MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Kalian Itu Saudara Sepupu!


__ADS_3

Enggak usah nunggu 200 komen deh, nih aku langsung keluarin buat kalian. Happy Reading all❣️


.


.


.


.


Pak Andi mencoba menghubungi kedua orang tua mereka. Namun sepertinya keberuntungan mulai berpihak kepada Bilmar. Ponsel Mama Mira tidak diangkat, padahal Pak Andi sudah menelponnya sebanyak lima kali.


Mama Mira memang sedang meninjau lokasi pembangunan perusahaan baru di luar kota, mungkin wanita paru bayah itu sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.


Lalu bagaimana dengan Alika? Apakah ia juga seberuntung Bilmar? Jawabannya yaitu tidak!


Alika merugi hari ini, gadis itu sangat sial. Pak Andi berhasil berbicara dengan Mama Alisa, dan wanita itu mengiyakan untuk datang ke sekolah bertemu dengan Guru BK. Untung saja Mama Alisa menjadi kepala perawat di Rumah Sakit, tentu untuk ijin keluar sebentar dari perkerjaanya, tidak akan begitu sulit baginya.


Alika sudah gemetar sedari tadi, ia tahu dirinya akan dibantai habis jika sampai dirumah.


"Maafin aku ya sayang. Aku menyesal." lirih Bilmar. Kini mereka sudah berada diluar ruangan BK. Menunggu kedatangan Mama Alisa.


Alika hanya diam, dengan kepala tertunduk. Serasa kepalanya ingin pecah, isak tangis tak kunjung surut. Membuat Bilmar, Dion dan Nino menatap nelangsa kepada Alika.


Tak lama kemudian langkah derap sepatu pantopel dari seorang wanita paruh bayah cantik yang berseragam Perawat, hadir ditengah-tengah mereka.


"Mama ..." seru Alika.


Alika bangkit dari kursi untuk berdiri menatap Mama Alisa yang sedang mendelik tajam ke arahnya lalu berpendar ke beberapa anak laki-laki yang belum ia ketahui siapa mereka semua.


Sebelum Alika dan Bilmar menyalami wanita itu, Mama Lisa lebih memilih masuk kedalam ruangan BK untuk menemui Pak Andi.


Walau Pak Andi belum menceritakan duduk permasalahannya di telepon, tapi wanita itu sudah mengira kalau putrinya sedang melakukan kesalahan.


Setelaj mempersilahkan Mama Lisa untuk duduk, barulah Pak Andi mulai menceritakan masalah sang Anak dengan terperinci, jelas dan apa adanya.


"Anak saya berciuman, Pak?" seru Mama Alisa. Jantungnya seketika memburu, ia tidak kuasa menahan rasa kaget yang amat menghujam jiwa dan batinnya.


"Saya masih enggak percaya, Pak." desahnya frustasi.


"Ibu tidak tahu kalau Alika berpacaran dengan Bilmar?"

__ADS_1


"Bilmar?" Mama Lisa mengulangi ucapan Pak Andi. Ia sedikit bergumam pelan, seperti tidak asing dengan nama itu.


Ya begitulah kabar sumbang, Fandi berhasil memfitnah semua orang dengan ucapannya yang belum sama sekali benar. Mama Alisa terdiam sesaat, ia merasa terpuku, karena sudah bohongi dan dipermalukan oleh anak sendiri.


Tidak akan menyangka putri polosnya yang ia besarkan dengan banyak nasihat moril, bisa begitu saja lalai untuk melakukan perbuatan yang melanggar norma dan adab.


Menghela napas berkali-kali, merasakan sesak di dada membuat wanita itu lemas tidak berdaya. Tiga puluh menit kemudian, Mama Alisa kembali keluar dari ruang BK dengan wajah sedih.


"Mah---" belum saja Alika menuntaskan seruannya. Mama Lisa lebih dulu mendaratkan telapak tangannya di permukaan pipi Alika.


Pakk.


Suara tamparan itu begitu nyaring menggema di telinga Bilmar, Dion dan Nino. Alika memegang pipi dengan tangannya. Begitu panas dan sakit. Ia menatap legam bola mata Mama yang sedang menatapnya balik dengan sinar amarah yang berapi-api.


Bilmar, Nino dan Dion begitu tertohok. Wajah mereka tercengang, menatap tidak percaya.


"Kurang ajar kamu, Al! Mama didik kamu untuk menjadi anak baik, tapi malah begini balasan kamu!" kelakar Mama Lisa.


"Tante, Maaf. Ini semua salah saya." pangkas Bilmar. Ia tidak sampai hati jika Alika terluka sendirian, apalagi kejadian ini terjadi memang ide yang muncul dari kepalanya.


Mama Lisa menatap lamat-lamat wajah Bilmar yang sejak tadi hanya ia tatap sekilas. Mama Lisa hening mendadak, seperti menerawang jauh, masuk kedalam dimensi masa lalu.


"Mengapa wajah pemuda ini mirip sekali dengan Bayu." tanpa sengaja ia menatap sebuah nama lengkap yang terukir dengan bordiran di seragam Bilmar.


"Ya Allah ... Kok bisa?" gumamnya lagi.


Seketika dirinya ingin limbung. Tubuhnya seperti tengah dikucuri air es dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Wanita paruh baya itu melongo hebat. Seperti diterpa banyak kilat didepan wajahnya.


"Tolong kamu jauhi anak saya! Putuskan hubungan kalian mulai detik ini juga! Saya tidak rela, jika Alika masih berpacaran dengan kamu!" Mama Lisa murka.


Alika dan Bilmar sudah tidak kaget lagi. Pasti kalimat itu yang akan di ucapkan oleh wanita ini. Mereka hanya tahu kalau mama Lisa sedang marah dan masih belum menerima perbuatan mereka. Padahal di lain itu, ada suatu rahasia yang mulai terkuak, begitu menyentak dan menghantam jiwa Mama Lisa.


"Bagaimana bisa kalian berpacaran. Kalian itu adalah sepupu!" rintih Mama Lisa dalam hatinya. Wanita paru baya itu masih saja tidak percaya dengan kenyataan yang baru ia lihat dan dengar.


Tanpa menunggu lama, Mama Alisa membawa Alika pulang dari sekolah. Ingin memberikan pelajaran yang setimpal untuk Alika. Bilmar hanya bisa diam menatap sedih kepergian Alika dan Mama Lisa. Sekilas Alika menoleh ke belakang dan menatap Bilmar dengan leleran air mata.


Hati Bilmar terenyuh. Dadanya ikut sakit melihat Alika dalam keadaan terpuruk seperti ini.


"Gue cabut ya. Gue mau nyusulin Alika."


"Tapi, Bil." sergah Nino dan Dion.

__ADS_1


"Hati gue gak enak, gue takut Mamanya mukulin Alika dirumah."


Dan benar saja terkaan Bilmar tiga puluh menit yang lalu. Kini Alika tengah berteriak-teriak di dalam kamarnya. Sedari diperjalanan Mama Lisa mencoba untuk menahan agar tidak mencubit atau memukul putrinya. Ia ingin melampiaskan kekesalan dirumah, karena rasa kecewa yang terus saja membuat hatinya memanas.


"Mah ampun, Mah, ampun!" Alika terus merintih.


Ia terlihat memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari langkah sang Mama yang terus saja mendekat dengan sebuah tali gesper di tangan kanannya.


"Berani kamu bohongin Mama dan Papa!" seru Mama Alisa, ia kembali menyentak kaki Alika dengan tali gesper.


"Sakit, Mah. Ampun." Alika terus merintih sambil menangis.


"Kamu ciumann sama dia, Al? Udah diapain aja kamu sama dia? Jawab Mama!" Mama Lisa berteriak.


Alika terus menjauh, mundur dan sesekali terjatuh ke lantai. Mama Lisa sepertinya sudah gelap mata. Ia tetap mendaratkan hentakan kasar dari tali gesper di permukaan kulit tubuh Alika.


"Enggak, Mah. Kita enggak ciumann, semua ini hanya salah faham." Alika menjawab dengan bibir bergetar.


"Masih ingin kamu berpacaran dengan dia?" Mama Lisa mencambuk kembali. Suara gesekan gesper dan kulit begitu saja nyaring terdengar. Kulit Alika seketika melepuh karena rasa panas.


"Ampun, Mah! Ampun." dan akhirnya Alika meringis dengan nada pelan.


Tenaganya sudah habis untuk merintih dan menangis. Ia sampai memejam kedua mata dan menggigit bibir bawahnya karena tubuhnya sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang sedang ia rasakan.


Dirinya begitu saja limbung di pusaran kasur lalu meringkuk, memeluk kedua lutut. Dengan napas terengah-engah dan air mata yang terus menetes.


Apakah Mama Lisa akan menyesal karena perbuatannya telah menghukum Alika seperti itu? Jawabannya adalah tidak.


Mama Alisa merasa puas karena sudah menghukum sang anak. Ia terpaksa melalukan ini, agar Alika bisa jera dan menjauhi Bilmar.


"Lebih baik Mama yang hukum kamu, dibanding Papamu!" decak Mama Lisa. Ia masih menatap Alika yang masih meringis kesakitan dan berujar kata ampun.


"Tidak akan ada makan malam buat kamu!" ucap Mama Lisa, kemudian berlalu dan mengunci pintu kamar putrinya. Meninggalkan Alika dengan banyak goresan luka merah di sekujur kaki dan tangan.


Tanpa Alika sadari ada sepasang mata yang ikut menangis menatap dirinya dari balik tralis jendela kamarnya. Merekam jelas perbuatan Mama Lisa kepada Alika.


*****


Masih ada beberapa episode lagi menuju Musim 2 ya guyss, gak lama kok, sabar dulu yaa❣️ karena kalau buru-buru itu gak enak guyss


Kasian nih si neng diomelin ama dipukulin💔

__ADS_1



__ADS_2