
Kedapatan tengah berpelukan membuat Alika dan Bilmar gelagapan setengah mati. Seperti pencuri yang tengah ketakutan akan di pukul oleh masa.
Mereka berdua sontak berdiri, memutar tubuh untuk menatap Mama Mira yang sedang membungkukkan badan untuk meletakan nampan berisi minuman diatas meja. Dimana meja tersebut berhadapan dengan sofa yang tengah di duduki oleh Nino dan Dion. Tidak ada lagi gelak tawa dari mereka berdua, Nino dan Dion pun ikut hening, mereka ikut tidak enak hati kepada Mama Mira.
Bilmar menghela napasnya pelan, bola mata hazel nya menyorot lurus mimik wajah sang Mama, apakah wanita itu akan marah atau tidak. Pun sama dengan Alika, jantung nya bergemuruh, hatinya terus saja mengumpat. Ia menyesali mengapa begitu bodohnya terlena dengan pelukan Bilmar. Walau tadi ia hanya diam dan Bilmar yang memeluknya, tetap saja di hadapan Mama Mira, mereka saling memeluk.
"Loh kok pada diam? Ayo diminum."
Akhirnya napas kelegaan mencuat dari wajah mereka. Lebih utama Bilmar dan Alika yang terlihat mengelus dada, karena merasa terselamatkan hari ini. Serasa leher bebas dari cekikan. Menarik kuat-kuat oksigen dari udara untuk dihembuskan beberapa kali. Nada suara Mama Mira begitu lembut, senyum diwajahnya pun tidak surut. Seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
"Al---" Mama Mira seraya mengingat nama Alika yang sempat terlupa dari kepalanya.
"Alika namanya, Mah." selak Bilmar kembali. mengingatkan.
"Oh iya, Alika." Mama Mira mengulangi. Alika pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mama mulai menghampiri Alika dan Bilmar yang masih berdiri di tepian ranjang. Lalu duduk di sana.
"Ayo sini duduk dulu, Tante mau kenalan sama kamu, Nak." Alika pun duduk disebelah Mama Mira, dan Bilmar melangkah menuju sofa dimana kedua temannya berada. Pemuda itu memandang lurus, dan menunggu. Apa yang ingin Mamanya tahu dari Alika.
"Alika sekelas dengan Bilmar?" pertanyaan pertama yang dikeluarkan oleh Mama Mira.
Tatapan wanita itu terus saja hangat, namun tidak dengan Alika. Ia masih saja grogi dan gugup. Jika tahu akan malu seperti ini, ia pasti akan langsung meminta pulang sebelum ada insiden peluk memeluk. Jangan ditanya, saat ini wajah Alika sudah memerah seperti tomat.
"Iya, Tante."
Mama Mira terus memperhatikan body langue Alika. Cantik, putih, kulit yang mulus, rambut yang sehat, serta seragam yang bersih dan rapih. Tentu ia bisa menebak kalau Alika bukanlah anak dari kalangan menengah kebawah.
"Kamu tinggal di cluster apa, Nak?" Mama Mira memilih langsung menebak.
Alika sedikit kikuk. "Maksudnya rumah saya, Tante?"
__ADS_1
Satu alis Bilmar terangkat naik. Kedua matanya memicing, sepertinya ia tidak suka dengan pertanyaan awal yang terlontar dari bibir Mama Mira kepada Alika.
"Iya dong, masa rumah orang." Mama Mira tertawa singkat. "Kamu nih bikin gemes aja, untung cantik." puji Mama Mira.
"Di Perkampungan Mahoni, Tante." jawab Alika pelan.
Entah mengapa ia merasa malu menyebutkan asal muasal dimana ia tinggal selama ini, jika saja Mama Mira tidak langsung menebak dengan menyebutkan rumah-rumah mewah, pasti Alika tidak akan punya perasaan seperti ini.
Mama Mira merespon jawaban Alika, dengan gerakan bibirnya yang berbentuk huruf O. Tampak sekali raut wajahnya tercengang, ia tidak akan menyangka bahwa tebakannya bisa meleset. Seketika ia merasa bulu-bulu dipermukaan kulitnya meremang. Mungkin ia alergi dengan orang-orang miskin.
"Orang tua kamu kerja dimana?" Mama Mira kembali melemparkan pertanyaan yang lebih mendalam.
Kini wajah Bilmar terlihat semakin tidak suka.
"Papa saya hanya karyawan pabrik, dan Ibu saya Perawat di Rumah Sakit, Tante." jawab Alika dengan suara halus dan apa adanya. Ia menjawab sejujur-jujurnya.
"Kamu kalau ke sekolah pakai apa? Bawa mobil pribadi?" Mama Mira semakin menjadi. Entah apa maksudnya, ia sepertinya sengaja ingin membuat Alika malu dan menyerah untuk mendekati anaknya. Harga diri Alika begitu saja tercecer jatuh diatas lantai, apalagi di kamar ini bukan hanya dirinya seorang, tapi juga ada Nino dan Dion.
Alika menggelengkan kepala. "Enggak Tante, saya pakai angkutan umum."
Mereka menerka setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut Mama Mira bukan sebuah percakapan santai dalam perkenalan. Tapi sebuah intimidasi untuk mencari-cari perbedaan kasta diantara mereka.
Bilmar pun bangkit dan kembali melangkah menghampiri sang Mama dan Alika yang masih duduk di tepian ranjang. Ia tahu Mama Mira sudah kelewat batas.
"Mah, aku mau anterin Alika balik ke sekolahan ya. Soalnya Alika udah terlalu lama di sini, nanti dicariin guru." Bilmar berdalih. Ia menoleh menatap Alika dan memberi gerakan pada matanya untuk mau menurut.
"Iya Tante, Alika pamit dulu ya." Alika sepertinya bisa membaca, kalau Bilmar tidak suka dengan sikap Mama Mira kepada dirinya.
"Loh kok tiba-tiba pulang? Alika kan baru saja sampai, makan siang juga belum. Di sini dulu ya, kita makan siang bersama." pinta Mama Mira, wanita paru bayah itu masih saja bersikap lembut padahal jauh di sudut hatinya ia merasa kecewa, karena Bilmar bisa jatuh cinta dengan gadis biasa, yang perbedaanya sangat jauh seperti langit dan bumi.
"Nanti gampang, Mah. Bisa beli dijalan." jawab Bilmar.
__ADS_1
Bilmar berlalu untuk membuka lemari dan mengambil jaket yang masih tergantung wangi di sana. Lalu ia gunakan untuk menutup tubuhnya dari hawa dingin jalanan nanti. Meraih kunci motor di atas nakas, kemudian melangkah lagi menghampiri Alika.
"Tapi kan kamu juga masih sakit, Nak." Mama Mira sekuat mungkin untuk menahan Bilmar agar tidak pergi. "Badan kamu juga masih hangat." wanita itu meletakan punggung tangannya di kening Bilmar.
"Udah enakan kok, Mah." jawab Bilmar datar dengan sikap yang mulai dingin. Mama Mira tahu kalau sang anak tengah merajuk kepadanya.
"Ayo, Al!" Bilmar menggandeng tangan Alika.
"Sebentar, Bil." Alika melepas gandengan tangan tersebut. Ia pun membungkuk untuk mencium tangan Mama Mira.
"Alika pamit dulu ya, Tante." ucap Alika hangat, sopan dan tetap tersenyum. Ia tahu dirinya sudah direndahkan, tapi ia tahu Mama Mira adalah wanita paru bayah yang harus tetap dihormati.
"Makasih ya sudah mau menjenguk Bilmar. Padahal kayaknya Nino sama Dion bisa kok antar kamu lagi ke sekolah." jawab Mama Mira dengan senyuman manis nya yang palsu. Mama Mira masih saja menghentak hati Alika agar Alika tahu, kalau dirinya tidak suka Bilmar pergi mengantarnya.
"Mah." seru Bilmar untuk menghentikan ucapan sang Mama yang semakin menusuk. Dengan jelas Bilmar tahu, kalau Mamanya tidak menyukai Alika.
"Benar apa kata Mamamu, Bil. Aku bisa pulang dengan Nino dan Dion." ucap Alika.
"Iya, Bil. Kita berdua siap." dua sahabatnya menjawab cepat.
Bilmar hanya mendelik tajam kepada mereka, seraya kode untuk diam, dan tidak menambah-nambah kan masalah. Ia kembali menggandeng Alika dan membawanya keluar dari kamar.
Nino dan Dion hanya bisa diam tanpa berkomentar apapun, apalagi melucu seperti biasa. Karena ia tahu suasana sedang genting. Mereka sudah bisa menebak, kalau Mama Mira tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka.
"Saya tau, anak saya mencintai kamu, Alika. Tapi Maaf sayang ... Bilmar tetap milik Kannya. Perjodohan mereka akan tetap terlaksana. Bilmar harus menikah dengan istri yang sepadan dan jelas bibit, bebet dan bobotnya." gumamnya dengan rahang yang mulai mengeras.
Karena kaum Priyayi harus kembali bertemu dengan Priyayi.
Mama Mira kembali terbayang-bayang ucapan Ibu Mertuanya kepada Alisa, Istri dari Kakak Iparnya, 17 tahun yang lalu.
****
__ADS_1
Makasih yaa aku terharu, kalian tetap menuruti apa kemauanku hehe. Padahal aku lagi nge-flu guyss. Tapi buat kalian aku kembali. Sehat terus kalian semua ya. Semoga belum bosen sama cerita mereka di Musim satu.