
Juli, 2008
Satu bulan sudah berlalu pasca perpisahan Alika dengan Bilmar. Gadis itu tampak kurus dengan raut wajah yang layu dan matanya yang sayu. Napsu makannya menurun, konsentrasi kuliahnya pun sedikit kacau. Bahkan untuk awal-awal perkuliahan, ia menjadi mahasiswa perawat yang bodoh.
Perasaan dan fikirannya tidak bisa menerima jalannya perkuliahan, yang ada dalam fikirannya setiap hari hanyalah Bilmar. Ponselnya tiba-tiba menghilang. Untuk membelinya lagi, Alika belum mempunyai uang. Orang tuanya baru saja mengeluarkan uang yang banyak untuk memasukan ia kedalam sekolah tinggi ilmu keperawatan. Itu pun Papa Syamsul berkorban untuk meminjam uang koperasi di pabriknya. Pun sama dengan Mama Lisa.
Satu minggu kepergian Bilmar ke London, Alika langsung mendatangi Nino dan Dion untuk menghubungi Bilmar.
"Tapi nomornya Bilmar enggak aktif, Al. Dari semenjak dia pergi ke London, Bilmar gak bisa kita hubungi."
Hati Alika seketika menjerit. Mengapa kisah mereka menjadi seperti ini. Entah mengapa rasa cinta lebih merekah ketika kita sedang berjauhan, dan itulah yang Alika dan Bilmar rasakan setelah perpisahan.
Di sana pun Bilmar tercekik. Ia uring-uringan karena tidak bisa mengabari atau mendapatkan kabar dari Alika.
"Tolong, Mah. Berikan surat ini kepada Alika, Dion dan Nino. Bilmar mau minta nomor telepon mereka lagi." Bilmar merasa mereka tidak bisa dihubungi karena ponselnya yang hilang. Walaupun Bilmar sudah membeli ponsel baru tapi pemuda itu tidak bisa hapal nomor ponsel mereka dan itulah bodohnya Bilmar. Dan Mama Mira melama-lama kan dirinya untuk tetap di London.
Seminggu setelah perpisahan mereka, Alika langsung mendatangi rumah Bilmar. Namun penjaga rumah bilang kalau Mama Mira akan pulang di akhir bulan. Maka Alika menurut dan mengiyakan. Ia pulang dengan banyak sejuta luka. Yang ia tahu, Bilmar tidak bisa menghubunginya karena ponselnya hilang. Dan mereka berdua berenang dalam kesalahfahaman.
******
Akhir September 2008.
Setelah akhir bulan gadis itu kembali mendatangi rumah Bilmar, berharap bisa bertemu dengan Mama Mira. Ia membawa sebuah surat, agar bisa disampaikan kepada Bilmar.
"Tante, apakah Bilmar baik-baik saja di sana?" tanya Alika lirih. Mama Mira masih menatap lekat Alika dengan memakai seragam sekolah perawat putih-putih. Gadis itu duduk dengan sopan di sofa ruang tamu menatap Mama Mira. Ia terpaksa mendatangi rumah Mama Mira, ingin tahu keadaan Bilmar. Ia juga tidak ingin pemuda itu merasa kehilangan dirinya.
"Baik, kok, Al. Tapi sekarang lagi serius-serius nya. Soalnya kan masih jadi mahasiswa baru."
"Oh iya, Tante. Gak apa-apa, yang penting dia sehat ..." jawab Alika dengan dada yang sudah terasa berat dan sesak.
"Maaf Tante Alika mau minta alamat Bilmar di London bisa? Alika mau kirim surat." pinta Alika memohon.
Mama Mira tertawa mendengar kepolosan Alika. "Kalian itu beda negara, ongkos kirim surat juga sangat mahal. Ya udah sini sama Tante aja, Tante ke London dua mingu sekali kok."
"Jadi setiap akhir bulan, Alika udah bisa dapet balasan surat dari Bilmar ya tante." tanya Alika dengan wajah berbinar.
"Ya nggak apa-apa deh, surat-suratan dulu. Nanti aku akan nabung untuk beli hape." gumam Alika dalam hatinya.
"Ya tunggu aja sampai mati, surat ini enggak akan saya kasih ke Bilmar!" gumam Mama Mira masih dengan raut hangat. Padahal ketika Mama Mira kembali ke Indonesia, Bilmar sudah lebih dulu menitipkan surat lewat Mamanya.
__ADS_1
"Mah, tolong berikan surat ini kepada Alika. Bilmar kangen sama dia, Mah."
Mama Mira terbayang-bayang titahan dari sang anak. Namun ternyata ia tidak mencari Alika, Dion ataupun Nino. Menyimpan surat itu sendiri. Sampai dimana Alika sendiri yang datang untuk menemuinya.
"Kamu kuliah yang benar, Al. Jangan terus ingat-ingat Bilmar. Nanti kuliah kamu terganggu."
Alika hanya mengangguk dengan anggukan kepala yang berat. Hatinya tetap saja susah menerima keadaan dirinya dengan Bilmar yang seperti ini.
*****
Awal November 2008
Alika kembali datang ke rumah Bilmar. Ia berharap sudah mendapatkan jawaban surat dari Bilmar. Ia juga membawa surat baru yang ingin ia titipkan kepada Mama Mira. Dan lagi-lagi hati Alika patah. Tidak ada balasan surat yang ia terima.
"Bilmar gak balas surat aku, Tante?" Alika mengulang ucapan Mama Mira. Gadis itu tergugu. Air bening seketika bergerumul di kelopak matanya. Ia fikir ketika sudah menunggu dua bulan, surat balasan akan ia terima.
"Bilmar lagi sibuk, Al." ucap Mama Mira, ia menyeka air mata Alika dengan sebuah tissue.
Sungguh drama yang dilakukan sangat baik oleh Mama Mira. Ia berhasil mengelabuhi Alika dan Bilmar dengan sangat rapih.
"Lama-lama kan kalian akan saling membenci, hahaha." Mama Mira tak kuasa untuk tertawa. Ia hanya bisa menahannya dalam hati.
"Tapi Tante ke London baru akhir bulan ini, soalnya Tante harus tinjau perusahaan. Palingan Alika kesini akhir bulan depan aja, gimana?" Mama Mira sengaja berbohong.
Dada Alika terus saja berdenyut ngilu. Selama itu kah?
"Akhir Desember Alika akan kesini lagi ya Tante." Alika menurut ucapan Mama Mira.
Hanya Mama Mira lah alat transportasinya. Setelah ia memberikan surat itu, dirinya pun pulang meninggalkan rumah. Dengan langkah gontai dan air mata yang terus bercucur. Alika sesekali mengumpat kesal. Dirinya merasa dibohongi.
"Sibuk apa sih kamu, sampai membalas suratku saja tidak bisa!" decak Alika sambil memegang liontin B yang bertengger di lehernya.
Padahal Alika tidak tahu saja. Di sana Bilmar sampai sakit demam karena merindu. Namun Mama Mira tetap tega ingin memisahkan putra dengan cintanya.
"Alika balas suratku kan, Mah?" tanya Bilmar ketika sang Mama baru saja tiba lagi ke London. Ia menanyakan surat yang ia kirim sejak bulan September.
"Mama udah kasihin, Bil. Tapi dia nya diam aja tuh. Katanya kamu gak usah mikirin dia. Dia lagi sibuk sama sekolahnya."
"Ah, masa, Mah?" Bilmar awalnya tidak semudah itu percaya. Karena ia tahu betul bagaimana sikap Alika.
__ADS_1
"Mama udah dapat nomornya hapenya Alika, Nino dan Dion?"
"Alika bilang hapenya lagi di service. Kalau udah selesai nanti dia kabarin kamu, Bil."
Bilmar mengusap wajahnya kasar. Hembusan napasnya berat. "Ada-ada aja sih pakai segala rusak!"
"Apa-apan sih Alika, surat gue juga pakai segala gak dibales! Sibuk apaan sih!"
Bilmar terus saja bergumam. Ia terlihat geram dan mulai kesal. Dan Mama Mira sangat bahagia melihatnya.
"Tinggal dipanas-panasin dikit, Bilmar dan Alika pasti akan saling benci, yes!" Mama Mira berseru senang karena menang.
"Terus Dion sama Nino gimana? Mama juga udah dapat nomornya?"
"Mama udah ke rumah mereka. Tapi Dion udah di Bandung kan, kalau Nino udah di Malang."
Memang betul, dua sahabatnya itu sudah tidak berada di Jakarta. Dion melanjutkan sekolah broadcasted nya di Bandung, sedangkan Nino melanjutkan sekolah kedokteran di Malang.
Dan Mama Mira tidak pernah mendatangi rumah mereka berdua. Mama Mira sengaja ingin juga menjauhkan Bilmar dari dua anak tersebut, ia hanya takut jika Nino dan Dion masih dekat dengan Bilmar. Bilmar kembali mempunyai celah untuk dekat lagi dengan Alika.
"Katanya hape mereka juga pada rusak, Bil." jawab Mama Mira asal.
"Ah, masa, Mah?" Bilmar kembali berseru tidak percaya. Ia terlihat mengacak rambutnya kesal.
"Brengsekk!" kelakar nya.
"Aku kangen kamu, Alika! Kenapa kamu begini sama aku!" desah Bilmar lalu menangis. Ia mengurung dirinya di kamar.
"....Bil, kamu bisa gak sih denger suara hati aku? Balas surat aku ya, aku mohon, Bil. Aku di sini kangen banget sama kamu." ucap Alika sambil menatap langit.
"Ya allah, tolong gerakan hatinya Bilmar untukku. Aku merindukannya." lirih Alika dan gadis itu pun kembali menangis. Dadanya kembali sakit.
****
Bikin cerita ini subuh-subuh, pas lagi dengerin lagu nya Aneth, patah hati aku💔. Udah tiga episode ya. Kalau komennya banyak, aku akan up lagi.
Like dan Komen ya guyss.
__ADS_1