MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Alika Syok


__ADS_3

Pengumuman kelulusan sudah dikumandangkan. Para siswa kelas dua belas bersorak gembira. Ingar bingar mereka semua terdengar nyaring di sekeliling lapangan. Jerit bahagia karena hasil tiga tahun mengemban ilmu pun sudah bisa direngkuh dengan sebuah ijazah.


"IMRAN!" Bilmar menulis nama tersebut, dengan semprotan pilok dibagian punggung Dion.


"Anjirr jangan ke rambut! Nanti emak gue marah, Bayu, Beni!" sentak Dion, ketika Bilmar dan Nino berkomplot untuk menyemprotkan pilok ke baju seragam Dion. Tapi malah terciprat ke ujung rambutnya.


"Semprot aja mulutnya, hidungnya juga sekalian." seru Bilmar, membuat Nino mengikat kedua tangan Dion dari belakang.


"Jangan, Bila! Nanti gue buta, babii." kelakar Dion. Dan mereka bertiga meledak-ledak dalam gelak tawa.


"Burung satria lo aja sini gue cat!" ucap Nino, lalu Bilmar membuka resleting celana Dion.


"Nyet---Monyet! Jangan, nanti gue bisa impoten!" seru Dion memberontak. Ia memang selalu kalah jika sudah dalam genggaman tangan Bilmar dan Nino. Tubuhnya sangat kurus dan tidak terlalu tinggi.


"Duh gemes gue, pengen liat seberapa sih gedenya---" gelak tawa Bilmar dan Nino kembali mengudara.


Lalu


"Bil, Bil, tuh lihat cewek lo." Nino tak sengaja menoleh ke arah Alika yang sedang berdua di bawah pohon bersama Indra. Terlihat Indra sedang tanda tangan dibelakang seragam Alika. Mereka tertawa-tawa sangat akrab.


DEG.


Bilmar dengan cepat menoleh ke arah mereka, menaikan satu alis dan memicingkan matanya. Rahangnya terlihat mengeras, dengusan napasnya pun terasa kasar.


"ANJINGG!" Bilmar melemparkan botol pilok itu ke bawah. Kedua tangannya mengepal kuat disertai keretukan gigi. Bola matanya menyalak tajam. Ia melangkah cepat, seperti kijang yang tengah berlari di hutan.


Dan


Blass.


Alika tersentak, karena tangannya begitu saja ditarik menjauh dari Indra. Wanita itu limbung sampai ke tanah. Indra pun sama, lelaki itu terperanjat kaget. Irama jantungnya bergoyang hebat.


"BANGSATT!" baru saja Bilmar ingin mengayuhkan kepalan tangannya untuk meninju tulang pipi Indra. Dirinya lebih dulu ditarik oleh Dion dan Nino.


"Jangan, Bila! Nanti anak orang mati!" bisik Dion dengan nada suara takut.


"Iya, Bil. Jangan buat keributan! Lo itu juara sekolah, malu!" imbuh Nino.


Bilmar tetap saja meronta, sikap beringasnya muncul. Kedua kakinya seraya menendang-nendang di udara.


"SINI LO SETAN!" teriak Bilmar. Hanya beberapa siswa yang melihat, namun mereka tidak menggubris. Karena sudah hapal dengan sikap dan watak Bilmar ketika Alika didekati pria lain.


"Udah sana lo pergi!" usir Nino kepada Indra. Tanpa kata-kata, Indra pun angkat kaki dari hadapan trio mesumm.


Lalu dimanakah Alika? Bilmar melepas cekalan tangan Nino dan Dion dari lengannya. Ia menoleh dan menghampiri Alika yang masih termenung. Dan setelah sadar ketika Bilmar mulai menghampirinya. Alika pun memundurkan langkah.


Ia menjauh kemudian berlari. Menerobos bahu para siswa yang sedang asik saling tanda tangan, saling mewarnai seragam putih abu-abu yang tidak akan dipakai lagi.


Alika terus berlari, mengubah langkahnya untuk naik ke lorong kelas. Bilmar mengejarnya sambil menyerukan namanya.


"Berhenti, Al!"


"Aku takut sama kamu, Bil!" gumam Alika panik.


Ia baru tahu keberingasan Bilmar seperti itu kepada Indra dan juga kepadanya. Seperti orang kesetanan. Belum lagi lengannya terasa sakit dan lututnya sedikit terluka karena tergesek aspal. Tarikan paksa yang dilakukan oleh Bilmar membuat tubuh Alika meradang nyeri.


Alika terus berlari, sampai pada akhirnya ia menemukan anak tangga dan menaikinya.

__ADS_1


"ALIKA! STOP! BERHENTI!"


Bilmar semakin mengencangkan suaranya, dan Alika tetap saja menaiki anak tangga sampai ke lantai tiga. Dimana ia melongo ketika langkah kakinya sudah sampai di atas aspal bercor.


Ia baru sadar, kalau ia sedang berdiri di sudut atap. Melongo ke bawah dan menemukan para siswa-siswa yang lain masih bersorak gembira karena kelulusan mereka. Wajahnya seketika takut, tinggi sekali fikir nya. Hembusan angin terus meluluh lantahkan helaian rambutnya.


"Al?"


Alika menoleh, ia kembali histeris ketika melihat Bilmar sudah muncul di ambang pintu dekat tangga. Bilmar melototkan matanya, bukan karena kesal dengan Alika. Namun ia takut Alika akan loncat ke bawah.


"Jangan marahin aku, Bil. Aku gak salah." Alika merengek dengan bibir bergetar.


"Iya aku gak marah kok sama kamu, ayo sini." Bilmar melangkah pelan untuk menghampiri Alika. Keringat yang terasa dingin sudah bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya.


"Enggak, kamu pasti mau pukulin aku." Alika menggelengkan kepalanya. Tanpa sadar kakinya terus saja mundur dan mundur ke belakang.


"Siapa yang mau mukulin kamu! Ayo sini, jangan mundur terus, nanti kamu jatuh, Al!" Bilmar sedikit berteriak. Bisa mati dirinya, jika Alika loncat ke bawah.


"Beneran, Bil?" tanya Alika dengan wajah sudah pucat. Alika adalah gadis yang cepat syok, melihat Bilmar seperti ingin menerjang Indra. Ia begitu terpukul.


Karena dirasa Alika susah dikendalikan, Bilmar dengan secepat kilat, meraih tubuh Alika. Menarik tangan kekasihnya dengan gerakan cepat. Alika pun tersungkur menimpa dadanya. Mereka pun terjatuh dengan posisi menindih.


Dengusan napas mereka menyatu padu. Bola mata saling bersitatap. Irama jantung mereka saling berdegup kencang. Alika merebahkan kepalanya di dada bidang Bilmar. Terasa dadanya naik turun karena napas yang terengah-engah. Bilmar mengunci tubuh Alika dan mengecup pusaran rambutnya.


"Maafin aku ya. Aku tadi udah kelepasan, aku gak suka aja lihat kamu sama dia!"


"Tapi dia kan teman aku, Bil. Teman kamu juga." jawab Alika terbata-bata.


"Dia suka sama kamu, Al! Bukan hanya sekedar teman! Udah ah pokoknya aku gak suka ada yang deketin kamu kayak tadi!"


*****


Untuk merayakan kelulusan, Bilmar membawa Dion, Nino, Alika, Evi dan Hana untuk makan ditempat favorit Alika. Dimana lagi kalau bukan di langganan bakso kesukaan. Memang hanya itu yang Alika mau.


Hana? Ya, dia adalah gadis kelas sebelas yang sudah diincar oleh Nino sejak lama. Adik kelas mereka, yang berwajah putih dan sedikit sipit.


"Lo dapet enci-enci jual henpon dimana?" bisik Dion kepada Nino. Nino mengerutkan keningnya.


"Siapa?"


Dino membawa arah mata Nino untuk menoleh menatap Hana yang sedang asik bermain ponsel dihadapan mereka.


"Dih, babii! Itu Hana, pacar gue! Et belom deng, masih pedekate." jawab Nino jujur.


Dion tertawa sarkas.


Nino mencebik dan meledek. "Mendingan Hana lah, dia putih. Nah si Evi, cokelat."


Evi yang juga sedang sibuk dengan gawainya langsung mendongak ke arah mereka berdua. Sepertinya suara-suara gaib, begitu menggema di telinganya.


"Lo jangan ngajak ribut, Nin. Gue sama dia baru pacaran dua hari." gumam Dion kepada Nino lalu memberikan senyum sumringah kepada Evi.


"Mau pesen apa sayang?" tanyanya.


"Apa aja, Yon. Yang bisa kamu bayar." jawab Evi yang otaknya sama eror nya dengan Dion.


Bilmar hanya bisa tertawa, nyawanya terlihat masih belum kumpul sempurna. Dirinya masih saja syok. Ia terus menggenggam tangan Alika yang tak kunjung ia lepas.

__ADS_1


Ia menoleh menatap cintanya. "Kamu mau pesan apa sayang?" saking geroginya Bilmar bertanya. Padahal biasanya ia akan langsung memesankan bakso tahu kesukaan Alika.


"Terserah kamu aja, Bil." jawab Alika pelan.


Bilmar mencium kening Alika. "Jangan takut sama aku ya, aku nih pacar kamu, Al." bisik nya pelan.


"Enggak akan kaya tadi lagi kan?" cicit Alika, seperti anak kecil yang habis diomeli Ibunya.


Bilmar tersenyum dan menyatukan kening mereka, memberi tatapan teduh kembali. "Janji sayang."


Samar-samar sudut garis bibir Alika terangkat naik. Ia tersenyum lebar.


"Udah gak marah kan?" tanya Bilmar. Harusnya dirinya yang marah, tapi berhubung ia melihat Alika dalam keadaan seperti ini, lelaki itu tidak sampai hati.


"Enggak, Bil." jawab Alika tersenyum.


Lalu Bilmar mendekatkan pipi kirinya ke wajah Alika. "Kalau emang udah enggak marah, ayo dong cium dulu." titahnya.


"Malu sayang." jawab Alika.


"Ayo, Al. Aku hitung nih, satu ... dua."


Lalu


Cup.


Alika mencium Bilmar, bersamaan kedua mata Hana yang mendongak dan mendapati mereka tengah bermesraan. Buru-buru ia menurunkan tatapannya. Dan untuk yang lain masih sibuk memainkan gawai.


"Permisi, mau pesan apa?" tanya si Abang bakso menghampiri mereka di meja.


"Bakmi ayam ya Bang, jangan lupa pakai mie." mereka tertawa dengan guyonan Dion.


Si abang ikut terkekeh sambil menulis di kertas. Mereka pun mulai bersusulan untuk memesan makanan yang ingin mereka makan.


"Ayo sayang kamu mau makan apa lagi, mumpung ada Bilmar." ucap Dion yang suaranya sengaja di besarkan-besarkan.


"Iya bebas lo pada mau pesan apa aja, mau bungkus buat orang tua dirumah juga boleh. Bebas, gue yang bayar." jawab Bilmar dengan bangga. Dan mereka bersorak senang.


"Iya, Dek. Kamu mau pesen apa lagi?" tanya Nino kepada Hana. Hana menggeleng malu. "Bakso urat aja Kak." jawabnya lembut.


"Tuh bang bakso urat buat calon istri saya." ucap Nino mengingatkan si abang kembali. Padahal tadi Hana sudah menyebutkan keinginannya diawal.


"Minumnya mau apa ya?" Si abang kembali bertanya kepada sekumpulan anak gesrek ini.


"Air aja." ucap Dion.


"Air putih? Atau teh?" tanya si Abang bakso lagi.


"Air Dukun----"


Dan mereka semua kembali tergelak dalam tawa.


*****


Bonus ya guyss, ketawa-ketawa aja deh dulu walau ada adegan Bilmar lagi kayak harimau. Mungkin besok aku nggak UP ya guys. Karena long weekend, aku mau libur dulu. Nanti aku langsung bawa episode menuju perpisahan Bilmar dan Alika.


See you❣️, boleh goda aku dengan komen yang banyak😘

__ADS_1


__ADS_2