
"Ayo lagi, Nak!"
Terlihat satu sendok bubur di dorong begitu saja oleh tangan nya untuk menjauh dari mulutnya. Baru saja suapan ketiga tetapi Bilmar sudah tidak ingin menyantap makanan itu lagi.
"Udah, Mah. Aku kenyang." jawabnya.
"Tapi kata Dokter kamu harus banyak makan, dehidrasi juga katanya. Kamu nih lagi kenapa sebenarnya?" tanya Mama Mira cemas.
Ia hanya ingin anak lelaki itu mengaku tentang apa yang tengah ia rasakan. Mama Mira pun menoleh ke arah Dion yang sedang duduk di sofa tengah melahap makanan siang nya.
"Yon, kamu tau Bilmar kenapa? Ada fikiran yang menganggu nya?"
Bukan menganggu lagi, Mah. Tapi seperti akan membunuhnya sebentar lagi.
Dua netra pekat milik Dion membola sempurna, ia terdiam dengan sekumpulan bihun goreng yang masih menggantung di katupan bibirnya. Melirik sekilas ke arah Bilmar, dan lelaki itu memberikan kode dengan delikan matanya.
"Capek aja sama tugas sekolah kayanya Tante." jawab Dion dan bihun yang belum sepat dikunyah begitu saja tertelan dan jatuh kedalam kerongkongan.
"Benar----?"
"Assalammualaikum ..." suara Mama terhenti ketika ada yang mengucapkan salam dari luar pintu kamar sang anak. Dan mereka sudah hapal siapa pemilik suara itu.
"Benar, Tante." jawab Dion tanpa tergagap.
"Ayo, Al. Sini!" suara Nino masih terdengar sedikit berbisik diluar kamar, kebetulan pintu kamar hanya dibuka sedikit, tidak terlalu lebar.
Krek
Pintu didorong ke dalam dan akhirnya terbuka lebar.
Seketika sudut bibir garis Bilmar terangkat sempurna, wajahnya kembali berbinar. Menatap senyum kepada wanita yang mengekor dibelakang Nino dengan kepala sedikit mendunduk.
Segera ia bangkit turun dari ranjang untuk menghampiri Nino dan Alika.
"Gimana keadaan lo sekarang, Bil?" tanya Nino, tapi Bilmar tidak menjawab. Ia hanya diam menatap senyum ke arah Alika. Rasanya memang betul, kalau di dalam isi kepala lelaki itu hanyalah Alika. Bilmar seperti kembali segar, setelah beberapa waktu seperti ayam sayur.
"Kamu kesini, Al. Jenguk aku?" tanya Bilmar dengan wajah sumringah.
Ya siapa lagi, sih?
Mama Mira dan Dion tak kunjung surut menatap Alika. Mereka berdua terkejut dengan kedatangan wanita ini, terutama dengan Mama Mira. Wanita paru baya itu meletakan terlebih dulu mangkuk bubur di atas nakas lalu melangkah menghampiri mereka berdua.
"Assalammualaikum, Tante." ucap Alika lalu menyalami Mama Mira dan disusul oleh Nino.
"Waalaikumsallam, Nak. Nama kamu siapa? Cantik sekali." ucap dan puji Mama Mira kepada Alika.
"Terimakasih, tante. Nama saya Alika." jawab Alika sopan. Mama Mira termenung lama, ia terus menatap wajah Alika dalam-dalam. Seperti tengah menerawang jauh.
"Kenapa, Mah?" tanya Bilmar lalu menghentak pelan bahunya, ingin menyadarkan sang Mama yang tiba-tiba tergugu.
"Eh---iya sayang." Mama Mira pun tersadar. "Kalau lihat wajah kamu, Tante jadi ingat seseorang." jawabnya diiringi dengan gelak tawa kecil.
Bilmar dan Alika merubah raut wajah dengan penuh tanda tanya.
"Oh tapi enggak kok lupain aja." Mama Mira langsung membuyarkan tatapan mereka yang semakin menuntut.
__ADS_1
"Gadis ini seperti mirip dengan Alisa ..." batin Mama Mira.
Ia masih saja menatap Alika dari pangkal rambut sampai ke ujung sepatu. Membuat Alika sedikit risih, takut dan tidak enak. Ia malu jika penampilannya kurang berkenan. Nino, Bilmar dan Dion pun sepertinya merasakan apa yang Alika rasakan lewat tatapan Mama Mira.
"Mah? Tuh kan bengong lagi." Bilmar menyadarkan wanita pari bayah itu kembali.
"Duh maaf-maaf, jadi ngelamun gini. Tante tinggal dulu ya, Nak. Mau buatkan kalian minum dulu."
"Nggak usah repot-repot, Tante." ucap Alika.
Mama Mira tersenyum dan mengelus bahu gadis itu.
"Nggak repot sama sekali kok, sayang. Ya udah Tante kebawah dulu ya." Mama Mira pun berlalu dari kamar. Dan ke empat orang yang masih tersisa di kamar terus saling berpandangan dalam tanda tanya yang besar.
Dan empat huruf dari dalam hati mereka tentang sikap Mama Mira.
Aneh!
******
Nino menghempaskan dirinya di sofa, ia duduk bergoler disebelah Dion yang kembali melanjutkan makan siangnya.
Nino melirik dengan wajah mencebik. "Si Nino lagi ke Jonggol kayaknya." sindir Nino kepada Dion yang terus melahap makanan tanpa menawarinya.
Dion terkekeh geli. "Roh elo kali yang lagi ke Jonggol. Jangan minta ya, gue lagi laper. Baru makan." keluh Dion.
Memang semenjak ia menunggui Bilmar sampai Mama Mira dan Dokter datang, selama itu pula ia menahan lapar dengan perut yang terus berteriak minta di isi.
"Bagi dikit." Nino meraih sekumpulan bihun dengan tangannya secara bebas. Sampai sesiang ini pun dirinya belum makan.
"Pake segala bilang jorok, lo lupa kalo makan biasanya pake kaki?"
"Kudu di guyur air mendidih nih, bibir lo yang item itu." sungut Dion.
"Lo yang item! Item sih sampai ke gusi-gusi!"
Nino meraih garpu yang ada ditangan Dion dan menggeser piring itu untuk berada dihadapannya. Bihun goreng dengan campuran daging seafood, membuat perut Nino semakin menari-nari.
"Lo tau gak tadi Emak-Bapak lo ke sekolah." ucap Nino sambil memasukan bihun kedalam mulutnya.
"Yang bener lo?" tangan Dion yang hendak mengambil piring bihunnya lagi, langsung terhenti. Ia memegang bahu Nino untuk menoleh dan mencari kebenaran di wajah sahabatnya itu.
"Beneran, Yon. Masa iya gue bohong." jawab Nino santai lalu memasukan lagi sekumpulan bihun kedalam mulutnya, dengan sekali suapan bihun yang banyak.
"Katanya gimana? Terus lo jawab apa? Duh mati nih gue." raut wajah Dion terlihat tegang, ia sudah tahu jika hari ini dirinya akan dibabat habis oleh kedua orang tuanya. Bagaimana tidak, malam sudah tidak pulang dan paginya kembali tidak ditemukan di sekolah. Hati orang tua mana yang akan geram.
Nino terkekeh dalam hatinya, ia terus membohongi Dion dan mengalihkan perhatian sahabatnya itu dari bihun yang sedang ia santap.
Memang jahara si Nino.
"Duh mati deh! Gue bakalan disuruh bersihin kandang Babii lagi nih."
Nino menoleh. "Emang lo jualan Babii juga?"
"Eh enggak, maksud gue, kandang sapi sama kambing." jawab Dion gugup, tentu membuat Nino semakin tidak kuat untuk menahan gelak tawa yang masih ia tahan untuk dikeluarkan.
__ADS_1
Dion yang bingung hanya bisa menghela napas kasar dan menggusar kan rambutnya ke belakang. Walau ia masih sangat lapar, tapi sepertinya ia sudah malas untuk mengunyah. Ia hanya menatap Nino yang terus melahap, tanpa sadar kalau ia sedang di kerjai.
"Gue bisa-bisa di kunyah nih sama Emak dan Bapak! Mana cubitan Emak gue pedes banget lagi, melebihi semut rangrang." Dion membayangi bagaimana perangai orang tuanya yang akan marah besar.
Beberapa detik kemudian, bihun di atas piring pun sudah habis dilahap oleh Nino, dan mengakhiri kunyahan yang masih tersisa didalam mulut dengan segelas air putih yang masih terisi penuh.
Gleg.
"Ah, mantap!" desah Nino diringi dengan suara tekak dari dalam perutnya. "Duh kenyang banget." sambung Nino.
Nino menoleh menatap Dion yang sedang melamun.
"Lo mirip kayak kambing tengil yang bentar lagi mau dipotong tau gak, Ck!" Nino tertawa, lelaki itu kembali tertawa dan tertawa. Menumpahkan rasa senang karena sudah berhasil mengelabuhi temannya.
"Dih congee! Lo bohongin gue ya?" decak Dion. Dengan bodohh nya ia baru tersadar. Nino semakin terkekeh, sambil terus memegangi perutnya karena geli.
Dan Dion semakin tersadar ketika bihun goreng milik nya sudah tertelan habis oleh Nino.
Dion beringsut untuk mencekik leher lelaki itu. "Keluarin ... Beni! Itu bihun gue!" Dion kesal, lalu ia membuka mulut Nino.
"Lak-lakan gue jangan di tojos, Anjingg!" kelakar Nino, lalu ia beringsut untuk mengunci leher Dion dengan lengannya. Dan bergulat lah mereka di atas sofa.
Alika dan Bilmar yang sudah duduk ditepi ranjang hanya tertawa memperhatikan mereka. Lalu Bilmar mengubah tatapannya untuk menatap lagi wajah Alika dari samping. Ia rindu sekali dengan wanita ini.
Dengan sengaja Bilmar membuat Alika menoleh lagi kepadanya, ketika wanita itu merasa tangannya sudah digenggam. Membuat mereka kembali bersitatap.
Saling menatap bola mata masing-masing, Bilmar tidak bisa menahan rasa yang semakin membuncah. Lelaki itu berhambur dengan cepat untuk memeluk Alika.
DEG.
Bola mata hazel Alika terbelalak. Tubuhnya hanya bisa mematung, kedua tangannya masih kaku untuk menyambut pelukan itu. Dagunya sedikit terangkat di atas bahu Bilmar.
Ada isakkan tangis mencuat kembali dari Bilmar. "Aku nggak mau, putus, Al! Nggak mau pokoknya!"
"Hhh ..." desahan napas Alika sepertinya tertahan, karena dadanya mulai sesak. Bilmar terlalu kuat untuk mendekapnya.
"Aku mau kita pacaran lagi, Al." Bilmar terus memohon.
Mengusap lembut rambut Alika dengan gerakan naik turun. Sekilas ia menjauhkan kepalanya dan mengecup kening Alika. Lalu merebahkan kembali kepalanya di pangkal bahu wanita itu. Membuat Alika melongo hebat tanpa bisa berkata-kata. Begitu pun Nino dan Dion yang menatap mereka dengan mulut menganga.
"Benarkah ini kamu sayang?" gumam Alika. Gadis itu tersentak kaget, ia tidak percaya Bilmar akan selembut ini. Sampai menangis pula. Apalagi di sini ada Dion dan Nino, Bilmar sepertinya sudah tidak perduli lagi dengan mereka.
"Pacaran lagi sama aku ya, Al. Aku sayang kamu." pinta Bilmar memohon.
Alika kembali terdiam. Sepertinya sulit baginya untuk menerima Bilmar kembali seperti dulu. Lelaki yang dengan sengaja sudah melempar arang panas untuk menghujam hati dan jantungnya.
Apalagi semenjak Alika masuk kedalam rumah mewah Bilmar. Hatinya semakin menciut, ia merasa dirinya memang tidak sepadan dengan Bilmar. Bisa tidak sih, Bilmar adalah lelaki biasa yang kastanya tidak terlalu tinggi. Semenjak tadi pun Alika menggabung-gabung kan semua itu dengan sikap Mama Mira yang terlihat aneh. Dia merasa wanita paru bayah itu tidak akan menerimanya di dalam hidup Bilmar.
"Tapi maaf, Bil. Aku enggak bisa kayak dulu."
****
Segini aja dulu ya gengss, niatnya hari ini aku libur. Tapi lihat apresiasi kalian dari banyak komenan yang udah terkumpul, aku jadi terharu.
Karena yang buat aku senang, hanya dapat like dan komen dari kalian, gitu aja kok gak susah kan?❣️🤗
__ADS_1