
Melihat Bilmar yang tengah meringkuk membuat Alika tidak tega jika membiarkan ia menahan sakit sendirian. Apalagi dia Ketua Kelas, sudah tugasnya untuk membantu para teman-teman dalam keadaan sehat maupun sakit.
Setelah meletakkan pulpen di atas buku, ia pun beranjak dari kursi. Memutar langkah menuju barisan kedua dari pinggir pintu. Di meja ketiga dari depan, ada Bilmar yang masih menyandar lemah di meja sambil memejam kedua matanya.
Alika membungkukkan tubuhnya untuk menatap wajah Bilmar yang sudah pucat. Dengkuran napas halus terdengar dari lelaki ini. Ragu-ragu tapi mau, akhirnya Alika menghentak pelan bahu Bilmar.
"Lo sakit, Bil?" tanya Alika. Bilmar merespon dengan anggukan kepala lemah.
"Gimana nih, Al?" selak Dion, lelaki ini juga terlihat khawatir. Bilmar memang berubah 180 derajat seperti ayam sakit, jika maag nya sudah kambuh.
"Makanya Bil, tadi kan gue udah bilang lo harusnya makan nasi. Malah makan lontong." decak Dion.
What? Apa sih bedanya nasi dengan lontong? Hanya beda bentuk, kan??
Bisa tidak, suara cempreng nya Dion untuk musnah dulu sebentar dari pusaran telinga Bilmar. Jika saja, sedang tidak dalam keadaan lemas, Bilmar pasti sudah memasukan kepala Dion kedalam kaos kaki Nino yang sudah sewindu tidak diguyur dengan air suci.
"Lo papah ya, Yon." titah Alika. Ia mulai mengangkat lengan kiri Bilmar untuk dinaikan ke atas pundaknya. Dion pun mengikuti gerakan seperti Alika, dilengan kanan Bilmar.
"Duh berat banget sih, banyak dosanya nih orang." celetuk Dion.
Bilmar terkesiap ketika tubuhnya dipapah oleh Alika.
Oh? Si pendek? Yang sering ia bully? Benarkah wanita ini yang menolong dirinya?
Bilmar hanya bisa diam pasrah, tetap tidak mau membuka mata, ada rasa yang lebih dalam dibanding rasa sakit yang dirasakan di area perutnya sekarang, yaitu rasa malu.
"Gue fikir lo cewek kasar dan super tega, ternyata lo masih ada hati, Al." desah Bilmar dalam hatinya. Ia sedikit memuji dan tersanjung dengan sikap Alika.
Dan sedikit mendengus aroma permen yang menyeruak di indera penciumannya.
"Wangi juga ketek lo, Al." gumam Bilmar dengan seringai wajah seperti pura-pura mati.
Dengan tubuh mereka yang sama-sama kecil, terus berjuang untuk mencapai tempat yang dituju, Dion dan Alika tetap memapah tubuh Bilmar untuk sampai ke ruang uks
"Perasaan ruang uks deket deh, Al. Kenapa rasanya jadi jauh kayak gini? Makin pendek nih badan gue bopong si Bilmar!"
__ADS_1
"Anjim bener si Dion! Dari tadi ngatain gue mulu. Abis ini gue pastiin pulang nggak pake sempakk, lo!" kelakar Bilmar dalam hatinya.
Brug.
Akhirnya Bilmar direbahkan di atas matras yang membentang di dalam ruang uks.
"Ya udah sana lo balik lagi ke kelas, Yon." titah Alika yang kemudian melangkah menuju lemari tempat penyimpanan obat.
Netra hazel Dion seketika terlempar kesana kemari. Seraya mencerna dengan baik apa yang diperintah oleh ketua kelasnya itu.
"Lah gimana, kalau gue balik, lo berdua doang dong di sini?" decak Dion menatap tidak suka.
"Bangun lo, gue tau lo pura-pura tidur!" sambung Dion menyentak bahu sahabatnya.
"Dion, lo nggak denger gue tadi bilang apa?" ucap Alika ketika ia sudah kembali berjalan menuju ke arah Bilmar dengan membawa obat dan segelas air di tangannya.
Dion memiringkan sudut bibirnya, memutar bola matanya malas. "Iya-iya, gue balik."
"Kerjain tugas lo yang bener." sahut Alika.
"Terus tugas si Bilmar, gimana?"
"Bil ..." sapa Alika lembut. Ia sentuh tangan Bilmar, agar lelaki itu merespon suaranya.
Samar-samar Bilmar mengerjap kedua matanya, lama-lama jadi jelas dan menangkap wajah cantik Alika sudah berada dihadapannya. Bilmar beringsut untuk duduk dan menyandarkan tubuh dan kepalanya pada dinding. Ia masih meringis memegang perutnya.
"Nih, minum dulu obatnya." Alika memberikan satu puyer berwarna hijau, dengan gerakan tangan yang lemas, Bilmar pun meraih dan langsung memasukkannya ke dalam mulut, setelah itu mendorongnya dengan segelas air.
Gleg.
"Makasih ya, Al." ucapnya sambil memberikan gelas yang sudah kosong. Alika meraihnya dan kemudian meletakkannya di atas lantai.
"Lo emang makan apa tadi pas istirahat? Kok maag lo bisa kambuh?" tanya Alika lembut.
Demi apapun, Bilmar terpukau. Belum pernah selama sekelas dengan Alika, wanita itu memunculkan rasa kelembutannya kepada para kaum lelaki. Sorot mata Alika pun membuat hatinya teduh. Mungkin karena rasa sakit diperutnya yang sudah mulai berkurang.
__ADS_1
"Gue tadi makan lontong pakai sambel kacang, sambel nya emang agak pedes sih." Bilmar tertawa pelan.
Alika merespon dengan anggukan kepala. Bilmar merotasi kan matanya ke arah paha mulus Alika yang sangat terlihat jelas, karena asalnya rok itu sudah sangat pendek, ditambah ia sedang duduk, otomatis rok lebih tersingkap naik ke atas.
Bilmar dengan cepat melepas jaket yang saat ini sedang ia pakai. Lalu ia beringsut, membuat Alika melolongkan matanya karena kaget, melihat Bilmar tengah mengaitkan jaket itu dipinggangnya, agar paha Alika tertutup.
"Ngapain sih lo pake rok sempit kaya gitu, mata gue sesak lihatnya!" ucap Bilmar. Alika masih hening, ia tertohok hebat
"Ini beneran lo, Bil?" gumam Alika, masih tidak percaya. Dewi Yunani pun akan iri melihat perhatian Bilmar yang sudah merekah seperti ini kepada Alika.
"Lo kok tetap baik sih sama gue? Kan kemarin gue udah jahat ninggalin lo gitu aja." ucap Bilmar.
Mereka berdua pun saling bersitatap, Bilmar terus menatap bola mata Alika, membuat wanita itu menjadi salah tingkah. Ia tidak pernah segrogi ini di tatap oleh laki-laki, walaupun itu Indra yang sering melakukannya. Alika hanya akan bersikap biasa tidak seperti saat ini.
"Gue udah lupa, Bil. Sama masalah kemarin." jawab Alika walau dibalik itu, masih terlihat raut sendu di wajahnya.
"Gue minta maaf ya, Al. Gatau kenapa, tapi----sekali lagi maaf deh, ya." Bilmar buru- buru mengakhiri ucapannya. Ia takut kebablasan untuk menceritakan yang sebenarnya.
Alika tersenyum tipis. "Ya nggak apa-apa, Bil."
Mereka pun hening kembali. Alika seperti dejavu, dimana ia pernah merasakan kalau jantungnya berdebar-debar ketika melihat Bilmar. Jujur, dulu ketika mereka masih di kelas sepuluh, Alika pernah menaruh hati kepada Bilmar. Karena lelaki itu pernah membelanya ketika ia sedang dikerjai oleh Kakak-kakak OSIS ketika MOS sedang berlangsung.
Namun rasa itu mucul hanya karena rasa simpatik sesaat lalu hilang begitu saja, karena akhirnya mereka berbeda kelas dan jarang bertemu. Maka Alika kaget, jika saat ini kembali dipertemukan oleh Bilmar. Dalam satu kelas yang sama dan menjadi rival dalam membobol nilai tertinggi di kelas.
Melihat perangai Bilmar yang seperti anak nakal, membuat Alika selalu mengumpat lelaki itu dan sempat muntah jika membayangkan dulu ia pernah tertarik dengan Bilmar.
"Lo kenapa ngelamun? Awas, kesurupan setan nenek-nenek, lo!" Bilmar menarik wajahnya kembali dan merebahkan dirinya lagi di matras.
Alika tertawa puas. " Ya udah kalo gitu gue balik dulu ya, Bil." ucap Alika yang mulai terlihat gugup.
Lalu
Alika kembali tersentak, ketika tangannya di cengkram begitu saja oleh Bilmar. Membuat Alika tidak jadi beranjak untuk berdiri.
"Jangan pergi, Al. Di sini dulu ya, temenin gue."
__ADS_1
*****
Ayo dong guyss, komen sama like nyaa. Biar aku cemangatt❤️