
Dua hari tidak bertemu dengan pujaan hati membuat Bilmar kalang kabut. Alika ijin tidak masuk ke sekolah, dan selama itu ia tidak mendapatkan kabar apapun dari gadis itu. Padahal setiap jam istirahat Bilmar akan pergi menyambangi rumah Alika, karena ia hanya berani diwaktu tersebut.
Jika siang hari orang tua Alika pasti masih berkerja dan tidak ada di rumah, namun Alika hanya membeku didalam rumah sambil menatap Bilmar dari balik figura jendela. Hatinya terenyuh melihat Bilmar yang terbakar sinar matahari karena selalu menunggu dirinya untuk keluar.
Tapi Alika masih sakit hati, ia merasa benci karena sudah dibohongi mentah-mentah. Yang ia tahu Bilmar tidak tulus sayang kepadanya, padahal Alika salah besar, Bilmar sudah mulai mencintainya. Ya, begitulah rasa cinta lagi-lagi datang terlambat.
"Wah Alika cantik banget!" seru Romi ketika melihat Alika baru saja muncul diambang pintu kelas. Gadis itu baru datang dengan penampilan baru.
"Alika udah sehat?" sambung Gilang yang ada di meja pertengahan kelas.
Sontak seruan dari beberapa teman lelaki, membuat Bilmar yang tengah menunduk menatap buku catatannya langsung mendongak. Wajahnya berbinar menatap Alika yang akhirnya masuk sekolah hari ini. Rasanya rasa semangat untuk menjalani hidup yang kemarin sempat menghilang, kini kembali lagi hadir merekah kan jiwanya.
"Widih cantik banget Alika!" Dion pun ikut berseru. Bilmar menoleh ke lelaki itu dengan tatapan tidak suka.
"Jangan dilihatin terus, dia punya gue!" sungut Bilmar.
"Sekarang aja lo bilang punya gue, kemarin lo bilang gak ada rasa, dasar kucing garong, lo!" Dion tertawa.
"Jangan ketawa, jigong elo tuh muncrat!" decak Bilmar.
"Bil, Bil, lihat tuh!" Dion menghentak bahu Bilmar untuk menoleh ke arah jendela. Betapa kagetnya ia banyak anak lelaki yang sedang berjejer menangkup wajah mereka di jendela karena ingin melihat Alika. Semua mata memandang akan tertegun menatap kecantikan yang kini sedang Alika terbarkan.
"Anjingg!" seru Bilmar, ingin ia beranjak dari kursi untuk menghajar mereka semua.
"Jangan! Nanti Alika ilfil lagi lihat kelakuan lo!" ucap Dion menarik paksa agar tubuh itu mau duduk kembali di kursinya.
"Tapi lihat dong mereka, mau godain cewek gue!"
"Mantan, Bil. Lo lupa udah diputusin sama Alika? Emang bener kata pepatah, pacar itu akan lebih cantik ketika sudah menjadi MANTAN!" ucap Dion dengan wajah sumringah.
"Dasar ... Imran!" Bilmar mengusap wajah Dion kasar, lalu bangkit dari kursi sambil membawa buku untuk menghampiri Alika di mejanya.
"Nama Bapak gue, setan!" kelakar Dion.
Bilmar dengan langkah tegap, memberanikan diri menghampiri Alika. Ia berdiri disamping meja gadis itu. Bilmar cukup terpana dengan perubahan penampilan Alika.
Bagaimana tidak, rambut yang sejak kemarin terurai panjang melewati pundak atau yang hanya selalu di kuncir seperti ekor kuda, Kini dipotong dengan model bob sebahu dan poni samping. Memakai aksesoris bando polos berwarna putih sebagai aksen di sana. Membuat Alika begitu terlihat berbeda, sangat anggun dan menawan.
"Kamu udah sembuh, Al?" tanya Bilmar.
"Iya." jawab Alika singkat tanpa menatap. Ia terlihat sibuk karena sedang mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya.
"Kenapa rambutnya di potong?" tanyanya lagi.
Alika mendongak, menatap jelas kedua bola mata Bilmar yang terlihat cekung. Ada kantung mata berwarna hitam di sana, memang selama dua hari ini, lelaki itu sulit untuk tidur. Bilmar terus memikirkan Alika.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Masalah buat lo?" Alika mencebik.
Bilmar kepalang kaget, ia tidak menyangka kalau Alika akan secepat itu merubah panggilannya.
"Kok 'elo', harusnya kamu dong, manggilnya!" titah Bilmar.
"Gue lebih nyaman dengan lo-gue!" Alika kembali menurunkan tatapannya.
"Kenapa sih potong rambut segala?" Bilmar mulai terpancing emosi.
"Emangnya kenapa sih? Masalah?" Alika kembali mengulangi ucapan yang sebelumnya sudah ia ucap.
"Ya masalah dong, semua anak cowok jadi pada godain kamu! Aku nggak sukak lihatnya!" rahang Bilmar terlihat mengeras.
Alika menghembuskan napasnya kasar dan berbalik menatap Bilmar. "Udah ah sana! Bentar lagi guru datang!"
"Ini buat kamu, aku udah nyalin semua catatan pelajaran selama kamu nggak masuk, Al." Bilmar menyodorkan beberapa buku dari tangannya kepada Alika. Alika terlihat terenyuh, ia tersentuh dengan perhatian Bilmar yang tidak pernah ia rasakan dalam sebulan ini, namun fikiran buruknya kembali datang dan Alika malah mendorong buku-buku itu untuk menjauh.
"Enggak makasih! Nanti aku bisa pinjam Bela! Iya kan, Bel?" Alika menoleh ke arah Bela, Bela yang sedari tadi melongo menatap mereka berdua lalu mengerjap kan kedua matanya. Seperti roh nya sudah kembali.
Namun Bela hanya bisa menundukkan tatapan nya, ketika Bilmar menyambut Bela dengan sorotan mata tajamnya, seraya kode kalau Bela tidak boleh meminjamkan catatannya kepada Alika.
"Bel.." seru Alika.
Alika mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan Bela. Dengan cepat ia memutar tatapannya untuk menatap Bilmar kembali, mendelikan matanya secara tajam dan merampas buku itu dengan kasar.
"Ya udah sana!" Alika mengusir Bilmar. Meletakan buku-buku itu dengan berantakan di mejanya. Terlihat gadis itu masih kesal, ia malas berbicara dengan Bilmar.
"Bel, lo pindah dulu ke meja gue, duduk sama si Dion!" perintah Bilmar.
Bela dan Alika kembali mendongak, tanpa menunggu lama Bela mengiyakan dan bangkit untuk bertukar posisi dengan Bilmar.
"Ngapain lo duduk di sini!" tanya Alika kesal.
"Kasar banget sih, Yang, ngomongnya." jawab Bilmar dengan suara sedih. Ia ingin memegang tangan Alika, namun sebelum itu terjadi Alika lebih dulu menarik tangannya untuk menjauh.
"Apaan sih Yang-Yang-an, kepala lo peyang kali, ck!" Alika tertawa mengejek.
"Sebegini cepatnya kamu lupain aku, Al? Orang yang kamu sayang?" Bilmar tetap berusaha untuk menyadarkan Alika.
"Itu kemarin, sekarang enggak! Gue benci sama lo!"
"Jangan gitu dong, Yang."
"Iih! Jangan panggil-panggil gue kayak gitu, gue risih dengarnya!" sentak Alika, ia mencubit lengan Bilmar beberapa kali, namun lelaki itu hanya diam tidak marah. Ia tahu dirinya salah, ia pantas untuk di hukum.
__ADS_1
"Boleh hukum aku apa aja, aku terima kok! Asal jangan putus, Yang. Pokoknya yang kemarin itu TIDAK SAH! Kamu tetap pacar aku!" ucap Bilmar bangga sambil menghentak kan kepalan di dadanya, seraya pejantan tangguh yang kebal akan segala masalah.
"Mimpi lo! Pokoknya hubungan kita udah berakhir!" Alika tetap dalam keputusannya.
"Sore ini pulang aku antar ya, sekalian kita mampir ke bioskop dulu, ada artis favorit kamu lagi main."
"ENGGAK! Sore ini gue mau pulang sama Indra!" jawab Alika tegas.
Satu alis Bilmar meninggi, kelopak matanya terlihat memicing, ia tidak suka dengan apa yang barusan ia dengar.
"Naik sepeda?" Bilmar meledek.
"Ya nggak apa-apa dong, yang penting Indra itu gak pernah merendahkan gue!"
"Nggak ada yang ngerendahin kamu, Al---"
"Udah ah berisik! Sana balik, gue nggak mau duduk sama lo!" decak Alika. Ia kembali merungut, sebisa mungkin ia harus bisa melupakan Bilmar dan tidak kembali masuk kedalam perangkapnya.
"Aku tetap mau di sini sama kamu, Yang."
"Kenapa harus gue sih, Bil. Yang lo mainin? Kenapa lo harus tembak gue, kalau lo hanya ingin nilai gede?"
"Demi Tuhan sekarang aku udah nggak perduli sama nilai gede! Aku mau nya kamu, Al!" Bilmar tetap memaksa.
Alika menatap bola mata Bilmar untuk mencari sisa-sisa kepalsuan, tapi anehnya ia tidak menemukan itu di sana, yang Alika lihat hanyalah kehangatan dan kesungguhan.
Tapi, tidak! Ia masih punya harga diri yang harus ia tegakkan. Tidak boleh luluh hanya karena tatapan Bilmar yang merengek seperti ayam sayur.
"BODO AMAT, pokoknya kita tetap PUTUS!" jawab Alika lugas.
Alika memilih membuka buku pelajaran karena Bu Ratih baru saja sampai di mejanya, dan Bilmar hanya bisa diam. Lelaki itu tidak bisa lagi banyak berbicara untuk meyakinkan Alika.
[Yon, nanti abis istirahat. Lo lepasin satu ban motornya si Indra ya, tapi jangan sampai ada yang tahu, ajak Nino juga. Dua ratus ribu buat lo berdua!]
Ting.
Pesan singkat masuk ke hape Dion.
Bilmar akan melakukan segala cara, apapun itu agar Alika mau kembali dan tidak menempel pada laki-laki lain.
"Kamu itu punya aku, Al!"
*****
Ceuk si Aa Bilmar mah, yang kemarin mah belum sah ceunah😂😂😂, lu kira lagi akad nikah ... dasar Imran! Eh🤪🤪
__ADS_1