
"Kakak ... Kakak ..." bisik Ammar tepat ditelinga Maura. Gadis itu sudah terlelap dengan guling di dekapan nya. Sesekali mengulum senyum tipis karena sedang bermimpi.
Mereka sudah tiga hari dua malam, menginap di rumah Kakek Luky. Ammar yang tadinya ingin tidur bertiga dengan Maura dan Gadis, tidak diperbolehkan oleh Kakek mereka.
Sudah dua malam Ammar tidur bersama Kakeknya. Anak itu sungguh kesusahan kalau ingin ke kamar mandi. Sikap jelek Ammar memang belum bisa hilang. Ia takut kalau ke kamar mandi sendirian.
Padahal jarak kamar mandi dengan ranjangnya sangat dekat, namun ia lebih memilih ke kamar Kakaknya, membangunkan Maura untuk menemaninya pipis. Hal itu memang sangat membuang-buang waktu.
Berkali-kali Ammar meminta ingin tidur sekamar dengan Kakaknya dirumah. Tapi, Bilmar melarang. Bilmar dan Alika takut, anak lelakinya itu tidak akan bisa mandiri, terus-terusan menjadi penakut dan menghindari yang namanya sister atau brother complex. Bisa menyukai saudara sedarah karena terlalu intim dalam suatu kebersamaan. Naudzubillahmindzalik.
"Kakak ... Kakak." Ammar menarik-narik tepi lengan baju Maura. "Adek mau pipis nih, udah enggak tahan." Ammar merengek sambil bergeliat menahan gejolak untuk buang air kecil. Ia sampai memilih mendatangi Maura untuk minta ditemani. Ia takut membangunkan Kakeknya yang malah sejak kemarin tidur bersamanya.
"Pipis sendiri ya, tuh di sana ..." Maura menunjuk ke arah kamar mandi yang letak nya di sudut kamar Gadis.
Ammar menoleh ke arah yang sedang Maura tunjuk, kamar mandi terlihat gelap. Karena lampunya memang di matikan.
"Adek takut, Kak. Ayo dong temenin, tungguin di depan pintu." Ammar merengek.
Ia seperti ingin menangis. Rasanya kesal, karena sang Kakak tidak mau menemaninya. Bukan tidak mau, tapi Maura merasa sangat mengantuk. Ia tidur sangat malam, karena habis menonton Elsa di dvd bersama Gadis.
"Kakak! Cepetan, Adek mau pipis ...." Ammar setengah berteriak.
"Mama ..." serunya sedih memanggil Alika. Kasihan sekali Ammar, dirinya tersiksa. Biasanya kalau Kakaknya sulit dibangunkan, ia akan pergi ke kamar Mamanya.
"Ammar!" suara dari ambang pintu kamar Gadis. Kakek Luky masuk kedalam sambil mengucek matanya.
"Kakek cariin kamu, malah ada di sini. Ngapain kamu, Dek?" Kakek Luky panik, ketika ia terbangun ingin buang air kecil, namun tidak mendapati Ammar disampingnya. Sudah mencari dilantai bawah, tapi anak itu tidak juga ditemukan. Kakek Luky sempat khawatir, tapi karena insting, ia mencari ke kamar cucu perempuannya, dan benar mendapati Ammar yang memakai piyama tidur karikatur Doraemon, sedang ada dikamar para Kakaknya.
"Adek mau pipis, Kek. Tapi takut ke kamar mandi." jawab Ammar jujur.
Kakek Luky menggeleng. "Astagfirullahalladzim. Jadi selama ini belum berani pipis sendiri?"
Ammar mengangguk. "Ayo Kakek temenin." Kakek menggandeng cucunya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Ceklek.
Saklar di kamar mandi sudah ditekan, lampu menyorot cahaya ke sisi dalam, membuat wajah Ammar berbinar. "Kakek tungguin ya." pinta Ammar.
Kakek Luky menggeleng kepala samar, seraya ingin menepuk jidad dengan kelakuan Ammar. "Perasaan dulu waktu Bilmar kecil, tidak penakut begitu." gumam Kakek.
Beberapa menit kemudian, Ammar keluar dari kamar mandi yang pintunya tidak di tutup. Lega sudah dirinya, karena sudah menahan buang air kecil selama setengah jam.
Kakek Luky menggandeng cucu lelakinya itu untuk kembali ke kamar tidurnya. "Adek itu anak lelaki harus berani. Masa ke kamar mandi saja takut, minta di antar Kakak terus tiap malam. Tidak boleh seperti itu terus!"
"Kamu harus menjadi lelaki yang berani. Bisa mengalahkan lawan atau musuh. Mama dan Papamu saja berani dan jago beladiri."
"Gimana bisa pegang pistol kalau sudah dewasa, kalau kecilnya saja penakut seperti ini."
__ADS_1
Kedua mata Ammar membelalak. "Apa itu pistol, Kek?"
Kakek Luky tersenyum. "Nanti kalau sudah kuliah akan Kakek kasih tau, seperti dulu Kakek mengajari Papamu."
Si anak lelaki tampan, berambut hitam tebal berponi seperti tokoh Sadam di film petualangan Sherina, hanya menggangguk-angguk saja. Tangannya terus digandeng oleh Kakeknya sampai ke dalam kamar dan kembali naik ke ranjang, dan melanjutkan tidur.
"Kalau mau pipis lagi, bangunin Kakek aja ya." titah Kakek Luky sambil menaikan selimut ke pertengahan perut cucunya.
Ammar mengangguk lalu memejam kedua matanya.
***
Rasa nyeri dibagian pinggang Alika berangsur menghilang. Tapi untuk dipakai berjalan, rasanya masih aneh. Ada linu yang tersemat di pertengahan tulangnya. Kata Dokter, nanti juga akan hilang dengan sendirinya.
Sudah tiga hari dua malam, dirinya di rawat. Sang Suami tetap setia menemaninya, memapah, menggendong dan membasuh kan air hangat di tubuhnya. Terkadang Alika sampai menitikkan air mata, karena Bilmar begitu sangat memperhatikan dirinya, menjadi suami siaga lebih dari apapun.
"Assalammualaikum, permisi, Bu ..."
Alika yang sedang duduk di sofa menatap layar televisi, seketika menoleh. "Waalaikumsallam, Mba ..."
Petugas pengantar makan siang pasien lalu masuk kedalam setelah salamnya di jawab oleh Alika. Keningnya menyerengit ketika melihat lelaki bertubuh kekar tengah berbaring dan mendengkur keras di pusaran ranjang. Sedangkan yang sakit malah terduduk si sofa.
"Kok, Bapaknya yang tidur, Bu." ucap si petugas dengan kekekan kecil. Tangannya terjulur meletakan dua nampan berisi makanan di meja. Satu nampan untuk pasien, dan satu nampan lagi untuk penunggu pasien.
Alika membalasnya dengan kekehan. "Biarin, Mba. Kalau malam begadang soalnya. Takut saya mau pipis ke kamar mandi."
"Masya Allah, baik banget ya." puji si petugas.
Alika mengangguk dengan senyuman. "Terima kasih banyak, Mba" petugas pun berlalu.
Dengan memegang ujung sofa sebagai penguat tubuh untuk bangkit, Alika mencoba mengangkat tubuhnya. "Ya Allah ..." serunya, untuk menahan ringisan.
Rasa linu sangat kentara, walau tidak sesakit tiga hari yang lalu. Sebenarnya ia ingin cepat pulang kerumah. Sudah rindu ke dua buah hatinya. Kasian dibohongi seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, kemauan Bilmar sudah tidak bisa di bantah.
Lelaki itu ingin Alika tetap di rawat sampai benar-benar pulih. Ia juga melarang jika ada yang menjenguk, katanya berisik. Istrinya kasihan tidak bisa istirahat. Ya, begitulah sang raja posesif.
Alika melangkah ke arah pembaringan. Wanita itu berdiri ditepi ranjang. Mengusap wajah suaminya yang masih berada di alam mimpi.
"Sayang, bangun yuk. Makan siang dulu." ucapnya, sambil mencium pipi Bilmar.
"Makan ya, aku suapi ..." sambung Alika. Kembali diciumi pipi itu, sampai suaminya bergeliat bangun.
Di detik itu juga, Bilmar langsung mengerjap dua bola matanya yang masih terlihat memerah. Ia kaget, karena istrinya tengah berdiri diluar ranjang, dan ia sedang asik berbaring di ranjang.
"Ya Allah, Mah. Maafin Papa." Bilmar bergegas ingin turun. Tapi Alika menyergah nya.
"Udah enggak apa-apa. Duduk di sini aja. Mama suapi makan ya."
__ADS_1
Alika melangkah pelan ke arah meja lalu mengambil salah satu nampan. Ia memilih nampan miliknya yang lauk pauknya disukai Bilmar dari pada nampan yang dikhususkan untuk penunggu. Alika pun tidak mau memakan menu makanan penunggu, karena ia tidak suka dengan hati sapi, sama seperti suaminya.
"Biar lah aku tidak makan, yang penting suamiku tetap makan." ia takut maag suaminya kambuh jika telat maka.
Alika membungkuk sedikit untuk mengambil nampan berisi makanan tersebut. Walau ia harus meringis sambil mengigit bibir bawahnya. Karena rasa linu kembali muncul ketika Alika akan menegapkan tubuh setelah membungkuk. Mengatur napas, agar Bilmar tidak mengetahui ringisan nya.
Dirinya berbalik dengan senyuman riang. Alika duduk di kursi dan meletakan nampan tersebut di pangkuannya. Ia mulai menyuapi Bilmar yang sedang duduk di bibir ranjang menghadap nya. Lelaki itu masih saja mengantuk, sesekali kunyahan nya terhenti karena ia kembali memejam kelopak matanya.
"Papa ... ayo habisin dulu makanya. Habis itu shalat Dzuhur, lalu boleh tidur lagi."
Bilmar mengangguk. Ia kembali membuka mulut dan menerima suapan dari istrinya.
"Kok penunggu, diberi bubur ya?" tanya Bilmar.
Alika tersenyum. "Udah makan aja enggak usah protes." ia kembali memasukan sendok berisi bubur yang dibasahi dengan kuah kuning suwiran ayam. Makanan ini memang kesukaan Bilmar jika dirumah.
"Minum ya."
Bilmar mengangguk. Alika meraih air putih kemasan di atas nakas lalu disodorkan langsung ke bibir suaminya.
"Kok jadi Papa yang disuapin Makan? Mama yang harusnya Papa suapin. Kan bentar lagi harus minum obat." ucap Bilmar dengan ucapan tak jelas karena sedang mengunyah.
Alika memandang sendu suaminya. "Kalau lagi lihat Papa kayak gini, mirip banget sama Ammar. Kayak anak kecil lagi disuapin ... Ammar lagi apa ya, terus Kakak juga gimana ya, bisa enggak dia nyuci celana haid nya?"
Pasalnya, ia meninggalkan Maura dalam keadaan sedang menstruasi hari kedua. Maura baru saja mendapatkan halangan untuk pertama kalinya. Cara memakai pembalut saja masih dipakaikan Alika, dan anak itu masih belum bisa mencuci dengan betul. Maka Alika yang mencucinya.
Bilmar mencium kening istrinya. "Jangan fikir macam-macam. Dari dulu hingga sekarang, kamu selalu memikirkan kami. Sekarang kamu harus memikirkan dirimu sendiri, kamu harus kuat, Al. Harus sembuh. Aku dan anak-anak masih butuh kamu."
"Kamu adalah istri terbaik, dan ibu yang teladan untuk anak-anaku. Jika di surga kelak, ada bidadari yang ditawarkan Allah untukku. Aku akan tetap memilih kamu."
Alika mencebik, dengan wajah yang tiba-tiba memerah. Air matanya berduyun-duyun turun dari sudut matanya. Bilmar menyeka air mata itu dengan kecupan dari bibirnya.
"Papa mulutnya bau makanan, ah." Alika menutup hidungnya, menghentikan gelak romantis yang sedang terjadi di antara mereka.
Bilmar mendengus. "Mending lah masih wangi, dari pada Mama dulu malah bau jengkol sampai ke Sassy-sassy. Tapi, Papa tetap terima aja, walau hidung papa udah meronta-ronta bilang enggak sanggup."
Alika mendelikan mata, dan melepas cubitan di lengan suaminya. "Dasar ya! Itu terus yang diulang-ulang!!"
Bilmar terus tertawa. "Aduh, Mah, sakit ... duh tuh kan jadi merah. Pelan-pelan dong sayang."
Binara dan Rendi yang langkah kakinya baru sampai di depan pintu. Langsung mengerutkan kening.
"Belah duren siang-siang?" tanya Rendi, Binar hanya mengangkat pangkal bahu dan memijat pangkal dahinya.
***
Ayo siapa yang senang aku balik bawain si Bilka? Semoga rindunya terobati yah🤗🌺.
__ADS_1
Kesayangan aku nih❤️❤️