
Seminggu berlalu. Papa Bayu sudah kembali ke London, dan tinggal lah Bilmar dan Mama Mira di rumah. Sang anak selalu menghindar dan sedikit menjauh. Ia takut Mamanya kembali memarahi dan memukulinya.
Ia tetap bersikeras untuk tidak akan ke London, dan Papa Bayu menyetujuinya. Namun Mama Mira tidak kehilangan akal, ia harus tetap membuat Bilmar mengemban ilmu di London dan menikah dengan Kannya.
Karena saat ini keluarga Kannya sedang tersohor, menjadi keluarga yang sangat diperhatikan, mempunyai banyak perusahaan di dalam maupun di luar negeri. Terlebih lagi mereka adalah keluarga dari sesama bangsawan.
Terlihat Bilmar mengedikkan pangkal bahunya karena kaget. Kedua matanya yang baru saja terpejam, kemudian mengerjap cepat. Ia menoleh ke belakang, ada sang Mama yang sedang mengelus bahunya, terlihat di tangan kanannya menggenggam segelas susu.
"Minum dulu susumu, Nak." titah Mama Mira. Bilmar menelisik bola mata Mamanya untuk mencari-cari apakah pancaran api kekesalan masih bertahta di sana atau tidak.
"Ayo minum dulu." Mama Mira menyodorkan gelas susu itu kepada putranya. Bilmar mengangguk dan meraihnya, menenggak isinya sampai habis.
Mama Mira mengusap sisa-sisa susu yang menempel di sekitaran bibir Bilmar. Lalu beringsut untuk memeluk putranya.
"Maafin Mama ya, Nak. Mama keras begini karena sayang sama kamu, Bil. Mama ingin kamu mendapatkan yang terbaik." ucap Mama Mira. Mengusap lembut punggung anaknya.
"Iya, Mah. Maafkan Bilmar karena sudah membangkang."
Mama Mira melepaskan pelukannya, dan menangkup wajah anaknya. "Kamu sayang sama Alika?"
Bilmar menautkan kedua alisnya, ia merasa aneh, mengapa nada suara Mamanya terdengar sangat lembut dan hangat ketika menyebut nama gadis itu.
Bukannya beberapa hari lalu, ia memaki nama Alika berulang-ulang?
"Iya, Mah. Aku menyayanginya." jawab Bilmar pelan. Ia masih saja takut. Khawatir jika Mama Mira akan mengerang. Wanita paru bayah itu pun tersenyum. "Kalau memang sayang kenapa wajahnya begitu?" Mama Mira memegang ujung dagu anaknya.
"Mama enggak akan marah sama kamu, kalau kamu jujur."
"Iya, Mah. Bilmar sayang sama Alika. Sayang banget."
Melihat sang anak begitu mencintai Alika, membuat dada Mama Mira pedih seraya tertusuk. Sejujurnya ia benci mendengar hal itu. Terasa muak dan mual, ketika putranya menyebut nama gadis kampung yang tidak selevel dengan dirinya.
"Ingin sekali aku mencuci otakmu, Nak!" Mama Mira geram dalam hatinya. Ia tetap memberikan senyuman hangat.
"Apa yang membuat kamu suka dengan Alika, sayang?"
Samar-samar sudut garis di bibirnya terangkat. Ia menatap atap kamar dengan wajah berbinar. Alika memang candu untuknya, semua yang ada didalam diri wanita itu sangat menawan hatinya.
"Alika itu sempurna, Mah." Bilmar menyunggingkan senyum. Bola matanya menunjukan kilat-kilat cinta. Dan Mama Mira benci menatapnya.
"Sempurnanya bagaimana?" tanyanya kembali.
"Alika itu baik, perhatian, cantik dan cerdas, Mah. Alika selalu menjadi anak berprestasi disekolah. Bahkan kemarin, ia baru saja memenangkan perlombaan olimpiade Fisika sekabupaten. Dan yang lebih jeniusnya lagi, Alika menjadi salah satu kandidat untuk mendapatkan beasiswa ke London."
Dua bola mata Mama Mira membola sempurna. Wajahnya tercengang, kepalanya mengangguk-angguk.
"Cerdas sekali ya." ucap Mama Mira tergugah.
"Besok kita ajak makan Alika ya, gimana? Mama mau kenalan sama dia lebih dalam."
Bukan nya curiga, tapi Bilmar malah antusias. Ia senang karena Mamanya mulai menerima Alika. Tidak ada terbesit di fikirannya kalau sang Mama sedang memulai drama jahatnya.
"Beneran, Mah?" tanya Bilmar dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Iya sayang, besok pas istirahat ya. Mama jemput kalian."
Saking bahagianya, Bilmar langsung memeluk Mamanya. "Makasih ya, Mah." suaranya begitu senang membahana.
"Orang miskin kayak kamu sok belaga mau kuliah di luar negeri. Mau ngemis kamu di sana?" Mama Mira menghina Alika dalam benaknya.
****
Bel istirahat pertama sudah berbunyi. Terlihat Bilmar masih mencatat pelajaran yang sedang Alika tulis di papan tulis untuk para teman-temannya.
Dion yang masih menulis pun tak kuasa untuk menoleh ke belakang karena bau makanan yang menusuk indera penciumannya.
"Ngapain lo ngendus-ngendus kayak gitu! Kayak tikus tau gak." sungut Evi ketika melihat lubang hidung Dion bergerak-gerak.
"Bukan tikus! Tapi lutung!" sahut Bilmar tertawa sambil tetap menulis.
"Berbulu dong! Lihat nih kulit gue mulus."
"Mulus, tapi bersisik terus item." sambung Evi.
"Kayak lo enggak item aja." dengkus Dion kepada Evi.
"Walau item tapi gue manis, hahaha." gelak tawa Dion terdengar nyaring. Membuat para temannya yang masih setia di kursi dan Alika pun menoleh ke arah mereka.
"Gak apa-apa sayang, biasa nih si bulu." ucap Bilmar menunjuk Dion. Alika ber oh saja.
"Pede lo! Lu tuh pahit, nyamuk aja nggak sudi gigit darah lo!" Evi terus saja menghina.
"Setrika dulu muka lo, biar putih!" balas Evi.
"Jadi tengkorak dong, aneh-aneh aja lo. Jadi gemes gue." Dion terus saja menggoda Evi. Namun wanita itu malas membalas godaan Dion, dia hanya mendiamkan saja dan memulai untuk menyantap bekal makan siangnya.
"Wih sedap nih bekalnya." Dion kembali menggoda. Air liurnya seperti ingin tercucur. Dirinya tergugah dengan terong balado yang ada dikotak bekal makan gadis itu.
"Ngapain sih lo?" sungut Evi tidak suka, ia mengulang pertanyaan yang sudah ia ucapkan.
"Bokerr! Ya ngelihatin lo makan dong." jawab Dion dengan senyum merekah, Dion tetap saja menggoda Evi.
"Nanti kuman yang ada didalam tubuh lo, nempel di makanan gue, Yon."
"Jahat banget sih, Vi. Baru aja makan terong lembek udah sombong lo, gimana lo makan terong berdaging, wkwkwkw." Dion terkekeh geli membuat Bilmar terpancing untuk ikut tertawa.
"Eh! Apaan tuh terong berdaging! Dasar jorok lo!" Evi menghentak bahu Dion dengan buku tulis. Lelaki itu beranjak dari kursi dan kabur keluar kelas sambil tertawa terbahak-bahak, dan Evi terus mengejarnya sampai entah kemana.
Bilmar pun terkekeh. "Makan tuh si item, suka juga kan lo!" Bilmar meledek Dion.
Cinta memang seperti itu, bisa datang yang dimulai dengan leledekan, lama-lama berubah menjadi rasa suka dan nyaman. Begitupun Alika dan Bilmar, cinta mereka dapat hadir, tengah-tengah persaingan.
Alika meletakan kembali spidol di pinggiran list papan tulis, lalu memutar tubuh untuk menghampiri Bilmar yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.
"Sini sayang." Bilmar menepuk-nepuk bangku kepunyaan Dion.
"Ayo kita makan siang, Bil." ajak Alika
__ADS_1
"Kebetulan Mama ingin mengajak kita makan siang bersama sekarang."
"Makan siang bersama?" Alika mengulangi pertanyaannya. "Maksudnya sama aku?" Alika menunjuk dirinya.
Bilmar mengangguk sambil menyampirkan helaian rambut Alika yang menutupi pipinya ke belakang telinga. Wanita itu menawan dengan giwang putih yang melekat di sana. Alika kaget, ia terlihat kikuk. Seketika jadi tidak nyaman untuk duduk di kursi.
"Kenapa, Al? Bokong kamu bisulan?" Bilmar berdecis geli.
Alika tidak menghiraukan bercandaan itu. Ia terlihat meringis sambil menggigit bibir bawahnya. Tercetak jelas raut takut di wajahnya.
"Enggak usah takut ya, Mamaku baik sayang."
Alika menggerakkan kepalanya dengan anggukan pelan. Menghentak-hentakkan buku-buku jarinya di meja. Ia bingung, ingin menolak saja atau bagaimana.
"Bagaimana jika Mamanya Bilmar ingin mempermalukanku lagi seperti kemarin ya?" Alika bertanya-tanya dalam benaknya.
"Ada kah rencana yang ingin ia susun untukku?" kecurigaan menyerbak di hatinya. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat seraya mengusir terkaan yang tidak baik.
"Jangan dulu berprasangka Alika, dia kan Mamanya kekasihmu---Ayo hormatilah!" suara hatinya menggema.
Mengingatkan ia untuk tidak menerka yang tidak baik. Lalu lamunannya terbuyarkan ketika rasa geli terasa di permukaan balik tangannya.
I LOVE BILMAR
"Ih kamu tuh, tangan aku dicoret-coret gitu, Bil."
Bilmar tertawa. "Lagi siapa suruh melamun? Biarin kayak gini, biar mereka tau kamu punya aku. Jadi gak akan ada lagi yang ngegodain!"
Alika mendengus. "Kan seluruh rakyat sekolahan udah tau, Bil."
"Lah buktinya kemarin si Martin, anak IPS 4 goncengin kamu pas dateng." decak Bilmar kesal.
"Itu kan gak sengaja aja, angkot yang aku tumpangi mogok. Terus dia lewat dan ngajakin bareng."
Bilmar mencebik. "Alasan aja kamu tuh." padahal tanpa setahu Alika, sorenya spion motor Martin di buang satu. Ia kesal karena lelaki itu dengan beraninya menggoceng kekasih hati berdempetan di motor. Bilmar banyak melakukan dosa selama berpacaran dengan Alika, ia terus memberikan pelajaran kepada lelaki yang ingin mendekati kekasihnya, walau tidak disengaja ataupun disengaja. Baginya semua itu sama rata.
"Ya kan emang gitu kenyatannya. Gak mungkin kan aku minta tolong kamu. Jalanan kita kan gak searah."
"Apa di jidad kamu juga harus ditulis I LOVE BILMAR ya?"
Alika mendelikan matanya lalu melepaskan cubitan panas di lengan Bilmar. "Jangan ngaco!"
"Tapi kamu sayang kan sama aku?"
"Tadi malam kamu udah nanyain ini empat puluh kali. Pengang telinga aku dengarnya!" Alika berdecak malas. Menyeret bola matanya jengah.
Bilmar hanya tertawa dan menjawil dagu Alika. "Ya udah yuk kita tunggu Mama didepan pintu gerbang sekolah aja. Biar Mama enggak nunggu lama."
Entah drama apa yang akan dimainkan Mama Mira.
*****
Like dan Komen ya guyss.
__ADS_1