
Terlihat tiga lelaki sekawan itu masih tidur saling berpeluk diatas kasur. Kini posisi Bilmar ada ditengah-tengah mereka. Perutnya di peluk erat oleh Dion dan Nino. Dengkuran napas kasar pun mencuat. Selimut yang semalam mereka pakai, sudah terserak di atas lantai karena gerakan tidur mereka yang lasak.
Terusik dengan jam beker yang terus berbunyi nyaring, Nino mengerjap kedua matanya perlahan-lahan. Terlihat matanya masih memerah dan sedikit pusing di kepala. Bagaimana tidak, mereka baru bisa tidur jam empat pagi, dan sekarang terbangun pukul delapan pagi. Itu artinya ia baru bisa menikmati tidur selama empat jam saja.
"Astagfirullohaladzim! Kagak shalat subuh!" seru Nino, dan ia kembali tersentak. "Waduh telat!" serunya kembali dengan wajah cemas.
Dengan nyawa yang baru setengah terkumpul dan tubuh terasa lemas serta perut agak mual karena jam tidur yang kurang, Nino dengan sekuat tenaga membangunkan para sahabatnya.
"Bangun ... bangun!" Nino sedikit berteriak ditelinga mereka berdua.
"Bangun, woy! Udah jam dua belas! Gue ada ulangan geografi hari ini!" decak Nino berdalih, padahal waktu masih menunjukan pukul delapan pagi.
Tak memperdulikan dua sahabatnya yang masih membeku, lelaki itu pun memutar tubuhnya untuk bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Namun sebelum langkahnya masuk ke dalam kamar mandi, Nino menoleh ketika mendengar seruan dari Dion.
"Nin, si Bila sakit! Badannya panas banget." ucap Dion, telapak tangannya masih menempel dikening Bilmar.
"Ah, masa?" Nino pun kembali menghampiri Bilmar, ia merangkak lagi ke atas kasur.
"Bil, Bil." panggil Nino. Ia pun melakukan hal yang sama, yaitu mengecek suhu tubuh Bilmar. "Aduh panas banget! Tuh kan sakit."
"Gegara makan mie buatan elo kali, Yon."
"Ah masa sih? Perasaan yang gue masukin sawi kok bukan rumput." jawab Dion, tanpa sengaja ia terus bercuap air saliva nyya pun terciprat dan menempel tepat didepan lubang hidung Nino.
Nino reflek mendorong wajah Dion untuk menjauh. Menarik kerah baju untuk menutup lubang hidungnya.
"Makan banggke, lo? Bau amat mulut lo!"
Dion terkekeh geli. "Ya wajarlah, namanya juga abis bangun tidur."
"Gue juga abis bangun tidur bau nya gak gitu-gitu amat kayak mulut lo, Yon."
"Bau mulut gue gak penting, nih si Bila gimana? Dia sakit coy! Hubungin Bapak lo aja gimana? Minta di resepin obat." ucap Dion.
"Bapak gue kan Dokter Hewan! Si Bila kan manusia, ada-ada aja otak lo!"
"Eh iya, lupa. Terus gimana nih, Nin?"
"Oh udah pada bangun ya?" Bik Minah yang baru saja muncul di kamar Bilmar sambil membawa baju yang sudah disetrika untuk di susun didalam lemari.
"Bik kenapa gak bangunin kita?" tanya Dion.
"Tadi udah dibangunin sama Mamanya Aden Bilmar, tapi kalian semua gak bangun-bangun."
"Ya udah Bik, bilangin Tante ya, Bilmar sakit nih. Badannya panas." sahut Nino.
"Ya Allah? Kok bisa?" Bik Minah menghampiri Bilmar di ranjang. Ikut memeriksa anak majikannya.
"Ya bisa lah, Bik. Kan Bilmar manusia bukan---" jawab Dion.
__ADS_1
"Ibliss." selak Nino.
"Ya Allah panas banget. Nggak biasanya Aden panas kayak gini." wajah Bik Minah terlihat sangat cemas.
Bilmar juga tidak kunjung membuka matanya, tubuhnya terasa lemas. "Sampai sakit begini aku, karena mikirin kamu, Al." gumamnya. Bilmar tidak butuh Dokter apalagi Obat, hanya Alika yang ia butuhkan.
"Ya udah Bik, minta bilangin Tante suruh ke sini ya." pinta Dion.
"Tapi Mama lagi antar Non Binar ke sekolah. Nanti Bibik telepon dulu ke hape nya ya."
"Iya, Bik." jawab Dion dan Nino bersamaan.
Bik Minah pun berlalu keluar dari kamar untuk menelpon Mama Mira.
"Lo aja deh yang ke sekolah. Mau ada ulangan kan?" tanya Dion kepada Nino. Nino hening sebentar, ia terlihat bingung.
"Udah gak apa-apa sekolah aja sana, pakai baju seragamnya si Bila. Gue di sini aja nemenin dia." Dion menoleh, menatap Bilmar yang mereka anggap masih tertidur.
Nino kembali menatap Bilmar. "Maafin ya, Bil. Gue ke sekolah dulu. Nanti pulang sekolah gue ke sini lagi jengukin elo." ucap Nino. Lelaki itu pun bangkit menuju lemari pakaian dan mengambil seragam Bilmar yang baru tergantung rapih di sana.
"Lah lo kagak mandi?" tanya Dion.
"Kalau mandi dulu lama! Gue ngejar ulangannya aja, nanti abis ulangan gue langsung cabut kesini lagi---Duh celananya kegedean, Yon." keluh Nino. Dion pun bangkit dari ranjang dan menghampiri sahabatnya.
"Di lipet aja pinggangnya, Nin."
"Ini celana bukan sarung, dongoo!" sungut Nino.
"Cepetan cariin, duh udah telat nih gue!!" seru Nino mulai kalang kabut.
Dion pun mendapatkan sebuah gesper hitam mahal milik Bilmar. "Nih pake, awas lecet. Mahal tuh harganya, ama kepala lo aja mahalan ini." ucap Dion.
Taraaaaa
Nino sudah rapih dengan seragam Bilmar yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Walau dalam fisik, lelaki itu sangat berantakan. Dengan rambut yang masih aut-autan, tidak cuci muka sama sekali, tapi percaya diri untuk tetap berangkat ke sekolah.
"Belek elo tuh, elap dulu." decak Dion.
"Eh--iya!" Nino menurut dengan perkataan Dion.
Ia kembali menghampiri Bilmar di atas ranjang dan menatapnya.
"Bil gue berangkat sekolah dulu ya." ucap Nino sambil mengelus lembut bahu sahabatnya.
Tidak menyangka putus cinta dan patah hati akan membuat Bilmar jadi seperti ini.
****
"Sakit?" Alika mengulangi ucapan Nino.
__ADS_1
Mereka berdua terlihat sedang berbicara di daun pintu luar kelas Alika. Setelah ulangan selesai, Nino yang bermaksud ingin langsung pulang ke rumah Bilmar, tapi lebih dulu menyambangi Alika ke kelas. Ia ingin memberitahukan bahwa Bilmar dan Dion tidak masuk. Serta mungkin saja sudah waktunya membujuk Alika untuk mau menerima Bilmar kembali.
Nino mengangguk. "Tadi malam dia nggak bisa tidur sampai pagi. Udah gitu nangis terus bawaannya, lihatin foto lo mulu, Al!"
"Kok bisa sama ya?" desah Alika pelan.
"Hah? Apaan yang sama?" tanya Nino.
Alika terkesiap, ia menggelengkan kepalanya cepat, untuk bersikap biasa, seolah tidak ada hal apapun yang ia ucapkan.
"Apa udah dibawa ke Dokter?" tanya Alika, rasa perhatiannya kembali muncul. Nino pun tersenyum menatap wajah Alika yang tidak bisa berbohong, kalau wanita itu masih mencintai sahabatnya.
"Udah lah, Al. Gue tau kok, lo masih sayang kan sama si Bilmar?"
Alika kembali terdiam. Mengalihkan tatapan matanya ke sembarang arah. Ia benci kenapa terlihat mudah sekali untuk di tebak.
"Tapi dia nggak sayang sama gue, No." ada jeda sedikit dari ucapannya, suara Alika terdengar lirih. Ia mengingat kembali apa yang pernah ia dengar sendiri dari bibir Bilmar kepada Dion.
"Dia hanya manfaatin gue! Yang dia rasain sekarang itu bukan rasa sayang, tapi hanya rasa menyesal! Dia gak enak hati karena udah bohongin gue, No."
Nino sudah menghela napasnya berulang kali, tidak bisa ia bayangkan kalau akhirnya Bilmar akan mencintai wanita yang sangat keras kepala seperti Alika. Padahal wanita itu hanya takut, jika ia akan dipermainkan lagi.
"Memang awalnya salah, gue pun maklum kalau lo benci dia. Tapi sekarang beda, Al. Bilmar tuh sebenarnya udah punya perasaan sama lo, tapi dia nya aja yang gak peka!" Nino terus meyakinkan Alika. Syukur-syukur ia akan bahagia, jika Alika mau mengiyakan ucapannya.
"Makasih deh karena dia udah sayang sama gue. Tapi maaf, No. Bilangin ke dia, gue gak bisa balikan! Titip salam aja, cepet sembuh." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Alika langsung berlalu dari pandangan Nino. Ia tidak mengidahkan panggilan Nino yang kembali menyerukan namanya.
"ANJIRR-LAH! Fiks ini mah, si Bila bakalan jadi gila bentar lagi!!" decak Nino.
Lelaki itu mengecam perbuatan Alika yang sama sekali tidak mau memberi kesempatan kedua kepada sahabatnya. Sebagaimana kita memaksa, jika ada hati yang sudah terlanjur patah dan kecewa. Lalu kita bisa apa?
****
Kembali duduk di kursinya. Menatap lowong papan tulis dengan sorotan datar. Alika terdiam lama. Terlihat gerakan dadanya naik turun, kepalan tangannya memeras kain baju didepan dadanya. Ada hati yang rasanya sedang tertusuk, menghela napas saja pun sulit. Setega itukah dirinya? Membiarkan Bilmar hancur-sehancur-hancurnya?
"Dia lagi sakit, Al. Tega kamu?" begitulah suara hati Alika.
Alika kembali merenung, menatap meja kayu yang ia pijak sekarang. Pergi menjenguk atau tidak. Jika pergi, ia merasa dirinya akan kalah. Tapi, jika tidak pergi. Rasa khawatir memikirkan keadaan Bilmar akan semakin membuncah dan malam nanti sudah dipastikan ia tidak akan tidur nyenyak kembali.
Lalu
Ia pun beranjak dari kursi dan berlari keluar kelas. Mengikuti kata hati yang telah menghianati bibirnya. Berucap tidak ingin padahal didalam hatinya ingin.
"NINO!!" serunya dengan napas tersengal-sengal.
Nino yang sudah berjalan melewati lorong sejauh sepuluh meter dari posisi Alika, pun menoleh ke belakang. Seketika raut wajahnya berbinar, ia tahu Alika tidak akan setega itu.
*****
Udah dua episode dihari ini ya guys, oiyaa info ya besok aku libur up❣️, tapi kalo komennya diatas 100, nanti aku pikirin🤭😛.
__ADS_1
bbye semua, salam rindu dari trio mesum pasukan maria ozamah🤗🤗