MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Sayap Pelindungku.


__ADS_3

Alika Pov.


Hujan deras mengguyur perjalanan kami menuju rumah. Sudah pukul tujuh malam tapi kami masih di Bogor. Jalanan begitu macet, di tambah lagi ada kecelakaan lalu lintas yang membuat jalanan di malam senin ini semakin terasa padat.


Aku tau suamiku itu lelah. Harus mengemudikan mobil dengan kecepatan pelan, karena mengikuti kecepatan mobil didepan kami.


Namun wajahnya terlihat begitu bahagia, ia masih saja bersenandung sambil makan kacang atom kesukaannya. Sesekali menarik wajahku ke wajahnya dan kami akan berciuman. Begitu saja terus menerus.


Tentu saja kita melakukan itu pada saat kedua anak-anakku sudah tertidur pulas. Ammar tidur pangkuan Kakaknya, menghadap ke perut dan memeluknya.


"Tidur aja dulu, Mah. Biar nanti sampai rumah, kamu bisa segar lagi." ucapnya padaku. Ia tertawa pelan.


Aku mengerutkan kening untuk mencerna ucapannya. Apa tadi katanya? Segar lagi? Bukannya kalau sampai rumah, kita semua akan langsung berisitirahat?


"Maksudnya gimana?" tanyaku sambil memiringkan posisi duduk dan menatapnya lebih jelas.


Terlihat ia mengambil sebutir kacang atom dan dimasukan kedalam mulutnya, kemudian beringsut cepat ke arahku. Memasukan kacang atom itu dari mulutnya ke mulutku.


Mataku terbelalak, ingin mengumpat namun tertahan karena kacang atom itu belum aku kunyah. Bilmar tertawa.


"Papa kangen Mama ... Malam ini Papa ingin." jawabnya, sambil mengelus rambutku dan mengecup kening.


Kan, apa ku bilang? Suamiku ini memang tidak pernah jauh-jauh dari hal itu. Mungkin saja selama seminggu ini, dia sangat tersiksa.


"Mau kan, Mah?" tanyanya, ia kembali memperhatikan jalan. Bilmar Begitu memohon. Ingin ku kecup bibir itu, tapi jika aku lakukan. Ia pasti akan hilang kendali, bisa saja menepikan mobil di kemacetan dan mempoloskan tubuhku saat ini juga.


Aku mengangguk. "Iya, Pah."


"Mama juga ingin, kan?"


Kalau ditanya seperti itu, bisa tidak, sih. Aku bilang inginnya besok malam saja? Malam ini tubuhku penat sekali. Tapi melihat suami yang memohon senang seperti itu, aku tidak sampai hati untuk menolak. Biarlah, nanti aku akan nego untuk minta satu kali putaran saja dengannya.


Haha. Aku tergelak tawa dalam hati, memang begitulah suamiku, tidak kenyang hanya satu kali permainan.


"Iya, Pah. Mama ingin ..."

__ADS_1


******


Tidak tahu waktu saat ini sudah menunjukan pukul berapa. Tebakanku pasti sudah dini hari. Dan aku masih terkulai dibawah kungkungan Bilmar.


Aku sudah bernego kepadanya, untuk meminta sekali saja. Nyatanya setelah ia berhasil mendarat, nego ku yang sudah ia sepakati. Begitu saja terhempas, ia seperti orang yang terkena amnesia. Tidak ingat.


Sepertinya malam ini adalah malam pembalasan dari nya karena selama seminggu kemarin aku selalu menolaknya. Dosa yang jarang sekali aku lakukan selama aku hidup dengannya.


Terakhir aku menolak kemauannya ketika ia meminta haknya disaat aku masih saja merasa takut setelah kelahiran Ammar. Namun karena paksaan darinya, membuat aku mau tidak mau harus melakukannya walau pada saat itu rasanya sakit sekali.


Tapi untuk seminggu ini berbeda. Aku berani menolaknya secara mentah-mentah. Hati ku pun miris. Karena aku tahu malaikat akan mengutuk seorang istri sampai subuh, jika malamnya menolak untuk melayani suami, dan aku tahu karena kekecewaanku itu membuatku berdosa berhari-hari.


"Euh ..." beberapa kali lolongan desahan terdengar mencuat dari bibirnya. Bersama peluh yang membasahi wajah, leher dan permukaan dadanya. Ia tidak berhenti tersenyum sambil berbisik tepat ditelingaku.


"I love you so much."


"I love you too." aku membalasnya.


"Papa kangen senyumanmu, jika kita sedang seperti ini, Mah." ucap Bilmar padaku dengan gerakan masih maju mundur di atas tubuhku.


Aku tahu dia marah, tapi sepertinya ia mewajari, karena aku sedang kecewa. Setelah malam itu, aku selalu menolak keinginannya untuk bercintaa sampai seminggu berlalu.


Ah, aku memang berdosa sekali.


"Ehem ..." aku hanya mengangguk sebagai respon kepadanya. Kembali memejam kedua mataku, untuk menikmati sentuhan dan sentakan dari nya. Dan tidak munafik, aku memang merindukan aktifitas ini dengannya.


Tubuhku rasanya sudah sangat lengket. Kita sudah lama sekali menyatukan kulit. Rasa pegal dan pias terasa disekitar kaki sampai ke paha. Aku sudah pasrah jika tubuh ini harus dibolak-balik dengan bermacam gaya. Aku sudah ikhlas lagi, aku tahu Bilmar sedang menuntaskan hasrat yang sempat ku bekukan kemarin.


Aku terkadang merasa kurang percaya diri, dengan stamina yang terbilang pas-pasan aku harus tetap menguatkan diri untuk melayaninya diranjang sampai Bilmar sendiri yang menyudahinya.


Ia kembali menurunkan kepalanya ke bawah, aku fikir ingin menyentuh inti ku lagi. Tapi ternyata tidak, ia menciumi bekas luka operasi caesar pasca aku melahirkan Bilka dan Abrar, bayi kembar kami yang sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.


Kembali ia bangkit dan bersitatap denganku lagi. "Ini yang terkahir ya, habis itu kita istirahat."


Dengan cepat Bilmar mengegas tekanan pada pusat tubuh milikku. Seketika itu pula ia membekap mulutku dengan lumatann dari mulutnya ketika ia tahu aku akan mencapai klimaks.

__ADS_1


Ia tidak mau suara desahanku mengaung keras di udara. Dan akhirnya kembali aku rasakan tembakan cairan hangat menerpa dalam pusat tubuhku.


Ini adalah putaran ke empat. Bilmar sudah menyerah. Rasa puasnya sudah tercukupi.


"Semoga jadi anak lagi ya." ucapnya tersenyum lalu mencium keningku.


Dan seperti biasa setelah kami sama-sama mendapatkan pelepasan. Bilmar akan berbaring terlebih dulu diatas ku. Merebahkan kepalanya di ceruk leherku. Aku akan mengunci tubuhnya, mengelap basahan keringat yang sedang menebar di sekitaran permukaan kulit punggungnya.


"Makasih ya, Mah. Udah biarin Papa pulang lagi." ucapnya dengan nada haru dan senang.


Tapi berbeda denganku, aku malah merasa sedih. Istri macam apa aku, membahagiakan suami hanya dengan cara seperti ini saja sulit aku lakukan seminggu kemarin.


Rasanya aku ingin menyembah sujud dan mencium kakinya. "Maafin Mama ya, Pah. Mama kemarin udah salah."


Samar ku dengar dia tertawa singkat dan menjawil daguku setelahnya. "Iya, Mama memang berdosa. Malaikat mengutuk Mama selama seminggu." timpalnya.


"Tapi apakah sekarang Papa sudah ridho?" tanyaku.


"Iya sayang sudah-sudah." Ia mengangkat wajahnya sedikit untuk mencium pipiku.


Ah, tenang hatiku, lega jiwaku. Sebenarnya bukan hanya masalah karena aku kecewa dibohongi olehnya, karena aku tahu aku pun salah.


Tapi ada masalah lain yang ikut-ikut membuat suasana hatiku menjadi ruwet. Masalah kampus, mahasiswa, para sahabatku dan sikap arogan serta posesif dari lelaki yang sudah aku nikahi delapan tahun ini.


Bilmar melepas penyatuan kami dan berguling di sebelahku. Terasa aroma napasnya masih saja memburu. Berkali-kali ia berhasil terbang ke puncak kebahagiaan. Dan aku merasa tenang karena diriku tidak lagi menolaknya.


Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh kami. Dan tidur memunggunginya. Bilmar kembali memelukku dari belakang, kecupan hangat terus ia layangkan di permukaan bahu ku yang polos.


"Ayo tidur, Mah. Besok kita harus kerja lagi." aku mengangguk dengan senyuman lalu memejamkan kedua mata. Kami saling bergenggam jari erat-erat. Dan aku pun melangkah ke alam mimpi bersama sayap pelindungku, Bilmar.


******


Bikin part ini, kok kaki aku kayak terasa cekat-cekot gitu ya, eh----kok kaki sih? Hati dong!😂🤪


Like dan Komen ya guyss❣️

__ADS_1


__ADS_2