MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Raja Sedang Jatuh Cinta.


__ADS_3

Alika masih terduduk dibangku taman, dengan tas sekolah yang sudah ia sampirkan dilengan nya. Gadis berparas ayu dan cantik itu terus menatap Bilmar yang sedang berbicara serius dengan Dion dan Nino di pusaran lapangan basket.


Bel pulang sekolah memang sudah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu, dan para Guru dan siswa sudah banyak yang meninggalkan lingkungan sekolah.


Alika menatap punggung Bilmar dengan wajah sendu. Bukan saja karena perlakuan Mama Mira tadi siang, tapi karena desakan Mama Mira yang sampai saat ini masih mengusik fikirannya.


"Buatlah Bilmar menjadi lelaki yang sukses. Bisa menjadi penerus keluarga kami. Kalau nanti kalian menikah, siapa juga yang akan senang? Pastinya kan kamu, Al. Tante hanya minta satu sama kamu, dukung Bilmar untuk mengemban ilmu di London."


"Kamu mau kan mempunyai calon suami yang berbakti kepada orang tua? Papanya Bilmar sangat berharap Bilmar mau mengikuti kemauannya."


"Hanya tiga sampai empat tahun terpisah, tidak masalahkan bagi kamu? Bujuk Bilmar, Al! Bujuk!"


"Buat dia memenangkan beasiswa itu!"


Lalu


"Dorrrr!"


Alika terkesiap, langsung mengelus dadanya karena kaget. Ia masih saja terbayang-bayang dengan ucapan Mama Mira ketika mereka berdua sedang menunggu Bilmar di toilet.


Bilmar menutup mata Alika dari belakang. Lalu ia berbisik tepat di daun telinga Alika. "Kok cintaku melamun? Kenapa sayang?" tanya Bilmar dengan nada suara semanis gula.


Alika tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya untuk melepas tangan Bilmar dari kedua matanya. Bilmar pun melepaskannya dan ikut duduk disebelah Alika.


Dengan napas yang masih terengah-engah, Alika berusaha untuk mengatur ritme napasnya untuk kembali normal. "Enggak apa-apa sayang, sudah selesai dengan Nino dan Dion?"


Bilmar menoleh lagi ke arah sahabatnya yang terlihat sedikit merajuk. Nino dan Dion memang merungut ketika Bilmar kembali beralasan akan telat latihan lagi.


"Sudah, ayo kita pulang."


Alika tersenyum dan mengangguk. Membiarkan dirinya pergi digandeng Bilmar menuju parkiran.


Sesekali ia melirik wajah tampan Bilmar yang sedang melangkah bersamanya. Dadanya bergemuruh sedih, bisakah ia menjauh dari lelaki ini.


Dulu diawal-awal ia begitu bersemangat untuk membantu Bilmar pergi ke London. Tapi sekarang, ketika cinta semakin melebar dan merekah, Alika merasa tidak mau ditinggal.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Rasanya sulit untuk berjauhan denganmu, Bil. Tapi untuk memaksamu tetap tinggal di sini pun sulit. Aku tidak tega, kalau kamu harus membangkang kepada orang tua hanya karena aku." lirihnya.


Nino terlihat melempar bola basket secara asal ke jaring. Lelaki itu sepertinya kecewa dengan sikap Bilmar yang semakin hari semakin seenaknya saja. Terlalu mengedepankan Alika dibanding persahabatan dam tim basket mereka.


"Gapapa lah, Nin. Toh juga si Bila cuman sebentar." ucap Dion.


Nino hanya mendengus malas. "Dia terlalu di mabuk cinta! Alasan aja dia mau ajak si Alika makan, bukannya tadi siang mereka udah makan siang sama Tante Mira?"


"Iya sih, aneh gue juga. Masih laper apa ya?" Dion memiringkan sudut bibirnya.


"Gue tau itu cuman akal-akalannya si Bila aja, mereka tuh mau pacaran! Turnamen kita lima hari lagi, kemarin aja pas latihan terakhir sama tim, dia juga gak dateng alasannya nganter Alika pulang, kenyataannya dia kagak balik, Tem!" gerutu Nino kesal.


"Tapi tadi dia udah janji mau balik lagi, Nin. Ya udah kita tungguin aja. Sekalian dia juga mau bawain kita ayam kaepcih."


Seketika wajah Nino berbinar. "Eh iya, ya. Gue lupa, hahaha."


"Bah, di sogok ayam mati aja, hilang marah, lo!" Dion meledek.


"Ya kalau ayam hidup, takutlah Imran!"


Nino tertawa, namun ekspresi wajahnya kembali berubah.


"Tapi tetap aja gue masih dongkol, Yanti!" decak Nino.


"Jangan sekate-kate lo, itu nama nenek gue. Udah almarhum." Dion menoyor kepala Nino.


"Astagfirullohaladzim, maafin Nek." ucap Nino sambil memejamkan kedua matanya.


"Udah jangan kesel-keselan, kita kan temen Nina."


"Gue cuman bete aja. Selama dia pacaran sama Alika, jadi beda banget. Udah jarang istirahat sama kita, pulang juga selalu beda arah, jarang ngumpul." Nino masih saja meluapkan kekecewaannya.


"Jangankan elo, gue nih yang duduk sebangku sama dia aja gak pernah ditengok kalau lagi jam istirahat, Nina! Dia langsung pergi sama Alika ke kantin, tapi ya mau gimana lagi si Bila tetap sahabat kita."


"Iya, gue juga udah sayang sama dia!" imbuh Nino dengan tatapan nanar. "Lo juga sebentar lagi bakal berubah ya, Yon."

__ADS_1


"Gue?" Dion menunjuk dirinya. "Lah, kenapa sama gue?"


"Bukannya lo lagi ngejar si Evi?"


Dion melipat wajahnya menjadi empat belas bagian. Ketahuan ya?


Dion menggelengkan kepala cepat. "Fitnah lo, sempakk!" Dion gelagapan.


"Nah elo kemarin ngapain beli pembalut di kantin, terus ngendap-ngendap ke toilet cewe? Ngasihin tuh pembalut ke Evi? Kalau lo gak suka sama dia, itu apa namanya?"


Romantis sekali Dion dengan Evi, dengan baiknya lelaki itu mau disuruh Evi untuk membeli pembalut. Memang tiap malam Dion akan mengirim puisi penghantar tidur kepada Evi. Lelaki itu memang mulai jatuh hati, begitupun Evi sudah tersihir pesona Dion yang wajahnya memang manis.


Dion membelalakkan kedua matanya, sesak napasnya karena sudah diketahui. "Cuman temen, Nina." Dion tetap bersikeras.


"Bener apa kata si Bilmar. Lo berdua cocok."


"Ah, masa?" wajah Dion berbinar bahagia. Mengusap rambutnya ke belakang seraya memberitahukan bahwa ia mempunyai tampilan yang oke.


"Beneran, sama-sama Item soalnya." jawab Nino tertawa. Tentu ucapan itu dibalas dengan decakan dan delikan tajam Dion. Namun gelak tawa Nino tidak bertahan lama, ia kembali memunculkan wajah sedih.


Dion tersenyum dan merangkul bahu Nino. Kembali ke topik awal. Ia tahu Nino masih kecewa dengan Bilmar.


"Ya udah kita wajarin aja, namanya juga Raja lagi jatuh cinta, gak ada yang bisa lawan, Nono."


"Dih Bang--SaT! Apaan tuh Nono!"


Nino berdecak lalu menghentak kepala Dion.


"Gue cuman asal sebut, Nin. Bapak gue suka nyebut gitu ke Emak gue 'Nono yuk' sambil kedipin mata, terus mereka pergi deh ke kamar. Gue lihat dari luar, wah lampunya mati."


"Anjingg jorok!" kelakar Nino.


Lalu Dion berlari kesana kemari untuk menghindar dari terjangan pukulan Nino. Gelak tawa mereka menggema di sekeliling lapangan basket.


*****

__ADS_1


Masih ada satu episode lagi, tungguin yaa❣️ temenin Abang Bila sama Mba Alika di kedai bakso.


__ADS_2