MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Ingat Papa dan Anak-anak, Mah!


__ADS_3

Minggu ketiga di setiap bulan. Sang Presdir akan mengadakan rapat dengan para pimpinan cabang Eco Group. Semua akan dikumpulkan menjadi satu di meja rapat, untuk menjelaskan tentang keuntungan setiap cabang, pembahasan masalah jika ada dan solusi bersama untuk meningkatkan EG agar lebih berkembang dalam perindustrian Indonesia.


Si tampan yang akan menginjak angka kepala empat dua tahun lagi itu masih saja terlihat gagah dan rupawan. Hari ini ia mengenakan jas biru navy, dalaman kemeja berwarna biru muda dan dasi yang senada dengan jas.


Rambutnya licin dan mengkilap. Harum farfum yang ia kenakan sangat menggulung ruangan. Dan semakin manis, dengan bulu-bulu halus di sekitar jambang sampai ke dagu.


Bilmar mirip sekali dengan Warintorn Panhakarn, aktor sekaligus pemain bola di negara Thailand.


Wajah dan postur tubuhnya sangat di gilai para karyawan wanita maupun kolega. Disela-sela rapat gelak tawanya renyah sekali, karena ia berhasil menciptakan suasana rapat yang frendly.


Selama ia mengabdikan diri kepada Eco Group, banyak yang berubah dengan sikapnya dalam hal memimpin. Bisa sedikit menahan emosi, ketika ia menemukan beberapa masalah di awal pada saat pembahasan di meja rapat berlangsung.


Walau perubahan rasa sabar yang ia miliki, masih dalam proses tertata-tatah. Bagai seekor liliput yang tengah melangkah. Tapi semua itu sudah bisa diacungkan jempol untuk seorang lelaki posesif yang mudah marah seperti, Bilmar Artanegara.


"Mana ada sih baja karat? Ada juga baja besot." Bilmar menyanggah penjelasan dari pimpinan cabang lima EG dengan gelak tawa renyah.


Semua mata memandang penuh tanya. Baja besot, maksudnya?


"Kayaknya kebalik, Pak." sahut pimpinan cabang tujuh EG dengan nada amat sopan, dan ia kembali bertutur. "Mungkin yang maksud Bapak itu. Mana ada sih baja besot? Palingan juga karat."


Bilmar hening sesaat kemudian tertawa.


"Cerdas! Padahal saya itu hanya lagi ngetes kalian aja. Siapa di sini yang fokusnya masih ON."


Bilmar si cerdas dan licik seperti kancil. Tidak akan mau begitu saja di salahkan, walaun secara terang-terangan ia memang sudah salah ucap. Apalagi dibuat malu seperti tadi. Dimana harga dirinya? Haha.


Semua pimpinan cabang EG saling melemparkan pandangan lalu manggut-manggut seperti anak itik yang sedang di giring masuk kedalam riaknya air sungai.


Ketika ia ingin melemparkan pertanyaan lagi kepada pimpinan cabang lima EG, kedua netra pekat miliknya, teralihkan begitu saja kepada layar gawainya yang tiba-tiba terang benderang di atas meja. Ada notifikasi pesan masuk.


[Assallammualaikum, Pak. Kiki mau kasih tau, kalau sekarang Ibu sedang di klinik kampus. Satu jam lalu, Ibu jatuh di kamar mandi. Ibu minta Bapak datang.]


Bola mata Bilmar membeliak tajam yang di iringi dengan degup jantung yang berantakan. Tiba-tiba tapakkan kakinya teras lemas. Menciut dan lemah. "Astagfirullahalladzim." serunya nyaring.


Semua mata lagi-lagi memandang Presdirnya dengan tatapan cemas dan bingung.


"Ada apa, Pak?" tanya Katherine, yang ikut panik. Pak Adit pun memberikan pertanyaan yang sama.


"Istri saya mengalami musibah. Mohon maaf, saya tidak bisa menjalani rapat sampai selesai."

__ADS_1


Dan semua orang ber oh panjang dengan yang disertai kalimat istighfar. Mereka tidak berani untuk bertanya lebih dalam.


"Mau saya antar ke Rumah Sakit, Pak?" Pak Adit menawarkan.


Bilmar yang keringatnya tiba-tiba muncul dengan deras, langsung menggeleng dengan tatapan masih ke layar gawai. "Tidak usah, Pak. Terimakasih. Tolong Pak Adit yang meneruskan rapat. Dan kamu, Kat, tolong buat resume-nya."


Pak Adit dan Katherine mengangguk dan berkata siap. Bilmar segera berlalu dengan langkah panjang setelah mengucap kata pamit kepada para hadirin di meja rapat dan mereka mengucapkan hati-hati di jalan.


[Tolong tenangkan istri saya, Ki. Saya sudah mau on the way kesana]


Bilmar membalas pesan tersebut sambil melangkah menuju lift untuk turun. Ia khawatir sekali, raut wajahnya saja sudah dingin dan tegang.


Apalagi Alika mempunyai riwayat LBP, dan ditambah dengan kejadian jatuh di kamar mandi. Bisa dibayangkan bagaimana kesakitan yang tengah wanita itu rasakan.


***


Satu jam kemudian, Bilmar sampai di kampus istrinya. Ia berlari menyusuri lorong kampus untuk masuk ke dalam Klinik. Dengan langkah blingsatan, ia menghampiri ke pembaringan istrinya.


Benar saja, Alika sedang menangis. Rasa sakit disekitar pinggangnya masih belum hilang dan pasti akan lama hilangnya, walau ia sudah diberikan suntikan anti nyeri.


"Papa ..." lirihnya. Alika langsung menjulurkan tangan dengan lemah untuk meraih tubuh suaminya yang baru sampai. Semua dosen-dosen, perawat dan Dokter yang memeriksa, serta Kiki pun menjauh. Mereka bergeser untuk memberi ruang kepada lelaki itu.


Bilmar menggenggam tangan istrinya erat. "Iya sayang, Papa di sini." jawabnya dengan napas yang terengah-engah. Berlari dari parkiran sampai ke Klinik, membuat tubuhnya kacau dan tubuhnya terasa dingin.


Alika semakin menangis. "Sakit banget, Pah."


Oh, ya Tuhan. Bisa tidak jika sakitnya ia gantikan saja? Bilmar mengucap kalimat itu beberapa kali didalam mulutnya. Ia sungguh tidak tega. Ia juga bingung harus bagaimana sekarang?


Alika hanya bisa berbaring, untuk menggerakkan tubuhnya saja belum bisa. Tadi sempat ia paksakan. Namun tidak jadi diteruskan karena rasanya sangat linu, pedih dan sakit.


Apalagi dirinya jatuh dengan posisi terduduk. Sungguh, hal itu adalah pemicu. Saat ini telah terjadi penekanan pada lumbal sehingga menyebabkan kompresi dan merangsang kembali kambuhnya LBP yang Alika derita. Padahal sudah dua bulan ini, penyakit itu tidak kambuh. Dan Bilmar sangat bersyukur karena bisa bermain cinta terus menerus per dua malam dengan istri terkasihnya.


Bilmar menoleh kepada Dokter. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


"Harus dibawa ke Rumah Sakit besar, Pak. Untuk menjalani MRI, dan harus diperiksa oleh Dokter Rehabilitasi Medik. Dikarenakan benturan ini sudah mengganggu ruang gerak Ibu."


Mendengar penjelasan itu, Bilmar menghela napas dan hanya bisa mengangguk. Ia pasrahkan saja semua kepada Dokter yang penting istrinya bisa sembuh.


"Baik kalau begitu. Ki, tolong siapkan semuanya." titah Bilmar kepada Kiki. Mereka semua pun undur pamit dari Bilmar dan Alika.

__ADS_1


Bilmar membungkuk. Meletakan kedua lengan di sisi kanan dan kiri istrinya. Menatap bidadari hati yang tidak berhenti merintih, meringis dan menangis. Bilmar kecup kening Alika yang terasa sangat hangat di bibirnya.


"Sabar sayang ... Aku di sini temani kamu." lembut sekali dan meneduhkan. Dikecup lagi kening istrinya berulang-ulang. Tidak perduli banyak yang mata yang memperhatikan.


"Sakit, Pah." air matanya terus tumpah. Setiap perutnya bergerak karena tarikan napas, pinggangnya kembali nyeri. Dan nyeri yang dirasakan sangat hebat.


Bilmar mengusap wajah Alika yang amat berpeluh dengan sapu tangannya, diringi dengan tiupan angin yang ia hembuskan dari mulutnya ke sekitaran wajah Alika agar istrinya itu tidak gerah. "Istighfar sayang, biar sakitnya sedikit reda. Ayo." titah Bilmar.


Alika mengangguk. Wanita itu mulai memejamkan kedua matanya kemudian beristighfar. Tak kuat menahan lama, Alika kembali meringis sambil mengigit bibir bawahnya.


"Jangan di gigit, nanti bibir Mama berdarah."


Alika kembali mengangguk dan menurut. "Ayo tarik napas terus keluarin."


Alika mencoba, namun dipertengahan jalan ia menggeleng tidak kuat.


"Buat napas aja sakit, Pah." rasanya Bilmar ingin menangis. Ia tidak sanggup melihat wanita baik ini menahan sakit seperti itu.


"Mama enggak tahan, Pah ... mendingan mati aja kalau kayak gini." Alika menangis lagi.


Bilmar melototkan matanya. "Enggak boleh ngomong kayak gitu!" kaget sekali lelaki itu. Berarti Alika memang betul-betul remuk. Sampai wanita itu mau menyerah dengan rasa sakit nya sekarang.


Apa tadi katanya? Memilih untuk mati saja? Jangan macam-macam, Al. Bilmar bisa bunuh diri jika ditinggal oleh kamu.


LBP kronis memang penyakit yang sangat menyakitkan. Bilmar tidak masalah, acara yang sudah ia susun untuk nanti malam, begitu saja gagal. Yang penting istrinya sembuh.


Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kesembilan. Bilmar sudah menyiapkan candle light dinner di restauran hotel berbintang dan rencananya mereka akan menginap malam ini di sana. Maura dan Ammar sudah Bilmar ungsikan di rumah mertuanya.


Tidak tanggung-tanggung ia sudah menghadiahkan bra dan kain segitiga dengan harga jutaan rupiah untuk istri tercinta nya. Bilmar ingin Alika memakainya nanti malam.


Namun manusia hanya bisa berencana, tetap saja Semesta yang memutuskannya. Dan malam ini, mungkin Bilmar akan merayakannya dengan iringan keluhan sakit yang istrinya rintih kan sepanjang malam di Rumah Sakit.


"Ingat Papa dan anak-anak, Mah! Sabar, Mama pasti sembuh."


Bilmar kembali mengecup kening istrinya. Dan Alika semakin menangis.


***


Kasian Mama Alika😢

__ADS_1


Kita lihat gimana Bila ngurusin istrinya ya, besok🌺🌺



__ADS_2