Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 34


__ADS_3

Happy Reading.....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Enjoooyy....!!!


*****


DEANDRA



Menyusuri sisi pantai sepanjang jalan, Dengan matahari yang sudah terbit. Setelah aku selesai jogging satu jam yang lalu. Pembicaraan semalam membuatku tidak nyenyak tidur. Sehingga bangun lebih awal, dan memutuskan keluar kamar penginapan. Lari pagi di saat hari masih gelap hanya untuk menyegarkan pikiran.


"Seberat itu kah, beban pikiran yang di tanggung. Hingga keberadaan gue di belakang pun, tidak lo sadari, " suara seseorang membuyarkan lamunanku, dan menolehkan kepala ke arah belakang, yang tak lain adalah Steven.


"Sejak kapan lo disini? " tanyaku mengabaikan perkataannya barusan.


"Saat lo keluar penginapan pagi-pagi buta, maka dari itu gue ngikutin lo, yang sama sekali tidak sadar kehadiran gue dari tadi " jawabnya. Setelah menyamai jalannya denganku.


"Dulu maupun sekarang, lo masih tetap sama tidak pernah berubah! Suatu hal apa yang telah mengganggu pikiran, lo?" lanjutnya yang kurasa ia sambil menatapku dari samping.


"Steven, "


"Hemm, " sahutnya masih menatapku.


Menghela napas dan menatap balik padanya, " Lo tahu, kan tatto yang ada di bahu gue " ucapku.

__ADS_1


"Ya, terus apa masalahnya?! " ucapnya heran.


"Christian, " ucapku singkat.


Seolah mengerti perkataanku ia berkata, " Ahh! Jadi lo belum kasih tahu dia?! " tebaknya mengangguk-anggukan kepala.


"Cepat atau lambat dia harus tahu Deandra. Apalagi lo akan menikah dengannya, kan? " tanyanya.


"Gue belum siap, Stev. Apakah ia akan marah, jika gue memberitahukannya, " ucapku.


"Marah atau tidaknya lo harus terima apa bila itu terjadi. Semua hal pasti ada resikonya. Begitu pun dengan apa yang pernah lo lakuin. Tapi gue yakin, cepat atau lambat, tunangan lo akan terima, lo dengan apa adanya. Karena gue lihat, dia cinta mati sama lo, " ucapnya panjang lebar.


"Cinta mati bukan berarti ia setia, Stev. Karena dia, gue beberapa tahun terakhir tinggal di Indonesia. Pengkhiantannya yang membuat gue kabur dari negara ini, dan juga keluarga gue, " ucapku.


"Jika dia pernah menyakiti lo. Kenapa sekarang kalian bertunangan? Kabar lo pulang kesini lagi, gue aja gak tau " ucapnya heran.


"Perusahaan bokap gulung tikar, dan Christian orang yang akan mengambil alih perusahaan. Jika tidak ingin terjadi. Gue harus menikah dengannya, demi perusahaan bokap bangkit lagi, " jelasku.


"Gue mengerti jika keadaannya seperti itu. Sorry, gue gak ada di sisi lo, saat lo sedang susah " ucap Steven dengan tatapan bersalahnya.


"It's oke. Lagian semua itu sudah terjadi, dan gue harus menerimanya " ucapku melipatkan kedua tangan di dada.


"Ehemm, " terlihat Steven yang ingin mengatakan sesuatu. Namun ia terlihat ragu, membuatku mengangkat satu alis dengan tingkah Steven yang mengusap tengkuknya.


"Apaan sih, lo! " ucapku kesal dengan tingkahnya.


"Gue bertemu dia di Jepang lima bulan yang lalu, " ucap Steven cepat, tapi aku mendengarnya jelas. Sehingga membuatku berhenti berjalan. Aku tahu. Siapa dia yang di maksud Steven. Melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan.


"Dia tanya kabar lo, sepertinya ia tidak tahu kalau lo, udah balik lagi ke New York, " lanjutnya menatapku "Dia bilang, dia tidak menikah sama sekali, " ucapan Steven barusan mengalihkan pandanganku padanya.


"Apa maksud lo? Bukankah dia harus....." ada keraguan saat aku ingin mengatakannya. Seolah tahu apa maksudku, " Gue tidak tahu apa alasannya, tapi yang pasti dia memang tidak menikah. Dan berkata, akan membuat lo kembali lagi padanya " jelas Steven.


"Dia benar-benar gila! " ucapku yang tidak habis pikir dengan orang itu.


"Ya! Gila karena, lo! " ucapnya membuatku mendengus kasar.


"Nikah atau tidaknya, itu bukan urusan gue. Setelah kejadian itu, gue memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya " ucapku.


"Lo belum memaafkannya juga, ternyata?!


Sorry. Andai saja dulu, gue tidak mengenalkan kalian, mungkin semua tidak akan pernah terjadi " ucapnya menyesal.


"It is okay. If I didn't know him, maybe I wouldn't be like this now! " ucapku.

__ADS_1


"Yes I know! Jika tidak, lo tidak akan mungkin bisa seiblis ini! " ucapnya menyindirku.


"Lo masih marah sama gue?! Harusnya gue yang marah sama lo! Sahabat macam apa yang memanfaatkan temannya sendiri menjadi tameng ke absurdan, lo!" ucapku marah bertolak pinggang sambil metotot pada Steven yang cengengesan.


"Sorry, gue salah. Enggak seharusnya gue marah sama lo, hanya saja sedikit kesal " ucap Steven membuatku menatapnya sinis.


"Gue heran sama lo. Sudah di usir dari keluarga, lo masih saja gak pernah berubah juga. Hahh! Terserah lo, gue sebagai sahabat lo hanya bisa mengingatkan. Gue harap ada seseorang yang ngerubah lo, jadi lebih baik " ucapku menepuk bahunya pelan.


"Percuma Dean. Gue sudah berusaha mendekatkan diri, tapi semua tidak ada yang berhasil. Seperti ini sudah membuat gue nyaman, " ucapnya pasrah.


"Bila seperti itu, gue sahabat lo. Hanya bisa mendukung keputusan yang menurut lo baik, dan juga nyaman " ucapku tersenyum.


"Thank you. Lo sahabat yang paling gue sayang, dan sorry untuk yang lalu " ucapnya bersalah.


"Sudahlah! Biarkan semua itu berlalu. Lebih baik kita kembali penginapan. Hari juga sudah mulai panas " ucapku dan kami pun segera kembali dengan Steven merangkul bahuku.


*****


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Next Chapter....


Like Vote Follow ....


See U 😉

__ADS_1


__ADS_2