
"Banjir ... Banjir!!"
Lamunan panjang Alika seketika buyar. Ia tersentak karena seruan sang Papa yang mengagetkan dirinya.
"Lama-lama bisa banjir kalau air dari keran mengalir terus." ucap Papa lalu menghampiri Alika yang masih mematung didepan wastafel pencucian piring. Membasuh tangan Alika yang penuh sabun dengan air yang masih mengucur, lalu mematikan keran air dan menggandeng sang anak untuk meninggalkan dapur.
"Tapi pah, cuciannya---"
"Biar Mamamu yang selesaikan." jawab Papa.
"Mah, tolong cuci piring." seru Papa ketika melewati pintu kamar mereka.
"Alika nya kemana?" tanya Mama dari dalam kamar yang sedang membereskan beberapa baju yang habis ia setrika untuk dimasukan kedalam lemari.
"Papa mau pergi dulu sama Alika sebentar." jawab Papa. "Mau kemana, Pah?" tanya Alika polos.
"Makan ice cream yuk." ajak Papa, langkah mereka pun sudah sampai di pekarangan. Alika mengangguk dan menunggu Papa mengeluarkan motornya.
"Mau pergi kemana---?" tanya Mama Alisa ketika kakinya sampai diambang pintu, ia menyusul anak dan suaminya yang bilang ingin pergi sebentar. Mama Alisa kalah cepat, ia hanya bisa menatap punggung Alika yang sudah berada di atas motor dan keluar dari pintu pagar rumah.
"Jadi dua puluh ribu, Pak."
"Ini uangnya." jawab Papa.
"Terimakasih." ucap petugas kasir Indodesember. Papa dan Alika kembali memutar langkah untuk keluar dari minimarket.
"Ayo sini duduk dulu." titah Papa kepada Alika. mereka pun duduk di bangku kosong yang disediakan di minimarket Indodesember.
Papa membuka bungkus ice cream lalu menyodorkan nya kepada sang putri. Alika menerimanya dengan wajah senang, lalu menyesap rasa manis dari buliran cokelat dan kacang. Papa pun melalukan yang sama, ia membuka bungkus ice cream yang satu lagi untuk ia nikmati.
"Kakak sedang ada masalah?" sedang enak-enak menyeruput ice cream, Alika langsung menoleh menatap Papa yang sedang menatapnya. Tidak mungkin kan ia bilang kalau dirinya sedang patah hati karena putus cinta? Pasti habis hidupnya.
"Papa tau, kamu sedang ada masalah. Beberapa hari ini banyak diam, melamun dan jarang tertawa. Ada apa, Nak?" tanya Papa lembut.
Yang diucakan Papa memang betul, sejak dimana Alika memutuskan Bilmar, raut senang di wajahnya sepertinya sudah terhempas entah kemana. Yang ada hanya rasa sedih, kecewa dan rindu.
Bagaimanakah perasaan kita, ketika hati yang sedang bermekaran, mencintai seseorang lalu dipaksa untuk berhenti dan menjauh? Tentu sakitnya bukan main. Di permainkan secara sepihak oleh orang yang kita sayangi.
Alika menggeleng dengan senyuman. "Hanya lagi tegang aja karena mau ujian nasional, Pah."
"Benar? Tidak ada masalah lain yang menganggu?"
"Benar, Pah. Kakak baik-baik aja." jawab Alika, lalu menyesap ice creamnya kembali. Jauh dari hatinya ia masih memikirkan Bilmar. Apakah kata-katanya yang tadi menusuk relung hati lelaki itu.
"Ada pelajaran yang sulit? Apa mau ikut les tambahan?"
Alika menggelengkan kepalanya lagi. "Papa kayak nggak kenal Alika aja." jawabnya sambil tertawa singkat.
"Oh iya Papa lupa, kamu kan anak Papa yang sangat cerdas." ucap Papa kembali menyesap ice cremnya sampai habis. Karena Alika menjawab tanpa ragu-ragu, Papa pun langsung mempercayai alasan Alika tersebut.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bil. Aku terpaksa." lirihnya. Tentu saja tidak semudah itu melupakan, membuang dan melenyapkan bayangan lelaki yang menjadi kekasih dan cinta pertamanya.
"Kita memang tidak berjodoh, Bil. Aku dan kamu bagaikan langit dan bumi." walau mengucap kata jodoh dari sekarang adalah hal yang masih terlalu dini, entah mengapa Alika selalu ingin, yang menjadi suaminya kelak adalah cinta pertamanya. Maka ia sangat bahagia ketika sedang memadu kasih dengan Bilmar. Lelaki yang selalu ia anggap sempurna dalam segala hal. Namun malah menggoreskan luka dengan sengaja.
"Bilmar hanya mempermainkan ku!" Alika kembali geram.
*****
Setelah membelah jalanan malam dengan waktu satu jam. Akhirnya mereka bertiga sampai di pelataran rumah Bilmar. Dion lebih dulu turun lalu di susul Bilmar, dan Nino masih menetap diatas motor.
"Kita balik ya, lo jangan sedih lagi, Bil." ucap Dion.
"Iya, Bil. Kalau ada apa-apa, hubungi kita ya." timpal Nino.
"Iya, Yon, Nin. Makasih banyak udah mau antar gue balik." jawab Bilmar dengan senyuman tipis. Ia terlihat tidak bernafsu untuk banyak bercuap atau bercanda. Dirinya sedang gundah gulana. Rasanya ingin menenggelamkan diri dipusaran lautan Hindia.
"Lo pada hati-hati ya dijalan. Kabarin gue kalau udah sampai rumah." titah Bilmar kepada mereka berdua sambil melambaikan tangan dan memutar langkah untuk berlalu masuk kedalam rumah.
Dion dan Nino menatap langkah Bilmar yang terlihat sangat gontai.
"Kayak ayam mau mati ya." ucap Dion.
"Kasian temen gue, karena cewek jadi begitu." timpal Nino.
"Ini tuh karena perbuatannya sendiri! Berani-beraninya mainin si Alika." jawab Dion.
"Boleh juga sih, tapi gue takut, Nin. Alika tuh galak aslinya, demen gampar, demen nabok."
"Debus apa manusia, kok kelakukan nya begitu?" seketika bulu kuduk Nino merinding. "Ya wajar sih, anak taekwondo." imbuh Dion.
"Berarti si Bilmar udah ngerasain di tampol, dong?" bola mata Nino membeliak sempurna. Lalu mereka berdua terkekeh geli.
"Kayaknya udah, tadi lo gak lihat tuh mukanya sembab abis nangis? Kali aja abis digampar, hahahaha."
Memang sahabat biadabb, hanya mereka yang bisa mentertawakan penderitaan Bilmar dengan begitu bahagianya.
"Tapi, Nin. Perasaan gue kenapa nggak tenang ya?"
"Mau haid, lo?"
"Yeh si setan! Gue kan batang bukan lempengan, mana bisa menstruasi begoo!" Dion menoyor kepala Nino.
"Lo pulang aja deh sendiri, gue mau nginep di sini. Nemenin si Bila. Hati gue kagak enak."
Nino pun terdiam sebentar, sebenarnya perasaanya sejak tadi pun mirip seperti Dion.
"Ya udah gue ikut nginep juga deh. Eh tapi, gue nggak bawa baju sama belum ijin sama Mami dan Papi gue, Yon."
"Anjimm Papi-Mami, biasanya lo panggil mereka, juga pakai nama doang, ck!" jawab Dion.
__ADS_1
"Lusi-Beni, gitu?" dengan bodohnya Nino mengucapkan nama orang tuanya.
"Oh jadi nama Bapak lo Beni? Bukan Dr. Ihsan?" ucap Dion terkekeh.
"Beni itu nama kecilnya bokap gue! Awas lo kasih tau si Bayu!"
"Itu mah Bapaknya si Bila, begoo!"
Dan gelak tawa mereka pun nyaring terdengar kembali. Tanpa fikir panjang, demi sahabat yang sedang bersedih. Nino dan Dion terpaksa memilih menginap.
Hanya bermodalkan pesan singkat kepada orang tua mereka, meminta ijin untuk tidur malam ini dirumah Bilmar. Tanpa menunggu balasan dari orang tua yang mungkin akan menggerutui mereka. Nino dan Dion langsung mematikan ponsel mereka dengan cepat.
Napas kelegaan pun mencuar walau masih ada rasa ketar-ketir karena takut di marahi. Persahabatan memang segala-segalanya bagi Nino dan Dion, Bilmar sangat berarti bagi mereka.
****
"Kakak!" seru Binara dari meja makan. Gadis cantik yang masih duduk di bangku SMP kelas tiga itu beranjak bangkit untuk menerjang Kakak sepupu tercintanya.
Bilmar menghampiri gadis itu, memeluk dan melepas kecupan di pusaran rambut Binara.
"Kak bantuin aku ngerjain PR ya." rengek Binar kepada Bilmar.
"Yaelah, Bin. Jangan sekarang deh." gumam Bilmar. Tapi ia tak kuasa mengucap kata seperti itu. Akhirnya ia paksakan kepalanya untuk mengangguk dengan raut wajah yang datar. Ingin menolak, namun dirinya tidak tega melihat Binara yang sudah datang malam-malam.
"Kamu sama siapa kesini?"
"Tadi diantar Papa, aku akan menginap di sini dua hari karena mulai malam ini Papa pergi ke luar kota, Kak."
"Oh." jawab Bilmar.
"Kamu baru pulang, Nak?" tanya Mama yang baru saja muncul dari dapur sambil membawa mangkup sup untuk ia letakan di meja makan, lalu Bik Minah terlihat mengekor dari belakang membawa makanan lainnya yang sudah matang.
"Kenapa malam terus pulangnya?"
"Biasanya Mah, latihan basket." Bilmar menghampiri Mama Mira dan mencium tangannya.
"Kamu kenapa? Habis nangis?" Mama memperhatikan dengan seksama wajah sang putra. Binar pun memperhatikan kembali wajah sang Kakak dengan jelas.
"Iya, Kak Bilmar nangis. Kamu kenapa, Kak?"
Bilmar hanya menggeleng, ia harus bisa mengembalikan wajahnya untuk kembali pulih senang. Tidak mungkin ia mengatakan jujur, kalau dirinya sedang galau. Walaupun Mama Mira sudah menebak apa yang terjadi dengan sang anak.
Lalu sebelum Bilmar ingin membuka katupan bibirnya yang sedari tadi membisu, ia menoleh cepat ke arah pintu ketika mendengar suara tidak asing memberikan salam di sana.
"Dion? Nino? Belum pulang tuh bocah?"
****
Huru hara nih malem-malem dua kecebong nginep dirumah Papa Bilmar😂😂
__ADS_1