
"Perasaan kita deh, yang ngerjain PR nya si Binar, ngapa jadi tuh anak yang dipijitin?" bisik Dion kepada Nino.
Nino pun menoleh menatap Bilmar yang tengah berbaring diranjang dengan tatapan kosong menatap langit-langit kamar dan sang Adik tengah memijat-mijat kakinya.
Setelah makan malam bersama, dan mendapat izin dari Mama Mira. Akhirnya Dion dan Nino diperbolehkan dengan senang hati untuk bermalam di sini.
Mama Mira terus menatap Bilmar selama di meja makan, membuat terkaan dirinya semakin benar, kalau sang anak sedang patah hati karena seorang wanita.
Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan wanita manakah yang membuat anaknya sedih seperti itu, tentu akan ia lakukan jika sikap Bilmar tidak kunjung berubah dalam sebulan ini.
"Bin, sini. Pijitin Kakak juga dong. Pegel nih." ucap Nino menggoda Binar. Membuat Binar menoleh terkekeh geli, namun tidak dengan Bilmar lelaki itu hanya diam. Ia terus menatap atap kamar, mengulang-ulang kata-kata yang diucapkan Alika beberapa jam yang lalu.
"Bener-bener ya si Alika, lama-lama mirip Deddy Corbuzier bisa hipnotis orang. Tuh liat temen lo, kayak ikan kelenger." decak Dion menatap Bilmar.
"Bil, jangan melamun! Nanti burung lo nggak bisa berdiri."
Dan gelak tawa dua sahabat lakhnat itu kembali mengaung-ngaung di udara. Apa hubungannya dari kata melamun dengan burung yang berdiri? Benar-benar dua makhluk absurd.
"Apaan tuh yang berdiri?" tanya Binar ingin tahu.
"Binar masih kecil, nggak bakalan faham." sahut Dion.
"Nanti ya kalau udah gedean dikit, Bang Nino ajarin." Nino mengembangkan senyumnya. Membuat Binar tersipu malu dan tak kuasa untuk menggelengkan kepalanya.
"Njingg, Abang? Jadi pengen boker gue dengernya, ck!" Dion mengumpat.
Dan Bilmar tetap saja hening. Ia tidak memperdulikan celotehan dua sahabatnya itu. Bayangan Alika ketika sedang tersenyum, merengek dan manja, terus saja bertebaran dikepalanya. Sekilas Bilmar tersenyum lalu kembali melipatnya dan mengganti dengan wajah sedih.
"Kakak kenapa sih? Kok bengong terus dari tadi?" tanya Binar. Gadis remaja itu sepertinya sudah lelah karena memijat terus kedua kaki Bilmar tanpa berhenti.
Bilmar menoleh dan tersenyum menatap Binara. "Kamu kalau lagi marah, suka nya di rayu pakai apa?"
Dua manik mata Binar membola sempurna. "Binar? Kalau lagi marah? Hemm ..." ia mengulangi pertanyaan itu, lalu berfikir.
"Minta dibeliin boneka." Binar menjawab cepat.
"Boneka?" Bilmar mengulangi.
"Apa dengan boneka, Alika bisa luluh lagi dan mau pacaran sama gue?" batin Bilmar. "Pokoknya lo harus tetap jadi pacar gue, Al! Gak ada yang boleh deketin, lo! Sekalipun ada gak segan-segan gue tebas kepalanya!" janji Bilmar dalam jiwanya.
Tanpa ia ketahui, rasa cinta terus saja hadir mengusik kalbunya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sampai sejauh ini, niat hanya ingin mengambil keuntungan malah ia yang merugi, dan ia yang lebih mencintai Alika dibanding Alika kepadanya.
Sungguh Semesta bisa membolak-balikkan hari manusia dalam sekejap. Mungkin ini adalah suatu pelajaran untuk Bilmar, agar tidak mempermainkan perasaan orang yang memang tulus dan murni kepada kita.
*****
"Lo berdua jangan pada tidur dulu sebelum gue tidur ya!" titah Bilmar. Lelaki itu sedang tidur memunggungi dua sahabatnya. Ia memilih berbaring di bagian tepi kanan ranjang, ditengah ada Nino dan Dion ada di tepi kiri.
Itu adalah perintah yang Bilmar ucapkan dari jam sembilan malam sampai saat ini, jam tiga dini hari. Dengan mata yang sudah satu wat, Nino dan Dion masih bisa menjawab.
"Iya." jawab mereka dengan suara yang sudah berat.
__ADS_1
Mereka masih berbaring terlentang dengan selimut menutup dada. Keduanya terlihat menggigil. Sekilas ada keretukan gigi yang terdengar dari Dion dan Nino.
"Bedebahh si Bila, tau begini gue kagak mau nginep!" decak Nino.
Matanya sudah memerah, ingin tidur namun Bilmar selalu menahan. Karena lelaki itu masih belum bis memejam kedua mata, ia terus menatap wajah Alika di ponselnya.
"Melek, Njingg! Enak aja lo tidur!" bisik Nino tepat ditelinga Dion. Ia melihat kelopak mata Dion akan menutup sempurna. Lelaki itu pun terkesiap dan mencoba membuka matanya lagi.
"Ngantuk gue, Nina! Udah gak boleh tidur! Gak boleh peluk bantal! Lampu dimatiin! Mana dingin, ac kagak boleh dikecilin! Bener-bener lakhnat si Alika. Udah bikin si Bila jadi gila!" Dion ikut memaki.
Bilmar menolehkan sedikit wajahnya. "Lo tadi nyebut Alika apaan?"
"Pura-pura mati aja, Yon." bisik Nino kepada Dion.
Mereka pun langsung membisu seribu bahasa. Tetap menatap langit-langit kamar dengan kelopak mata yang sudah berat. Walau bersahabat, tapi Bilmar tetap mereka takuti, apalagi lelaki itu tengah patah hati.
Karena tidak ada suara dari temannya, Bilmar pun merebahkan kepalanya lagi ke bantal, kembali mengusap-usap wajah Alika di galeri handphone.
"Ayo makan dulu, Bil. Nih aku suapin ya."
"Nanti aja ah, ribet!"
Percakapan dirinya dengan mantan kekasih masih saja menggema. Begitu menyesal, mengapa membiarkan Alika yang terus berjuang untuk mendapatkan cintanya seorang diri, dan ia hanya membiarkannya saja sampai Alika mundur dan menghilang.
Nino dan Dion kembali menoleh, menatap punggung Bilmar yang terlihat sedikit membuncang dengan iringan dari pangkal bahunya. Ada isak haru yang tertahan.
"Si Bila nangis, Nin!" ucap Dion.
Dion yang mendengar ucapan Nino sontak terkekeh pelan.
"Udah, Bil. Jangan nangis, besok gue sama Dion bakal ngomong ke Alika." ucap Nino dengan rasa percaya diri. Ia mengusap-usap punggung Bilmar.
"Iya, Bil. Kita janji, seenggaknya kalo gak dapet Alika, masih ada si Evi tuh yang bisa dijadiin kandidat." Dion kembali terkekeh, lalu di susul dengan Nino setelahnya.
"Kagak ah! Si Evi cocok nya sama lo! Warna kulit kalian itu sama!" sungut Bilmar lalu melempar bantal kearah Dion.
Hap!
Dengan juluran tangan seperti kiper Wakabayasi, Dion berhasil menangkap bantal itu dengan sempurna.
"Emang warnanya apa, Bil?" Nino tertawa.
"Kuning!" jawab Bilmar singkat.
"Item, anjirr! Kuning mah penyakit dong!" sungut Dion.
"Akhirnya gue tidur bisa pakai bantal!" ucapnya bahagia. Baru saja ingin meletakan bantal dibawah kepalanya, Bilmar kembali berseru.
"Tolong bikinin gue mie goreng gih, pake telor ya sama sawi. Bahan-bahannya ada dikulkas." titah Bilmar kepada mereka.
Nino langsung memejam kedua matanya, beringsut seperti orang mati tidak sadarkan diri. Ia mengambil langkah cepat agar tidak disuruh kebawah. Bilmar pun menoleh dan mendapatkan Dion yang masih melongo menatap Nino.
__ADS_1
"Cepetan, Yon!" titah Bilmar.
"Lo mau sahur, Bil? Ini baru jam tiga!"
"Gue laper." jawab Bilmar singkat. Ia kembali merebahkan kepalanya di bantal. Nino membuka matanya sedikit, menjulurkan lidah dan memberikan acungan jempol. Seraya pengantar semangat.
"Bangun ... Beni!" sungut Dion tepat di daun telinga Nino.
"Gelap, Njirr! Takut gue." Dion menarik-narik baju Nino untuk beringsut bangun mengikutinya turun ke dapur.
"Sendirian sana! Gue ngantuk!" decak Nino.
"Nanti ada setan, Nina!"
"Setannya bakal lari duluan pas lihat lo!" Nino kembali menutup matanya.
"Gue doain pas pipis, bengkok!" ucap Dion. Nino pun reflek membuka matanya cepat lalu bangkit dan menyentil bibit Dion.
"Ngomong yang bener! Gue keramasin juga nih mulut lo!"
"Sakit, Nina!" Dion menepis tangan Nino. Ia melotot tajam ketika bibirnya terasa perih.
"CEPETAN TURUN!" suara bariton Bilmar terdengar kembali, membuat mereka berdua terkesiap.
"Tuh kan, ayo cepet turun! Gue takut sendirian, Pongki" ucap Dion.
"Nama Kakek gue tuh!" Nino kembali menyentil bibir Dion.
"Lah beneran? Padahal gue cuman asal ngomong, hahaha."
Dan mereka kembali tertawa, dan tiba-tiba mendadak diam karena Bilmar mulai mengumpat.
"CEPETAN!! Kalo tuh mie gak siap dalam waktu 15 menit, besok gue pastiin kagak bakalan ada air di toilet. Biar ****** lo cebok pakai angin!"
"Ehh ii---ya, iya. Cepetan Nin!"
"Lo aja ah, gue udah ngantuk. Lagi kan yang disuruh elo!" Nino tetap bersikeras tidak mau turun ke dapur.
"Cepetan! Lo mau besok boker pagi-pagi gak ada air?" Dion seraya mengingatkan ucapan Bilmar barusan.
" Yaelah batang udah berbulu masih aja takut!" sungut Nino.
Ya mau bagaimana lagi, demi Bilmar yang sedang patah hati, Nino dan Dion mau tidak mau hanya bisa menuruti keinginan nya saja.
Padahal di seberang sana, Alika Sarasafi pun masih membuka kedua matanya. Ia tidak bisa tidur. Pandangannya sejurus mengingat-ingat bayangan Bilmar. Mungkin telepati batin di antara mereka mulai tercipta dengan kuat.
"Bilmar ..." rintih Alika. Wanita itu pun menangis kembali.
*****
Like dan Komennya jangan lupa yaa❣️
__ADS_1