
Siang ini entah mengapa semilir angin begitu teduh. Walau waktu sudah menunjukan pukul 13:00 dan Alika sudah terlambat kembali masuk ke sekolah. Selama diperjalanan Bilmar mendadak diam, membuat Alika jadi bertanya-tanya. Apakah dirinya melakukan kesalahan, sehingga lelaki itu berubah drastis.
Bilmar diam karena sedang mengatur suasana hatinya yang masih saja memanas. Tentu perkataan sang Mama begitu mengganggu fikirannya. Lelaki itu cemas, dirinya takut Alika akan menjauhinya lagi, tersinggung karena ucapan Mama Mira.
Alika semakin tidak enak hati ketika Bilmar melajukan motornya dengan kecepatan keong, sangat lambat dan pelan. Sesekali ia menatap spion motor untuk menatap wajah Bilmar yang terpampang jelas tersapu angin jalanan. Lelaki itu sampai lupa memakai helm ketika hendak berangkat.
"Bilmar ..." seru Alika. Ia menghentak halus bahu lelaki itu.
Bilmar terkesiap, baru lah Alika tahu kalau Bilmar sejak tadi melamun.
"Kamu kenapa, Bil? Kok melamun?" Alika mendekatkan kepalanya di bahu kanan Bilmar.
"Eh iya cantik." jawab Bilmar tersenyum.
Bilmar menurunkan tangan kirinya dari stir kemudi untuk meraih tangan Alika yang masih memegang ujung jaketnya. Ia tarik tangan itu lalu digenggam dan diletakan didepan perutnya.
"Kamu kenapa?" Alika mengulangi pertanyaannya.
"Jangan di masukin ke hati ya, Al. Mamaku hanya bercanda." ucap Bilmar dengan wajah kaku.
Alika mengusap bahu Bilmar kembali. "Udah nggak usah di fikirin." sulit untuk berkata seperti itu, karena kenyataanya sudut hatinya terasa begitu perih.
Seharusnya Bilmar bisa tenang, karena Alika sudah memaklumi ucapan sang Mama. Tidak ada lagi yang harus ia debatkan dengan hatinya, tapi entah mengapa ia berfikir lain. Ia tahu Alika hanya berbohong, menampik perasaanya yang sedang meringis.
"Kamu marah ya?"
Alika tertawa singkat. "Enggak say---" seketika bibir ranum yang belum pernah di jamah oleh Bilmar, terkatup sempurna.
"Kenapa nggak jadi? Udah gak sayang?" tanya Bilmar asal tebak. Alika menggelengkan kepalanya, dan memilih untuk diam dan kembali menikmati jalanan.
"Kalau kamu nggak jawab, aku pastiin kita sampai sekolah bakalan besok subuh."
Alika mendelik sebal. "Jangan ngaco ah!" Ia mencubit bahu Bilmar.
"Mending kamu marah, kamu kesal, kamu keluarin unek-unek kamu tentang ucapan Mama ku tadi. Dibanding harus kamu tahan, nanti bisa jadi tumor di leher." Bilmar berdecis geli.
Cubitan kedua kembali ia dapatkan. "Jangan aneh-aneh kalau ngomong, kalau aku mati, kamu rela?"
"Ih ya nggak lah. Amit-amit." jawab Bilmar dengan bulu kuduk yang seketika meremang.
__ADS_1
"Maafin Mamaku ya, Al."
"Mama kamu gak salah, Bil. Beliau bertanya apa adanya. Jadi kenapa aku harus marah?"
Bilmar mengangguk dan kembali tersenyum.
"Ayo cepetin motornya, aku udah telat." titah Alika.
"Aku masih kangen, Al. Kita keliling-keliling dulu ya." pinta Bilmar.
"Tapi kamu sakit, Bil! Badan kamu masih hangat."
"Ya dinginin lah sama kamu." Bilmar tertawa dan Alika merona karena ucapannya.
Bilmar melirik ke spion untuk menatap wajah Alika dibelakangya. "Tuh kan senang, merah gitu ih wajahnya."
"Ih---apa sih!" Alika memalingkan wajahnya, dan berpindah untuk bersembunyi di bahu kiri lelaki itu.
"Masih sayang kan? Pacaran lagi ya?" bujuk Bilmar. "Terus nikah sama aku, punya anak. Punya perusahaan, aku pasti akan jadi Presdir buat kamu, Al."
"Mimpi kamu ketinggian---" Alika mendengus.
"Tapi aku mau nya hidup sederhana aja, Bil. Jangan mewah kayak gitu, upss!" Alika mengatupkan bibirnya. Ia keceplosan.
"Nah kan, bener kan mau nikah sama aku? Makanya ayo dong sekarang pacaran lagi, Al. Nggak usah nunggu sebulan. Kelamaan! Yah--yah??" Bilmar sesekali menoleh ke belakang untuk menatap Alika, si Tupay terus saja merayu.
Alika hening sesaat, gadis itu terlihat bimbang. Apalagi Bilmar mengangkat punggung tangan Alika untuk di dekatkan didepan katupan bibirnya. Lelaki itu menciumnya beberapa kali disepanjang perjalanan mereka di atas motor.
"Gimana sayang?" tanya Bilmar yang masih mengemudikan motor dengan satu tangannya. "Jadian lagi ya? Jadi pacar aku lagi!" Bilmar tetap memaksa.
Alika semakin terhimpit. Ia tidak bisa konsentrasi, kemana isi kepalanya yang beku, kenapa bisa begitu saja mencair? Ia begitu saja tersihir dengan ucapan Bilmar. Ia merenung lama, sampai renungan itu terbuyar kan karena hardikan Bilmar kepada sesama pengguna sepeda motor.
"Monyet lo, bawa motor yang bener!" seru pengguna motor yang merasa kesal karena Bilmar begitu lelet menjalankan motornya.
"Hati-hati tuh ban motor lo muter!" Bilmar tertawa. Anehnya, lelaki itu tidak marah ketika di hardik oleh orang lain, mungkin karena hatinya lagi senang.
Si pengguna motor itu akhirnya menghentikan lajuan motor dan menepikannya. Dengan bodohnya ia percaya dan menatap ke arah ban motornya.
"Bah, dongoo lo! Ban kan emang muter, hahaha." decak Bilmar dengan gelak tawa nyaring.
__ADS_1
"Bilmar ..." seru Alika. "Kamu jangan ngerjain orang tua."
Bilmar semakin tertawa. "Orang tua dari mana, coba liat celananya dong, masih SMP dia! Mukanya aja tua, kayak si Nina." lelaki itu kembali tertawa. Alika pun tak tahan untuk tidak ikut tertawa.
"Jadi gimana nih, Yang? Pacaran lagi sama aku ya? Sebulan mah kelamaan atuh. Keburu berkarat hati aku." cicit Bilmar sendu.
Alika mendengus malas, memutar bola matanya kesana kemari.
"Iya udah aku terima kamu lagi."
Dan sudah bisa dibayangkan bagaimana teriakan, rancauan yang keluar dari bibir lelaki ini disepanjang jalan. Saking senangnya ia sampai berdiri di motor menantang angin. Berseru rasa bahagia karena kembali berpacaran.
"Udah duduk lagi ih! Nanti kita kena tilang, Bil!" Alika menarik-narik tepi jaket Bilmar. Ia pun duduk kembali dengan wajah sumringah.
"Pokoknya aku nggak akan nyakitin kamu lagi. Aku akan selalu jagain kamu."Janji Bilmar kepadanya.
Alika mengangguk senang. Hatinya kembali segar karena sudah mau memaafkan Bilmar dengan legowo. Jiwanya kembali tentram, suasana hidupnya kembali terarah.
"Kita rayain ya, kan kamu juga belum makan. Bolos kelas gak apa-apa ya, sekali-kali?" tanya Bilmar.
Alika tertawa dan mengangguk. "Kamu nih ngajarin aku gak bener, Bil!"
"Hari ini aja, besok mah ... lagi."
"Ih, awas ya!!" Alika kembali mencubit lengan Bilmar. Lalu memeluknya dengan erat, menenggelamkan kepalanya di bahu lelaki itu. Memejam kedua mata, merasakan hangat dan wanginya tubuh Bilmar.
"Memang kamu yang bisa membuat hatiku kembali tegap, sayang." desah Alika bahagia. Ia berusaha menepis dulu bayangan tentang Mama Mira. Ia percaya Bilmar akan memperjuangkan kisah cinta mereka.
Bilmar kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Membawa sang kekasih untuk melepas rindu bersamanya. Membelah jalan, merasakan suasana alam lebih dekat. Tanpa gangguan dan hanya berdua.
"Hatiku mekar kembali." batin Bilmar.
****
Like dan Komen ya guyss
Sang Presdir❣️
__ADS_1