MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Suamiku atau Lelaki itu?


__ADS_3

Semenjak melihat senjata tajam menyembul disaku celana suaminya. Membuat hati Alika resah dan bimbang. Ia sampai memasak mie rebus sebanyak dua kali, karena yang pertama gagal. Fikiran nya terganggu, ia tidak fokus sama sekali.


Terlihat Alika masih duduk tergugu didepan meja kerja suaminya. Ia dengan setia memperhatikan Bilmar yang tengah lahap menikmati mie rebus buatannya.


Srrt


Srrt


"Enak banget makannya, kayak lagi gak ada beban." gumam Alika. Ia sampai ikut menelan saliva, karena merasa tergiur dengan cara makan suaminya. Dirinya bingung mendapati sikap Bilmar yang biasa saja. Seperti orang yang tidak habis melakukan sesuatu hal yang buruk.


Lalu, pistol itu? Alika masih berputar-putar dengan senjata tajam tersebut.


"Mama mau? Sini, Papa suapin." Bilmar menatap Alika dengan mie yang masih mengatung di mulut nya.


Seteguk saliva kembali Alika telan, namun ia menggeleng. "Buat Papa aja, Mama udah kenyang."


Bilmar mengangguk dan kembali melahap mie rebus yang tinggal setengah di mangkuknya. Menikmatinya sampai habis, tidak tersisa satu titik bumbu pun. Setelah sudah selesai, ia menutupnya dengan menenggak air putih untuk membasahi kerongkongannya.


Alika maju sedikit untuk dari duduknya, meraih tissu dan mengelap bibir Bilmar yang basah karena bekas kuah mie dan air putih masih menempel di sana.


"Terimakasih sayang." jawab Bilmar. Alika mengangguk dan kembali duduk dihadapan suaminya. Jarak mereka hanya tersekat dengan meja kaca berwarna gelap.


"Ada apa, Pah? Apa yang mau Papa bicarakan dengan Mama malam-malam begini?" Alika langsung to the point. "Dan kenapa kamu pulang semalam ini, terlebih nya lagi Papa membawa pistol."


Bilmar tidak terkejut, atau pun tersenyum. Ia menatap manik mata istrinya dengan tegak garis lurus. Alika terlihat menciut, ia sedikit menurunkan tatapannya ketika suaminya berubah menjadi garang.


"Papa kenapa? Marah sama Mama?"


Bilmar menggerakan kepala dengan gelengan. Ia memilih menyandar di kursi dengan santai dengan posisi tangan melipat didepan dada.


"Apa Mama masih syok?" Bilmar berbalik tanya.


"Syok?" Alika mengulangi. "Syok kenapa, Pah?" tanya nya pura-pura.


Bilmar melebarkan rahangnya. "Bibir kamu bisa saja berbohong, tapi tidak dengan mata kamu, Mah."


DEG.


"Malah rasanya, aku lebih syok kalau Bilmar tau tentang kejadian tadi siang. Dibanding sikap Zain kepada ku." Alika membatin. Karena ia tahu, sifat seperti apa yang dimiliki oleh suaminya.


Lelaki itu nekat dan setengah gila. Ia akan berubah menjadi hewan buas di hutan belantara, ketika miliknya di usik dengan sengaja.


"Masih bisa menceritakan kejadian ini dengan lelaki biadabb itu?" ucap Bilmar sambil menyodorkan gawai dan memutar rekaman cctv itu kepada Alika.

__ADS_1


Kedua tangan Alika terasa dingin dan bergetar. Iris matanya seperti ingin loncat keluar ketika melihat adegan dirinya yang ingin diperkosa oleh Zain. Dan saat ini rekaman cctv itu ada di gawai pribadi suaminya.


Wajah Alika melongo, bukan karena adegan di sana. Tapi ia bingung dan takut, ketika mendongakkan wajah kembali untuk menatap Bilmar. Ia lebih takut suaminya dibanding perlakuan Zain kepadanya.


"Bagaimana?" nada bariton kembali Bilmar suarakan.


Mau tidak mau, Alika harus menjelaskan dan mendongakkan wajah. "Ampuni Mama, Pah."


"Ini kan bukan salahmu, kenapa harus minta ampun? Bukan seharusnya lelaki itu yang bersimpuh di kakimu untuk meminta maaf?"


DEG.


Jantung Alika semakin berdebar tidak karuan. Ia takut suaminya melakukan hal-hal di batas nalar, dan tentang pistol hitam itu membuat Alika semakin tidak tenang.


"Papa tau dari mana semua ini?"


Bilmar tersenyum sarkas dan beringsut maju ke bibir meja. Menjulurkan tangannya untuk memainkan ujung rambut Alika. "Hanya perkara mudah, Mah. Mama tau kan Papa itu orangnya bagaimana?"


"Jangan macam-macam, Pah! Mama tau, Papa sudah melakukan sesuatu kepada Zain. Kamu enggak bunuh dia, kan, Pah?" nada diujung kalimat terdengar amat memelas.


Bilmar mengubah senyumnya menjadi raut dingin. "Papa akan melakukannya lebih dari itu, Mah."


Alika yang kaget sontak berdiri. Ia menurunkan tatapan untuk menatap legam bola mata suaminya. "Jangan, Pah. Mama mohon."


"Lho, kita kan belum selesai bicara, Pah."


"Masih ada hari esok." jawab Bilmar lugas, tanpa bisa dibantah. Bilmar masih enggan untuk berbicara. Biarlah, nanti istrinya akan tahu secara perlahan.


Dan malam ini, Alika akan tidur dengan rasa was-was yang mendera batinnya. Alika ingin sekali menghubungi Zain, memastikan lelaki itu masih hidup atau tidak. Namun semua itu tidak mungkin ia lakukan. Alika sudah terlanjur murka dengan Zain. Ia hanya takut, suaminya melakukan hal-hal yang dilanggar agama dan negara.


***


Pagi-pagi sekali Bilmar sudah rapih dengan kemeja biru navy dan jas hitam miliknya. Sampai ia meminta Alika untuk memasukan sarapannya kedalam tempat bekal. Ia akan memakannya di jalan untuk membunuh waktu. Karena ia berkata kepada sang istri akan pergi ke Bogor, untuk menghadiri rapat antara kolega di sana.


Tentu melihat Bilmar yang masih bersikap baik-baik saja. Membuat hati Alika sedikit lega. Ia berfikir Bilmar tidak sedang melakukan apapun kepada Zain. Wajah lelaki itu masih tersenyum riang kepadanya. Tidak menunjukan gelagat atau sikap yang aneh. Tapi tetap saja Alika harus waspada, karena ia tahu suaminya itu bukan orang yang gampang melepas musuh dalam sandera nya.


Namun perasaan lega yang kadarnya sedikit itu hanya berlangsung ketika Alika berangkat dari rumah menuju kampus. Karena pada saat dirinya sudah tiba diruangan kerja. Ia kembali mendapat berita buruk dari Kiki.


"Semua pemegang saham mencabut sahamnya, Bu. Kecuali Ibu Siska." ucap Kiki yang masih duduk dengan formal didepan mejanya.


"Lho memangnya ada apa?" namun sebelum Kiki menjawab, Alika kembali berucap.


"Oh maaf, Ki. Mungkin sebelumnya kamu pun sudah tau masalah saya dengan Pak Zain, kan? Saya benar-benar merasa jijik jika mengingat hal itu."

__ADS_1


Kiki mengangguk, ia memperlihatkan rasa sedih nya, mengapa bisa wanita sebaik bosnya mendapatkan perlakuan menjijikan seperti itu.


"Maaf, Bu. Kemarin saya yang menemani Bapak untuk melihat rekaman cctv itu." jawab Kiki jujur.


Alika menghela napas panjang dan mengusap wajahnya. "Ya saya memang sudah menerka itu, Ki. Dan maaf karena suami saya sudah merepotkan kamu."


"Enggak sama sekali, Bu. Saya malah senang."


"Saya kan hanya bermasalah dengan Pak Zain, lalu kenapa Pak Wira, Pak Rahardian sampai Pak Daniel pun ikut mundur?"


Kiki menatap Alika bingung. Dan yang ditatapnya pun sama, mereka merasa aneh dan terus menerawang jauh. Seraya mencari-cari alasan sendiri.


"Apakah Pak Zain mengadukan hal yang tidak-tidak kepada mereka bertiga, Bu?" ucap Kiki.


Alika kembali mendesah kan napasnya berat. Jantungnya menderu-deru tidak karuan.


"Jika iya, itu artinya ia sudah menghasut, Ibu. Dan dengan kasus yang Ibu alami, setidaknya kita bisa memenjarakan lelaki biadab itu ke penjara!" ucap Kiki geram. Ia kembali kesal dengan perbuatan Zain.


"Perbuatannya memang sudah fatal sekali, Bu. Coba saja kalau Ibu tidak bisa bela diri, saya tidak bisa menerimanya, kalau ibu benar-benar di nodai oleh lelaki gila itu!"


Alika menundukkan kepala ke atas meja. Dan melihat bayangannya sendiri di sana. Ia semakin mengutuk kejadian kemarin dengan Zain. Ditambah lagi dengan terkaannya yang tak kunjung surut kepada Bilmar.


Apa yang sudah lelaki itu lakukan dengan pistol, semalam?


"Saya malah bingung, Ki. Siapa yang akan masuk penjara. Suami saya, kah? Atau lelaki itu." Alika masih saja takut dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya kepada Zain.


Kiki terlonjak dengan ucapan Alika. "Maksudnya, Ibu?"


Drrt drrt drtt.


Ponsel Alika bergetar. Ia merogoh tas mahalnya lalu mengeluarkan benda pipih berwarna hitam tersebut dari dalam.


Mendadak bola matanya terbelalak sambil mengucap kata istighfar dengan nyaring tanpa henti, ketika membaca pesan masuk dari Adik Iparnya, Rendi.


[Aku dan Bilmar sedang ada di kantor polisi sekarang]


*****


Like dan Komennya guys, see you again❤️



.

__ADS_1


__ADS_2