Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 61


__ADS_3

♡Happy Reading♡


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


📖


☆¤☆¤☆¤☆


Flashback On


Seorang gadis cantik yang tengah menyandar di pohon yang rindang, sambil membaca buku kata demi kata. Saking fokusnya, ia tidak memperdulikan sekitar hingga sebuah suara memanggilnya.


"Deandra," suara pria membuatnya mencari asal suara yang ternyata temannya satu kampus dengannya. Deandra yang melihat temannya, Steven menghampirinya, ia berkerut heran. Saat Steven tidak datang sendirian, ada seorang pria lagi di sampingnya.


"Harimu membosankan sekali duduk membaca buku di pohon ini terus." omel tiba - tiba si pria yang sudah dekatnya. Membuat Deandra mendengus waktunya sudah terganggu.


"Ada apa Stev?" tanya Deandra.


"Kenalkan dia teman sefakultas denganku." ucap Steven sambil merangkul bahu pria di sampingnya.


Deandra menatap pria di samping Steven, begitu pun pria itu sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Deandra.


"Rio"

__ADS_1


"Deandra."


Perkenalan mereka pun berlanjut mengenal satu sama lain. Hari demi hari mereka mulai dekat dan berakhir menjalani hubungan status berpacaran. Meski Rio harus berusaha mendekati Deandra yang penutup, tapi itu tidak membuatnya menyerah sampai akhirnya, ia berhasil merobohkan batas dinding yang membatasi mereka. Rio pemuda badboy, tapi hangat membuat Deandra merasa nyaman. Banyak hal yang di lakukan Deandra setelah mengenal Rio, dan melupakan sakit dalam hatinya akan masa lalu.


Flashback Off


Christian yang tengah memperhatikan istrinya merasa bingung, terlihat dari cara makannya yang kurang bersemangat.


"Sweety, apa makanannya tidak enak?" tanya Christian menggenggam tangan Deandra di atas meja.


"Ahh, ti...tidak makanannya enak kok." ucap Deandra gugup sambil menyuap kembali makanannya. Menghela napas pelan, dan berusaha sebiasa mungkin untuk tidak memikirkan kejadian tadi di toilet.


"Christian, aa......" ucap Deandra menyodorkan sesendok ice cream kepada Christian yang langsung di terima olehnya. Deandra tersenyum, dan mengecup tangan Christian saat suaminya itu mengusap pipinya lembut. Meski di dalam pikirannya masih mengganjal, tapi Christian mengabaikannya karena tidak ingin membuat istrinya merasa tidak nyaman.


Jam makan siang sudah berlalu, Christian mengantarkan istrinya kembali ke butik, dan ia pergi ke kantor. Tanpa mereka tahu, seseorang memperhatikan mereka dari jauh.


☆¤☆¤☆¤☆


Deandra menyandarkan tubuhnya pada kursi, pertemuannya dengan Rio membuat dirinya mengingat kembali pada masa saat pertama kali mereka bertemu. Menghela napas kasar ketika melihat kertas - kertas yang berserakan membuatnya pusing tujuh keliling. Mengambil gagal telepon dan mendial satu angka.


"Grace keruanganku sekarang," titah Deandra saat panggilan tersambung.


"Dan bawa semua file desain 6 bulan terakhir ini." lanjutnya dan menutup, menyimpan gagang telepon kembali.


"Masuk," ucap Deandra.


Grace masuk ke dalam ruangan sambil membawa setumpuk map di tangannya.


"Simpan di sini." ucap Deandra berdiri berjalan ke arah sofa. Grace menyimpan map - map itu di atas meja sofa. Deandra mengambil satu map dan membukanya satu persatu kertas yang membuatnya mengkerutkan kening. Mengambil map yang lain, dan membuka yang langsung membuat kepalanya berdenyut sakit.


"Tidak heran angka penjualan merosot dratis semua model gaun, dan pakaian lainnya sangat membosankan." ucapan Deandra membuat Grace tersedak ludahnya sendiri.


Anak dan ibu sama - sama tidak bisa di tebak, batin Grace.


"Aku ingin butik kita meluncurkan pakaian yang modern, tapi unik. Apa kamu punya ide untuk gambarannya?" tanya Deandra pada Grace yang di jawab gelengan olehnya.


Deandra duduk kembali pada kursi kerjanya menunduk, menyanggah kepala dengan kedua tangannya.


"Argghh.. Mom. Butik yang akan gulung tikar, kenapa mesti di serahkan kepadaku sekarang sih?!" gerutu Deandra frustasi. Jika ia membiarkan butik ibunya bangkrut, bagaimana dengan nasib pegawai yang menopang kehidupannya di sini. Memang jurusan arsitek dengan jurusan fashion sama. Sama - sama menggambar sketsa, tapi perbedaan perancangannya lah memiliki banyak perbedaan.


Mengangkat kepala dan menatap pegawai ibunya serius.


"Grace, kamu dan pegawai lainnya siapkan diri, karena mau tidak mau kita harus meluncurkan gaun baru dalam waktu satu bulan. Nanti aku akan memberikan data untuk bahan apa saja yang harus kamu cari. Sisanya aku yang urus, sambil aku membuat fashionnya." ucapan anak atasannya seperti ia di sambar petir di siang bolong.

__ADS_1


"Baik." ucap Grace susah payah.


"Kamu boleh keluar." titah Deandra yang langsung di angguki hormat oleh Grace dan keluar ruangan.


"Tidak ada lagi toleransi untuk mereka bersantai ria." ucap Deandra datar saat pintu ruangannya tertutup.


Mengambil ponsel, dan mendial nomor panggilan pun tersambung.


"Hallo sepupu....


"Bantu aku yang akan menguntungkanmu....."


Sambil mengambil kertas kosong serta alat lainnya untuk menggambar, Deandra terus berbicara dengan si penerima telepon.


☆¤☆¤☆¤☆


Christian meregangkan otot tangannya setelah pekerjaan terakhirnya selesai. Melihat jam 5 sore untuk waktunya ia pulang. Bergegas mengambil tas kerja serta ponselnya berjalan ke arah pintu dengan jas yang ia sampirkan di pergelangan tangannya. Melihat Theo yang sama sedang bergegas, ia melewati begitu saja tanpa sempat Theo membuat memberi hormat padanya. Theo yang melihat bosnya terburu - buru tidak ia ambil pusing. Sudah biasa bos sekaligus temannya seperti itu, apalagi sejak orang yang ia cintai kembali lagi padanya, yang kini menjadi istrinya itu.


Christian yang berada di dalam mobil yang di kemudikan Arlo pengawal sekaligus sopirnya, dalam perjalanan ke arah butik istrinya. Tidak memberitahukan akan kedatangannya ke sana, untuk memberikan kejutan kecil kepada istrinya dan ia mampir ke toko kue terdahulu.


Tapi sepertinya ia yang di buat terkejut, tiba di butik istrinya. Ia di buat geleng kepala dengan ruangan yang sangat berantakan. Kertas - kertas berceceran di mana - mana, dan terlihat istrinya yang terlihat sangat bekerja keras. Sehingga panggilannya pun tidak terdengar balasan.


"Sweety?!" ucap Christian agak keras membuat Deandra tersentak.


"Chris...sejak kapan kamu di sini."ucap Deandra berjalan ke arah Christian.


"Sejak aku melihatmu mengacak - acak rambutmu." ucap Christian memeluk, dan mengecup kening Deandra. Serta merapihkan rambut Deandra yang berantakan. Deandra memeluk Christian erat, dan menghembuskan napas lelahnya di dada bidang suaminya. Christian membalas pelukan istrinya tak kalah eratnya, sambil mengusap - usap punggung Deandra pelan.


"Jangan terlalu kelelahan sayang, aku tidak ingin kamu sakit." ucap Christian. Melepaskan pelukannya Deandra menatap Christian.


"Dalam waktu ini, aku memang harus bekerja keras Chris. Aku tidak ingin butik yang Mommy bangun sejak lama harus jatuh sia - sia." ucap Deandra berjalan ke arah meja kerjanya, memasukan ponsel ke dalam tas dan merapihkan beberapa kertas yang akan ia bawa pulang.


"Kamu bawa apa Chris?" tanya Deandra melihat Christian memegang sesuatu.


"Ini cake, tadi aku mampir dulu sebelum ke sini." ucap Christian sambil mengangkat cake menunjukkannya pada Deandra.


"Well, sangat cocok untuk menemaniku lembur." ucap Deandra menggandeng tangan Christian berjalan ke arah pintu. Di dalam mobil yang terasa hangat dengan mereka saling mengobrol di sepanjang perjalanan.


☆¤☆¤☆¤☆


Next Chapter......


Tekan tanda ☆ dan ♡ nya guys jangan lupa

__ADS_1


See U 😉


__ADS_2