MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Pergilah, Bil!


__ADS_3

Dengan beberapa puluh langkah, akhirnya Mama Mira dan Alika sampai di dalam toilet wanita. Namun Mama Mira menyuruh Alika untuk masuk terlebih dahulu.


"Ayo kamu duluan yang masuk, Al. Tas kamu biar Tante yang pegang." Alika hanya menurut dan memberikan tasnya kepada Mama Mira. Ingin ia berucap, untuk mempersilahkan Mama Mira terlebih dahulu. Tapi gadis itu enggan, ia masih saja takut untuk membantah.


Dilihatnya Alika sudah masuk ke dalam kamar mandi. Buru-buru Mama Mira membuka tas Alika dan merogoh didalamnya untuk meraih benda pipih yang sering dipakai oleh Alika untuk bertukar pesan dengan Bilmar. Mama Mira mencabut simcard dan batu baterai dari body ponsel tersebut, kemudian Ia buang semua itu ke dalam tempat sampah.


"Kamu nggak akan bisa lagi untuk menghubungi Anakku, Al. Bilmar itu hanya milik Kannya!" Mama Mira mengulum senyum puas, sungguh ia mirip dengan penjahat wanita di sinetron naga berenang.


Tentu saja hal itu akan membuat komunikasi Alika dan Bilmar terputus. Mereka akan sulit untuk menghubungi. Mungkin setelah ini Alika akan syok, karena ponselnya mendadak raib. Dan tentu, Mama Mira akan melakukan hal yang sama dengan ponsel Bilmar. Ia berencana akan membuang ponsel putranya setiba di Londo.


Tak berapa lama kemudian. Alika keluar dari dalam toilet, tanpa rasa curiga sama sekali di raut wajahnya.


"Udah, Al?" tanya Mama Mira yang menyandar di belakang wastafel menatap dirinya.


"Udah Tante, ayo Tante sekarang gantian, sini Alika pengangin tasnya."


"Tante enggak jadi deh, Al. Udah gak kebelet."


"Oh ..." Alika ber oh bingung.


"Ya udah ayo kita kesana lagi, bentar lagi pesawatnya datang." Mama Mira menggandeng tangan Alika, membawanya paksa untuk keluar dari toilet. Alika si gadis baik hati, hanya bisa menurut tanpa berfikir macam-macam.


"Ke toilet aja lama banget." desah Bilmar. "Gue kan masih mau peluk Alika!" gerutu Bilmar.


"Sabar lah, tuh Alika sama Nyokap lo udah melangkah kesini."


Sudut garis bibir Bilmar terangkat sempurna, memang wajah Alika sangat menenangkan hatinya yang sedang dilanda kegalauan. Namun senyuman itu tidak berlangsung lama ketika ada info penerbangan menuju London akan diberangkatkan sepuluh menit lagi.


"Ya Allah ..." rintih Bilmar. Wajahnya terlihat semakin merana. Perpisahan dengan kekasih hati sudah didepan mata. Riak di dalam hatinya semakin membuncah.


"Sebentar lagi kita berbeda negara. Senyuman mu gak bisa aku lihat lagi."


"Sentuhan mu gak bisa lagi ku nikmati, Al!" air mata Bilmar menetes begitu saja. Ia langsung beringsut mendekap Alika yang langkahnya baru saja sampai.

__ADS_1


Alika pun sama, mendengar seruan pesawat Bilmar akan berangkat. Ia terlihat semakin gelisah, dadanya berdebar tidak karuan. Menyambut pelukan Bilmar dengan erat. Isak tangis muncul dengan iringan pangkal bahu yang bergetar.


"Bilmar." desah Alika dalam isak tangisnya. "Tolong janji jangan berpaling. Kamu harus janji untuk balik lagi ke aku!" Alika mengalungkan kedua tangannya di leher Bilmar.


"Iya, Al. Aku janji. Sampai matipun, yang aku sayang hanya kamu." jawab Bilmar juga dalam isak tangisnya.


Nino dan Dion hanya bisa mengusap punggung mereka, seraya menguatkan.


Wajah Alika dan Bilmar memerah, terus menangis bersamaan. Seperti ada kode dari alam, bahwa mereka akan merindu cukup lama. Mungkin berpisah dan terlepas dari cinta dalam waktu yang lama.


Mama Mira semakin muak melihat mereka, tapi teriak girang dalam hati karena berhasil memisahkan mereka setelah ini.


Bilmar melepas dekapan itu, ketika terdengar info lagi kalau pesawat lima menit lagi akan berangkat, dan Mama Mira sudah menyeru sejak tadi untuk ke melangkah ke counter check point.


"Aku sayang kamu, Al." ucap Bilmar lalu mengecup kening, turun ke kelopak mata, berpindah ke pipi kanan dan kiri lalu mengecup bibir Alika singkat.


Dion dan Nino langsung menutup mata ketika Bilmar mengakhiri berbagai kecupan yang ia lesatkan, tepat berakhir di bibir ranum Alika. Gadis itu pun melakukan hal yang sama kepada Bilmar, dan ditutup dengan mengusap lembut pipi Bilmar.


Bilmar mengangguk. "Kamu juga, Al. Titip cinta aku di sini." Bilmar menunjuk dada Alika.


"Pasti, Bil. Hanya buat kamu." Alika tersenyum dalam tangis.


"AYO BILMAR!" Mama Mira kembali berseru.


"Iya, Mah. Sebentar." jawab Bilmar. Setelah puas memeluk dan mencium Alika. Ia beringsut untuk mendekap kedua sahabatnya. Dion dan Nino tak kuasa menitikkan air matanya.


"Jangan lupain kita, Bil, kabarin kita selalu ya. Walau nanti kita akan hidup masing-masing, tapi jangan lupain hari ini." ucap Nino dan diringi anggukan kepala oleh Dion. Mereka saling melingkar untuk memeluk.


"Kalian sahabat gue yang paling berharga. Gue gak akan lupa. Gue minta tolong, titip Alika ya, demi gue. Yon, Nin." ucap Bilmar lirih.


"Iya, Bila. Pasti! Lo juga jangan lupa balik, Bil. Kasian Alika." jawab Dion dan Nino hanya menatap sendu, entah mengapa perpisahan kali ini dengan Bilmar sangat menyayat hatinya.


Dirasa anaknya sangat lelet, Mama Mira menarik paksa tangan Bilmar.

__ADS_1


"Ayo cepetan! Nanti kita telat, Bil!"


"Tante hati-hati ya." Alika menyelak, lalu membungkukkan badan untuk mencium tangan Mama Mira. Pun sama dengan Dion dan Nino, mereka juga bergantian menyalami Mama Mira.


Mama Mira hanya mengangguk sambil tersenyum licik. Membelai kepala mereka dengan sentuhan palsu.


Bilmar dan Mama Mira pun mulai melangkah sambil menggerek koper. Bilmar terus menoleh ke belakang menatap Alika yang sedang menatapnya balik. Alika berdiri diantara Nino dan Dion.


Mereka bertiga melambaikan tangan perpisahan dengan wajah sedih penuh air mata ke arah Bilmar yang tangannya digandeng erat oleh Mama Mira.


"Tolong, Al. Panggil aku. Hentikan aku." seru Bilmar terus melangkah sambil menyeka air matanya.


Awan gelap seperti mendadak muncul tepat dikepalanya. Dadanya terasa hampa, jiwanya terasa melayang. Langkahnya terasa goyah, karena penyemangat tidak bisa lagi ia rengkuh.


Ia terus berdoa agar semua ini hanyalah mimpi. Namun nyatanya Alika tidak memanggil. Gadis itu hanya melambaikan tangan kearah Bilmar. Sesekali ia menyeka air matanya dengan kerah baju.


Dion dan Nino terlihat merangkul Alika untuk saling menguatkan. Mereka sedih menatap kepergian Bilmar. Sahabat yang paling mereka sayang. Akan pergi jauh dalam jarak dan waktu yang lama. Entah kapan mereka akan bertemu lagi.


"Pergilah, Bil. Kejar keinginanmu. Aku di sini akan tetap setia menunggu." gumam Alika sambil mengecup liontin B yang sekarang sudah bertengger di lehernya.


Dan pergilah sang raja meninggalkan dan melepas rusa betina sendirian ditengah hutan. Tanpa pengamanan, penjagaan dan hanya bermodalkan janji tanpa kesepakatan tertulis.


Atas nama cinta, Alika rela melepas Bilmar Artanegara.


"Aku melepasmu, sayang. Dan tolonglah untuk cepat kembali."


Juni, 2008.


*****


Like dan Komen ya gengsss. Kasian Neng Alika, matanya sampai sembab gituđź’”


__ADS_1


__ADS_2