MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Dunia Khayal.


__ADS_3

Lima bulan berlalu pasca perkara dengan Zain serta para lelaki yang ikut bergabung dalam penanaman modal cabang kampus di Bandung kepemilikan Alika Artanegara. Setiap Alika ingin mengontrol pembangunan kesana, sang suami pasti akan setia menemaninya. Bilmar tidak tanggung-tanggung untuk merogoh kocek puluhan miliaran untuk pembangunan gedung.


Tidak masalah baginya, yang penting istri tercintanya senang, aman dan tentram. Tidak akan lagi berkaitan dengan para lelaki hidung belang atau pun orang luar. Bilmar ingin, Alika mendapatkan keuntungan sendiri.


Bilmar memilih beberapa kontraktor handal dan pekerja bangunan yang cekatan agar pembangunan bisa cepat terlaksana, karena ajaran baru akan segera dimulai untuk mahasiswa-mahasiswa baru.


Hari ini, walau pembangunan sudah jadi 95%. Alika tetap mengadakan acara syukuran, sambutan pembukaan dan potong pita. Beberapa dosen-dosen pilihan, perwakilan dari jajaran kementerian kesehatan, pendidikan, jajaran pejabat daerah semua di undang dan hadir dalam acara ini.


Di atas mimbar, atau lebih tepatnya di balik podium. Istri cerdasnya tengah memberikan kata-kata sambutan, dalam pidato yang sudah ia susun sejak semalam.


"Cantik sekali istriku ..." gumam Bilmar. Ia duduk dideretan orang-orang penting. Karena saat ini, ia datang bukan hanya sebagai suami yang sedang menemani istri. Tapi juga sebagai Direktur utama, pemegang saham terbesar di kampus ini.


"Saya ucapkan juga rasa terimakasih kepada suami saya, karena berkat sumbangsihnya pembangunan kampus ini bisa berjalan lancar dan tepat ... makasih, Pah." lembut sekali untuk didengar. Saking bahagia, Bilmar beranjak berdiri dan merentangkan kedua tangan seraya bangga kepada dirinya sendiri.


Khalayak yang sudah memenuhi kursi melemparkan dirinya dengan tepuk tangan renyah sambil tertawa karena lucu. Alika meringis malu, tidak terpikir dalam benaknya. Suaminya akan seperti itu.


Uuh, malu sekali dirinya.


"Terimakasih ... terimakasih ... terimakasih." lelaki itu merancau kan seruan kata terimakasih berulang-ulang dengan percaya dirinya.


Bilmar sampai menoleh ke belakang menatap semua penjuru mata yang sedang memandangnya. Bilmar seperti hal nya Jarjit yang akan berlari masuk ke kelas dengan rancauan handalnya 'Marvelous ... marvelous', ya sepeti itulah lelaki ini sekarang.


Alika menggelengkan kepala samar, hatinya dag dig dug tidak karuan. "Harusnya, tadi Mama enggak usah sebut aja nama Papa! Kalau jadinya begitu." rintih nya dalam hati seperti orang yang ingin menangis. Alika merungut lain hal dengan Bilmar yang semakin tebar pesona. Benar-benar lelaki itu, mempunyai rasa percaya diri diatas rata-rata kaum manusia di bumi.


"Makasih, Mah ..." jawabnya kepada Alika dengan wajah yang masih sumringah Lalu kembali duduk di atas sofa. Alika menghela napas pelan, untuk menetralkan rasa malunya.


"Papa ... Papa, ada-ada aja!"


Jika saja saat ini, ada Maura dan Ammar. Sudah dipastikan kedua anak itu pasti akan masuk kedalam kolong kursi. Betapa percaya diri sekali Papanya.


***


"Kayaknya di sana harus digantung foto Papa, Mah." Bilmar menunjuk dinding kosong didalam ruangan yang akan dipakai meeting. Saat ini ia sedang duduk berhadapan dengan Kiki dan Alika.


Kiki yang sedang diskusi dengan Alika di meja rapat, sontak mendongak dan menoleh ke arah tunjukan jari suami bosnya. Alika membelalakkan mata lalu memiringkan sudut bibir. "Itu kan tempat buat taro foto Presiden dan Wakil Presiden, Pah. Ada-ada aja ah, kamu tuh!"


Kiki langsung membekap mulut karena gelak tawanya akan membuncah.


"Maafin ya, Ki."

__ADS_1


"Udah biasa ya, Bu?" tanya Kiki kembali mengulas senyum. "Bukan biasa lagi, saya udah khatam." bisik nya pelan.


Dua wanita itu pun tertawa. Menertawakan Bilmar yang masih saja percaya diri dan paling 'sok ganteng.


Ya .. tapi, emang ganteng, sih. Duh.


"Mungkin bisa di letakan dibawah foto mereka nanti, Mah." Bilmar tetap kokoh.


"Sekalian nanti Mama kasih kalung bunga-bunga matahari di sekitar fotonya."


"Lah ... kayak Almarhum dong?" Bilmar kaget.


"Pah, ini tuh ruangan rapat. Mau wajah kamu di pertontonkan?"


"Ya, demi kebaikan. Kenapa tidak?" jawabnya dengan wajah jenaka.


"Kebaikan apa sih?" Alika mengusap wajahnya gusar. "Udah, Ki. Biarin aja. Biarin suami saya sibuk dengan dunia khayalnya." Alika kembali menunduk ke beberapa berkas yang membentang di hadapannya bersama Kiki.


Kiki terus saja menggelengkan kepala, menahan gejolak tawa yang mengocok perutnya.


"Biar semua orang tau, kalau Mama itu sudah bersuami. Takut-takut nya ada karyawan kamu yang oleng. Karyawan cowok, apalagi masih muda."


"Iya udah kalau gitu. Tapi foto Papa, akan Mama letakan juga di sekitar sudut kampus,enggak adil dong masa di ruangan ini doang."


Bilmar memiringkan sudut bibirnya. "Bau dong! Masa orang lagi buang hajat yang dilihat wajah Papa?"


"Haha." Kiki tertawa nyaring. Sudah tidak tahan wanita itu menahan semburat tawanya yang ingin ia ledakan sedari tadi. Terus tertawa sampai Alika dan Bilmar bergantian menatap Kiki dengan kerutan di dahi.


Seakan melihat Malaikat pencabut nyawa, Kiki langsung diam seribu bahasa lalu menunduk.


"Mati gue, di pecat nih---dipecat!" serunya dalam hati.


Alika dan Kiki kembali menatap berkas. Kadang beralih ke layar laptop. Bilmar masih duduk dengan kedua tangan terlipat di dada. Ingin ia naikan kakinya ke meja, tapi ia sudah tahu sang istri pasti akan berteriak.


"Ayo kita pulang, acaranya kan juga sudah selesai." Bilmar mulai bosan. Lelaki itu beranjak bangkit dari kursi lalu melangkah menuju jendela yang bisa menatap langit dan suasana jalan raya dari atas sini.


"Makanya tadi enggak usah ikut." Alika menjawab dengan wajah kecut.


Bilmar bergumam tidak jelas. Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu, apa yang sedang ia umpat untuk istri tercintanya.

__ADS_1


"Mah ..."


"Apa lagi?" Alika mendongakkan kepala.


"Papa mau pup." cicitnya manja. Baginya Kiki sudah menjadi bagian hidup mereka, tak ada malu lagi lelaki itu. Tidak usah susah-susah menjaga Image.


"Di pojok sana!" Alika menunjuk ke arah sudut. "Untuk apa sih bertanya, kan sudah kelihatan dan ada namanya di sana 'TOILET'!" sambung Alika. Ia kembali menundukkan kepala kepada helaian berkas.


"Anterin, Mah. Biasanya kalau toilet baru gitu, suka ada penunggunya."


Istrinya mendongak, menatap tajam manik mata Bilmar. "Mau di anterin?" tanyanya dingin.


Bilmar meringis dengan tawa nyeleneh. "Iya."


"Tapi buka celananya di sini ya, nanti Mama anterin ke kamar mandi."


Kiki dan Bilmar menautkan alis, mereka kaget bukan main. "Di sini?"


"Lagian aneh-aneh aja! Emang kamu Ammar, minta ditemenin terus ke kamar mandi kalau malam?"


"Iya---iya." Bilmar berlalu menuju toilet. Lelaki itu memang selalu bereuforia kalau gedung baru pasti banyak setannya. Bukan hanya itu, ia memang hanya bercanda saja tadi.


Dan, tak berapa lama.


"Mah ...." seru lelaki itu lagi.


Alika mendesahkan napas. "Astagfirullahalladzim, apalagi, Pah?" Alika ingin sekali menjangguti rambutnya. Karena Bilmar terus saja menggangu konsentrasinya.


"Enggak ada air, Mah!"


Alika tidak memperdulikan. Bodo amat katanya. Sudah kesal dirinya. Lelaki itu terus saja berceloteh seperti burung beo.


"Bu, Bapak manggil."


"Biarin aja, saya tau suami saya lagi drama."


Tidak tahu saja Alika, kalau suaminya sudah panas dingin di atas kloset. Mana tombol push tidak jalan dan selang pun tidak mengeluarkan air. Lengkap lah. Haha.


***

__ADS_1


Yaelah si Jarjit, apes banget pas beoll lagi adeuhh🤪😂



__ADS_2