
Setelah turun dari dalam mobil, Alika yang sudah menutup kepalanya dengan pasmina serta kaca mata hitam yang sudah lekat menutupi kelopak matanya, akhirnya ia melangkah menuju blok pemakaman Aziz. Membawa sekantung bunga khas penguburan dan air mawar yang sempat ia beli sebelum sampai di pemakaman.
Terlihat penjaga makam sudah berdiri di pelataran makam Aziz.
"Assalammualaikum, Pak." salam Alika kepada lelaki itu.
"Waalaikumsallam, Bu." jawabnya.
"Alhamdulillah, sudah rapih lagi." ucap Alika, terlihat raut wajahnya begitu senang. Alika mengeluarkan amplop berisi uang yang sudah ia siapkan dari dalam tasnya.
"Terimakasih banyak ya, Pak." ucap Alika sambil menyodorkan amplop tersebut.
"Sama-sama, Bu. Terimakasih banyak."
"Kalau ada apa-apa dengan makam ini, tolong kabari saya seperti kemarin ya, Pak."
"Siap, Bu." Penjaga makam pun berlalu dari hadapan Alika.
Alika kembali menatap makam Aziz. "Assalammualaika, Mas. Aku datang lagi." salam Alika, lalu ia berjongkok di samping tanah yang kembali basah. Di usap kepala nisan beberapa kali dengan telapak tangannya.
"Sudah bagus lagi ya, Mas. Rumahnya." ucap Alika tersenyum.
Rindu yang menggulung-gulung begitu saja terasa nampak. Setiap bulan ia memang akan kesini, untuk menebar bunga, mendoakan dan terkadang Alika akan banyak bercerita tentang rumah tangganya, anak-anak serta karirnya sekarang. Ia tahu Aziz pasti akan mendengar.
Kemudian ia menaburkan bunga sampai ke setiap sudut kuburan, tanah liat yang masih basah itu, tidak terlihat lagi karena sudah tertutup bunga. Kucuran air mawar pun menjadi tambahan kesegaran untuk makam tersebut.
Setelah sudah selesai. Alika membuka tasnya dan meraih sebuah buku Yasin. Ia mulai membacakannya di sana.
"Innamā tunżiru manittaba'aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaīb, fa basysyir-hu bimagfiratiw wa ajring karīm."
Alika terus membacakan ayat per ayat surah Yasin. Almarhum Aziz di sana pasti sangat senang, mungkin ia sedang tersenyum menatap Alika. Karena rumahnya sudah dibetulkan, begitu wangi karena bunga dan air mawar serta bacaan Yasin yang membuat rumah Aziz tenang, terang dan teduh.
Tiba-tiba di saat Alika sedang menunduk dan mengaji. Ia terdiam, merasa langit diatas kepalanya seperti menggelap. Begitu teduh, tubuhnya pun tidak tersorot sinar matahari lagi.
Namun ia kembali tersentak, karena sekilas dari ekor matanya ia seperti tengah merasakan kehadiran manusia. Dengan cepat ia mendongak ke atas.
"Papa rasa, Mama lupa membawa payung." ucap Bilmar menatap istrinya ke bawah. Ia sedang memegangi payung untuk melindungi Alika dari sinaran matahari dan jatuhnya kelopak bunga kamboja di tubuhnya.
DEG.
"Papa ..." seru Alika.
Wanita itu terkesiap, ia kaget setengah mati. Jantungnya begitu saja mencelos, seperti berserak keluar dari dalam tubuh. Seketika ia merasa organ didalam tubuhnya mendadak tidak berfungsi.
Alika gelagapan, berkali-kali ia menelan air ludah yang tiba-tiba mendadak banyak muncul dari balik kerongkongan. Dadanya seperti diremas. Angin begitu saja berhembus kencang, membuat hati Alika semakin berdentam tidak karuan.
"Ya Allah, aku pasti ribut dengannya." desah Alika.
__ADS_1
"P--pah." Alika memanggil terbata-bata.
Bilmar terlihat menghela napasnya panjang. Walau ia sedang memakai kaca mata hitam, tapi terlihat jelas dari raut wajahnya tidak ada rasa kekesalan seperti biasa ketika ia tengah cemburu. Bilmar pun berjongkok dan terus memayungi Alika.
"Ayo teruskan mengajinya." titah Bilmar.
"Pah ..." desah Alika tidak percaya. Mengapa sikap lelaki ini diluar bayangannya. Ia sudah takut Bilmar akan menghardiknya di sini. Bilmar malah tersenyum dan tertawa singkat karena istrinya terlihat begitu cemas.
"Jangan takut, Papa tidak akan marah untuk kali ini." ucap Bilmar. "Ayo mengaji lagi." Bilmar kembali metitahnya. Samar-samar Alika mengangguk walau dalam dadanya, rasa gemuruh itu masih ada. Sesuai dengan kemauan Bilmar, Alika kembali membacakan ayat dari surah tersebut sampai habis. Tentu dengan perasaan yang penuh tanda tanya.
Ada apa dan mengapa sikap Bilmar bisa seperti ini?
******
Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil Bilmar. Alika dan Bilmar masih berada di parkiran pemakaman. Sambil menunggu dua piring somay yang lebih dulu Bilmar pesan kepada abang-abang gerobakan yang sedang mangkal di sini.
Hening. Tidak ada yang memulai percakapan. Alika terus saja menunduk dan memainkan kain dress nya di bagian lutut. Bilmar duduk dengan posisi bersidekap, ia menatap lurus seluruh pemakaman dari kaca mobil.
"Maafkan Mama, Pah. Mama salah sudah membohongi Papa." akhirnya Alika yang membuka suara, tapi ia tak berani menoleh.
Ia merasa tak pantas untuk menatap suaminya dengan mengiba. Karena Alika tahu ia sudah salah besar, membohongi suaminya secara mentah-mentah.
Terdengar tarikan napas pelan yang di tekan oleh Bilmar kedalam tubuhnya. Ia berdehem beberapa kali. Jujur awalnya ia terluka ketika mengetahui istrinya diam-diam datang ke pemakaman, awalnya pun cemburu. Tapi setelah ia tahu keadaan dia dan Alika sama, maka ia urungkan untuk marah.
"Maaf, Pah. Mama selama ini sudah berbohong." dirasa suaminya tidak menjawab, Alika kembali berucap dengan nada suara yang terdengar sangat getir. Padahal Bilmar sedang konsentrasi dengan apa yang akan ia jelaskan sebentar lagi.
Tentu ia tidak akan tega jika melihat istrinya menangis.
"Kenapa Papa gak marah?" kening Alika mengerut.
"Awalnya Papa marah karena, Papa fikir Mama sedang membohongi Papa dengan masalah lain, tidak tahunya hanya karena masalah ini."
"Hanya ...?" Alika meyakinkan.
Benarkah ini suaminya? Mengapa bisa berubah begitu saja, mengganggap hal ini adalah hal sepele.
"Papa mengerti sekali perasaan Mama. Karena apa yang Mama lakukan kepada makam Aziz, pun sama ..." suara Bilmar terjeda, membuat Alika termenung sebentar dengan ucapan yang baru saja keluar dari bibir suaminya. Namun belum sempat berfikir lama, Bilmar kembali menjelaskan.
"Sama-sama Papa lakukan kepada makam Kannya selama ini ..."
DEG.
Bola mata Alika terbelalak, ia menoleh cepat menatap Bilmar. Hatinya berdesir begitu kuat, seketika bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya meremang. Ia kembali kaget, mengetahui kalau suaminya juga telah membohonginya selama ini.
"Ma-maksud-nya, selama ini Papa juga mengurus makam Kannya?" tanya Alika tergagap. Ia kembali tersentak.
Bilmar mengangguk jujur. "Kannya adalah Mamanya Maura. Ia meninggal dalam keadaan melahirkan putri kami. Hanya dengan mengurus makam dan mendoakannya saja, membuat Papa bisa bernapas lega dari sebuah penyesalan. Maka dari itu Papa selalu mengajak Maura setiap dua bulan sekali untuk menengok pemakaman Kannya."
__ADS_1
"Maaf kalau Papa tidak pernah bercerita. Karena Papa hanya ingin menjaga perasaan Mama. Seperti Mama yang melakukan semua ini untuk menjaga perasaan Papa. Sudah delapan tahun kamu tak lepas mendatangi area pemakaman ini, dan semua itu tak luput dari pandangan mata Papa."
"Jadi selama ini Papa membohongi Mama? Papa selalu mengurus pemakaman Kannya dan juga mendatanginya dengan Kakak? Dan Papa tau Mama setiap bulan selalu ke sini?" Alika mengulang semua penjelasan yang sudah Bilmar kemukakan.
Bilmar mengangguk lagi, dan Alika hanya bisa terdiam. Seraya meremas kain berlapis di dada. Entah mengapa rasanya begitu sakit. Ia tahu dirinya salah karena sudah berbohong, nyatanya Semesta adil. Alika kembali dibohongi.
"Kok bisa Papa enggak marah? Bahkan kemarin aja ketika Mas Aziz datang ke mimpi, Papa marah banget." tanya Alika.
"Itu beda lagi urusannya, Mah. Sejelek-jeleknya sifat Papa. Papa tidak akan tega, membuat makam Aziz lenyap tanpa pemerhatian."
"Papa sadar jika di dunia, yang ia punya hanyalah Mama, begitu pun Kannya. Walau ia memang mempunyai keluarga yang senantiasa pasti mengurus. Namun Papa hanya ingin membuat Maura merasa senang. Papa hanya ingin membuat Kannya senang disana, kalau Maura tidak pernah melupakannya. Walau Papa tau, Mama yang paling Kakak cintai sekarang hanyalah Mama."
Alika masih termenung, menatap pemakaman yang sedang berjejer di hadapannya. Sepertinya sedang mengingat-ingat beberapa kejadian yang ia rasa janggal dengan Maura dan juga Bilmar selama ini.
"Pah, ayo kita ke makam Kannya. Kita bawa Kakak, untuk mendoakan Mamanya." ucapan Alika yang pernah ia lontarkan dulu.
Dan setelah itu Bilmar hanya mengangguk tanpa menunjukan aksi. Begitu pun Maura hanya terdiam saja, karena ia sudah terultimatum dengan ucapan Bilmar. Kalau mereka harus menjaga perasaan Alika.
Alika semakin meremas kain bajunya. Ia sedikit menunduk dan memejamkan kedua matanya.
Sudah imbang, fikirnya. Tapi kenapa rasanya sakit sekali karena begitu saja dibohongi? Walaupun selama ini Alika juga sudah berbohong.
"Kenapa Papa tega membohongi Mama? Walau awalnya Mama membohongi Papa, tapi kan harusnya Papa bisa tegur Mama. Tidak membuat Mama terus berdosa karena menimbun kebohongan!"
"Papa sejak lama sudah tahu kalau Mama yang mengurus makam Mas Aziz, tapi kenapa Papa diamkan? Papa selalu bersikap cemburu dan marah setiap Papa bahas beliau, membuat Mama takut dan akhirnya mengambil jalan ini!"
"Dan kenapa juga, Papa dan Kakak harus bersembunyi-sembunyi untuk mengurus makam Kannya? Apakah Mama adalah sebuah penghalang untuk kalian? Apa Papa fikir Mama akan cemburu seperti Papa?"
Serentetan unek-unek Alika begitu saja diserukan kepada suaminya. Demi Tuhan, ia selalu datang ke makam dengan peperangan batin. Rasa takut dan menyesal karena sudah membohongi suami selalu bercokol di benaknya.
"Papa memang keterlaluan!" kelakar Alika. Wanita itu pun memilih untuk turun dari mobil dan melangkah cepat menuju mobilnya. Melihat istrinya turun begitu saja, membuat Bilmar dengan langkah blingsatan menyusul untuk merengkuh Alika.
Pasangan itu memang cerminan diri. Jika kita jujur, maka Insya Allah pasanganmu akan jujur juga. Dan begitu sebaliknya dengan berbagai macam kondisi dan masalah lainnya.
Seperti masalah Alika saat ini, ia memilih berbohong nyatanya ia juga di bohongi. Mau dalam alasan apapun, tetap saja berbohong pasti akan meninggalkan luka. Walau ia tahu, dirinya sudah salah berbohong tapi tetap saja kan dibohongi itu rasanya tetap sakit.
*****
Ayoo terkaannya pada meleset ya? Malah Mama yang ngambek guyss🤭🤭
Tapi gapapa ya, biar satu sama hehe. Kan Kanya dan Aziz memang tidak akan pernah hilang dari hidup mereka. Apalagi Kannya adalah wanita yang sudah berjasa mengandung dan melahirkan Maura untuk Bilmar.
Gapapa deh ngambek-ngambek dikit, Papa Bilmar kan jago ngerayu. Kasih like dan komen buat mereka yaa, maacih guys. Sehat selalu ya ... See you again❣️😘
Tapi kalau gak sibuk, dan komennya banyak. Insya Allah aku balik lagi, walau enggak janji ya hehe🤗.
Mama Alika❤️
__ADS_1