MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Menyentuh Binara.


__ADS_3

Terlihat Mama Alisa tengah berdiri tepat didepan pintu ruang kepala sekolah. Dengan menggunakan pakaian seragam perawat lengkap hendak bekerja. Namun setiap hari ia akan berangkat lebih pagi, untuk mampir dulu ke sekolah dimana putri kandungnya mengemban ilmu.


Ia terus menatap ke arah lapangan tepatnya ke bangku taman, memperhatikan anak perempuan cantik berseragam putih biru dengan rambut di kuncir tinggi. Gadis itu tengah asik mengobrol dengan para teman-temannya.


"Temui saja, Lis. Kasian kan." Mama Lisa terkesiap ketika Ibu Nancy, kepala sekolah di sekolah ini mengagetkan dirinya.


"Ini ..." Ibu Nancy menyodorkan sebuah tissu, agar Mama Lisa menyeka air matanya. Hatinya begitu lirih dan sedih. Hanya bisa menatap anaknya dari jauh.


"Aku tidak berani, Nan. Luky pasti akan mencari keberadaan kami, kalau ia tahu aku selalu datang kemari untuk melihat Binara."


"Tapi Binar butuh Mamanya, Lis. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Tega kamu memisahkan ia dengan Alika?"


Mama Lisa hening sesaat, air matanya pun tumpah kembali. Selama ini ia memang tidak pernah pergi jauh meninggalkan Binara. Ia terus mengawasi anaknya bagaimanapun caranya, dan sepertinya ia beruntung.


Karena Ibu Nancy adalah Kepala sekolah di sini. Seorang sahabat yang tahu persis bagaimana kisah rumah tangga Mama Alisa dengan Papa Luky. Mama Lisa selalu menitipkan Binara kepada Ibu Nancy jika berada disekolah, tidak jarang siswa-siswi merasa Binar adalah anak kesayangan Ibu Nancy.


"Aku takut Luky akan mengambil Alika dariku, Nan. Dan setelah itu aku akan menderita karena kehilangan kedua putriku sekaligus." desah Mama Alisa, air matanya pun menetes kembali.


"Seharusnya aku tidak pernah menikah dengan Luky dan masuk kedalam keluarga Artanegara!" Mama Lisa mengutuk dirinya sendiri. Ia kembali menatap Ibu Nancy dengan cucuran air mata.


"Kamu tau, Nan? Dua minggu lalu aku habis memukuli Alika dengan gesper!"


"Ya Allah, memangnya Alika melakukan kesalahan apa? Sampai tega kamu memukulinya!"


"Alika berpacaran dengan Bilmar! Anak dari Bayu, adik tiri Luky!"


"Astagfirullohaladzim, mengapa dunia menjadi terasa sempit sekali! Sepertinya memang sudah saatnya kamu memberitahukan Alika, Lis."


Mama Alisa menggelengkan kepalanya. "Sampai matipun, aku tidak akan pernah memberikan Alika kepada Luky! Lelaki itu juga harus merasakan sakit yang aku derita karena kehilangan Binara!"


"Tapi itu kan bukan kesalahan Luky, Lis! Kamu yang meninggalkannya. Kamu masih mending bisa menatap Binara setiap hari, sedangkan Luky? Hatinya pasti hancur karena tidak bisa sama sekali melihat Alika."


Mama Alisa mendelik tajam menatap Nancy, wajahnya terlihat mengerang. "Ini semua karena sikapnya sendiri! Ia lebih memilih keluarganya dibanding aku dan anaknya."


Ibu Nancy menghela napas panjang, Mama Alisa memang keras kepala, ia tidak bisa dibekukan dengan apapun.


"Lagi pula aku sudah mencintai Syamsul. Ia sudah berbaik hati untuk memungutku malam itu dengan Alika. Ia mau menikahi janda sepertiku."


"Itu kan karena dia mantan pacar kamu! Dan ia mandul tidak bisa memberikan keturunan, maka dia menerima semua kekuranganmu dan Alika di hidup kalian!"


Mama Alisa hanya bisa bedehem pelan. Ia tahu apa yang dibicarakan oleh sahabatnya adalah benar.


"Sudahlah aku tidak mau membahas. Itu hanya masa lalu, Nan." kilah Mama Lisa.

__ADS_1


Ia menatap arloji ditangannya yang putih. "Aku berangkat dinas dulu ya. Oh iya ini, Nan. Kayak biasa ya." Mama Alisa menyodorkan bungkusan plastik yang isinya bekal makan siang untuk Binara.


"Ini Alika yang memasak." sambungnya lagi. Ibu Nancy tersenyum dan mengangguk. Ia meraih bungkusan plastik itu untuk ia berikan nanti kepada Binara. Walau Binara selalu saja bertanya-tanya mengapa setiap hari Kepala Sekolah nya selalu membawakan ia makan siang.


"Ya sudah kamu hati-hati di jalan. Nanti akan aku berikan kepada anakmu." jawab Ibu Nancy, mengusap lembut bahu Mama Lisa.


"Aku pergi ya, Nan." Ibu Nancy mengangguk dan melepas kepergian Mama Lisa dari hadapannya.


Langkahnya gontai, menatap sendu wajah anak keduanya di bangku taman. Anak yang ia lahirkan 15 tahun yang lalu. Hanya bisa menatap tanpa bisa di sentuh, dipeluk ataupun di cium.


Mama Alisa melanjutkan langkah menuju pintu gerbang, dengan air bening yang berlinang di pelupuk matanya.


"Kamu tidak pantas bersanding dengan Luky, kamu hanyalah sampah untuk keluarga kami!"


Mama Alisa selalu terbayang-bayang ucapan Mama Mertuanya. Tanpa ia ketahui jika mertuanya itu sudah lama meninggal dunia, dan ia mengira Papa Luky pasti sudah menikah lagi dan melupakan dirinya.


Mama Lisa juga sudah menerima Papa Syamsul dengan kelapangan hatinya, ia terus berusaha untuk melupakan cintanya kepada Papa Luky, dan kini ia berhasil.


"Ibu ..." langkah Mama Lisa terhenti.


Ia mengerutkan dahi ketika ada suara yang memanggil dirinya. Benarkah dirinya yang dipanggil? Atau mungkin hanya perasaannya saja. Lalu ia pun menoleh.


DEG.


Seketika ia membeku di posisinya. Ia begitu tercengang bisa menatap dekat putrinya. Sepertinya burung-burung merpati tengah menari-nari diatas kepalanya. Hatinya begitu bahagia.


Mama Lisa dengan wajah yang masih basah hanya bisa termangu menatap Binara.


"Ibu enggak apa-apa?" suara Binar membuyarkan lamunan Mama Lisa. Wanita itu pun gelagapan dan kembali sadar.


"Terimakasih, Nak." jawabnya.


"Ya Allah, apa aku salah lihat? Benarkan dia putriku? Binara? Akhirnya aku bisa menatapnya dekat, bisa mendengar suaranya dengan jelas." gumam Mama Lisa kembali termenung.


"Bu?" Binara kembali menyadarkan Mama Lisa.


"Eh iya, Nak. Siapa nama kamu." Mama Alisa mencoba berkenalan.


"Saya Binara, Bu. Binara Artanegara."


Dada Mama Lisa sedikit terasa pedih, ketika nama Artanegara kembali menyeruak di telinganya.


"Nama yang sangat cantik ya."

__ADS_1


"Kata Papa, Mama yang memberikan nama itu sebelum akhirnya ia meninggal dunia setelah melahirkan ku."


DEG.


Air bening kembali lolos dari kedua matanya. Bagai disambar guntur di pagi hari, batinnya begitu meledak. Ketika ia sudah dianggap mati oleh Luky dan keluarga Artanegara.


Bukannya apa yang Mama Lisa lakukan kepada Alika, sama seperti halnya yang Papa Luky kepada Binara? Padahal jauh dari kenyataanya, Papa Luky masih mencintai Mama Lisa sampai detik ini. Mental lelaki itu sempat terganggu karena ditinggal begitu saja tanpa kata-kata.


Papa Luky selalu mencari-cari keberadaan Berliana dan Istrinya. Namun ia tidak pernah berhasil menemukannya. Maka dari itu Papa Luky merubah sikapnya menjadi arogan dan dingin. Ia benci dengan wanita.


"Ibu menangis?" tanya Binara.


Tak kuasa menahan ledakan hatinya, Mama Alisa pun beringsut untuk memeluk Binara. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Binara hanya bingung dengan wajah melongo. Namun entah mengapa ia tidak menolak ketika dipeluk. Hatinya begitu saja temaran, malah ia kembali memeluk Mama Lisa dan mengusap-usap punggung wanita itu.


Mama Lisa yang merasakan sentuhan lembut dari Binara, terus menangis terisak. Pangkal bahunya bergetar. Tidak perduli bel masuk sudah berbunyi, tapi ia tetap saja memeluk gadis itu.


Ibu Nancy yang melihat dari kejauhan hanya bisa mengusap air matanya yang mengalir di balik kaca matanya. Ia pun tahu bagaimana rasanya terpisah dari anak kandung.


"Ini Mama, Nak. Mamanya Binar." gumam Mama Alisa. Ia pun melepas pelukan itu dan sedikit menunduk karena air matanya terus saja tumpah ruah.


"Masuk lah, Nak. Bel sudah berbunyi." titah Mama Lisa kepada Binara.


"Ibu kenapa menangis?" Binara meraih sapu tangan yang sedang digenggam oleh Mama Lisa, untuk membantu mengusap air mata yang sedang beleweran dipermukaan kulit mulus wanita paru baya itu. Mengusap lembut dan Mama Lisa hanya bisa terdiam dan menikmatinya.


"Boleh Ibu mencium kamu, Nak?" pinta Mama Lisa.


Binara tersenyum, dan mengangguk senang. "Boleh, Bu. Dengan senang hati." jawab Binar.


Mama Lisa pun akhirnya mencium kening dan kedua pipi Binar, dan tanpa Mama Lisa terka, Binara pun melalukan hal yang sama. Binar mencium balik Mama Lisa. Sungguh rasanya sangat indah. Hatinya kembali bahagia.


Mama Lisa mengelus lembut pipi Binar. "Makasih banyak ya, Nak. Kamu mengingatkan Ibu dengan anak Ibu. Wajahnya mirip sekali denganmu."


"Iya Bu sama-sama. Ibu sudah enakan sekarang?" tanya Binar. "Mau aku belikan air minum?"


Mama Lisa menggeleng. "Tidak usah, Nak. Ayo sana cepat masuk ke kelas. Nanti dicariin gurumu."


"Baik, Bu. Aku permisi ya." Binara meraih punggung tangan Mama Lisa untuk di cium sebelum ia bergegas kembali ke kelas. Mama Lisa mengusap lembut kepala Binara dengan segala untaian doa yang sedang ia suarakan.


Binar pun berlalu dan meninggalkan dirinya yang masih mematung menatap kepergiannya. Sesekali Binara menoleh dan melambaikan tangan kepada Mama Lisa, sampai bayangannya menghilang.


"Terimakasih Ya Allah, telah kau izinkan aku untuk menyentuh Binara."


*****

__ADS_1


Ku menangisss membayangkan...😢


lanjutin sendiri lagunya yak hehehe, ya gitu lah gengss Mama Lisa gak gitu aja ninggalin Binara. Ia terus memantau walau jauh💔


__ADS_2