bermacam-macam. Zain sengaja menggunakan obat perangsang yang paling bagus dan mahal.
Mempunyai efek yang berbeda. Dimana setelah mendapatkan pelepasan, memori yang terjadi sebelumnya tidak akan bisa dicerna atau diingat. Peminum nya akan lupa dengan hal yang terjadi sebelum penuntasan hasrat.
Zain sengaja, agar jika kejadian itu berhasil. Alika tidak akan mengingat hal apapun yang sudah terjadi dengannya nanti.
Dan kini Zain menyesal, karena memori Alika ketika ia di aniaya dan hampir diperkosa akan selalu teringat, karena pada saat itu Alika belum merasakan pelepasan.
Sekarang, Alika hanya lupa bagaimana cara ia bercinta dengan Bilmar. Dan kembali, Bilmar yang dirugikan dalam masalah ini.
"Brengsekk!" Bilmar mengeram dalam batinnya.
"Pah?" Alika memegang lengan suaminya untuk menyadarkan lelaki itu dari lamunan. Dan dua bola mata Alika membola hebat ketika melihat ada gagang pistol yang sedikit menyembul dari saku celananya.
Alika mengedik kaget.
Tahu, jika istrinya mulai sadar dengan benda itu. Dengan gerakan cepat Bilmar menekan benda tersebut untuk lebih masuk kedalam saku.
"Buatkan Papa mie rebus. Lalu antar kan ke ruang kerja. Papa ingin mandi dulu."
Bilmar berlalu cepat menaiki tangga menuju kamar. Ia ingin membersihkan badan dan melepas peluh.
Alika menatap kepergian Bilmar dengan raut penuh ketakutan. "Aku memang tidak salah lihat, yang ada di dalam saku celana Papa, itu memang pistol." gumamnya pelan.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Pah?" lirihnya membatin. Ia kembali gugup menatap punggung suaminya yang tengah berlalu.
Baru sampai di pertengahan anak tangga Bilmar menoleh dan kembali berucap kepada istrinya. Alika masih membeku di posisi tadi.
"Ada hal yang ingin Papa bicarakan dengan Mama, tunggu lah nanti di ruang kerja. Jangan lupa dengan mie rebus nya." lelaki itu kembali melangkah dan berlalu meninggalkan Alika yang hanya mengangguk pasrah tanpa kata.
"Apa, Papa sudah mengetahuinya?"
*****
Dari kemarin tuh NT/MT emang lagi eror guys. Up naskah lama banget di reviewnya. Sampai bab ini mau aku up aja, MSW masih belum ke up dari kemarin pagi. Aku juga gak faham kenapa. Jadi plis jangan marah ke aku yahðŸ¤ðŸ¤
Ini naskah yang kemarin malam mau aku up, tapi karena apk masih eror ya aku urung buat publis. Ya udah deh aku publis di hari ini aja. Semoga aja bisa langsung di baca, gak muncul di hari besok.
Boleh follow IG aku. Aku suka cincong soal Novel-novelu. Aku suka kasih keterangan, kapan up atau tidak up.
@megadischa
Like dan Komen ya guyss.
Besok masih bisa senyum gak yah😢
__ADS_1