
Low back pain atau sering dikenal dengan sebutan LBP dalam dunia kedokteran. Sebuah penyakit yang menimbulkan rasa nyeri di daerah pinggang bagian bawah yang bisa menjalar ke bagian kaki bagian dalam.
Dalam bahasa awam mungkin biasa disebut dengan bahas nyeri pinggang hebat. Penderitanya bisa sampai harus di rawat. Penyebab LBP bisa bermacam-macam, sesuai aktivitas sehari-hari yang mendasari. Bisa karena mengangkat beban terlalu berat, salah posisi tidur, dan lain-lain.
Dan penyakit ini sudah Alika derita selama satu tahun terakhir. Entah mengapa, penyakit itu akan kambuh jika seusai Bilmar menengok Sassy. Namun tidak setiap menengok, hanya saja ketika Bilmar sedang haus-hausnya berkelana, dan memborbardir Alika dengan gerakannya yang buas.
Bilmar dengan setia terus mengikuti kemanapun brangkar yang sedang di tiduri oleh Alika, dibawa kesana kemari untuk menjalani diagnostik test salah satunya diperiksa dengan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Image). Alat yang sangat mahal untuk sekali tes nya. Alat yang begitu canggih untuk bisa mengambil gambar organ secara detail pada jaringan lunak tubuh dan tidak memiliki resiko radiasi.
Bilmar membidik foto Alika yang tengah masuk ke dalam sebuah lorong tabung untuk di potret dengan berbagai sinar. Lantas mengirim foto tersebut kepada Binara.
[Aku dan Alika sedang ada di Rumah Sakit. Kakakmu jatuh di kamar mandi ketika sedang dikampus. LBP nya kambuh, dan sepertinya sekarang semakin parah karena Dokter menyarankan untuk di rawat. Jangan panik, dan jangan beritahukan kepada Maura dan Ammar. Untuk sementara biarkan mereka di sana dulu. Bilang saja kalau Mama dan Papanya ada pekerjaan ke luar kota. Besok pagi aku akan telepon anak-anak]
Pesan yang sudah selesai Bilmar ketik, lalu ia kirim bersamaan foto Alika yang sedang menjalani proses MRI kepada Binara.
Raut wajah Bilmar terlihat takut dan gelisah. Keadaan Alika yang seperti ini belum pernah ia lihat sama sekali. Biasanya istrinya akan mengeluh saja tanpa disertai meringis, menangis atau berbicara yang tidak-tidak.
Bilmar melepas dasinya dan membuka satu kancing kemeja. Dan ia masukan kedalam saku celana. Dadanya berdebar ketika melihat para petugas tengah menyorot tulang belulang bagian belakang istrinya dari layar monitor.
Ia tidak tahu obrolan mereka yang sedang bergumam, lelaki itu pun tidak bertanya. Ia memutuskan akan mendengarkan penjelasan langsung dari Dokter. Kembali ia tatap Alika, dan wanita itu masih saja meringis menatapnya dari kejauhan.
***
Bilmar fikir hasilnya akan sangat membahayakan. Ternyata Dokter bilang, tidak ada yang mengkhawatirkan, tulang pun tidak bergeser. Hanya saja trauma nyeri nya yang hebat, jika Alika rutin untuk melakukan proses fisioterapi, wanita itu bisa kembali beraktivitas.
"Pah ..." Alika bergumam. Padahal saat ini wanita itu sedang memejam kedua mata. Ia merasa ngantuk, karena efek obat yang baru saja di suntikan kedalam tubuhnya.
"Iya sayang." jawab Bilmar. Lelaki itu merebahkan kepala Alika di dadanya. Mengelus-elus lengan sang istri, membiarkan Alika untuk istirahat. Ia tidak tega melihat Alika terus merancau. Apalagi sebum terlelap Alika masih berkata.
"Lebih baik mati saja, Pah. Mama enggak kuat kalau sakit terus kayak gini."
Bilmar menggelengkan kepalanya seraya menghapus ingatan, yang beberapa kali istrinya tuturkan.
"Aku dulu yang mati. Baru kamu, karena aku enggak akan sanggup kalau ditinggal kamu, Al." nada Bilmar memelas. Mengecup berulang-ulang pusaran rambut istrinya yang begitu harum. "Kamu harus panjang umur, jangan menyerah dulu. Anak-anak kita masih kecil." lelaki itu terus menguatkan. Walau Alika sudah tidak mendengarnya.
***
"Papa kapan pulangnya? Mama lagi apa? Aku mau ngomong dong sama Mama." ucap Maura di sambungan video call. Bilmar memilih keluar dari kamar, ketika anak-anak menghubunginya.
__ADS_1
"Mungkin empat hari lagi, Kak. Papa sama Mama masih di Bandung. Mama lagi mandi, nanti malem deh Papa telepon lagi. Adek mu mana?"
"Yahh, kok lama sih, Pah?" wajah Maura mendadak mendung. Pasalnya anak itu belum pernah ditinggal lama. Kalau pun orang tuanya sedang ada pekerjaan diluar kota, pasti hanya seorang dari mereka, tidak dua-duanya meninggalkan seperti ini. "Lagi berenang sama Gadis." sambung Maura.
Bilmar mengangguk.
"Tapi nanti pulangnya bawain oleh-oleh ya."
Hati Bilmar miris sekali. Membohongi anak karena keadaan istrinya yang seperti ini. Tentu mereka bukan sedang berlibur dan berbahagia, tapi sebaliknya mereka sedang sedih dan gegana.
"Iya, Nak. Nanti Papa belikan. Titip Adek ya, jangan berantem. Enggak enak nanti sama Tante dan Om. Belajar, jangan telat makan, shalatnya jangan ditinggal ya, Nak."
"Iya, Pah."
Bilmar memasukan kembali gawainya kedalam saku. Ia bergegas untuk masuk kedalam kamar perawatan Alika. Namun setelah membuka pintu, ia langsung bergegas cepat menghampiri Alika yang sedang berjuang mengangkat tubuhnya untuk beranjak bangkit sambil mengerang sakit. Akhirnya ia tetap berbaring terlentang karena tidak kuat mengangkat tubuh.
"Kenapa dipaksain? Kan bisa tunggu Papa." Papa Bilmar membungkuk, meletakan kedua tangannya di sebelah lengan kanan dan kiri istrinya.
"Mama ingin ke kamar mandi, Pah. Tadi pas bangun Papa nya enggak ada."
"Tadi Papa ditelepon Kakak. Jadi, Papa keluar dulu. Dia video call soalnya."
"Kalau kamu kasian, kenapa selalu bilang ingin mati?" decak Bilmar.
Alika hening, menatap sendu manik mata Bilmar. "Sakit, Pah. Mama enggak tahan."
"Setelah kamu mendingan. Kita akan ke Singapura, konsultasi dengan para ahli medis di sana. Kalau pun harus di operasi, kita lakukan saja."
Alika mengangguk pelan. "Tapi kalau enggak sembuh juga gimana, Pah?" nadanya memelas.
"Pasti sembuh, Allah memberikan cobaan tidak akan melebihi batas kemampuan umatnya. Percaya itu, jangan dulu kalah sebelum berperang."
"Makasih banyak, Pah." Alika memajukan kepalanya untuk mencium bibir suaminya.
"Papa gendong ke kamar mandi ya."
"Iya, Pah."
__ADS_1
Alika meletakan kedua tangannya dileher suaminya. Bilmar mengangkat tubuh Alika pelan-pelan. Matanya sedikit melotot, tubuh istrinya memang terasa lebih berat.
"Banyak makan kamu ya?"
Alika merungut. "Jadi, Papa bilang Mama gendut?"
Bilmar menjawab tidak, tapi kepalanya mengangguk.
"Ihh, Papa!!"
Bilmar tertawa. "Mau gendut juga gak apa-apa kok, Papa tetap cinta."
Rasa sakit terganti dengan hati yang tiba-tiba temaran. Alika tersenyum senang.
"Selamat hari pernikahan ya, Pah. Mama sayang banget sama Papa."
"Papa juga sayang banget. Mama tuh hidupnya Papa. Sehat terus ya, kita berjuang untuk rumah tangga kita sampai ajal menjemput."
Alika dan Bilmar menyatukan kening, saling bersitatap dalam senyuman hangat.
Bilmar memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka. Ia tahu sentuhan ini bisa membuat istrinya rileks dari rasa sakit.
Sejatinya rumah tangga, tidak akan selamanya selalu tenang dan damai. Pasti akan selalu ada masalah yang datang silih berganti, entah kah dari masalah anak, pasangan, orang tua, pekerjaan, dan lain-lain.
Tapi kembali lagi, jika kita mengarungi rumah tangga dengan tujuan untuk mendapatkan ridho dari Allah. Maka teruslah berdoa kepada Illahi untuk selalu minta diberikan kekuatan dalam menjalani segala cobaan yang beliau berikan.
TAMAT.
***
Aku tamatin dulu ya. Kalau ada ide lagi, aku bakalan up gengs.
Aku tuh sbnrnya ga pgn Tamatin. tapi kalau novel kagak ada outline nya. jadi alurnya bingung gengs. karena emg ga ada konflik apa-apa di sini.
kalo kalian mau kasih ide boleh lah, aku tampung hehe. dm ya ke ig aku @megadischa
Makasih yah udah ikutin kisah Alika dan Bilmar sampai disini.
__ADS_1