
Terlihat Bilmar sedang grasak-grusuk mengobrak-abrik isi tas sekolahnya. Mencari-cari benda yang sejak kemarin ia simpan. Lelaki itu mulai panik dan gelisah.
"Apa gue lupa simpan ya, tapi perasaan hape Alika gue letakan didalam tas." gumamnya.
Bilmar terus saja mencari-cari nya sampai kedalam sudut-sudut tas. Buku-buku ia keluarkan sampai berserakan diatas kasur. Benda pipih berwarna merah muda tersebut tidak kunjung ia temukan.
Bilmar memutuskan untuk turun dari ranjang. Membuka laci nakas, lemari pakaian, tempat sampah sampai ke kolong tempat tidur, tetap saja hasilnya nihil. Benda itu tidak kunjung ia temukan.
Niatnya benda itu ingin ia kembalikan lagi besok kepada sang kekasih, agar mereka bisa bertukar pesan lagi seperti dulu. Bilmar mengusap wajahnya gusar dan terdiam sebentar seraya berfikir.
"Ya udah lah kalau emang gak ketemu. Besok gue beliin lagi aja." katanya dalam hati.
Sudah lelah dirinya mencari-cari barang tersebut tapi tidak kunjung ditemukan. Toh, bagi Bilmar uangnya masih banyak, membelikan sepuluh ponsel untuk Alika tidak akan membuat ia langsung menjadi miskin.
"Bakal gue beliin yang lebih bagus dari kemarin." niatnya.
"Kamu cari ini, Bil?"
Bilmar terkesiap, menoleh cepat dan menemukan sang Mama sedang berdiri diambang pintu. Bola mata Mama Mira membawa arah mata sang anak untuk menatap benda yang sedang di genggam olehnya.
"Kamu cari hape ini?" Mama Mira meyakinkan Bilmar.
Wajah Bilmar kembali berbinar. Lelaki itu menghela napas lega. Menghampiri sang Mama untuk meraih benda itu. Namun sebelum jari-jarinya menyentuh ponsel, Mama Mira dengan cepat menyembunyikan benda itu ke belakang tubuhnya.
"Mah ..." desah Bilmar.
__ADS_1
"Tolong kembalikan, Mah. Itu ponsel Alika." Bilmar tetap berusaha untuk meraih ponsel itu dari genggaman tangan Mama Mira, namun wanita paru baya itu tetap bersikeras untuk enggan memberikannya.
"Hape gadis itu? Yang kamu beli dengan uangmu, iya kan?"
Bilmar terperanjat, mengapa mama bisa mengetahuinya.
"Enggak, Mah. Itu ponsel Alika, tadi ketinggalan sebelum dia pulang dari sini." Bilmar berdalih.
"Jangan bohong kamu! Mama sudah cek kartu Atm kamu! Ada pengeluaran untuk barang ini!" jawab Mama Mira dengan wajah serius.
"Mama juga sudah baca percakapan pesan kalian, sudah lama kamu berhubungan dengan wanita miskin ini?" nada suara Mama terdengar naik satu oktaf.
"Iya, Mah. Bilmar pacaran dengan Alika. Tolong jangan menghina Alika, Mah. Dia gadis yang baik." jawab Bilmar tegas.
Bilmar fikir cepat atau lambat, dirinya akan memberitahukan hubungannya dengan Alika kepada kedua orang tuanya. Walau waktunya masih ia fikirkan, berhubung Mama sudah tahu, untuk apa lagi dirinya menutupi semua ini. Lebih baik jujur, sekaligus ia ingin tahu apa reaksi dari sang Mama.
Bilmar sudah kepalang cinta buta dengan Alika, apapun niatnya dulu sepertinya terhempas kan begitu saja. Lelaki itu hanya ingin tetap di sini bersama cintanya.
"Bilmar sudah putuskan untuk tidak akan pergi ke London. Bilmar akan tetap kuliah di Jakarta, Mah." tanpa sadar, Bilmar melawan wanita yang sudah mengandung dan melahirkan dirinya.
"Apa? Demi wanita kampung dan bodoh itu?"
"Mah! Tolong jangan hina Alika. Dia adalah gadis yang cerdas! Kemampuannya saja melebihi Bilmar serta siswa-siswa yang lain!"
Mama Mira tertawa singkat sambil meledek.
__ADS_1
"Percuma saja cerdas, tapi miskin. Apa yang bisa dibanggakan? Dia kumuh! Berbeda dengan kamu. Kamu adalah penerus Eco Group, Bilmar! Apa kata orang nanti kalau kamu memilih wanita yang tidak sebanding dengan kita?"
Mama Mira mencengkram bahu sang anak. Menatap tajam, menumpahkan rasa kecewa dan amarah.
"Terserah Mama mau terima atau tidak. Bilmar hanya ingin Alika. Aku gak perduli dengan latar belakang keluarganya, Alika akan menjadi calon istri aku, Mah----"
Belum saja menuntaskan ucapannya, Bilmar sudah lebih dulu limbung ke atas ranjang. Karena tamparan keras dari sang Mama. Pemuda itu terdiam sambil memegang tulang pipi bagian kiri yang terasa panas.
Mama dan Anak itu tersentak kaget bersamaan. Mama yang selalu bersikap hangat dan lembut kepada Bilmar, kini tanpa sadar memukul Bilmar begitu saja, serta Bilmar yang tidak pernah berkata kasar atau melawan apapun kemauan sang Mama, kini melakukannya.
Hari ini mereka tergelak dalam balutan penyesalan. Mengapa bisa hanya karena seorang wanita, mereka berseteru.
"Putuskan hubunganmu dengan dia! Jangan sampai Mama yang akan turun tangan." ancam Mama Mira. Lalu ia pergi ke toilet dan menenggelamkan ponsel Alika kedalam closed.
Bilmar hanya terdiam, tertunduk pasrah diatas ranjang. Entah mengapa hatinya tetap saja lebih sakit jika ditinggal Alika dibanding ancaman dari sang Mama. Mama Mira pun berlalu dari kamar dan meninggalkan Bilmar tanpa kata-kata.
Pemuda itu merebahkan dirinya diatas ranjang. Menatap cahaya lampu yang menyorot bola matanya. Bukannya sedih karena Mama Mira sudah memarahinya, malah wajahnya berubah menjadi senang.
Ia terbayang Alika, meningat-ingat kenangan hari ini, karena dari siang sampai sore mereka menghabiskan waktu berdua diatas motor. Saling memeluk dan melepas kerinduan. Bilmar pun berhasil mencium pipi Alika sebanyak dua kali. Ia memegang kulit bibirnya dan terus tersenyum.
"Aku sayang banget sama kamu, Al. Aku akan tetap perjuangkan kamu." desah Bilmar. Sesekali ia meringis karena pipinya masih terasa linu dan panas.
***
Tungguin ya masih ada satu episode lagi, ada kekonyolan Alika dan Bilmar di belakang kelas yang sepi, mau tau kan? Kalau komennya 100 aku langsung up lagi satu jam kemudian🤭
__ADS_1
Di tong sampah aja jadi😂