MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Hanya Buat Kamu


__ADS_3

Bel pulang sudah terdengar nyaring di setiap penjuru kelas. Semua siswa-siswa terlihat berkemas untuk kembali pulang kerumah masing-masing.


"Ban motor si letoy lo taro dimana?" tanya Bilmar.


"Dibelakang warungnya Bang Jaja." jawab Dion sambil menarik resleting celananya yang selalu kedodoran.


"Jangan lupa beli celana baru, lo! Tadi kan udah gue kasih duit."


"Enggak cukup duitnya, emang lo fikir ngebuka ban motor enggak perlu tenaga mang bengkel?" decak Dion.


"Emang ya, punya temen pada gembel semua, Ck!" Bilmar merogoh celananya untuk mengeluarkan dompet dan mengeluarkan uang dua puluh ribu.


Benar-benar gembel? Tentu saja tidak, Dion adalah anak satu-satunya juragan kambing dan sapi terbesar di Kota ini, begitupun Nino, ia adalah anak Dokter Spesialis Hewan ternama. Namun tetap saja Bilmar sebagai lelaki yang royal, ia selalu menjajani mereka berdua.


Merasa paling kaya di antara Nino dan Dion. Persahabatan mereka memang selalu indah, walau berbagai ejekan menerpa dan kata-kata kasar selalu menyerang. Tetap saja mereka tidak pernah bubar layaknya geng putri cabe-cabean.


"Bah! Macam mana nih, hanya dua puluh ribu Bang ... Sat!" Dion tertawa di akhir kalimat.


"Masih mending lah gue tambahin, udah sana lo pulang anterin motor gue kerumah." Bilmar meletakan kunci motornya di meja.


"Terus motor gue gimana?"


"Nanti Nino yang bawa motor lo, iringan sama lo kerumah gue, Black!"


"Terus lo pakai apa?" ada rasa khawatir dimata Dion.


"Gue mah gampang, udah sana pulang!" titah Bilmar. Dion mengangguk. "Kalau ada apa-apa telepon gue ya, Bila." Dion tertawa meledek.


"Bilmar, anjingg!" Ia ingin memukul lengan Dion, namun lelaki itu menarik tubuhnya dengan cepat untuk meninggalkan kelas.


"Si Neng masih diam aja di situ, nungguin gue deh pasti." Bilmar tersenyum, ia begitu percaya diri ketika melihat Alika masih terdiam di kursinya dengan tas yang sudah terselempang di dadanya.


"Kok belum pulang? Nungguin aku?" tanya Bilmar, lelaki itu kembali duduk di meja yang bersebalahan dengan meja Alika.


Alika mendelik tajam. "Pede lo! Kalau ngomong tuh pakai saringan, begoo!"


"Iya deh, aku emang begoo, yang pinter kan kamu, Al." Bilmar tetap merendah.


"Yang pinter itu tuh elo, Bil! Lo pinter nyakitin dan mainin perasaan gue!" Alika berdecak emosi.


"Anak solehah nggak baik kalau marah-marah terus, pamali."


Alika mencebik, memutar bola matanya jenga. "Ayo, Al kita pulang yuk. Kelas udah mau sepi!"


Bukan mau lagi, tapi memang sudah sepi. Di kelas ini hanya ada mereka berdua, tapi sepertinya tidak lagi karena ada suara Indra yang mulai terdengar dengan langkah yang mulai masuk kedalam kelas menghampiri Alika.


"Heh, Ndra ayo sini." Alika menepuk kursi kosong disebelahnya. Indra tampak kaget ketika ia tahu ada Bilmar juga di sini.


"Kok ada dia, Al?" tanya Indra dengan wajah tidak suka melirik ke arah Bilmar.


"Enggak tau ngapain, udah biarin aja!" jawab Alika.


"Ngapain kalian berduaan di sini, di kelas sepi lagi!" Bilmar bangkit dan meletakan kedua tangannya di pinggang.


"Kita mau bahas tentang mading." jawab Alika. Ia hanya takut kalau Bilmar akan memukul Indra.


"Kan istirahat bisa, ngapain segala ngomongin berduaan di sini? Untung ada aku di sinii, bisa ngawasin kalian!"

__ADS_1


Alika menghela napas panjang dan mengusap wajahnya kasar. "Udah deh mending lo pulang, Bil!"


"Iya tuh bener, mending lo pulang deh! Lo tuh ganggu tau gak! Suara lo berisik rusak konsentrasi orang!" sahut Indra.


Bilmar menghentak meja lalu beringsut untuk menarik kerah Indra, namun dengan cepat Indra beranjak dari kursi ingin menjauh.


"Bil udah dong! Hargain gue di sini!" sentak Alika. Dengan napas terengah-engah menahan rasa tidak suka, Bilmar pun mundur. Ia menjauh dari meja Alika dan duduk kembali di kursi yang sebelumnya telah ia duduki.


"Aku tungguin kamu sampai selesai di sini!" Bilmar tetap memaksa.


"Terserah!" jawab Alika. Gadis itu sudah menyerah dengan sikap Bilmar yang sulit dikendalikan. "Mau tunggu sampai malam juga terserah!" decak Alika menakuti Bilmar.


"Enggak masalah! Sampai sahur di sini juga gak apa-apa!" jawab Bilmar menantang. "Yang penting kamu harus pulang sama aku!" sambung Bilmar lagi.


Alika hanya merespon dengan delikan mata yang tidak bersahabat. Jika saja ia belum tahu kejahatan Bilmar padanya, tentu ia akan menari-nari bahagia karena ditunggui oleh sang pangeran hati.


"Udah, Al jangan di ladenin. Namanya juga orang gila." bisik Indra. Alika berbalik menatap Indra dengan wajah tidak suka, bagaimanapun Alika mencintai Bilmar, ia tidak suka jika lelaki itu di hina.


"Ndra, please deh! Jangan mulai! Kalo nasib lo sore ini jadi combro ditangannya Bilmar, gue nggak tanggung jawab loh!" kelakar Alika.


"Iya-iya!" Indra miringkan sudut bibirnya.


****


Demi cinta Bilmar sengaja menunggu Alika dan Indra sampai selesai mengerjakan tugas mading. Maklum mereka adalah anak perpustakaan, yang sebentar lagi akan mengadakan perlombaan cerita pendek hanya untuk siswa-siswi dikelas sebelas.


Ia sampai tertidur, melipat kedua tangannya diatas meja dan meletakkan kepalanya di atas sana. Suara dengkuran pun terdengar sampai ke telinga Alika dan Indra. Sesekali Alika menoleh menatap Bilmar. Ia rindu dengan lelaki itu, lelaki yang selalu mengajaknya berkencan setiap pulang sekolah. Entah mengapa beberapa hari ini tidak lagi mereka lakukan, Alika memilih untuk mundur.


"Segini dulu deh besok lagi ya, Ndra." ucap Alika, ia menyudahi tugas yang sejatinya akan kelar sedikit lagi. Namun ia merasa kasihan melihat Bilmar yang sudah pulas tertidur, Bilmar harus cepat pulang kerumah, fikir Alika.


"Udah selesai, Yang?" tanya Bilmar.


"Hem." jawab Alika hanya dengan deheman.


"Jadikan pulang bareng sama aku, Al?" tanya Indra ketika ia sudah menggendong tas di punggungnya.


Alika mengangguk, lalu keluar dari mejanya untuk melangkah, namun gerakan itu seketika ditahan oleh Bilmar.


"Kamu harus pulang sama aku, Al! Aku kan udah nungguin kamu berjam-jam di sini!"


"Aku kan enggak pernah minta, kamu tungguin!" jawab Alika, wanita itu kembali kesal.


"Memang aku yang mau, tapi kan masa kamu sekejam ini sama aku, Al."


"Ya Allah, Bil. Mata kamu itu sayu banget sayang.." desah Alika dalam hatinya.


Ia hanya bisa menatap Bilmar dengan wajah tidak tega. Ingin sekali ia memeluk lelaki itu dengan erat tanpa mau melepaskan. Namun Alika sudah bertekad untuk menjauhi Bilmar bagaimanapun caranya.


"Kita tidak akan bersatu, karena kita tidak sepadan!" batinnya kembali menggema.


Alika hanya bisa membuang wajahnya setelah menatap Bilmar dengan diam dan tanpa kata. Ia tetap melangkah dan menabrak bahu Bilmar untuk melewati lelaki itu. Alika melangkah cepat yang di susul pula dengan langkah Indra.


Bilmar tetap mengikuti mereka dari belakang. Ia hanya tersenyum sarkas menatap Indra yang sepertinya bahagia sekali bisa pulang semotor dengan Alika.


"Abis ini nangis lo!" decak Bilmar menatap punggung Indra yang sudah menjauh.


Lalu, tak lama kemudian ketika langkah kaki mereka sudah sampai di parkiran. Kedua mata mereka melongo drastis. Motor terlihat terjungkir diatas aspal dengan ban menghilang satu.

__ADS_1


"Ya Allah ..." desah Alika.


Indra masih tercengang, ia hening sesaat.


"Itu beneran motor aku, Al?" tanyanya datar. Alika pun mengangguk dan seteguk saliva yang ia dorong secara terjun bebas kedalam kerongkongan.


"Hah?" Indra menghela napas yang terlihat mulai berat. Mimpi apa semalam, mengapa dirinya bisa kena sial seperti ini. Siapa juga orang yang berani melakukan ini padanya?


Lalu tanpa menunggu lama, mereka berdua menoleh ke belakang untuk menatap Bilmar yang sedang terkekeh geli.


"Banyak juga musuh, Lo!" decak Bilmar tidak bisa menahan gelak tawanya.


"Kamu punya musuh, Ndra?" tanya Alika polos.


"Iya, Al, ada!" jawab Indra dengan raut wajah pasti.


"Hah? Siapa emang? Ada masalah apa kamu, sampai di giniin?"


Indra menunjuk ke arah Bilmar.


"Itu musuhnya! Dia enggak suka lihat kamu sama aku dekat, Al!" tatapan Indra sangat dingin melebihi batok es. Raut wajahnya sangat kesal, ia begitu marah menatap Bilmar.


"Kenapa lo, Toy? Nuduh gue, lo?" Bilmar menantang.


"Beneran lo yang ngerjain Indra?" kini Alika yang bersuara nyaring kepada Bilmar. Ia pun menghampiri dan mencoba memukul-mukul tubuh lelaki itu.


"Jahat banget sih! Balikin ban motornya, kasian Indra, Bil. Nanti dia nggak bisa pulang!" ucap Alika dengan dua mata yang melotot tajam.


"Oke baik, aku akan balikin ban motornya si letoy, tapi dengan satu syarat."


"Jangan, Al!" seru Indra ingin mengacaukan fikiran Alika.


"Eh, sarang tawon diem, lo! Rambut lo tuh rebonding biar lurus!" ucap Bilmar kepada Indra. Refllek Indra mengusap rambutnya yang sedikit ikal namun rapih.


"Bil! Ini udah sore banget! Kasian Indra, dia mau pulang!" Alika terus meronta.


"Kamu harus mau aku antar pulang!" Bilmar mengajukan syarat.


"Jangan Al, tunggu bentar. Aku ke bengkel dulu buat beli ban ya." ucap Indra, ia terus menahan agar Alika tidak usah pulang bareng dengan Bilmar.


"Berani lo keluar gerbang! Gue bakar motor lo sekarang juga!" urat-urat disekitar pelipis Bilmar tercetak jelas, lelaki itu benar-benar sedang tidak main-main dengan ucapannya. Sontak ultimatum itu membuat Indra bergeming ditempatnya.


"Lo tunggu disini, nanti anak bengkel akan datang menemui lo!" ucap Bilmar. Lalu menggandeng tangan Alika secara paksa untuk berlalu dari parkiran menuju gerbang sekolah.


"Ayo naik!" Bilmar mendorong tubuh Alika untuk masuk kedalam angkot, ia pun mengekor dari belakang untuk ikut masuk setelah wanita itu.


Pengalaman pertamanya naik angkutan umum hari ini. Walau Bilmar terasa risih dan sesak, sesekali menahan mual karena mencium bau badan orang yang beraneka ragam. Namun tetap ia paksakan, Bilmar hanya ingin Alika tahu bahwa mereka sepadan. Bilmar bisa mengikuti keseharian hidup Alika sehari-hari.


"Hanya buat kamu, Al." bisik Bilmar tepat di telinga Alika.


****


Iya-iya, ngerti deh! Tapi nanti lo pulangnya gimana, Bil? Mana mau magrib nggak ada angkutan umum di perkampungan Alika, lagi-lagi pasti ngandelin dua kecebong laknat, sabar ya Dion sama Nino 🤪🤪🤪😂😂😂


Hari ini tuh mangatoon emang lagi eror katanya guys, episode sebelumnya aja udh lolos selama 4 jam tapi belum juga nongol diberanda, begitupun My Sabbatical Wife aku udah up lagi dari sore tapi sampai malam begini belum juga nongol di beranda.


Semoga aja episode ini juga gak lama ya munculnya hehe, biar kalian gak rinduu🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2