
Trio banditt masih setia bertengger diatas panggung. Menebar pesona yang mereka miliki. Walau usia mereka sudah diatas tiga puluh tahun, tetap saja aura ketampanan tidak usang oleh waktu.
"Om yang pake baju batik, senyum kesini dong." seru sekumpulan abege di sudut kanan panggung yang sedang cekakak-cekikik ke arah Bilmar.
"Dokter Nino, senyumnya manis banget." bisik-bisik mereka terdengar di bagian sudut kiri.
"Om yang pake sarung, tunjukan dalamanmu!" teriak para abege lain ditengah-tengah panggung yang lurus menatap Dion.
Para abege yang kebanyakan perawat muda-muda. Mereka adalah junior di Rumah Sakit, dimana Dian bekerja.
"Tunjukan pesonamu, dong. Masa dalamanmu--Nanti si Camar lepas." balas Dion tertawa tanpa mic. Ia masih saja memainkan gitar mengiringi suara Bilmar yang sedang giliran bernyanyi.
Nino terkekeh geli, dan kemudian kedua alis Dion dan Nino menaut saling bertubrukan.
"Eh bandott! Lo salah lirik!" sentak Nino kepada Bilmar.
"Jadi liriknya cinta monyetnya Goliath, sih!" sungut Dion.
"Eh iya. Sekarang mau lagu apa? Kaki gue udah capek dari tadi ngegitar---"
"Bah, bukannya lu ngegitar pake gigi?" timpal Nino.
Dan disela-sela musik yang masih hidup, mereka tertawa bersamaan.
Alika, Hana dan Dara masih terlihat jutek. Mereka semua melipat kedua tangan di dada dengan tatapan malas.
"Awas kamu, Pah. Mama jepret burung kamu nanti pakai karet!" kelakar Alika.
"Papi bener-bener ya, enak-enakan ngegitar! Liat aja, Mami rontokin nih bulu ketiaknya nanti!" decak Hana sambil menghentakkan kakinya di atas tanah.
"Kak Dion ngebetein ya! Istrinya lagi bunting gini, dia masih aja enak di goda! Awas kamu, Kak! Aku bilangin Enyak!!" gerutu Dara.
Ya begitulah awok-awokan para istri. Wajar jika mereka cemburu, namanya juga yang menggoda para daur muda yang ibaratnya cabai rawit kecil, merah dan baru meletek. Sungguh cantik, pedas dan menggemaskan.
"Udahan yuk, Bil. Yan. Itu Hana udah melotot." bisik Nino.
Bilmar dan Dion mengubah tatapannya ke arah Hana. "Eh iya hampir meletus mukanya, nahan panas." ucap Bilmar dengan gelak tawa.
"Lu jangan ketawa, Bil. Tuh si Alika juga cemberut aja dari tadi. Keteknya panas banjir kayaknya." jawab Nino.
"Biarin lah gue emang sengaja. Lanjut! Kalau perlu 40 lagu ampe subuh." Bilmar berdecis.
"Udahan aja deh. Kasian binik gue tuh, kayak pengen nangis. Gawat kalau beranak sekarang, Bila! Lo mau gue duda lagi!" decak Dion.
Baru saja ia bersikap seperti eronmen bilang sengaja untuk memanasi Alika kepada Dion dan Nino.
Nyatanya.
Brug.
__ADS_1
Bilmar langsung melepas gitar dari tubuhnya dan langsung terjun ke bawah panggung lalu melesat pergi untuk mengejar istrinya. Alika melangkah pergi dengan kekesalan yang bercokol di hatinya.
"Emang yak si biawak. Sok berani, giliran Alika pergi aja---" Nino langsung menghentikan ucapannya, secepat kilat ia juga bergegas turun dari panggung, merengkuh Hana yang juga beranjak pergi.
"Mami ..." seru Nino kepada Hana.
Dan kini tinggallah Dion yang memberikan senyuman manis kepada sang istri yang sedang melangkah menuju panggung sambil mengelus perut buncitnya.
"TURUN, KAK!" Dara melepas sepatunya dan bersiap untuk mendaratkan benda itu ke tubuh suaminya.
"Ehhh ... Iya, Dek. Nih Kakak turun sayang."
*****
Brug.
Pintu dibanting kasar oleh Alika, ia menghempaskan dirinya di kursi samping pengemudi. Merungut dan menggerutu dengan posisi bersidekap.
"Sayang ..." seru Bilmar ketika ia sudah sampai didalam mobil. Beringsut untuk mendekati istrinya yang sedang merajuk.
"Jangan marah dong---" Bilmar berhenti, ketika Alika menoleh dengan tatapan bola matanya yang tajam.
Bilmar terkekeh meledek. "Mama cemburu ya?"
Alika mendengus malas dan mencubit perut Bilmar. Lelaki itu seketika meringis.
"Papa sengaja?" Alika melotot tajam, ia terus melintirkan tangannya di permukaan kulit perut Bilmar yang masih tertutup kain baju.
"Iya? Sengaja kan? Tebar pesona? Sama anak abege? Mentang-mentang aku udah tua?" decak Alika kesal. Sekesal-kesalnya ia menumpahkan amarahnya.
"Papa hanya nyanyi, Mah. Gak maksud kayak gitu, beneran ... Akhh!" Bilmar kembali mengerang ketika sang istri kembali mencubit perutnya, kini gerakannya lebih sakit dibanding sebelumnya.
"Siapa suruh kamu nyanyi?"
"Ah ... Sakit, Mah!" Bilmar terus meraung karena Alika tidak sama sekali mengendorkan cubitannya.
"Si Imran dan Beni yang ngajakin, Mah." jawab Bilmar.
"Siapa tuh Imran dan Beni??" Alika melongo, akhirnya Bilmar bisa bernapas lega karena cubitan Alika sedikit mengendur.
"Itu, Mah. Bapaknya Dion dan Nino." jawab Bilmar diselingi kekehan.
"Bener-bener ya, kurang ajar bawa-bawa nama orang tua kamu!" Alika kembali melepaskan cubitan diperut Bilmar dan tentunya semakin panas.
"Ampun, Mah! Nanti perut Papa bolong!" Alika yang sejak tadi merungut malah jadi tertawa.
"Eh, ketawa sih? Lucu emang?" tanya Bilmar dan bodohnya Alika mengangguk dan masih tertawa. Dengan kekuatan Alika yang sudah mengendur. Bilmar tanpa ampun langsung menggulingkan Alika untuk berbaring di kursinya.
"Pah, mau apa?" Alika melotot.
__ADS_1
"Bentaran aja, biar kamu nya diem. Nggak marah-marah lagi!" jawab Bilmar sambil menurunkan resleting celananya.
Dan sesaat kemudian mobil mereka terlihat bergoyang-goyang. Bilmar kembali berpeluh diatas tubuh istrinya. Karena Bilmar tahu, Alika akan berhenti merajuk ketika ia lemas. Dan Bilmar menyukai hal itu.
Satu jam kemudian, Bilmar kembali menghampiri Dion dan Nino ke dalam taman.
"Lah, balik loh? Gue fikir lo udah pulang, Bil." tanya Nino sambil memegangi telinganya yang terlihat memerah.
"Napa kuping lo? Kuning gitu." jawab Bilmar dengan senyuman meledek.
"Di jewer dia sama Hana." sahut Dion.
"Enggak usah ngeledek, lo! Muka lo juga tadi kan ditabok pake sendal sama Dara." decak Nino.
"Kasian ya lo berdua, dipukulin." Bilmar tertawa.
Kening Dion dan Nino mengerut. Mereka merasa aneh, mengapa Bilmar terlihat senang dan biasa saja.
"Bukannya tadi Alika ngambek, Bil?" tanya Dion.
"Awalnya sih, tapi sekarang udah enggak." jawab Bilmar tertawa sarkas penuh kemenangan.
"Hebat lo! Lo apain Alika bisa nggak ngambek lagi? Hana aja masih cemberut tuh." jawab Nino.
"Iya, Bil. Dara aja masih kesel, males katanya lihat muka gue."
"Kalian tuh emang gak pernah seberuntung gue." Bilmar tertawa.
"Aneh lah, lo apain sih?" Nino kembali bertanya. Merek terlihat penasaran.
"Sini ... Sini, gue bisikin." Bilmar merentangkan kedua tangannya untuk membuat lingkaran kecil bersama Nino dan Dion.
Dan tak lama kemudian, setelah Bilmar menjelaskan. Ia langsung lari dengan langkah seribu. Menghindari berbagai pukulan yang akan ia rasakan dari kedua sahabatnya. Nino dan Dion masih saling menatap dengan mata yang berkali-kali mengerjap.
"Gue balik duluan ya! Dahh---" Bilmar kembali menoleh dalam beberapa jarak dan melambaikan tangan ke arah mereka. Ia masih tertawa menatap Dion dan Nino yang masih dilanda kebingungan.
"Maksudnya tadi apaan sih gue kagak ngerti, Yan." decak Nino, sambil menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Spend the night in the bush?" Dion mengulang ucapan Bilmar beberapa saat lalu.
"Bermalam di semak-semak? Maksudnya?" Nino mengartikan kalimat bahasa Inggris itu.
Lalu kedua mata mereka melotot hebat.
"Emang lakhnat, si Bila, indehoy di mobil!" seru mereka berdua, lalu menoleh ke samping ingin memaki Bilmar namun sayang mereka hanya mendapati angin kosong yang berhembus dibawah langit malam bermandikan sedikit bintang.
*****
Udahan yak kondangannya, besok kita masuk lagi ke kehidupan nyata Bilmar dan Alika❤️
__ADS_1
Like dan Komennya dong yang banyak, aku kasih dua episode nih hari ini.