
♡Happy Reading♡
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
📖
☆¤☆¤☆¤☆¤☆
__ADS_1
Setelah membanting pintu kamarnya dengan keras, Christian berjalan keluar rumah dengan emosinya yang masih meledak. Para pelayan yang berpapasan dengannya tidak berani menyapa, hanya dengan menunduk hormat yang mereka lakukan. Baru pertama kali mereka melihat kedua majikannya bertengkar hebat. Tapi mereka tidak berani, dan tahu diri untuk tidak mengetahui permasalahan mereka.
Christian yang hendak membuka pintu kemudi mobil, terhenti saat melihat mobil yang ia kenal masuk ke halaman rumahnya. Ternyata ibunya yang keluar mobil dengan tergesa - gesa.
"Chris, di mana menantu Mommy? Dan bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Marissa cepat.
"Eh! Kapan kamu pulang, dan sekarang mau kemana lagi?" tanya Marissa kembali.
"Barusan Mom, dan aku mau kembali ke kantor." Jawab Christian yang mendapatkan pelototan dari Marissa.
"Kamu bagaimana sih, istrimu baru saja mendapat musibah tapi kamu malah mau pergi bekerja?!" Semprot Marissa sambil berkacak pinggang.
"Apa maksud mommy? Musibah saat melihat istriku yang sedang berselingkuh di restoran dengan perutnya yang di elus oleh pria lain, begitu?" Tanya Christian dengan emosi yang kembali memuncak saat melihat adegan menyakitkan itu.
"Aww.....Mom!!" Ringis Christian saat tas branded ibunya memukul lengannya sangat keras. Kemeja putihnya yang di gulung, sehingga terjadi goresan pada kulitnya.
"Istrimu terkena kopi panas hingga lengan, dan perutnya ke siram, maka pria yang kamu lihat tengah mengelus perutnya itu, sedang menolong istrimu yang terkena tumpahan kopi panas." lanjut Marissa.
"Berarti wajah pria yang memar - memar itu, karena kamu yang menghajarnya kan?" tuding Marissa.
Ia mengingat pria yang duduk di kursinya dengan wajah yang memar, ternyata ulah anaknya.
"Anak tidak tahu diri!!" Geram Marissa sambil memukul badan Christian dengan tas brandednya, sebelum berlalu masuk ke dalam rumah anaknya.
Christian yang mematung di samping mobilnya setelah menerima amukan dari ibunya, sangat bersalah kepada istrinya tanpa tahu permasalahannya apa. Dengan langkah lebar, ia kembali masuk ke dalam rumah menyusul ibunya yang sedang menghampiri istrinya.
"Apa yang kau lakukan pada menantu Mommy Christian?!"
Baru saja ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya, pertanyaan tajam mommynya yang menyambut dirinya pertama kali.
__ADS_1
"Jika kamu marah, jangan sampai kamu menyakiti Deandra," Ucap Marissa sambil mengangkat, dan mengelus pergelangan tangan Deandra yang memerah sangat terlihat jelas. Christian mengikuti arah pandang Mommynya, seketika ia di landa rasa bersalah melihat pergelangan istrinya yang memerah, dan sedikit membiru.
"Bicarakan baik - baik dengannya. Mommy tahu, jika Deandra wanita yang baik, ia tidak akan melakukan sesuatu yang kamu tuduhkan itu." Lanjut Marissa dan menyimpan sebuah foto yang sejak tadi ia genggam. Christian yang tahu itu adalah foto istrinya bersama pria lain hanya diam membatu.
Mengelus pergelangan Deandra yang memar, kemudian ia letakkan dengan lembut. Mencium kening menantunya dengan sayang, Marissa berdiri tegak menghadap ke arah anaknya yang sedari tadi diam. Berdiri dekat Christian, menatapnya dengan lembut yang ke ibuan.
"Jangan membuat kesalahan kembali, hingga membuatmu menyesal dengan kehilangan Deandra kedua kalinya, Nak." Nasihat Marissa sambil mengusap pipi tegas anaknya.
"Jagalah istrimu, dan anakmu. Mommy pulang." Setelah berkata seperti itu, Marissa berlalu pergi keluar dari kamar anaknya.
Terjadi keheningan setelah Marissa keluar, Christian berjalan pelan ke arah Deandra yang tengah terbaring lelap. Mengambil sebuah kotak di dalam nakas yang berisi obat - obatan. Duduk di pinggir ranjang mengambil tangan istrinya yang sedikit membiru, mengusap, dan mengecupnya lembut.
"I'am sorry sweety. I'am sorry," Lirih Christian masih terus dengan mengecup pergelangan Deandra lembut. Mengusapkan salep memar pada tangan Deandra dengan telaten, dan juga lembut.
Menyimpan kembali kotak P3K pada tempatnya setelah usai mengeloskan salep pada lengan istrinya. Christian naik keranjang, dan berbaring di sisi Deandra yang kosong. Mendekap, membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mencium kening Deandra lembut, serta mengusap calon anak mereka sayang.
Kembali ke New York, setelah ia menyelesaikan masalah yang ada di sana dengan menghabiskan waktu satu minggu. Melebihi janjinya pada Deandra yang hanya tiga hari. Pulang ke rumah tidak mendapatkan ke beradaan istrinya, dan sangat marah ketika mendapatkan sebuah kiriman dari anak buahnya yang ia perintahkan untuk terus memantau istrinya selama ia pergi.
Foto - foto istrinya saat ia pergi membuat dirinya sangat marah besar, lelah bercampur emosi. Hingga kemarahannya memuncak saat melihat jelas dengan kedua matanya sendiri melihat istrinya yang terlihat olehnya sedang bermesraan dengan pria yang di foto sampai - sampai tangan ba*jingan itu tengah mengelus perut istrinya. Dan itu, membuatnya tidak berpikir jernih. Sehingga pikirannya di gelapkan tanpa tahu permasalahannya apa.
Namun, setelah mendengar penjelasan ibunya ia benar - benar sangat bersalah. Telah menyakiti istrinya dan juga anaknya yang pasti terguncang di dalam perut istrinya saat ia menyeret Deandra tanpa hati. Padahal istrinya tengah terluka, dan ia malah menambahkan luka itu, dengan melontarkan kata - kata yang pasti membuat istrinya sakit hati terhadap dirinya.
"Maafkan aku, sayang. Aku sangat mencintaimu." Ucap Christian menempelkan bibirnya pada bibir Deandra, lama. Christian yang memang sangat lelah, ia jatuh terlelap. Dengan tangan yang masih berada di atas perut buncit Deandra.
☆¤☆¤☆¤☆¤☆
Vote, follow, and likenya guys!!
See U 😉
__ADS_1