Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 25


__ADS_3

Happy Reading...


.


.


.


.


.


.


.


Enjoooy.....


*****


Bandar Udara Internasional John F. Kennedy


Tepat pukul jam 8 pagi. Suasana bandara sudah terlihat ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Entah itu, penumpang keberangkatan atau kedatangan yang hilir mudik di bandara internasional ini.


"Deandra, mana sih! " ucap Joya terus melihat ke arah pintu masuk bandara.


Saat ini Joya dan rombongan kantornya sudah berada di bandara. Berkumpul di waiting room yang akan boarding beberapa menit lagi.


"Ponselnya pun tidak aktif, " sahut Emilly ketika panggilan telponnya tidak tersambung.


"Apa Deandra lupa, jam keberangkatannya? " tanya Tommy yang di angguki Jack di sebelahnya.


"Aku yakin ti.......Wow!! " ucap Joya di gantikan dengan keterkejutan.


"Oh! Wow! "


"Wow! Beautiful! "


Bersamaan dengan ucapan Emilly, jack dan Tommy yang terpesona dengan kedatangan wanita cantik yang tidak lain adalah Deandra.


Tubuh tinggi semampai, kaos putih polos dibalut jaket jeans, yang senada berwarna biru muda dengan skinny jeans sobek membalut kaki jenjangnya. serta sepatu wadges berwarna merah yang di pakai Deandra.


Rambut panjangnya yang hitam. Sudah berganti warna menjadi rambut brunette kemerahan dengan ujungnya yang di buat ikal.


"Sorry. aku terlambat, " ucap Deandra dengan beberapa jarak. Berjalan dengan tangan kiri menarik koper maroonnya. Serta tas kecil hitam yang bermerk di tangan kanannya yang di jinjing.


Tommy orang pertama yang sadar dari keterpakuannya, "Ahh, tidak kok. Dua menit lagi kita akan boarding " ucap Tommy membuat yang lainnya menguasai diri lagi.


"Ada apa dengan kalian? " ucap Deandra sambil melepaskan kacamata hitamnya. Mengkerutkan dahi, heran melihat tingkah mereka yang aneh.


"Wow, you're gorgeous. Deandra! " teriak Emilly. Membuat Deandra tersenyum kecil dan malu bersamaan. Membuat semua mata karyawan kantor memandang ke arahnya.


"Husst, kau ini! Pelankan suaramu! "tegur Jack yang kesal dengan suara cemprengnya Emilly.


"Iya, iya, " sahut Emilly dengan bibir cemberutnya.


"Sudah jangan ribut, " lerai Joya.


Tommy segera mengajak mereka, saat sudah waktunya pesawat take off dan berjalan teratur mengikuti karyawan lainnya.


*****


Bandar Udara Internasional Daniel K. Inouye



Setelah menempuh perjalanan udara selama 6 jam. Akhirnya aku dan rombongan pun tiba. Setelah menyelesaikan rangkaian pemeriksaan di bea cukai. Kami pun di jemput oleh seorang pihak dari perusahaan Miller yang berada di Hawaii. Lalu kami di antarkan ke sebuah resort mewah yang masih dimiliki keluarga Miller.



Masing-masing mendapatkan kamar untuk beristirahat dan fasilitas mewah yang bebas di gunakan oleh semua karyawan.


"Yuuhuuu....akhirnya! Kita di Hawaii juga. " teriak Emilly. Saat kami baru saja masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan. Mendapatkan kamar yang lebih besar dari yang lain membuat kami bisa sekamar bertiga.


"Waahh! Emilly ke sini " seru Joya berada di balkon memanggil Emilly untuk menghampirinya.


"CRAZY!! Cepat kita harus selfie. Sangat pas dengan cuacanya yang sangat mendukung "


Keantusiasan dan kehebohan mereka membuatku menggelengkan kepala. Karena tidak tidur selama perjalanan membuatku jetlag. Panggilan mereka pun kuhiraukan saja. Aku yang sudah mengantuk naik ke atas kasur besar, dan membaringkan badan tanpa mengganti baju. Suara teriakan merekalah terakhir yang aku dengar sebelum kegelapan datang.


Suara ponsel yang berdering membuatku sangat terusik. Di abaikan pun percuma si penelepon tidak ingin menyerah. Dengan kesalnya aku mengambil ponselku yang terus berdering di dalam tas yang aku simpan di atas nakas.


"Hal....."


Baru saja akan berkata. Suara teriakan dari sebrang mengurungkan niatku, dan memilih diam sambil menjauhkan ponsel dari telingaku.


"DEANDRA!! LO YA SEPUPU LAKNAT TERHAQIQI!! GAK ADA KABAR KE GUE !! TAHU-TAHU GUE DAPAT KABAR DARI ORANG LAIN KALO LO UDAH TUNANGAN!! GUEKAN JADI SEBEL TAU GAK!! HALLO...Hallo...hallo! Deandra, mana sih. Kok gak ada suaranya? "

__ADS_1


"Udah? " ucapku dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hehe, maaf-maaf lagian lama amat angkat telponnya, " suara kekehan disertai merajuk dari sebrang.


"Cepat ganti mode video call!! " titahnya membuatku mendengus keras.


"Apa? " teriakku saat sudah melihat wajah si penelepon dengan kesal.


"Oh God! Ini bener lo?! " ucapannya membuatku bangun dari tidur, dan duduk menyandar.


"Hemmm," gumamku.


"Akhirnya! Deandra yang gue kenal balik lagi " si penelepon yang tidak lain adalah Raisa sepupuku di Indonesia.


"Sepertinya suami lo gak ada? Karena suara toa lo dari tadi, bikin kuping gue sakit ? " sarkasku tidak membuatnya marah.


Seperti itulah Raisa. Memakai panggilan elo, gue jika tidak ada Reinal di sekitarnya.


"Suami gue tugas luar kota. Jadi, gue sendiri aja dirumah "jelasnya.


"Tau dari siapa, gue udah tunangan? " tanyaku.


"Dari Devan! Dua hari yang lalu gue ketemu dia, dan ia bilang kalian sempat ketemu juga di Italia. Dan bilang kalau lo udah tunangan, namanya Christian " ujar Raisa.


"Christian yang di maksud, bukan Christian mantan lo itukan ?! " lanjut Raisa.


"Ya, itu dia " ucapku.


"****! Lo gila! " umpatnya.


"Kenapa bisa Deandra?! " tanyanya dengan marah.


Membuatku harus menceritakan semuanya.


"Lo pasti ingat! Kenapa alasan gue pulang? Kalau bukan perusahaan orangtua gue yang akan bangkrut.


Christian! Orang yang akan mengambil alih perusahaan. Ia juga yang membuat perusahaan bokap gue stabil lagi, dengan gue harus menjadi tunangannya. Gue gak ada pilihan lain saat itu. Bokap sakit karena perusahaan yang ia bangun dari nol akan gulung tikar. Jadi gue terima pertunangan itu. Asal perusahaan masih milik bokap gue, dan gue gak mau bokap masuk rumah sakit lagi. " jelasku membuat Raisa terisak.


"Sorry, Deandra. Gue malah marah-marah sama lo tanpa tahu alasannya apa " ucapnya yang masih terisak.


"Udahlah gak masalah. Jangan nangis! Nanti suami lo marahin gue lagi! "


"Hemm. Ngomong-ngomong lo lagi di mana? " tanya Raisa sambil mendekatkan wajahnya pada layar terlihat menelisik ruanganku.


" Gue lagi di kamar, lebih tepatnya gue di Hawaii "


Sebelum suara teriakan Raisa menggelegar, segera ku jauhkan ponsel dari hadapanku.


"Ogah!! Nanti yang ada lo malah ngehabisin duit gue lagi!! " sinisku.


"Gpp dong! Sekali-sekali lo traktir gue "


"Pala lo! Sekali-sekali! Makan aja minta di traktir terus, saat gue masih di Indonesia " sarkasku.


"Hehe, " cengirnya.


"Lo ngapain di Hawaii? Honeymoon? "


"Anniversary perusahaannya Christian, yang di adakan di resort miliknya di Hawaii " jelasku.


"Apa sekaya itu, calon suami lo? "


"Lo kira-kira ajalah, " ucapku malas.


"Lo belum tidur, gue yakin di situ udah tengah malam.


Lagian gue juga mau mandi. Tiba Hawaii siang tadi, gue yang jetlag langsung tidur. " lanjutku.


"Pantas saja dari tadi, gue cium bau busuk! Ternyata dari lo yang belum mandi " hinanya.


"Ya, ya, terserah lo. Gue tutup telponnya."


Aku matikan panggilan, setelah pembicaraan di akhiri. Melihat banyak notifikasi beberapa pesan dari teman kerjaku yang menyuruhku menyusul ke restorant resort untuk makan malam. Melihat ke arah jendela yang memang hari sudah gelap. Selama itukah aku tidur, batinku.


Sebuah notifikasi pesan dan panggilan yang sangat banyak dari seseorang yang akhir-akhir ini membuat mood-ku jelek. Kubaca satu persatu tanpa ada niat untuk membalasnya. Ku hiraukan saja dan segera berlalu ke kamar mandi, setelah ku simpan ponsel dengan asal.


Usai mandi dan berpakaian, celana panjang senada dengan jaket hoodie berwarna abu serta rambut yang di cepol asal. Ku langkahkan kaki ke dalam lift, turun ke lantai di mana restorant berada.


Ting....


Keluar saat pintu lift terbuka, berjalan masuk restorant mencari keberadaan teman-temanku.


"Deandra! " ku tolehkan kepalaku. Saat suara pria yang memanggilku, Jack orangnya. Sambil melambaikan tangannya, ku beri ibu jari dan telunjuk yang membentuk lingkaran tanda oke.


Menarik kursi dan duduk di antara mereka setelah aku mengambil makan malamku dan sepiring kecil buah.


"Kamu baru bangun? " tanya Tommy di sampingku.

__ADS_1


"Hemm " gumamku yang sudah menyantap makanan.


"Sorry, Deandra. Melihat kamu yang tertidur pulas, membuatku dan Joya tidak tega membangunkanmu" ucap Emilly dengan anggukan Joya.


"Tidak masalah. lagi pula aku butuh banyak tidur juga " ucapku di sela-sela makan.


"Apa kamu sudah bertemu dengan Pak Christian? Beliau menanyakanmu, saat ia baru saja tiba 3 jam yang lalu di sini " ujar Joya menatapku.


"Belum " jawabku singkat fokus dengan makanan yang ku santap, karena perutku yang sudah kelaparan semenjak dari bangun tidur.


"Oh itu Pak Christian, bersama dua pria tampan lainnya ke sini " ucap Emilly senang.


"Ouch! Melihat mereka yang berpakaian casual terlihat semakin gagah saja " sahut Joya.


"Sepertinya mereka akan duduk di dekat meja kita "ucap Emilly.


Aku yang sudah selesai makan. Melanjutkan dengan sepiring buah, ku suap satu persatu ke dalam mulutku, dengan sebelah tangan memegang ponsel tengah berselancar di sosial media. Banyak pesan yang masuk dari beberapa temanku saat di Indonesia. Membalas satu persatu yang sekiranya penting. Apalagi dari club hiking yang menanyakan keberadaanku, benar atau tidaknya yang sudah balik ke New York. Membalas pesan mereka serta meminta maaf karena tidak sempat berpamitan kepada mereka.


Selama masih berchat ria, aku sudah merasakan. Bahwa sedari tadi Christian tidak pernah melepaskan pandangan matanya ke padaku. Berpura-pura tidak mengetahui dengan aku yang terus memainkan ponsel.


"Ssttt....Deandra. Pak Christian liatin kamu terus, samperin sana! " bisik Tommy di angguki yang lainnya.


"Selfie bareng guys. Temenku di Indonesia tidak percaya bahwa aku sedang di Hawaii, " segeraku arahkan camera ponsel kepada kami yang sudah berpose. Mengalihkan pembicaraan mereka untuk melupakan kecanggungan dari Christian yang menatap tajam ke arah meja kami.


"Wahh, bagus tuh! Aku mau fotonya. Aku minta akun kamu, tag akun aku juga, ya " ucap Emilly.


"Aku juga, Deandra " sahut Joya.


Kami pun saling follow, tidak ketinggalan Jack dan Tommy juga.


"Kamu suka hiking, Deandra? " tanya Joya yang sedang melihat foto-fotoku di Instagram bersama Emilly.


"Hemmm " gumamku yang sudah berbaring di tempat tidur.


10 menit yang lalu kami kembali ke kamar lagi setelah selesai makan malam.


"Hebat! Kamu memangnya gak takut naik gunung tinggi kaya gitu? " tanya Emilly.


"Awalnya takut, tapi kalau sering naik turun gunung, ya, biasa aja. " jawabku.


"Aku lebih baik shopping aja, dari pada hiking. Belum lagi panasnya bikin kulit jadi hitam dan kusam, iikhh..." ucap Emilly sambil bergedik jijik.


"Buktinya Deandra enggak, kulit kuning langsatnya terlihat eksotis " ujar Joya sambil memegang tanganku.


"Benar juga! Besok aku mau berjemur di pantai, biar kulitku bisa eksotis kaya kamu " ucap Emilly semangatnya.


Suara bel dari pintu membuat kami saling pandang, dan Joya berjalan ke arah pintu serta melihat peephole untuk mengetahui siapa yang bertamu.


"Deandra " ucapnya panik menghampiriku. Membuatku dan Emilly heran.


"Pak Christian di luar " ucapnya berdiri di samping ranjang.


"Bilang saja kalau aku sudah tidur, kekenyangan " titahku.


"Aku takut ahh! Wajahnya dingin banget. Kamu aja sana, "


"Kalian masih belum selesaikan masalah tempo hari lalu? " tanya Emilly.


"Mood-ku masih jelek, kalau harus ketemu dia sekarang. Kalian berdua saja buka pintunya. Cepat kalian ke sana sebelum ia curiga! " ucapku sambil mendorong mereka ke arah pintu.


Melompat ke arah kasur dan berbaring dengan nyaman. Berpura-pura tidur, jika saja Christian nekat masuk ke sini.


"Pak! Deandra sudah tidur " suara mereka yang meyakinkan Christian jika aku sudah tertidur.


Namun sebuah langkah kaki yang terdengar berat melangkah ke arahku. Berbaring miring menghadap ke arah jendela.


Mengatur napas secara teratur saat merasakan seseorang tengah menduduki kasur di sisiku.


Belaian lembut di pipiku membuat aku tau, bahwa Christianlah pelakunya. Mengelus kepalaku ringan malah memberiku kenyamanan dan membuatku terhanyut untuk tidur. Sebuah kecupan mendarat di keningku yang terakhir kalinya ku ingat, sebelum kegelapan menghampiriku.


*****


*Next chapter....


.


.


.


.


.


.


Like and Comment

__ADS_1


Follow Me and Vote


See U 😉*


__ADS_2