
Happy Reading...
.
.
.
.
Enjooyyy....
*****
Deandra
Suasana kantin di kantor yang sangat ramai dan sesak, di mana beberapa menit lalu sudah waktunya istirahat makan siang.
Dengan para karyawan yang silih berganti berdatangan hampir, setiap meja terisi penuh.
Aku dan rekan kerjaku di divisi yang sama,sudah menempati meja cukup untuk kami berlima. Kini sedang menikmati makan makanan masing-masing.
"Bu, selamat atas pertunangannya "
"Panggil Dean! Jangan terlalu formal dengan saya. Sepertinya, umur saya dan kalian tidak jauh beda! "
"Dan terimakasih Joya. Ahhh! Sepertinya pertunangan ini sudah tersebar! " lanjutku.
"Apa, memang pertunangan kalian harus di sembunyikan?! " tanya Emilly yang di angguki yang lainnya.
"Tidak juga, di sembunyikan atau tidak pasti semua orang akan tahu "
"Apa kamu sudah lama berpacaran dengan Pak Christian? Karena selama ini yang kami tahu, beliau jarang terlihat jalan bersama wanita " tanya Joya yang langsung di siku oleh Emilly karena merasa tidak enak, dengan ucapan temannya itu. Namun di sisi lain mereka juga sangat penasaran.
"Kau ini kenapa berbicara seperti itu! Pada tunangan Bos kita! " tegur Tommy pria yang sedari tadi hanya diam dan fokus dengan makanannya.
"Sudah!, sudah tidak apa-apa. Bisa di bilang begitu. Karena, saya juga baru ke sini lagi beberapa minggu yang lalu,"
"Sebelumnya, saya tinggal di Indonesia "lanjutku yang mengerti tatapan heran mereka.
"Waahh!, Indonesia. Akan kaya dengan wanita-wanita cantiknya " sahut pria yang ku ketahui bernama Jack.
"Dasar playboy, " dengus Emilly yang membuat kami tertawa.
"Well, berbicara tentang wanita, bukannya ulang tahun perusahaan sebentar lagi? " tanya Jack pada teman-temannya.
"Oh!, iya, ya. Apa akan sama seperti tahun lalu?! Hanya saja pria tampan di kantor kita berkurang satu " ucap Emilly yang di setujui
Joya membuatku heran. Seakan Emilly tahu aku yang tidak mengerti ia melanjutkan,
"Maksud kita Pak Christian, dan Pak Marco"
"Pak Theo juga! " sela cepat, Joya sambil memakan spaghettinya.
"Apa kalian pikir, aku tidak cukup tampan! " sambil bergaya so cool.
"Tidak!, karena wajahmu sudah pasaran!, " ejek Emilly yang membuat Jack mendelik padanya
"Memangnya kau cantik! Hahh! mantan-mantanku lebih cantik darimu " balas Jack hingga wajah Emilly merah padam.
"Kau... "
"Sudah-sudah apa kalian tidak malu! Di lihat orang lain! " lerai Tommy sebelum Emilly melanjutkan ucapannya, dan membuat mereka menjadi bahan tontonan.
"Deandra! Maaf iya, jika kami membuatmu tidak nyaman. " lanjutnya.
Aku yang mendengar itu langsung mengibaskan tangan.
__ADS_1
"Tidak masalah, karena seperti ini membuatku nyaman dan kalian tidak perlu canggung lagi terhadap saya."
"Ya, Deandra" ucap Joya membuat mereka mengangguk.
"Apa setiap perusahaan selalu, akan di adakan di gedung?! " tanyaku sambil menatap mereka bergantian.
"Ya, seperti itu kadang kala, kita makan bersama di Restoran yang sudah di reservasi oleh pihak perusahaan " jawab Emilly.
"Oh! Begitu ya?! " yang langsung di anggukinya.
Dan entah mengapa?! Aku ingin sekali, membuat ulang tahun perusahaan kali ini, harus berbeda dari tahun-tahun sebelummya, batinku.
Kami kembali ke kantor serta masuk ke kubikel masing-masing, untuk mulai bekerja lagi. Saat beberapa jam yang lalu waktu makan siang telah usai.
Tidak terasa waktu pulang akan tiba, membuat karyawan lainnya, semakin semangat untuk membereskan pekerjaan mereka. Termasuk aku yang ingin sekali berendam air hangat. Karena di sini Negara yang selalu dingin. Berbeda sekali seperti saat aku tinggal di jakarta yang cuacanya sangat panas.
Panggilan telepon dari mejaku menghentikan lamunanku. Aku bergerak lambat untuk meraih gagang telepon yang sudah berkedip di meja kerjaku. Suara serak dan berat pria, langsung menyapa telingaku. Christian orang yang kini tengah, menelponku.
"Deandra, segera ke ruanganku! dengan laporan hari ini! "
"Baik, Pak! " suara perintah dari sebrang membuatku mendengus saat sambungannya terputus.
"Christian dengan sifat arrogantnya" gerutuku.
"Kau akan kemana? " tanya Joya melongokkan kepalanya saat aku beranjak dari kubikelku.
"Si Bos , menyuruhku ke ruangannya untuk memberikan laporan " ucapku dan segera mengambil map yang ada di meja, dan berlalu saat ia mengerti.
*****
Christian
"Theo!, masuk ke ruangan" suara yang berasal dari intercom menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Baik, " jawabnya berdiri pergi setelah sambungan terputus.
tok tok tok
"Ada apa Chris? " beginilah mereka bersikap profesional saat kerja, di luar itu mereka sebagai teman.
"Pesankan aku makanan seperti biasa "
"Apa kamu tidak makan siang bersama Deandra? " tanya Theo dengan heran. Karena, temannya ini tidak bisa jauh dari wanitanya.
"Tidak, biarkan saja ia bergabung dengan teman-teman sedivisinya makan siang di kantin"
Theo yang sudah mengerti, ia segera memesankan makan siang untuk Bosnya.
Sambil menunggu pesanannya datang Christian kembali memeriksa berkas-berkas yang belum di periksa.
Usai makan siang dan waktu istirahat sudah berlalu. Aku masih tetap di ruang kerja dan tidak beranjak dari kursi. Kecuali, jika aku ingin ke kamar mandi, yang memang di ruangan ini di desain ada sebuah pintu lagi.
Di mana ada tempat tidur khusus jika, aku malas untuk pulang ke rumah. Tapi berbeda untuk sekarang, waktu pulang pun selalu aku tunggu.
Teringat akan sesuatu, aku segera mengambil gagang telpon di sebelah kananku dan menekan beberapa angka untuk membuat panggilan.
"Deandra, segera ke ruangan ku! Dengan laporan hari ini!"
Ucapku atau ku pikir itu sebuah perintah saat panggilan tersambung, dan menyimpan kembali gagang telpon saat panggilan sudah terputus. Aku yakin wajahnya sudah cemberut dan terus menggerutu, yang membuatku tersenyum membayangkannya saja.
dan menyimpan kembali gagang telpon saat panggilan sudah terputus.
Sambil menunggu Deandra datang, aku segera merapihkan penampilanku, lengan kemeja yang di rapihkan tanpa jas yang sudah ku lepas sedari tadi, menyugarkan rambut ke belakang agar tidak terlalu berantakan, saat aku berhadapan dengannya.
Mungkin jika orang tahu, dengan kelakuan konyolku mereka akan menganggap ku gila. Ya! Aku memang gila, tergila-gila padanya.
Tentang laporan, itu hanya alibiku saja yang ingin sekali bertemu dengan calon istriku yang cantik.
__ADS_1
Padahal laporan pun bisa besok, ia terima sudah ada di meja kerjanya.
tok tok tok
"Masuk! "
" Permisi Pak, ini laporan yang bapak minta" Suara lembut Deandra menyapa telingaku dan berjalan ke arah mejaku sambil menyerahkan sebuah map. Namun, sengaja tidak ku terima, yang ku lakukan beranjak dari kursi dan menghampirinya berdiri tepat di depannya.
Aku yang sudah tidak tahan menunggu lama lagi untuk segera memeluknya. Aku bawa cepat tubuhnya dalam pelukkan ku, sebelum ia berontak ku eratkan tangan yang memelukknya. Karena percuma saja ia berontak tidak ada hasilnya, dan akhirnya ia menyerah dan ku sandarkan kepalanya pada dadaku.
Ku benamkan wajahku pada lehernya, dan ku hirup aroma wangi khas dirinya, lavender dan orange yang selalu membuatku tenang dan nyaman untuk selalu di dekatnya.
"Aku merindukanmu, "
Mengangkat kepalaku dari lehernya dan hidung, kening kami saling menempel. Dapat ku rasakan nafasnya menerpa wajahku.
Sial !!...malahan yang di bawah sana sudah ereksi . Segera ku lepaskan pelukkan ku dari tubuhnya, dan duduk di kursiku kembali agar ia tidak melihatnya.
Berdehem singkat agar suara yang ku keluarkan tidak terlalu serak dan berat, tidak ingin ia curiga bahwa aku sedang bergairah, hanya melihatnya saja berdiri. Padahal ia tidak memakai baju sexy, malahan sopan.
Hanya pikiran ku saja yang tidak beres.
Mengangkat satu alisnya, Deandra heran dengan tingkah Christian.
"Ini Pak, laporannya! Apa masih ada yang di perlukan? "
Suara Deandra membawa akal sehatku kembali untuk tersadar, dari pikiran liarku!.
"Apa kamu punya ide? Untuk acara ulang tahun perusahaan , karena kami selalu di Hotel atau di Restoran untuk merayakannya " ucapku sambil menyuruhnya duduk di depan meja kerjaku.
"Well, kalau aku kasih saran. Karena biasanya acara indoor, kenapa kita tidak mencoba di outdoor saja,"
"Seperti di pantai. Ya, itung-itung refreshing untuk karyawanmu rehat sejenak dari pekerjaan. " lanjutnya.
Di pikir-pikir itu bagus juga, dan aku akan semakin dekat dengan Deandra.
"Hemm, baiklah nanti akan ku beritahu staf yang menghandle acaranya nanti. " putusku.
"Jika tidak ada yang di bicarakan lagi, aku keluar dulu." ucap Deandra saat ia akan beranjak dari kursinya.
"Tunggu aku di lobby! "
"kita akan pulang bersama! "lanjutku saat ia akan membantah.
Aku tersenyum kembali saat ia, menghentakkan sepatu di lantai dan berlalu pergi dengan raut kesalnya.
*****
Next Chapter......
.
.
.
.
.
.
Like And Vote!
See U 😉
__ADS_1