MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Saling Menggenggam.


__ADS_3

Suara sendawa sejak tadi mencuat dari mulut Bilmar. Beberapa kali angin yang berkumpul di dalam tubuhnya, keluar dengan lega seiring tangan Alika yang menyibak uang logam di permukaan kulit punggung suaminya.


Sesekali Bilmar mengerang, bergeliat kesana-kemari. Rasanya sangat perih, ia sampai mengigit bantal karena tidak tahan.


"Diam dong, Pah. Kamu tuh udah kayak ular keket tau, nggak!" sungut Alika. Tangan kirinya digunakan untuk memegang bahu kiri suaminya, karena tangan kanannya digunakan untuk mengerok.


"Euu ..." Bilmar kembali bersendawa. Dan disaat tahu suaminya mengeluarkan suara itu, Alika akan semakin beringas untuk menggores tepi koin dikulit Bilmar.


"Pelan-pelan dong, Mah. Ini kan badan, bukan papan cucian. Main di sikat aja!" decak Bilmar.


Alika terkekeh pelan. "Tahan dikit, Pah. Ini warnanya udah hitam."


"Hitam? Masa? Darah pengabdi setan kali!" ucap Bilmar tidak percaya. Lelaki itu menolehkan kepala seraya ingin melihat hasil kerokan istrinya, walau ia tetap sulit untuk menjangkaunya.


Alika tertawa-tawa.


"Percuma, mata Papa enggak akan sampai. Udah menghadap kedepan lagi, nanti Mama yang fotoin." Alika mendorong kepala suaminya untuk kembali menatap ke depan.


"Foto-foto! Nanti di masukin lagi ke grup keluarga. Aneh kamu tuh, bikin malu aku aja!" sungut Bilmar


Lelaki yang mengeluh masuk setan itu, terus saja mengoceh kepada istrinya. Beberapa bulan lalu, Alika pernah iseng mengirimkan hasil kerokannya ke grup keluarga. Dan Bilmar habis di bercandai di sana.


Untuk urusan mengerok, Alika memang jago. Hasil kerokannya rapih dengan garis yang rapat-rapat antara bawah dan atas. Tidak ada celah besar yang kosong.


Bilmar kembali bergeliat. Menahan perih atas goresan tepi logam.


"Kamu tuh pakai apa sih? Kok sakit banget?"


"Pakai uang logam serebuan. Kan kalau pakai garpu, Papa enggak mau." cicit Alika polos.


"Garpu? Linggis sekalian! Acak-acak nih daging Papa ... puas kamu, Mah!" disela-sela omelan nya, lelaki itu kembali bergeliat.


Alika tidak perduli, ia tetap mengerok sesuai mood yang ia mau. Ia gemas, karena warna hasil kerokannya memang merah keunguan. Sudah dapat di pastikan suaminya benar-benar masuk musim kemarau.


"Kamu ngerok nya pakai hati dong, Mah." Bilmar meringis lagi.


"Hati Mama dikeluarin buat ngerok? Ya gak bisa lah, ngaco lo, Bil! Jangan ngadi-ngadi deh, udah malem nih!"


"Dih! Ngomong apaan tuh tadi?" Bilmar menoleh, dan langsung mendapati sorotan mata istrinya.


Alika refleks, ia baru sadar sudah seenaknya berbicara. Langsung memberikan wajah jenaka penuh cinta. Seraya merayu agar suaminya tidak marah.


Wajah Bilmar terlihat asam, ia kembali menatap ke dipan ranjang. Kembali mengigit bibir bawahnya, karena gerakan kerokan istrinya terasa pedih.

__ADS_1


Karena Alika sudah mengantuk, ia terus menguap. Jam di dinding juga sudah menunjukan pukul 21:00 malam. Apalagi tubuhnya juga lelah karena seharian ini ada di Bandung sehabis menjalani proses pembukaan cabang kampusnya yang baru. Alika kembali mempercepat kerokannya. Karena ia tahu, setelah mengerok Bilmar akan meminta tubuhnya untuk di pijat.


Benar-benar si Jarjit. Bisa membuat istri menjadi multitalent.


"Ahh ... perih banget, Mah!" karena sudah letih di komplen, akhirnya Alika menurunkan kecepatan kerokannya. Terasa seperti mengelus-elus permukaan badan.


"Ya elah, malah sekarang berubah kayak keong. Sampai subuh nih baru kelar."


Asap panas sepertinya sudah mengepul di pusaran kepala Alika. Serba salah dirinya. Menghela napas panjang lalu menatap bagian kulit yang belum terkena olesan kerokannya.


Dengan jurus kame-kameha. Alika langsung melesatkan tepi logam dengan kecepatan angin tornado. Sangat cepat, sampai Bilmar sulit untuk mengerang. Ia hanya bisa mengigit ujung bantal, karena menahan agar tidak berteriak. "Berdarah enggak tuh kulit Papa?" tanyanya khawatir.


"Ngaco!! Udah nih selesai." jawab Alika ketika ia sudah berhasil membuat jejak garis lurus kemerahan menyamping, yang dibuat menjadi dua barisan kebawah utuh dan rapat.


Bilmar menghela napas. "Mati muda nih kalau begini." keluhnya.


Alika kembali meletakan koin logam tersebut kedalam piring kecil yang berisi minyak. Mengoleskannya lagi untuk dibubuhkan ke dikulit punggung lelaki itu. Telapak tangan halus istrinya mulai memijat dari bagian bawah punggung yang ditarik sampai ke permukaan bahu.


"Aduh enak, sayang. Papa makin cinta sama Mama." Bilmar terlihat merem melek. Menikmati sentuhan nikmat hasil pijitan istrinya.


Alika memutar bola matanya jengah. "Sekarang muji-muji! Tadi aja ngomel-ngomel mulu!"


Alika terus saja memijat sampai dimana ia sedikit beranjak berdiri dengan lutut sebagai menyangga diatas kasur. Menempelkan kepala Bilmar di dadanya. Alika mulai memijat pelipis suaminya. Bilmar kembali memejam kedua mata karena pijatan Alika sangat enak.


"Aduh enak banget nih sayang. Nanti Papa tambahin deh uang jajan, Mama." ia berucap dengan senyuman menggoda.


"Tuh kan istri mah suka begitu. Kalau yang baik-baik cepat banget dilupain, kalau jelek-jelek aja, diingat terus sampai ke tayi-tayinya ... heran, deh!" Bilmar kembali mengoceh.


Alika baru teringat, lalu terkekeh dan meminta maaf. "Oh iya, Mama lupa. Bulan kemarin kan, Papa baru beliin Mama tas ya, haha."


Padahal tanpa di minta, Bilmar akan selalu menawarkan barang apa yang sedang diinginkan oleh Alika. Ia tidak akan tanggung-tanggung untuk membelinya. Walau terkadang Alika suka memberikan tas mahal yang ia belikan kepada para dosen, teman dan mahasiswa yang dinilai cerdas.


Karena saking banyaknya dan belum terjamah. Dirinya tidak pernah rugi memberikan tas tersebut kepada orang lain walau harganya sangat mahal. Bahkan selama Kiki berkerja dengan Alika, ia sudah bisa mengoleksi empat tas branded merk Gucci, Dior, Givenchy dan Hermes.


Bahkan Alika lebih percaya diri jika ia memakai tas yang seharga tiga ratus ribuan. Katanya lebih nyaman. Dan suaminya hanya bisa menggeleng tidak percaya.


"Mah ...?"


"Hemm ..."


"Kok wangi minyaknya agak aneh ya?" Bilmar seperti mengendus-endus aroma yang sedikit menyeruak di lubang hidungnya. Lantas menurunkan telapak tangan istrinya yang sudah lengket karena minyak.


"Ih bau!" serunya.

__ADS_1


"Masa, Pah? Maafin deh, Mama enggak bisa nyium. Lagi flu."


Bilmar menggeleng. "Bener-bener kamu tuh, minyak bekas goreng ikan. Kamu pakai buat ngerok sama pijat! Mana sampai ke kepala lagi---" Bilmar mengambil tissu dan mengelap pelipis nya yang lengket karena minyak.


"Ah, masa, Pah? Masa sih Bik Minah salah kasih. Aku mintanya minyak urut."


"Lagian minyak zaitun punya kamu mana? Kan biasanya juga pakai itu!"


"Maaf, Pah. Minyak Zaitun, telon, kayu putih habis semua. Mama belum sempat beli."


Mungkin minyak urut Bik Minah juga sedang kosong, maka ia berinsiatif menggantinya dengan minyak sayur.


Alika meringis sambil mengigit bibir bawahnya. Hal teledor yang paling tidak disukai Bilmar. Ia tahu suaminya itu sangat suka di pijat, di elus dan dikerok.


Dan bisa-bisanya Alika melupakan bahan-bahan tempur untuk membuat adonan donat. Eh, kok, Donat.


"Masa habis semua? Di pakai masker sama kamu, Mah?"


"Bukan dipakai masker! Tapi Mama minum ... puas?? Udah ah, Mama capek. Mau tidur!" Alika mengusap tangannya dengan tissu lalu bergegas berbaring. Menarik selimut dan memeluk guling.


Ia membiarkan saja suaminya yang masih bertelanjang dada dengan minyak ikan yang baunya sampai ke kepala.


Bilmar mendengus dengan gelengan kepala. "Untung cinta, coba kalau enggak. Papa akan suruh Mama untuk minum nih, si minyak ikan keparatt cap tengik!"


Dalam pejaman mata yang belum seutuhnya rapat. Alika masih sempat-sempatnya tertawa. "Udah sini tidur, peluk Mama."


Boleh kesal di bibir tapi tidak dihati. Ia pun beringsut masuk kedalam selimut.


Bagaimanapun kesalahan istrinya, tetap Alika adalah bidadari surganya yang selalu sempurna di matanya.


Bilmar melepas kecupan hangat di pipi Alika sebelum Berbaring. Alika mengayuhkan tangannya ke atas untuk mengusap pipi suaminya.


"Ayo tidur." titahnya lagi.


Lelaki itu mengangguk dan akhirnya merebahkan diri sambil memeluk istrinya dari belakang. Alika menautkan jari-jemari mereka diatas pinggangnya.


Dan pasangan suami istri itu mulai melangkah ke alam mimpi dengan tangan saling menggenggam.


Ah, so sweet sekali❤️


***


like dan komennya yang banyak, biar aku semangat terus buat cerita mereka🌺🌺 bantuin nih novel biar levelnya naik. Diantara semua karyaku, dia doang yang paling kecil. Biar aku tidak menamatkan mereka, Ngenes banget gak sih? 😂😂😂.

__ADS_1


Istri macam begini masa iya disuruh minum minyak bekas goreng ikan cue'k?😂



__ADS_2