MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Apakah, Mama faham?


__ADS_3

Suara dan kilatan petir terdengar begitu menggelegar di sela-sela air yang turun dari balik awan yang sangat gelap. Sudah pukul enam pagi, namun Alika, Bilmar dan Ammar belum mau beranjak dari tempat tidur. Dan sudah tiga hari ini, Ammar meminta tidur dengan Mama dan Papanya, tidak mau sekolah, murung dan tubuhnya sedikit demam.


"Mah ... Mah." Maura berbisik tepat ditelinga Mamanya.


Walau sedang hujan deras, anak perempuan ini harus tetap sekolah. Jika di adu dengan sudut kecerdasan, Ammar memang lebih unggul dibanding Kakaknya. Namun anak lelaki itu selalu sulit untuk bergaul dengan para teman-temannya. Sedangkan Maura, ia memiliki banyak teman. Di angkatannya, Maura juga cukup terkenal.


Terkadang Ammar iri dan sedih melihatnya. Tak jarang, Maura suka mengajak Ammar untuk ke kantin bersama. Karena ia tahu, adiknya selalu sendirian di kelas.


Karena kecerdasan, ketangkasan dan selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran membuat Ammar di jauhi oleh para teman-temannya. Kadang hanya dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas dan memberikan contekan pada saat ulangan.


Pernah suatu hari Ammar di pukul oleh temannya, karena ia tidak sengaja berseru, ketika temannya tersebut tengah mencontek dari buku pada saat ujian semester.


Alika mengerjapkan mata, melepas pelukan Ammar dan menoleh. "Ya allah, Mama keenakan tidur, Nak. Sampai lupa buatin kamu sarapan." wanita itu menyeka selimut dan beranjak turun. Merasa sang Mama melepas pelukannya, Ammar berbalik untuk memeluk Papanya.


Maura menggeleng. "Enggak usah, Mah. Tadi Kakak udah sarapan dulu sebelum ke sini, Bik Minah yang buatin."


"Beneran?" tanya Alika. Ia baru saja memakai sendal untuk melangkah.


Maura mengangguk.


"Mah, Ammar masih belum mau sekolah, ya?" tanyanya sambil melirik Adiknya.


Alika menggeleng sambil menguap. Ia berjalan lurus menuju meja rias untuk merogoh tasnya. Meraih sebuah dompet dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru.


"Kak ..." panggil Alika.


Maura yang terlihat sedikit membungkuk karena habis mencium adiknya lalu menoleh dan mengangguk. Ia kembali menegapkan dirinya dan berjalan menghampiri Mamanya.


"Ini jajan, Kakak." Alika menyodorkan uang itu. "Kalau ada yang jahilin Kakak disekolah, tolong bilang sama Mama dan Papa, jangan dipendam sendiri ya, Nak."


"Kayak Ammar ya, Mah?" jawab Maura. Alika kembali menoleh. Menatap anak lelakinya yang masih pulas.


"Iya, Kak."


Ingin Maura kembali bertanya, kemana kah adik dan kedua orang tuanya kemarin siang?


Maaf, Non. Mamang telat jemput. Soalnya tadi abis ngantar Mama, Papa sama Den Ammar.

__ADS_1


Maura masih terngiang-ngiang ucapan Mang Dana, sopir yang selalu antar-jemput ia dan Adiknya ke sekolah.


Tapi sepertinya Alika belum ada waktu untuk bercerita, mungkin nanti dan Maura, si anak baik, faham akan hal itu. Kemarin siang, Alika dan Bilmar sengaja membawa Ammar untuk pergi mendatangi psikolog.


Mereka takut sang anak mengalami gangguan mental. Tapi syukurlah Ammar hanya sedang terpukul dalam porsi ringan. Belum ke dalam fase depresi berat.


Tapi psikolog bilang, jika Ammar terus berlarut-larut dalam kenangan buruk ini dan terus mendapatkan hal yang tidak baik. Ia pasti akan trauma dalam waktu berkepanjangan.


"Iya, Mah. Kakak pasti akan bilang kok. Maafin Kakak, Mah. Kakak enggak bisa jagain Adek. Kakak juga gak tau banget kalau selama ini Ammar sering dipukulin. Yang Maura tau, Adek yang sering dipanggil guru karena memukuli teman-temannya." sungguh fitnah memang lebih keji dari pembunuhan. Selama ini Ammar di bully, di aniaya dan di coreng namanya dengan sebuah fitnahan kejam.


"Bukan salah kamu, Nak." jawab Alika sambil merapihkan kemeja seragam Maura agar di bagian pinggangnya terlihat rapih.


"Kakak pergi dulu ya, Mah. Salamin buat Papa dan Ammar." Maura mencium punggung tangan Mamanya.


"Hati-hati di jalan ya, Nak. Perhatikan guru yang benar." Alika melepas kecupan hangat di kening Maura.


Maura mengangguk dan tersenyum. "Iya, Mah." ia mulai memutar langkah dengan pandangan yang tidak luput menatap Ammar. Terlihat raut wajahnya getir, karena selama ini ia akan selalu berangkat dan pulang sekolah bersama Adik lelakinya itu. Maura rindu Ammar.


Setelah Maura berlalu, Alika kembali merangkak ke atas kasur. Ia termenung sebentar. Mau sampai kapan anak lelakinya ini mogok sekolah.Malah tiga bulan lagi akan ada ujian semester kenaikan kelas. Bisa-bisa tidak naik kelas, Alika menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan yang tidak baik itu.


"Pah, bangun. Udah jam sebelas."


Bilmar membuka matanya mendadak, langsung mendongak menatap Alika dengan sorotan menyalak. "Yang benar kamu, Mah?" serunya tidak percaya.


"Hus!" Alika memberi kode dengan satu jari didepan bibirnya. Agar suaminya tidak berbicara kencang dan bisa membangunkan Ammar.


"Belum, masih pagi. Kakak aja baru jalan kok."


Bilmar mendengus, memiringkan sudut bibirnya, kembali merebahkan kepala di atas bantal. "Gangguin tidur aja."


"Yeh malah tidur lagi, ayo ah, bangun! Ada yang mau Mama bicarain sama Papa."


"Mau bicara apa? Ya udah ngomong aja, nih Papa dengerin." lelaki itu kembali memeluk Ammar dan memejamkan kedua matanya kembali.


"Mau bangun, apa aku siram air panas?"


Bilmar membuka matanya lagi. "Kejam banget kamu, Mah. Aku nih suami kamu, bukan anak tiri!"

__ADS_1


"Ya udah bangun makanya!" Alika sudah gemas, ia sampai mencubit lengan suaminya.


"Aduhh sakit banget sih cubitannya, kayak semut rangrang tau, nggak! Pedas, panas!" Bilmar meringis sambil mengusap lengannya yang terasa panas. Lelaki itu kemudian duduk dengan posisi kaki menyila. Walau rambutnya terlihat berantakan, tetap saja sisi ketampanannya tidak memudar.


"Nasibnya Ammar gimana, Pah? Masa iya, anak kita enggak sekolah terus."


"Habis mau gimana? Kamu mau anakmu mati pelan-pelan. Tersiksa di sekolahnya? Aku kalau ingat itu, bawaannya kesal banget. Pengen aku pukul anak-anak itu, mana salah satu dari mereka ada si Farhan. Anaknya si Nono!" Bilmar terus meluapkan kekesalannya. "Kurang ajar banget, pengen Papa botakin tuh rambutnya si Farhan!"


Hubungan Bilmar dengan Nino pun sedikit renggang, karena perihal anak. Nino berkali-kali mengucapkan mata maaf. Bilmar yang masih dongkol hanya bisa menerima maaf tersebut dengan luka dan kecewa yang masih bercokol di hati.


Ikhlas rasanya masih sulit, mau bagaimana lagi, Nino adalah sahabatnya. Tapi Ammar juga buah hatinya, lelaki itu sedang dalam posisi terjepit.


Dua hari yang lalu, Bilmar dan Alika mendatangi sekolah Ammar. Mereka berdua melakukan pembicaraan intim dengan wali murid dan beberapa anak-anak yang di duga sering membuat kekerasan kepada putranya.


Walau rahang Bilmar sudah mengencang kala itu, namun ia tidak akan sampai hati memukul mereka. Hanya omelan yang Bilmar berikan kepada anak laki-laki yang diketahui berjumlah dua puluh orang tersebut.


Apalagi saat ini Bilmar masih belum menemukan segerombolan anak-anak SMA yang memukuli Ammar sampai babak belur. Karena dengan tangan sendiri ia sulit, maka tidak tanggung-tanggung. Bilmar melapor kepada polisi, untuk menangkap sekumpulan anak-anak tersebut.


"Terus gimana dong, Pah? Masa iya, Ammar enggak sekolah." Alika mengelus tubuh anaknya sampai Ammar sedikit bergeliat dan membuka mata. Terlihat bulatan kebiruan yang sedikit memudar, di tulang pipi dan sudut bibirnya.


Ia terperangah ketika melihat Mama dan Papanya sedang duduk berhadapan di antara tubuhnya. Dan Ammar lebih memilih untuk memeluk Mamanya. Ia beranjak dan mengalungkan kedua tangan di leher Alika. Kembali merebahkan kepala di dada wanita itu.


"Home schooling aja, Papa akan mengeluarkan Ammar secepatnya dari sekolah. Selama Ammar seperti ini, sebaiknya kamu tidak terlalu fokus dengan kampus. Sembuhkan dulu Ammar. Sepertinya dia kurang kasih sayang dari kamu. Faham kan maksudku?" suara Bilmar memang tidak terdengar sedang marah, tapi sepertinya ia sedang menahan rasa kecewa.


DEG.


Mendengar ucapan suaminya, sontak membuat bulu-bulu halus di permukaan kulit Alika seketika meremang. Sudut hatinya terasa sakit, linu dan perih. Ketika suami memberikan kata sindiran secara halus kepadanya. Dan Alika pun tidak mengelak, ia sadar. Ia juga salah.


"Iya, Pah. Mama faham."


***


Like dan Komennya buat Abang Bila ya.


Faham lah kalau sama abang ganteng kek gini, Mah🌾🌾


__ADS_1


__ADS_2