
"Arkh ..." Ammar terlihat membanting pintu mobil dengan kasar.
Ia sedang menahan seribu jengkel di hatinya. Bocah lelaki yang masih duduk di bangku SD itu turun dengan langkah blingsatan dari dalam mobil lalu berlari cepat untuk masuk kedalam rumah. Sang Kakak hanya bisa menggeleng kesal karena kelakuan sang Adik disekolah hari ini. Mang Dana pun sama, ia tidak mengerti kenapa majikannya itu terus saja merungut selama di dalam perjalanan pulang.
Adikmu lagi-lagi membuat onar, maafkan Ibu jika harus memanggil orang tua kalian untuk datang ke sekolah.
Maura menggelengkan kepalanya lagi ketika mengingat seruan dari wali kelas Ammar. Walau mereka berbeda tingkatan sekolah, namun Maura dan Ammar berada dalam ruang lingkup yang sama. Sehingga semua orang tau Ammar adalah adik dari Maura.
Maura melangkah ke kamar dengan tatapan lesu. Ia kesal dengan kenakalan Ammar yang tidak kunjung berubah, namun adik lelakinya itu selalu berdalih kalau ia bukan nakal tapi hanya sedang dikerjai oleh para teman-temannya.
"Pasti Bu Ane sudah menelepon Mama dan Papa, dan setelah itu aku yang akan dimarahi karena tidak bisa menjaga Ammar dengan baik!" gerutu Maura sambil merebahkan dirinya diatas kasur.
Maura bangkit dan menuruni ranjang. Ia melangkah keluar kamar menuju kamar tidur adik satu-satunya itu.
"Dek, buka pintunya!" Maura terus bersuara dengan iringan tangan yang mengetuk beberapa kali daun pintu.
"Adek!" seru Maura lagi dengan suara kencang.
Mendengus. Maura bertolak pinggang menahan kesal. "Keluar enggak! Aku cubit nih! Ayo buka pintunya!!" Maura terus berdecak sebal.
Hening. Dari dalam kamar tidak ada jawaban sama sekali dari Ammar. "Ammar buka pintunya! Kalau enggak, akan aku adukan kenakalan kamu kepada Mama dan Papa nanti!" ancam Maura.
Gadis berseragam putih biru itu menyerengitkan dahinya. Ia aneh, mengapa adiknya tak kunjung keluar. Padahal jika Maura menghentak pintu sekali saja, bocah lelaki itu pasti akan langsung membuka pintu. Ia selalu hormat kepada Kakaknya.
Maura mendongak ke atas, memperhatikan ventilasi kamar adiknya. Memang terlihat agak gelap, sepertinya lampu di dalam kamarnya belum di nyalakan.
"Tidur ya? Masa secepat itu? Baru juga sampai rumah kok." Maura terus saja berbincang sendiri. Ia penasaran sekali, apa yang sedang terjadi didalam kamar adiknya.
Buru-buru kembali ke kamar dan mengambil kursi yang sering ia pakai untuk duduk di meja belajar. Menyeretnya sampai tepat didepan pintu kamar adiknya. Dengan hati-hati Maura menaikinya, dan ia masih harus berjinjit sedikit agar mampu menatap kedalam kamar Ammar.
"Hah? Kosong? Kemana dia?" seru Maura sambil membekap mulut. Maura menoleh ke kanan dan mendapati pintu kamar mandi terbuka, hanya ada cahaya gelap dari dalamnya.
Dan
DEG.
Jantung Maura seketika ingin mencelos jatuh ke dasar lantai. Matanya melotot hebat diiringi dengan mulut yang sedikit menganga. Jendela kamar yang menatap kebun terbuka lebar dan ada kain yang terikat di tepi jendela menjuntai ke bawah.
"AMMAR, KABUR?" Maura berteriak histeris.
__ADS_1
Sontak tubuhnya lemas dan ingin terhuyung jatuh, namun dengan sigap ada kedua telapak tangan yang kekar langsung menyambar tubuh Maura agar tidak sampai terjatuh ke atas lantai.
"Pah ..." Maura masih merancau sebelum benar-benar menutup kedua kelopak matanya.
***
"CARI PUTRAKU SAMPAI DAPAT!!" Bilmar setengah berteriak di sambungan telepon dengan beberapa orang suruhan yang ia punya.
Maura memeluk Mama Alika yang sedang menangis. Gadis cantik itu baru saja tersadar dari pingsannya. Ia amat syok mengetahui adiknya pergi dari rumah tanpa pamit.
"Maafin Kakak, Mah. Kakak enggak bisa jagain Ammar." ucap Maura dengan sorot mata menyesal. Ia merasa sudah gagal menjadi Kakak yang selalu dibanggakan oleh kedua orang tuanya untuk menjaga adiknya.
Bilmar beberapa kali mengusap wajahnya gusar. Menghembuskan napas kasar ke udara. Jiwanya panik, takut jika anaknya mengalami hal-hal yang buruk diluar sana. Apalagi Ammar terhitung masih masuk ke dalam usia yang terbilang cukup polos.
"Mah sudah jangan menangis! Papa enggak bisa berfikir jadinya!" decak Bilmar dengan nada sedikit tinggi. Bukannya berhenti, wanita itu semakin menangis. Anak yang ia kandung selama sembilan bulan pergi begitu saja, malah sampai membawa beberapa helai baju di dalam tasnya.
Sebenarnya wali murid Ammar sudah mencoba menghubungi Bilmar dan Alika lewat sambungan telepon. Namun kedua orang itu tidak menjawabnya, karena masih sibuk dengan pekerjaan di kampus dan kantor. Mereka baru tahu ada telepon masuk dari Ibu Ane ketika sudah sampai dirumah.
"Mah, Mah. Sudah, jangan menangis." Bilmar tidak tega melihat wanita itu menangis sesegukan. Bilmar akhirnya duduk di bibir ranjang bersebelahan dengan istrinya.
"Sini ..." Bilmar menarik tubuh istrinya untuk dibenamkan di dada nya.
"Ammar pasti akan diketemukan. Anak itu tidak akan berani kabur jauh-jauh." Bilmar terus menguatkan istrinya.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan Adikmu, Kak?" Bilmar melontarkan pertanyaan kepada anak perempuannya itu.
Hening sesaat sebelum menjawab. Kedua mata Maura berpendar kesana kemari, seraya mencari kekuatan untuk berkata jujur kepada Papanya.
"Adek usil, Pah, Mah."
Mama Alika mendongakkan wajah, melepas dekapan suaminya untuk menatap lurus bola mata Maura.
"Usil? Maksudnya gimana, Kak? Mama enggak faham." suara Alika terdengar amat parau.
Maura mengigit bibir bawahnya. Dengan rasa takut-takut ia menatap legam bola mata Alika dan Bilmar secara bergantian.
"Tadi Kakak dipanggil sama wali kelasnya Adek, Mah, Pah."
"Dipanggil?" selak Alika dengan tatapan gelisah.
__ADS_1
"Biarkan Kakak berbicara, Mah. Jangan dulu di potong." Alika menangguk. "Maaf, Pah."
"Ayo, Kak lanjutkan."
Maura mengangguk pelan.
"Adek mendobrak pintu kamar mandi cewek. Dan ternyata yang sedang di dalam adalah office girl di sekolah, Mbak Cahya.
"Astagfirullahaladzim ..." seru Alika dan Bilmar bersamaan. Bilmar menggeleng tidak percaya. Ia terlihat mengeratkan gigi, karena kesal.
"Kok bisa? Pasti ada maksudnya kan Ammar begitu." Alika kembali bertanya dengan debaran jantung yang amat kuat. Alika tetap berada disebelah Ammar, untuk membela anak kandungnya tersebut.
"Adek bilang, ia hanya dikerjain, Mah. Disuruh bawa kue ulang tahun sampai kedepan pintu toilet, dan yang mendobrak pintu sebenarnya para teman-temannya. Ketika pintu didobrak, terlihat Mbak Cahya sedang jongkok di atas WC."
"Beliau sedang buang air besar. Ammar terpaku dan hanya berdiri, sedangkan teman-teman nya semua lari meninggalkan dia. Lalu Adek dipanggil ke ruang guru, dia menceritakan semuanya."
"Tapi para temannya tidak mengaku. Jadi Adek di hukum, Mah, Pah. Ibu Ane bilang akan memanggil Mama dan Papa. Sepertinya itu yang membuat Ammar takut dimarahi dan kabur dari rumah."
Maura menceritakan panjang kali lebar masalah yang sedang terjadi menerpa Ammar di sekolah. Memang banyak yang ingin menjatuhkan Ammar, anak lelaki itu banyak memiliki pesaing. Karena Ammar pintar dan tidak bisa terkalahkan dari segi pelajaran apapun.
Memang bukan hanya kali ini Ammar di panggil oleh Guru. Dan Maura yang selalu pasang badan untuk membela sang adik, masalah yang terjadi pun dapat ditutup rapat dari Alika dan Bilmar. Namun kali ini Guru merasa sikap Ammar keterlaluan. Maka ia memutuskan untuk memanggil orang tua mereka.
Alika masih melongo mendengar penuturan dari Maura. Namun berbeda dengan Bilmar, lelaki itu malah tertawa terbahak-bahak. Ia sampai tak tahan untuk tidak memegang perutnya. Kocak sekali katanya.
"Kok ketawa sih, Pah!" Alika berdecak kesal. Bisa-bisanya lelaki itu, terpingkal-pingkal disaat genting seperti ini. Bilmar menghentikan gelak tawanya ketika terus mendapat sorotan tajam dari Alika dan Maura.
"Lagian lucu banget anak kamu, Mah. Nontonin orang yang lagi buang hajat sambil bawa kue. Lubang hidungnya pasti sangat tercemar." Bilmar menggeleng-gelengkan kepala dengan sisa-sisa ketidakpercayaannya.
"Pokoknya cari, Ammar! Cari, Pah! Kalau sampai Papa enggak berhasil menemukan Ammar malam ini! PAPA TIDUR DI LUAR!!" kelakar Alika. Wanita itu melotot tajam sampai iris matanya ingin loncat keluar. Papa Bilmar mengangguk mantap sambil mengigit bibir bawahnya.
"Ampun, Mah."
***
Maaf guys, kemarin aku gak update. Karena naskah ku terhapus😢. Jadi sekarang ngetik ulang. Aku ada niatan untuk menamatkan cerita ini gengs. Tapi masih mundur maju, karena Bilmar dan Alika, masih stay in my heart. Doain aja ideku terus berduyun untuk membuat kisah-kisah mereka ya. Kalau bosen bilang yak, aku tamatin🤭😂.
Ayo, Bil buruan cari anakmu. Dari pada tidur diluar sama rumput😂😂😂. Like dan Komennya jangan lupa ya, maacih❤️
__ADS_1