
Hati Bilmar kembali temaran. Setelah dua minggu tidak nyenyak tidur, karena hatinya yang selalu gelisah memikirkan Alika. Kini sudah tidak lagi, malam kali ini sudah di pastikan Bilmar akan kembali nyenyak tidur sampai mendengkur lagi.
Bilmar terlihat bahagia karena Ia berhasil mencium pipi Alika sebanyak tiga kali sore ini, saat mereka sedang menonton film di bioskop.
"Papa?" seru Bilmar ketika ia melihat Papa Bayu menuruni anak tangga sehabis dari kamar tidurnya.
"Sini, Nak." Papa Bayu melambaikan tangan kepada putranya. Bilmar dengan wajah gembira bergegas lari lalu memeluk sang Papa.
"Kok pulangnya malam, Nak?" tanya Papa Bayu.
"Biasa Pah latihan basket dulu. Aku kangen banget sama Papa." Bilmar mengalungkan kedua tanganya untuk memeluk leher Papa Bayu, dan sang Papa terus mengusap lembut punggung Bilmar. Mengecup pusaran rambut anak lelaki yang selalu ia banga-banggakan.
"Iya, Bil. Papa juga kangen sama kamu dan Mama."
Bilmar melepas pelukannya dan kembali menatap Papa Bayu.
"Papa sejak kapan sampai dirumah? Terus kapan pergi laginya? Bisa nggak Papa dirumah aja sama Bilmar dan Mama."
Bapak manakah yang tidak akan terenyuh hatinya ketika sang anak memohon dalam kesedihan. Bilmar memang kurang kasih sayang dari Papanya sejak kecil. Itu yang membuat Bilmar menjadi anak yang sedikit tempramental, karena kurangnya didikan dari sang Papa. Lelaki itu selalu bekerja keras untuk melebarkan perusahaanya di kaca dunia.
Maka dari itu Mama Mira menjadi overprotektif menjaga Bilmar, ia harus menjadi Ibu sekaligus Ayah untuk anak lelakinya itu. Jika saja Nino dan Dion bukanlah dari orang yang berpunya. Mereka pasti akan di singkirkan dari kehidupan Bilmar.
"Papa baru sampai tadi siang, Nak. Mungkin Papa akan kembali lagi ke London minggu depan. Makanya kamu sekolah yang rajin, dapat nilai yang bagus. Biar bisa gantiin Papa di perusahaan." jawab Papa Bayu, lalu membawa Bilmar ke meja makan.
"Ayo makan dulu." titah Mama Mira yang sedang menyiapkan makanan di meja makan. Bilmar masih saja bergelayut di dekapan sang Papa.
"Ayo duduk dulu, Nak." Papa Bayu menyuruh Bilmar duduk disebelahnya, Bilmar pun menurut dan menunggu Mama Mira menuangkan nasi di piringnya.
Drrt drrt drrt
Ponsel Bilmar pun bergetar. Merogoh kantung baju untuk meraihnya.
[Kamu udah sampai rumah, Bil?]
__ADS_1
Wajah Bilmar terang benderang, ketika menatap pesan masuk dari Alika. Dengan sigap jari-jemarinya mulai mengetik untuk membalas pesan gadis itu.
"Senyum nya sumringah banget, Nak. Lagi sms-an sama siapa?"
Bilmar terkesiap, ia kaget karena diperhatikan. Buru-buru memasukan gawai itu kembali kedalam saku baju, karena suara deheman Mama Mira juga mulai terdengar nyaring. Wanita itu tahu, putranya pasti sedang berkomunikasi dengan gadis yang ia benci.
"Sama pacar?" Papa Bayu kembali bertanya dengan santai. Sontak mendengar nada hangat seperti itu membuat wajah Bilmar kembali bersinar.
"Ii----"
"Sama temannya, Pah." Mama Mira menyelak Bilmar yang baru saja ingin menjawab. "Enggak boleh pacar-pacaran dulu!" sambung Mama Mira.
"Loh kenapa? Kalau memang ada yang mau sama Bilmar kan enggak masalah, Mah." jawab Papa Bayu. Tentu jawabannya itu semakin membuat hati Bilmar merekah, namun beda hal dengan Mama Mira. Rahangnya mengencang dengan sorotan delikan mata tajam, sungguh mirip seperti Mak Lampir di gunung merapi.
"Papa nih aneh-aneh aja! Mama melarang, tapi Papa malah setuju! Gimana sih, Pah!"
"Loh bukannya bagus? Itu tandanya Bilmar normal, Mah. Papa udah takut aja kalau Bilmar bengkok, soalnya selama ini dia selalu bertiga terus sama Dion dan Nino."
Bilmar mengerutkan kening lalu mencebik. "Gila aja kali masa iya gue homoan ama makhluk astral."
Lalu ia menoleh ke arah Bilmar.
"Kamu harus belajar yang benar! Biar bisa mendapatkan beasiswa itu ke London! Buktiin janji kamu sama Mama dan Papa."
Bilmar menggelengkan kepala. "Enggak, Mah. Bilmar mau sekolah di sini aja." Bilmar mengubah wajahnya dengan tatapan nanar.
Papa Bayu menjadi bingung dengan sikap Bilmar yang mendadak berubah. Padahal dulu, Bilmar selalu semangat jika ingin kuliah di sana.
"Ada apa memangnya, Nak? Kenapa kamu berubah fikiran?" tanya Papa Bayu.
Bilmar beringsut untuk mendekati Papanya, seraya memohon. "Kuliah di sini aja ya, Pah. Jangan di London." Bilmar mengiba. Mama Mira terlihat semakin geram, ia pasti mengira bahwa Alika sudah mengompori nya.
"Kurang ajar si miskin! Berani dia merusak otak anak saya!" decak Mama Mira kesal dalam hatinya.
__ADS_1
"Kamu nih susah banget dibilangin!" Mama Mira ingin mencubit Bilmar namun dihalangi oleh Papa Bayu.
"Apa-apaan sih, Mah. Saya yang biayai dia, tapi tidak pernah sekalipun saya memukul Bilmar! Jangan sekali-sekali kamu memukul dia! Kalau Bilmar tidak mau sekolah di London, Saya tidak keberatan sama sekali!" Papa Bayu berbicara tegas kepada istrinya. Membuat Mama Mira semakin naik darah.
"Papa!" Mama Mira semakin emosi. Darahnya seketika memanas dan mengalir sampai ke ubun-ubun. Ia terus menghela napas kesal. Ingin sekali memukul Bilmar untuk melepas kekecewaannya.
"Ayo, Nak. Naik dulu ke kamar. Mandi dulu lalu ganti baju. Nanti Papa yang antar kan makanan ini ke kamar." titah Papa Bayu.
"Iya, Pah." jawab Bilmar, ia pun berlalu cepat tanpa mau menatap sang Mama. Entah bagaimana Papa Bayu tahu jika sang istri sempat menampar anak kesayangannya karena lebih membela Alika. Sudah dipastikan lelaki paru baya itu pasti akan mengerang penuh emosi kepada istrinya.
"Papa lupa kalau kita sudah menjodohkannya dengan Kannya?" ucap Mama Mira, setelah bayangan Bilmar tidak terlihat lagi.
"Dari awal yang mau menjodohkan Bilmar dan kannya, kan Mama. Papa hanya ikut saja. Tapi kalau Bilmar ingin menentukan pilihannya sendiri, ya apa boleh buat. Kita kan enggak bisa memaksa! Jangan kamu sama-sama kan kehidupan Bilmar dengan kita, Mah!" jawab Papa Bayu.
Papa Bayu memang anak yang berbakti kepada orang tua, dulu ia mau saja dijodohkan dengan Mama Mira oleh sang Mama. Karena Mama Mira merupakan keturunan bangsawan. Tapi untung saja ketika mereka dipertemukan, cinta langsung hadir dan bisa menghadirkan Bilmar di dunia ini.
"Tapi kan akhirnya kita bahagia aja, Pah. Mama yakin kok Bilmar akan mencintai Kannya!"
"Ah sudahlah, Papa malas membahas masalah itu!"
Papa Bayu memilih berlalu meninggalkan sang istri yang sudah membuatnya jengkel. Membawa sepiring nasi untuk anak lelaki nya di kamar.
"Mungkin aku harus mundur selangkah, untuk melompat dua puluh langkah agar bisa menang!"
"Aku akan berdamai dulu dengan gadis kampung itu, agar bisa merayu Bilmar untuk pergi ke London!"
"Setelah semua tercapai, akan aku buang gadis itu ke tempat asalnya!"
"Dasar kumuh .... Gadis yang menjijikan!"
Mama Mira terus saja merancau mengeluarkan kekesalannya.
*****
__ADS_1
See you, besok lagi yaa❣️