MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Tidak Terkalahkan.


__ADS_3

"Gimana ceritanya Maradona dari Brazil? Jelas-jelas si Bapak berkumis itu dari Argentina, curutt, hahaha!" gelak tawa Bilmar terdengar tidak habis-habisnya di sambungan telepon. Lelaki itu sedang berbincang dengan Dion diseberang sana.


Bilmar berdiri memunggungi Alika dan Rendi yang sedang duduk di kursi panjang. Mereka bertiga masih berada di pekarangan kantor polisi.


Mendengus. Rendi melupakan ketidak sukaan nya. "Bisa-bisanya habis jadi tersangka, ketawa-ketawa kayak gitu!" sungut Rendi. Sudah letih dirinya menghadapi sifat mantan bos nya yang tidak pernah berubah dari dulu.


Alika masih terdiam menatap lurus bunga-bunga yang berada halaman kantor polisi. Sungguh miris jiwanya, wanita itu benar-benar syok dengan berita yang baru ia dengar sekarang.


Memacu kendaraan seorang diri dengan kecepatan diatas rata-rata menuju kantor polisi setelah mendapat informasi yang tidak mengenakan dari Rendi. Ia takut suaminya di jebloskan ke penjara.


Namun setelah sampai di sini, Alika memang bernapas lega karena suaminya bebas dari tuntutan. Tetap saja ia menggerutui, karena tidak ada raut penyesalan apapun yang terhias dari wajah suaminya. Lelaki itu masih bisa tertawa-tawa.


"Hahaha. Ada-ada aja lo mau taruhan segitu. Hutang lo bulan kemarin aja belum dibayar, Ck! Tapi, enggak apa-apalah. Gue bebasin, hitung-hitung gue bersedekah." lelaki itu kembali cekikikan, dengan gawai masih mengudara di daun telinganya. Dan terdengar Dion bergelak kencang di seberang sana.


"Begoo, lo, Bila. Sejak kapan gue ngutang?"


Benar-benar Bilmar ... Tidak tahu saja kepala Alika dan Rendi sudah mengebul karena menahan panas di hati. Dan ia masih saja sibuk dengan teleponnya yang tidak penting sama sekali.


Malah lelaki itu merasa gembira, hebat dan begitu perkasa. Bisa membuat orang tumbang dengan siksaan yang telah ia berikan, seperti Zain.


"Maaf, Ren. Bilmar merepotkanmu." ucap Alika pelan. Air bening wanita itu sudah menggenang di pelupuk matanya.


Rendi mengangguk berat sambil menghela napas panjang. "Kapan sih berubahnya. Anak udah besar-besar, emosi masih aja di gedein!"


Alika menyeka gerumulan air matanya agar tidak menetes. Ia menggeleng lemah.


Rendi terus saja meluapkan kekesalannya. Demi Bilmar, ia sampai harus meninggalkan kantor berjam-jam untuk menjadi penjamin.


"Boleh marah, wajar lah namanya juga istri hampir di perkosa. Tapi kan enggak segala nembak dan bakar klinik si pelaku. Itu sama aja suami kamu bunuh diri, Al! Kita kan bisa melaporkan Zain ke kantor polisi, tidak perlu melakukan hal ceroboh seperti itu kan? Apa kabar dengan dunia, jika mereka tahu kalau Presdir EG ditangkap karena kasus pembunuhan?"


Alika masih tergugu dan mendengarkan semua cuapan Rendi dengan pasrah. Wanita itu hanya bisa menunduk, pening sekali kepalanya. Ia tidak menyangka terkaannya semalam memang terjadi. Bilmar memang sudah mencoba membunuh Zain, untung saja gagal.


Kemarin sore setelah menonton rekaman cctv tersebut, Bilmar mendatangi salah satu klinik yang dimiliki Zain. Dan beruntungnya Bilmar mendapai lelaki biadab itu di sana.


Bilmar yang sudah si sulut emosi tanpa fikir panjang langsung melepaskan peluru panasnya walau hanya menyentuh kulit kaki Zain, bisa dibilang tembakan itu meleset.


Semua yang ada di dalam klinik, berhamburan dan menelpon polisi. Bilmar pun sebenarnya sudah ditangkap dari kemarin sore, dan akhirnya dibebaskan malam hari dengan catatan bersyarat.


Ia berhasil membuat Zain mencabut gugatannya, karena akan mengancam menyebarluaskan rekaman cctv yang ia punya.

__ADS_1


Namun pagi tadi ketika ia sedang diperjalanan menuju Bogor, Bilmar ditangkap oleh aparat kepolisian. Ia kembali dilaporkan oleh istri Zain tanpa sepengetahuan Zain.


Sang istri tidak terima dengan klinik nya yang sudah dilahap oleh si jago merah. Karena Bilmar memang menyuruh para anak buahnya untuk membakarnya.


Oleh karena itu pagi ini Bilmar kembali di gadang ke kantor polisi. Lelaki itu tetap tidak mau mengganti rugi atas kebakaran klinik Zain. Ia bersikukuh mengatakan, hal yang ia perbuat belum ada harganya dibandingkan apa yang dilakukan Zain kepada Alika.


Bilmar menggertak istri Zain. Jika masih membawa dirinya ke dalam kasus hukum. Maka ia akan menyeret Zain untuk dipidanakan atas kasus pemerkosaan.


Merasa terancam, Bilmar pun di loloskan kembali namun ia harus mempunyai penjamin. Maka dari itu, Rendi lah yang ia minta untuk datang dan menjemputnya.


"Ya udah broh, gue mau pulang dulu. Nanti gue kabarin lo lagi." akhirnya Bilmar mengakhiri sambungan teleponnya dengan Dion.


Memasukan gawainya kembali ke dalam saku celana. Dan menghampiri Alika dan Rendi yang masih terduduk di kursi panjang.


"Lihat aja tuh, wajahnya ceria banget. Kayak enggak habis melakukan dosa! Dasar Preman kelas kanak-kanak!" decak Rendi kembali.


Bilmar mencebikkan bibirnya. "Diam lo, nyanyi mulu perasaan. Kayak trio macan."


Rendi dan Alika sama-sama mendelikan matanya kepada Bilmar. Dan lelaki itu tetap memberikan ekspresi jenaka.


"Idih ... Awas tuh, matanya pada keluar semua nanti, ck!" Bilmar tertawa sarkas.


"Aamiin." Rendi mengaminkan ucapan Alika dengan wajah konyolnya.


"Parah gue di doain yang enggak-enggak!" decak Bilmar.


Alika beranjak bangkit, dan Rendi pun mengekor dibelakangnya.


"Loh, Mah. Mau kemana?" Bilmar berseru. Dan ia pun memilih untuk mengekor langkah mereka berdua. Menarik lengan istrinya agar berbalik menatapnya.


"Mau kemana sayang? Suamimu tuh aku, bukan si Rendi."


"Dasar lelaki gila!" Rendi kembali mengumpat. "Aku balik duluan ya, Al. Masih ada rapat lagi yang harus aku hadiri." ucapnya tanpa menoleh ke arah Bilmar.


Rendi memang murka sekali dengan sikap Bilmar yang tidak memperlihatkan rasa bersalah atau menyesal sama sekali.


Setidaknya merenung sebentar saja, bahwa apa yang ia lakukan akan memberi dampak buruk dari segi apapun. Dan tetap saja si perkasa itu, merasa tindakannya sudah paling benar.


"Baik, Ren. Hati-hati di jalan ya. Maaf sudah membuang-buang waktumu." jawab Alika.

__ADS_1


"Yoi, Ren. Makasih ya, lo udah----"


Bilmar mengeraskan rahangnya ketika Rendi begitu saja melengos meninggalkan ia yang sedang bicara. "Dasar burung!" decaknya sebal.


Alika kembali menatap Bilmar. Lalu menyentil mulut lelaki itu. "Ini mulut kudu disiram air mecin kayaknya!"


"Duh sakit, Mah." Bilmar mengaduh.


"Bodo ah! Mama kesal sama Papa!"


"Arghh ... Sakit, Alika!" tanpa sadar lelaki itu berteriak, ketika istrinya menarik jambang rambutnya dengan kasar.


Wanita itu tidak perduli dengan keringisan suaminya. Ia tetap melangkah pergi menuju mobilnya untuk kembali pulang kerumah.


"Mah ... Kita makan dulu yuk." sergah Bilmar ketika Alika akan masuk ke dalam mobil.


"Dengan kejadian ini kamu masih bisa napsu makan, Pah?" tanya Alika dengan nada tinggi.


"Jangan di ambil pusing, Mah. Buktinya Papa bisa lolos kan? Ya walaupun Papa masih kesal, kenapa sih lelaki itu enggak mati aja. Tapi Papa masih keren lah, setidaknya si brengsekk itu akhirnya masuk ke Rumah Sakit." ucapnya dengan gelak tawa yang tengil.


Alika mendengkus. Kedua mata Alika membola hebat. Bulu-bulu halus di sekitar tengkuknya meremang. Ia sampai mengusap dadanya, karena saking tidak percaya.


"Bener-bener gila kamu, Pah! Sinting! Enggak waras! Kamu pendek akal tau nggak! Coba bayangin kalau dia mati terus kamu di penjara, AKU SAMA ANAK-ANAK GIMANA?"


Bilmar sampai mengedikkan pangkal bahu karena merinding dengan suara Alika yang terbilang cukup nyaring.


"Kalau enggak bisa nembak tuh, enggak usah sok-sok-an, Bilmar! Atta Halilintar aja pasti ketawa lihat kamu nembak gak becus. Di sangka ngeprank doang. Nembak kok yak di kaki, yang benar tuh di hidung!!"


Bilmar kembali terkekeh dengan gelengan kepala, mendengar ucapan Alika. "Bisa-bisanya kamu, Mah. Sedang marah tapi melucu."


Alika terus saja mengumpat kelakuan suaminya. Melepas satu cubitan panas di perut Bilmar, lalu masuk kedalam mobil dan meninggalkan lelaki itu sendirian sambil merintih.


"Awas nanti, Papa hukum kamu, Aurell Hermansyah!" decak Bilmar sambil memegangi perut lalu berjalan menuju kereta besinya. Mengikuti sang istri untuk pulang kerumah.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan ku!" ujar Bilmar tetap berbangga diri.


***


Bener-bener si Bila Petir, kagak ada kapoknya jadi preman🤪🤪. Lihat aja nih ketawanya, kagak ada nyesel-nyeselnya

__ADS_1



__ADS_2