
Hari pernikahan Alika dan Aziz pun tiba. Rumah sederhana Alika yang sudah usang menjadi saksi janji suci yang baru saja di ucapkan oleh Aziz. Dengan satu tarikan napas, ia berhasil menjadikan Alika istri untuk selama-lamanya. Pancaran sinar kebahagiaan terus mencuat dari wajah mereka berdua.
Walau pernikahan ini terasa sangat menyedihkan. Karena tidak ada sosok kedua orang tua menemani mereka. Namun Aziz dan Alika tidak merasa sedih sama sekali. Karena mereka tahu, Mama dan Papa pasti tersenyum bahagia melihat pernikahan mereka yang baru saja berlangsung.
Sesekali Alika bergeliat, menaikan pangkal bahunya karena sentuhan yang sedang Aziz berikan. Aziz meraba-raba punggung Alika dengan lembut, mencium tengkuk sesekali menyesapnya dengan juluran lidah.
"Besok aja main ponselnya. Sekarang ayo kita tidur." Aziz berhasil mengambil benda pipih itu dari tangan istrinya dan meletakannya di atas nakas.
Alika terkekeh geli dan terus tertawa, ia lucu melihat suaminya yang sudah tidak sabar untuk malam pertama dengannya.
"Tapi Adek belum ngantuk, Mas." Alika ingin menjulurkan tangannya ke arah nakas, namun tubuhnya lebih dulu dibaringkan oleh Aziz.
Lelaki itu langsung merangkak naik, mengkungkung Alika yang sudah terbaring pasrah dengan posisi terlentang.
Aziz membenamkan kedua bibirnya dikatupan bibir Alika yang masih terbuka. Melumatt lembut dan sedikit memberikan gigitan-gigitan kecil. Lidah Aziz pun melolong masuk, melalang buana untuk menginvasi rongga mulut Alika.
Suara decitan saliva keduanya terdengar, Alika yang masih amatiran hanya bisa terdiam dan menikmati.
"Betapa begitu nikmat." gumam Alika. Air bening menetes pelan dari sudut matanya. Alika begitu haru, karena ia bisa juga merasakan keindahan pernikahan seperti yang dirasakan oleh orang kebanyakan.
Aziz terus membelit lidah Alika, sampai dimana wanita itu melepaskan perpagutan bibir mereka, karena dirasa oksigen diantara mereka sudah menipis. Merasa sesak napas, tapi Alika menyukainya.
Aziz menatap Alika senyum.
"Adek suka?" tanya Aziz menggoda. Seketika Alika memalingkan wajahnya karena malu. Merah sekali wajahnya seperti kepiting rebus.
Aziz kembali memagut bibir Alika, kini lebih ekstrim dan kuat. Aziz mengikuti insting hasratnya. Apa yang mereka lakukan sekarang memang baru pertama kali juga mereka lakukan seumur hidup. Maka dari itu ketika sudah mengetahui rasanya, Aziz bersemangat untuk memborbardir Alika.
"Eum ...." tanpa sadar Alika melenguh. Sambil menutup mata, ia terus menikmati pagutan bibir itu kembali dengan Aziz. Kedua tangan Aziz sudah meraja lela sejak tadi. Meraba, menyisir dan memeras.
"Eum, Mas ...."
"Iya, Dek." jawab Aziz lalu berpindah untuk menyesap rasa gurih di sekitar permukaan leher Alika.
Alika semakin mendesah ketika kedua telapak tangan Aziz meremas bongkahan dua gundukan sintal yang masih tertutup kain renda merah dibalik piyama tidurnya. Dengan inti Aziz yang sudah menegang, dengan buru-buru ia membuka kancing piyama Alika satu persatu.
Dan ketika sudah dikancing ke enam.
"Mas, tunggu dulu ya. Aku mau pipis dulu."
Aziz hanya menghela napas, nikmat yang sedang membuncah begitu saja terjeda.
"Ya udah sana."
Alika pun beranjak turun dari kasur dan melangkah pergi menuju kamar mandi. Aziz kembali berbaring menuggu istrinya datang. Namun sayang, bukan Alika yang datang. Malaikat pencabut nyawa lah yang datang saat ini, menatap manis ke arah Aziz.
__ADS_1
"Sudah waktunya kamu pulang, Ziz." seruan itu akhirnya mengiringi Aziz untuk pergi selama-lamanua ke pangkuan Allah.
DEG
Byarr
Kedua mata Alika terbuka lebar. Kembali menatap dada bidang Bilmar yang sedang asik menghentak miliknya. Sejak tadi Bilmar sibuk dibagian ceruk leher Alika.
"Jadi dari tadi kamu tidur, Mah? Aku fikir dari tadi kamu merem tuh karena enak!" decak Bilmar.
Alika mengangguk lalu melenguh. Ia kembali merasakan intinya disentak dengan gerakan maju mundur.
"Bisa-bisanya kamu tuh, kita lagi kayak gini tapi kamu ketiduran." ucap Bilmar protes. Ia terus menatap bola mata istrinya tajam.
"Euhh." Bilmar kembali melolongkan desahan pada mulutnya yang masih menganga. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di leher Alika, menyesap dan menjilatinya dengan pangkal lidah. Rasa indah dalam hasratnya menggulung-gulung tubuhnya.
"Iya, Pah maafin. Gak tau kenapa malah ketiduran ya? Tadi tuh mimpi---Eumm." Alika kembali merintih, ketika suaminya berhasil membuat bulatan kecil berwarna merah di tulang selangka dada.
Bilmar menghentikan esapanya lalu sedikit mendongak. "Mimpi apa kamu, Mah?" tanyanya, dan masih saja menghentak liang kenikmatan Alika. Kedua tangannya sibuk mengepal dua bongkahan batu besar yang masih kencang.
"Enggak, Pah. Gak jadi mimpinya." jawab Alika berubah gugup.
"Mimpi apa?" Bilmar kembali mengulanginya. Ia setengah bangkit, untuk melebarkan kedua paha istrinya, dan kembali memasukan intinya dan menghentak lagi.
"Mimpi apa?" Bilmar tetap ingin tahu. Ia mencium kening istrinya tanpa henti.
"Ayo cepet, Pah. Kita kan mau kondangan ke pernikahannya Dian!" Alika mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya udah jawab dulu tadi mimpi apa? Baru Papa gas cepat." Bilmar tetap ingin kepo. Dan baru saja ia ingin melenguh, tapi Alika keburu menjawab. Membuat konsentrasinya buyar.
"Mimpi Mas Aziz, Pah." jawab Alika sambil menggigit bibir bawahnya. Sontak mendengar ucapan itu membuat Bilmar melongo dan menghentikan lajuan kereta apinya.
"Kenapa dia?" Bilmar mengeluarkan nada bariton nya. Menyalak tajam menatap bayangannya yang ada di dalam netra pekat milik istrinya.
"Gak tau, Pah." Alika berdalih, ia takut jika jujur Bilmar akan mengerang.
"APA?" Bilmar tetap memaksa. Rahangnya terlihat mengencang.
"Mama mimpi lagi ciumann sama Mas Aziz, Pah." Alika menjawab cepat dan memejamkan kedua matanya.
Benar saja kan, Bilmar langsung melotot tajam. Lelaki itu mengumpat dan memaki.
Dengusan napas kasar Bilmar menyisir wajah Alika. Ia embali mencium bibir istrinya, sepertinya bukan mencium lagi, tapi sudah berganti menjadi gigitan. Bilmar kesal tapi gemas. Ia kembali menghentak lajuannya dengan cepat.
Alika kembali meringis. "Sakit, Pah."
__ADS_1
"Biarin! Papa mau hukum kamu, Mah!" seru si lelaki pencemburu itu.
*****
Selama di perjalanan, Alika terus saja menggerutu. Ia kesal karena ulah suaminya beberapa waktu lalu, membuat ia telat datang ke resepsi pernikahan Dian.
Bilmar masih fokus memutar-mutar stir kemudinya. Ia menatap lurus jalanan kosong dihadapannya. Tetap mengantar Alika untuk kondangan ke pernikahan Dian.
Sesekali ia menoleh ke arah istrinya yang masih saja meringis memegangi dada dan bibirnya. Wajah wanita itu mengerut kesal.
"Kenapa, Mah? Masih sakit?" tanya Bilmar dengan gelak tawa singkat.
"Dasar pemerkaoss!" sungut Alika.
Bilmar tertawa terbahak-bahak.
"Sekarang aja bilang pemerkaoss! Nanti pas udah dibawah aja, duh Pah, oh ayo, terus----" Bilmar menirukan suara eluhan Alika yang selalu ia dengar setiap malam.
Alika mendelikan matanya tajam, lalu menghempaskan pukulan di lengan suaminya.
"Masih sakit tau gak!" seru Alika kembali memegangi bibirnya yang terasa masih panas dan bengkak.
"Ya itulah hukumannya! Karena sudah berani memimpikan lelaki lain. Mimpi ciuman lagi, kan anjingg banget." sungut Bilmar kesal, sambil menekan pedal gas.
"Apaan tuh tadi? Papa sebut apa?" Alika menjewer telinga Bilmar.
"Duh ampun, Mah. Sakit."
"JAWAB! Tadi Papa ngomong apa??" Alika semakin mengeratkan jarinya ketika menjewer telinga suaminya yang mulai terlihat merah.
"Burung ... Papa ngomong burung, Mah."
"Awas kamu, Pah. Mama tebas burung kamu sampai BOTAK!" decak Alika dengan mata yang menyala-nyala. Wanita itu kembali duduk dengan tangan bersidekap, lanjut menatap ruas jalan.
"Untung aja cinta, kalau enggak gue sedot lagi tuh bibirnya sampai jontor." gumam Bilmar dengan seringai mirip om-om genit.
*****
Wadidaw gengss, Sassy come back
Dah yah Alika udah aku kembalikan lagi ke Babang Bilmar, sudah masuk musim 2 nih (sudah delapan tahun pernikahan Alika ya)
Rindu nya terobati gak nih? Hari ini dua episode aja ya, yang nungguin Dion dan Nino. Tenang genggs, mereka akan tetap ada disini😂.
__ADS_1