MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Bantu Apa?


__ADS_3

Sinar matahari pagi kembali datang menggantikan cahaya rembulan tadi malam. Hari ini adalah hari minggu, harinya anak-anak bagi Alika dan Bilmar.


Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Ammar dan Maura memilih untuk masuk ke dalam kamar orang tuanya. Mereka berdua akan unyel-unyelan dengan Bilmar atau Alika di pusaran kasur sambil menonton kartun di televisi. Memang begitulah rutinitas setiap weekend di rumah ini.


"Pah ... Papa!" seru Ammar dan Maura bersamaan. Mereka menusuk-nusuk lengan Bilmar. Agar lelaki itu bangun dari tidurnya.


"Hem ..." Bilmar bergeliat. Mengerjap perlahan kedua kelopak matanya agar terbuka. Bilmar masih saja bergelut didalam selimut.


Merasa sentuhan pagi ini sangat berbeda dari biasanya. Ia rindu sentuhan Alika yang begitu lembut ketika membangunkannya. Sudah seminggu ini Bilmar selalu drama untuk telat bangun ketika hendak bekerja, ini ia lakukan karena ingin mengambil simpati dari istrinya. Namun tetap saja Alika hanya membangunkan dengan suara tanpa sentuhan atau kecupan.


Ammar dan Maura merangkak naik ke pusaran ranjang. Mengarahkan remote ke arah tivi.


"Mamanya mana?" tanya Bilmar.


"Di kebun, Pah. Lagi siram tanaman." sahut Maura. Kalau hari minggu begini, biasanya Alika akan menemani anak-anaknya untuk menonton acara kartun di kamar. Bilmar tahu, saat ini sang istri tidak mau berdekatan lama-lama dengannya.


Bilmar menghela napas panjang. Ia gegana, mau sampai kapan Alika akan bersikap dingin terus kepadanya.


"Dirumah terus bosen ya?" tanya Bilmar kepada kedua anaknya yang masih sibuk menatap film kartun didepan sana. Ia berharap kedua anaknya menjawab 'Iya', nyatanya tidak. Maura dan Ammar menggeleng.


Bilmar mendengkus. Ternyata kedua anaknya tidak ada yang sepemikiran dengannya.


"Mau jalan-jalan nggak?" tanya Bilmar lagi sambil mengelus rambut mereka secara bergantian.


Maura dan Ammar tetap menggelengkan kepala.


"Mau olahraga ya? Lari lagi? Atau muter-muter pakai sepeda?" kini Ammar yang membuka suara, tapi kedua matanya masih saja menatap tivi.


Samar-samar garis sudut bibir Bilmar mulai terangkat naik, ternyata terkaannya barusan itu salah, pemikiran dia dengan anaknya sangatlah mirip.


"Tapi enggak ah, Pah. Adek mau di rumah aja, iya kan Kak?" Ammar menoleh ke arah Maura.


"Hem ..." Maura mengangguk dalam posisi rebahan yang sudah begitu pewe.


Seketika bibir lelaki itu mengerucut. Hanya bisa menghela napas dan berpasrah diri untuk kembali tenggelam ke dalam bantal dan kain seprai. Memutar tubuhnya untuk kembali melanjutkan tidur dengan memunggungi kedua anaknya.


"Biasanya kalau weekend kaya gini, pagi-pagi udah mandi bareng sama Mama." sungutnya dalam hati.

__ADS_1


"Mana udah seminggu enggak dikasih jatah. Eh pas dibolehin nanti alesannya ... Pah, Mama halangan." gumamnya lagi. Bilmar mengerutuk sambil menggigit bantal karena kesal.


Bilmar kembali memejam mata sambil memperbaiki ritme napasnya. Kembali berfikir untuk mencari cara yang tepat agar bisa berbaikan dengan sang istri tercintanya.


Dan stimulus otaknya berjalan begitu sempurna. Dan, aha! Rencana brilian seperti sudah muncul di benaknya.


Ah, Bilmar kan memang cerdas kalau usaha tipu-menipu atau kadal-mengadali.


"Kak ... Dek." seru Bilmar, ia memutar miring kembali tubuhnya, menggunakan siku tangan kiri sebagai tumpuan di pipinya. Dan tangan kanannya di pergunakan untuk mengusap-usap rambut Ammar dan Maura.


"Hem ...?" jawab kedua anak itu bersamaan.


"Kita jalan-jalan ke Taman Safari, yuk." ajak Bilmar.


Benar saja, tawaran Bilmar kali ini sangat menggelitik hati Maura dan Ammar. Mereka berdua menoleh bersamaan untuk menatap Papanya.


"Beneran kita mau pergi kesana, Pah?" tanya Ammar.


"Ke kebun binatang lagi?" timpal Maura. Karena sebulan yang lalu, Maura dan Ammar sudah di ajak oleh Tante dan Om nya untuk jalan-jalan ke sana.


"Kakak sama Adek maunya kemana?" Bilmar kembali bertanya, melimpahkan opsi kepada mereka, takut-takut pilihannya membosankan.


"Ya baiklah." jawab Maura singkat. Anak perempuan itu selalu saja menurut dan ikut apa kata Papa, Mama dan Adiknya. Tidak terlalu rewel dan ambil pusing.


"Ya udah sekarang bujuk Mama biar ikut, abis itu langsung siap-siap. Biar sampai di sana tidak terlalu siang." titah Bilmar. Tanpa banyak aiueo, Maura dan Ammar mengangguk lalu beranjak turun dari ranjang menuju taman belakang.


Nah betul kan, si kancil tidak akan begitu saja menyerah dengan keadaan. Dia akan selalu berusaha melakukan apa pun agar Alika mau kembali lengket dengannya. Karena Bilmar tahu, Alika tidak akan bisa menolak permintaan dari Maura dan Ammar.


Bravo, Bilmar.


*****


Bilmar bisa bernapas lega. Karena Alika sama sekali tidak menolak permintaan dari kedua anaknya. Walau tadinya hari ini ia akan berniat untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Tapi melihat antusias dari Maura dan Ammar, membuat Alika rela menyampingkan dulu pekerjaannya.


Dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan, Bilmar tidak berhenti tersenyum selama mengemudikan mobil. Ia fokus memutar-mutar stir kemudi menyusuri jalan tol.


Membawa mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali bersenandung sambil mendengarkan lagu di radio. Berkali-kali ia menoleh ke samping untuk mengajak istrinya berbincang, tapi Alika hanya akan menjawab semuanya dan sesingkatnya.

__ADS_1


Masih saja menguras hati, ck!


Drrt drrt drrt


Ponsel Alika bergetar.


"Kiki?" ia eja nama yang saat ini sedang menghubunginya di layar ponsel.


Sebelum mengangkat ponsel, Alika lebih dulu menoleh ke belakang. Memberi isyarat dengan matanya, kalau Ammar dan Maura harus diam. Tidak boleh berisik. Karena sejak tadi, Ammar tidak berhenti untuk menjahili sang Kakak.


Seketika Maura dan Ammar diam dan mengangguk. Jujur ia lebih takut jika Alika sedang diam atau marah dibanding dengan sang Papa.


"Assalammualaikum, iya, Ki?" jawab Alika meletakan gawai di telinganya sambil menatap jalan di hadapannya.


Bilmar pun tidak melewatkan hal itu, daun telinganya terlihat bergerak-gerak. Seperti ingin juga fokus untuk menguping. Apapun yang terjadi dengan Alika, lelaki itu harus tahu.


"Pokoknya kamu perbaiki dulu sebisanya. Baru hubungi saya, faham kan?" suara Alika terdengar begitu lugas. Semua yang ada di dalam mobil hanya bisa terpaku diam. Ia tidak mau kena semprot Alika karena masih berisik. Tapi selain itu, dia tahu kalau Alika sedang menahan kesal.


Tut.


Sambungan telepon di putus begitu saja oleh Alika. Wanita itu kembali menggelosorkan dirinya di sandaran kursi dengan lemas. Terlihat beberapa kali ia menghembuskan napas ke udara, dan memijat-mijat pangkal dahinya.


"Ada masalah, Mah?" tanya Bilmar. Dengan hati-hati lelaki itu bersuara.


Alika tidak menjawab dengan kata, namun hanya dengan anggukan kepala. Sepertinya ia malas untuk membahas masalah kampus yang sedang ia fikirkan sejak beberapa hari ini, dan tentu saja, ia masih tidak ingin banyak bercakap-cakap dengan Bilmar.


"Masalahnya apa? Mungkin Papa bisa bantu, Mah." ucap Bilmar dengan nada lembut.


Alika tertawa singkat. "Bantu? Bantu apa?" ia tetap menatap ruas jalan tol. Nada Alika masih sama, dingin.


Bilmar kembali menggelengkan kepala, menarik napas untuk melegakan dadanya yang masih terasa sesak.


"Papa urus aja Eco Group. Tidak perlu pusing-pusing ingin membantu Mama." nada suara dingin itu kembali mencuat.


Lama-lama lelaki itu menjadi kesal. Ia rindu, tapi juga malas dengan sikap Alika yang semakin lama semakin menjadi-jadi.


"Kalau aja nggak ada Kakak sama Adek, udah Papa rejeng Mama sekarang tanpa ampun!" gumamnya.

__ADS_1


*****


Gimana nih guyss, bakal berhasil gak yah idenya Bilmar buat raih lagi hatinya Alika?


__ADS_2